PEMIMPI!!

“Blom tidur Ve? Dah hampir jam 1 malem,” tanya Rana dengan nada tidak suka.

Rana adalah sepupu Rei dan Venus. Sejak kuliah, Rana tinggal di rumah keluarga Venus. Walaupun umur mereka terpaut 3 tahun, tapi mereka satu angkatan kuliah, karena Venus memang masuk sekolah di usia lebih muda, dan menyelesaikan sekolah dengan jangka waktu lebih cepat dari teman-temannya. Hubungan Venus dan Rana jauh lebih dekat daripada hubungan Venus dengan kakak kandungnya, Rei. Selain karena kakak beradik kandung ini berbeda kelamin dan terpaut umur 6 tahun, juga karena Rei memang jarang di rumah. Rei kuliah di luar kota, setelah lulus, ia juga bekerja di luar kota.

Venus menyeringai, “Mumpung malam sabtu Kak. Begadang dikit, toh besok libur.”

Rana menghela nafas, mengintip layar notebook melalui bahu adiknya. Venus justru sigap mengklik tombol mouse-nya, me-minimaze halaman word yang sedang dibukanya. Terlambat, mata tajam Rana sempat membacanya sekilas.

“Masih nulis FF juga? Kapan kamu berenti Ve? Apa kata kamu kemaren? Lupa?” Cecar Rana, nada suaranya semakin tinggi.

Venus menelan ludah gugup. Yah, ia memang sudah berjanji untuk memikirkan soal tulis-menulis FF ini. Ia paham betul maksud Rana, segala sesuatu itu harus bermanfaat. Jika kita tidak yakin akan kemanfaatan sesuatu, maka kita harus mengkaji ulang, apa hal itu masih pantas untuk dilakukan. Tapi Venus merasa sayang, tanggung, FF-nya sudah setengah jalan. Ide cerita dan plotnya juga sudah jadi 100%, hanya tinggal menuliskan saja. Belum lagi, ada beberapa orang yang membaca FF-nya. Sangat tidak enak kalau proyeknya yang satu ini dihentikan tengah jalan. Toh apa yang Venus tulis bukanlah cerita yang merusak moral bangsa.

“Kak…” panggil Venus dengan nada memelas, “Ve nulis bukan karena Ve mengidolakan mereka secara berlebihan kok. Bener! Ve nulis karena Ve suka nulis. Ve cuma pinjem nama mereka aja.”

Rana menggeleng pelan, apanya yang tidak berlebihan?  Dia hapal betul kebiasaan adiknya. Dulu, sejak di SD sampai kuliah, Venus biasa menyukai sebuah lagu, hapal liriknya diluar kepala, tanpa merasa perlu tahu judul atau siapa penyanyinya. Tapi, akhir-akhir ini, justru setelah bekerja, Venus mulai mengidolakan penyanyi secara tidak biasa. Venus bahkan mulai ikut-ikutan membuat fanfiction dengan tokoh penyanyi idolanya, ber-kya saat menonton boyband antah berantah yang unyu-unyu tak jelas itu! Wajar saja Rana sebal setengah mati, kemana perginya Venus yang cool? Kemana Venus yang dengan santainya bilang, ‘Cakep dari Hongkong? Biasa aja. Masih keren Kak Rei kemana-mana!’

 Yang paling parah, Venus membuat blog khusus untuk mem-posting FF buatannya. Berteman dengan orang dari dunia virtual, menggosipkan idolanya. Bahkan! Bahkan! Venus memanggil salah satu penyanyi favoritnya dengan sebutan ‘Abang’. Bah! Ini benar-benar keterlaluan. Pemimpi kebablasan.

“Udah hampir setahun Ve! Apa namanya kalau bukan berlebihan? Hah? Sini, Kakak liat hasil tulisan kamu.” Rana berusaha meraih notebook Venus.

Venus buru-buru menutup layar notebook-nya, menggeleng pelan.

“Kenapa nggak boleh? Tulisan kamu nggak ada isinya? Apa gunanya kamu nulis klo pembacanya nggak bisa dapet apapun dari tulisan kamu selain mimpi-mimpi yang nggak jelas ujung pangkalnya?” Kali ini Rana menatap tajam mata adiknya. Melihat Venus yang hanya tertunduk diam, Rana kembali angkat suara, “Kenapa nggak ngelakuin hal yang lebih bermanfaat? Laporan kamu dah selesai?”

Venus mengangkat wajah, tersenyum bangga, “Udah dong Kak. Malah udah di-acc ama Kak Taga, tinggal digandakan, dijilid trus dikirim ke pusat.”

Rana berdecak, merasa salah strategi. Tentu saja Venus sudah menunaikan tugasnya. Sebandel-bandelnya adik sepupunya yang satu ini, ia adalah gadis profesional yang selalu menunaikan kewajiban dan tugasnya.

***

“Dia ‘kan adik kandung kau Rei,” tuntut Rana pada Rei, saat cowok jangkung itu pulang diakhir pekan. Sudah setengah bulan ini kelakuan Venus semakin menjadi. Sering tidur larut malam, malas makan, sepanjang hari di depan notebook, mengetik FF, tidak peduli pada teriakan-teriakan Rana. Apalagi sekarang Mami dan Papi sedang keluar negeri, makin menjadi saja tingkah Venus.

Rei menyeringai tipis, “Ve bukan anak kecil lagi, udah 20 tahun. Biarin aja. Ntar juga bosen sendiri.”

“Dua puluh tahun? Belum Rei. Ve masih 19.” Protes Rana, memandang Rei dengan tatapan tak percaya, mengira Rei lupa umur adiknya sendiri.

Rei mengangkat bahu, “Umur Korea,” tergelak kecil, “Tiga bulan lagi tu anak juga 20 tahun beneran kok.”

Rana mengabaikan umur menurut versi Korea-Indonesia, berseru galak, “Tapi udah hampir setahun dia kayak gini! Biasanya tu anak cuma bertahan 2 bulan ama kelakuan anehnya. Ini setahun! SETAHUN!”

“Kau terlalu berlebihan. FF bikinan Venus nggak parah-parah amat. Dia malah lebih banyak nulis tentang pengalaman dia waktu sekolah atau soal lingkungan tempat tinggal kami waktu kecil dulu. Tentang nasihat-nasihat yang didengarnya dari para seniornya di pabrik. Bahkan soal pengalamanmu dengan anak-anak SMP tempat kau mengambil data itu. Juga soal pandangan-pandangan dia terhadap suatu masalah. Bukan mimpi-mimpi dan khayalan seorang fan pada idolanya. Yang mbaca FF-nya juga berkomentar positif kok.” Papar Rei panjang lebar.

“Dari mana kau tahu?” Rana memandang tak percaya pada Rei. Bukankah Venus tidak memberitahukan alamat blognya pada siapapun? Ini juga kebiasaan aneh Venus yang lain. Suka membagi-bagi dan mengelompokkan teman. Yang ini teman main, yang ini teman kerja, yang ini teman dunia nyata, yang ini teman virtual. Dan Venus tidak pernah mencampuradukkan kelompok-kelompok ini. Ia tidak akan mengenalkan teman kuliahnya dulu pada teman kerjanya sekarang. Lebih aneh lagi, dia membuat sarana komunikasi yang berbeda-beda untuk setiap kelompok. Facebook untuk teman sekolah dan kuliah yang jarang bertemu. Telepon dan SMS untuk sahabat dan keluarga. Blog untuk teman dunia FF-nya. Twitter untuk mengikuti perkembangan dunia penulisan dan penerbitan.

“Mimpi itu nggak ada salahnya, tapi mengkhayal yang berlebihan juga tidak baik. Itu akan membuat Ve lalai pada dunia nyata. Sekarang tu anak doyan banget tidur tengah malem. Berangkat pagi, pulang sore, bahkan tengah malem kalau lagi lembur. Setiap ada waktu luang, pasti langsung melototin notebook. Apalagi kalo sabtu minggu, heuh, seharian di depan notebook.” Sembur Rana saat Rei hanya tersenyum penuh misteri, tidak mau mengatakan dari mana ia mendapat alamat blog Venus.

Rei mengangkat bahu dengan cuek, “Tenang aja Ran. Venus udah biasa begitu. Dulu waktu SMA, lebih parah. Ada waktu-waktu dia pulang menjelang maghrib setiap hari. Bukan karena ikut ekskul, tapi maen di rumah singgah anak jalanan, nongkrong di pinggir jalan buat ngeliatin anak sekolah lain yang lagi transaksi putaw. Hmmm… Ve itu memang unik. Selalu tertarik dengan hal-hal yang tidak biasa. Tapi kamu nggak usah khawatir, Ve cukup waras untuk tau mana yang baik, mana yang buruk.”

“Tapi Kak…” Rana memprotes mengkal, “OK. Venus memang udah lulus kuliah, bahkan udah dapet kerjaan yang mapan. Belum genap setahun udah jadi anak emas manager-nya. Tapi dia tetep anak belasan tahun Kak!”

Lagi-lagi Rei hanya mengangkat bahu, “Justru itu Ran. Ve terbiasa mendapat segalanya dengan mudah. Aku aja iri berat ama tu bocah. Mana ada di kamus dia yang namanya belajar? Tu bocah bisa jadi juara kelas, lulus cumlaude tanpa banyak usaha. Malah waktu skripsi aja dijadiin rebutan beberapa dosen yang punya proyek. Hidup Ve itu nyaris tanpa gelombang. Lurus dan mulus. Jadi… aku rasa, kelakuan aneh dia itu ya semacam manifestasi. Cara dia supaya hidupnya sedikit berwarna.”

Rana menautkan alis, berusaha mencerna perkataan Rei, “Maksudnya?”

“Keluar dari zona nyaman. Itu ‘kan emang hobi Venus ‘kan? Biar aja FF ini jadi batu loncatan dia buat nulis yang lebih berbobot. Atau klo enggak, ya biar aja ini jadi pengalaman dia. Itung-itung punya kenalan dunia maya,” sahut Rei kalem, menyeringai geli.

Rana menghela nafas paham. Yah, Venus memang suka keluar dari zona nyaman hidupnya. Gadis itu lebih suka naik kereta api kelas bisnis daripada pesawat kelas eksekutif yang nyaman. Kalau saja Mami mengijinkan, pasti Venus sudah kesana-kemari dengan kereta api kelas ekonomi. Menulis bukanlah hal baru bagi Venus, ia sudah melakukannya sejak di SD. Tapi dengan sifat pembosannya, gadis itu tidak pernah benar-benar menekuni suatu bidang dengan serius. Selalu saja berganti-ganti. Sebulan jurnalistik, sebulan kemudian sudah sok menjadi filatelis.

“Dia nggak sampe nekat mbobol tabungan buat ke Singapura nonton konser boyband itu ‘kan? Belum sampe tahap rela nyisihan uang gaji buat beli CD asli ‘kan? Berarti dia masih normal,” imbuh Rei kalem. Ingat benar prinsip yang dipegang Venus. Kalau gadis itu sudah mulai rela mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak penting, itu berarti pikirannya sudah mulai tidak waras. Venus adalah tipe yang selalu dengan ngotot berseru, “Astaga! Dzolim tau! Masak beli DVD ratusan ribu. Duit segitu bisa buat makan sebulan. Mending tu duit dikasih ke anak-anak di Somalia!”

Rana memanyunkan bibir, “Iya sih. Tapi dia rela beli hoodie BIG BANG yang mahalnya ampun-ampunan. Dibela-belain minta dikirimin ama Ula yang lagi di Jepang. Segitunya tuh Rei!”

“Hoodie ‘kan ada gunanya. Emang mahal sih. Tapi kualitasnya bagus kok, sesuai lah ama harganya,” Rei mencengir sekilas, baru kemarin ia ‘membajak’ hoodie yang dimaksud. Sejurus kemudian Rei memasang wajah serius, “Ula? Sohib Ve sejak SMA itu ‘kan? Yang cuek setengah mampus itu ‘kan? Dia di Jepang? Kok Ve nggak cerita ya?”

Rana mengangkat bahu, “Kenapa juga dia mesti cerita?”

“Aku juga mau titip sesuatu!” Seru Rei semangat, bergegas mencari Venus. Menyisakan Rana yang hanya bisa menggeleng lemah, bergumam sendiri, “Kakak-adik nggak ada bedanya.”