Track 9 – Rencana Hyo Ra

 

Author : yen

Main Cast : SHINee’s Choi Minho, Super Junior’s Yesung, SHINee’s Lee Taemin, SHINee’s Kim Ki Bum, Super Junior’s Kim Heechul, Cho Hyo Ra.

Guest Stars :  2AM’s Seulong

Length : Sequel

Rating : General

Genre : Fantasy, Parallel Universe

Hyo Ra membuka jendela kamarnya lebar-lebar, menatap semburat jingga di ufuk timur. Ia baru saja pulang ke kediamannya itu, setelah semalaman menghabiskan waktu bersama Key. Tidur di atas dahan pohon. Sebersit pikiran melintas dalam otak Hyo Ra, membuatnya menyeringai geli. Pasti terdengar aneh sekali jika apa yang ia lakukan ini terjadi di dunia normal. Hari pernikahannya tinggal 2 hari lagi, tapi ia justru menghabiskan malam dengan tidur bersama pria lain.

Ingatan akan hari pernikahan itu membuat Hyo Ra seketika panik. Memang, seminggu yang lalu dengan entengnya dia mengiyakan. Bahkan saat semalam Taemin bertanya, ia bisa dengan tegas bilang tidak menyesal memutuskan menikah dengan Taemin. Tapi… 2 hari lagi? Hyo Ra menelan ludah gugup. Dragon hanya melarang jatuh cinta, bukan menikah. Iya ‘kan? Ah… tapi, bagaimanapun, ia tidak mau kembali ke alam semestanya dengan status sebagai istri seseorang. Itu mengerikan!

“ARGH!!” Teriaknya frustasi. Menggerutu pelan, “Seharusnya Dragon melarang menikah, bukannya jatuh cinta. Aduh… bagaimana ini?”

Tiba-tiba saja sesosok namja berjubah merah muncul dihadapannya, lengkap dengan senyum geli terpasang di bibir. Namja itu tertawa renyah, “Tidak akan bagaimana-bagaimana. Kau tenang saja.”

Hyo Ra berjengit kaget, “Siapa kau? Apa maksudmu?”

“Aku Seulong. Yah… bisa dikatakan aku adalah tangan kanan Dragon Leader.” Sahut namja itu, santai.

Mata Hyo Ra yang sudah bundar semakin bundar, terbelalak antusias, “Benarkah? WOW! Dia punya banyak teman yang tampan eh-” celutuknya, buru-buru menutup mulut.

Seulong tertawa geli, “Dragon marah besar. Dia bilang, kau harus segera memilih kemudian pulang ke semestamu. Tidak ada acara nikah-nikahan,” ucapnya, mengabaikan wajah Hyo Ra yang memerah malu karena kelepasan bicara.

“Harusnya dia datang sendiri,” sungut Hyo Ra, mengerucutkan bibir.

Seulong menautkan alis, “Dia siapa? Leader? Dia baru akan menemuimu nanti, saat kau sudah memilih. Yah… sekalian menjemputmu, mengantarmu pulang.” Karena Hyo Ra tidak menanggapi, justru asyik merutuki Dragon, Seulong berpamitan, “Ya sudah. Aku hanya menyampaikan pesan Leader saja. Baik-baik ya!”

“HEI! Masak cuma begitu saja?” Protes Hyo Ra tak terima.

Seulong terkekeh geli, menepuk jidat. “Ah-ya, hampir lupa. Leader menitipkan sesuatu untukmu.”

Hyo Ra sudah menadahkan telapak tangannya, memasang wajah penasaran penuh harap. Sukses membuat Seulong tergelak geli, “Sini, mendekat,” ucapnya ringan.

“HEH?” Pekik Hyo Ra panik, melangkah mundur.

Seulong berhenti tertawa, menatap Hyo Ra heran, “Kau kenapa? Ah… aku tahu,” menepuk dahi, “Kau takut aku cium ‘kan? Hahaha… aku bukan Leadar mesum itu, tenang saja. Kemari, mendekat.”

Dengan ragu-ragu Hyo Ra mendekati Seulong, menatap curiga. Seulong hanya tersenyum tipis, kemudian meletakkan telapak tangannya di puncak kepala Hyo Ra. Sejurus kemudian Hyo Ra merasa sesuatu yang dingin merembes melalui kulit kepalanya.

“Nah, sekarang kau memiliki kemampuan seperti para kandidatmu. Tidak perlu berpegangan tangan dengan Key kalau mau membaca pikiran orang. Tidak perlu berpelukan dengan Minho atau Taemin untuk berpindah tempat.” Ujar Seulong dengan wajah sok serius, menambahkan dengan gaya menyebalkan, “Itu kata Leader loh, bukan aku.”

Hyo Ra langsung ber-kya girang, tak peduli pada tatapan geli Seulong. “Benarkah?? Wah! Keren! Kenapa tidak dari dulu-dulu?” Serunya penuh semangat.

“Hayoh… jangan lupa. Waktumu tinggal 2 hari. Dan… ingat! Tidak ada nikah-nikahan, apalagi nikah betulan. Kalau tidak, aku tidak jamin apa yang akan Leader lakukan padamu.” Ucap Seulong sebelum akhirnya benar-benar menghilang, meninggalkan jejak asap tipis.

Hyo Ra sama sekali tidak peduli, ia sudah asyik menghilang-muncul, terbang naik-turun, tertawa girang. Tapi itu tak berlangsung lama, sejurus kemudian Hyo Ra terpaku. Gadis itu bisa merasakan atau lebih tepatnya melihat pikiran Taemin dengan begitu jelas. Calon suaminya itu sudah ada tepat di depan kamar, ragu-ragu untuk mengetuk pintu.

“Taemin?” Seru Hyo Ra sembari membuka pintu, pura-pura terkejut. Yah, awalnya memang pura-pura terkejut, tapi kemudian benar-benar terkejut, menelan ludah panik.

Taemin, yang sekarang sedang memandangnya dengan tersenyum ternyata sedang memikirkan sesuatu yang… membuat Hyo Ra jengah.

“Boleh aku minta sebuah pelukan?” Tanya Taemin dengan santai. Sukses membuat Hyo Ra terkejut pangkat dua. Semula gadis itu mengira Taemin hanya akan memikirkannya saja, tidak akan mengatakan segamblang itu. Hyo Ra menatap manik mata Taemin dalam-dalam. Bahkan, setelah bisa membaca pikiranpun, Hyo Ra tetap merasa cara terbaik menilai seseorang adalah dengan membaca sorot matanya. Pikiran hanyalah sesuatu yang melintas di otak. Tapi sorot mata, itu adalah penggambaran sejati dari perasaan terdalam seseorang. Dan, saat ini Hyo Ra merasa hatinya tersayat. Walaupun Taemin tersenyum, bertanya dengan nada santai, tapi matanya terlihat begitu lelah. Saat melihat Taemin berbincang dengan Jinki, Hyo Ra sempat merasa kalau Taemin ternyata mengerikan. Tapi, melihat bahwa Taemin sangat lelah menanggung semua beban di pundaknya, Hyo Ra kembali luluh.

“Apa terjadi sesuatu?” Tanya Hyo Ra dengan khawatir.

Taemin tersenyum tipis, “Apa begitu terlihat?”

Hyo Ra cepat-cepat menutup pikirannya, tidak ingin melihat apa yang dipikirkan Taemin. Hyo Ra terlalu takut untuk mengetahui kebenaran akan apa yang terjadi sesungguhnya pada Jinki. Apakah Taemin memaksanya untuk bunuh diri? Atau Taemin membunuh Jinki? Tidak, lebih baiik Hyo Ra tidak tahu. Bukankah Key memutus koneksi di saat-saat terakhir dengan tujuan yang sama? Ada hal-hal yang akan lebih baik jika tidak diketahui.

“Jadi, bolehkah aku mendapat sebuah pelukan?” Tuntut Taemin tak sabar melihat Hyo Ra yang masih menatapnya bimbang. Taemin merasa tidak tahan lagi, rasanya sebentar lagi ia akan meledak. Peristiwa semalam benar-benar menguras emosinya, mengguncang jiwa. Taemin perlu seseorang yang bisa menguatkannya. Perlu sebuah pelukan yang akan meyakinkannya, bahwa apa yang dilakukannya semalam bukanlah sesuatu yang sia-sia. Dulu ia tidak punya alasan kuat untuk mempertahankan statusnya sebagai putra mahkota, tapi sekarang berbeda. Hyo Ra adalah Veneris, dan Veneris hanya bisa dimiliki oleh putra mahkota. Maka Taemin akan memastikan bahwa dialah sang putra mahkota itu. Hanya itu yang ia inginkan, hanya Hyo Ra. Bukan kekuasaan atau janji-janji menjadi penguasa negeri-negeri timur.

Saat Hyo Ra akhirnya mengangguk ragu, Taemin segera menarik bahu gadis itu, menguncinya erat dalam sebuah pelukan. Hyo Ra menelan ludah gugup, “Astaga… ada apa denganmu Taemin? Kau membuatku takut,” keluhnya gamang.

“Kau mengkhawatirkanku?” Bisik Taemin lirih, semakin mempererat pelukannya.

Hyo Ra tidak tahu harus menjawab apa, mencelutuk asal, “Tentu saja. Kau ‘kan calon suamiku.”

Tubuh Taemin sedikit menegang, “Kalau begitu, aku tidak akan melepasmu Hyo Ra. Kecuali kau yang minta, aku tidak akan melepasmu. Jadi, jangan pernah menyesalinya. Kumohon.”

***

Hyo Ra menatap gamang udara kosong dihadapannya. Taemin baru saja menghilang, setelah mencium keningnya dengan lembut. Berkata ia benar-benar berharap orang yang ia nikahi besok pagi adalah Hyo Ra dan bukannya Yeorin. Mengeluh betapa lusa terasa begitu lama.

Hyo Ra merasa ada yang salah dengan semua itu. Lantas apa bedanya Minho dan Taemin? Jika Minho ingin memilikinya karena ia adalah Veneris, maka Taemin ingin memilikinya karena ia adalah dirinya, Hyo Ra. Ini tidak benar! Kedua kandidat itu bukan pilihan yang benar. Minho menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya menjadi penguasa. Taemin mempertahankan kekuasaan hanya demi seorang perempuan. Ini tidak benar!

“Tidak ada jalan lain. Baiklah Hyo Ra…. Semangat! Lakukan sebaik mungkin!” Seru Hyo Ra pada diri sendiri. Sejurus kemudian ia sudah menghilang dari kamarnya, muncul tepat di depan Heechul yang tengah menikmati sarapan paginya.

“YA!! Sejak kapan kau bisa muncul begitu saja dari udara kosong? Aishh… baru calon istri saja sudah membuatmu begitu mirip Taemin, apalagi saat kalian sudah menikah nanti?” Sembur Heechul kesal.

Hyo Ra mengabaikan sumpah serapah Heechul, tanpa basa-basi ia sudah menceritakan semuanya pada Heechul. Yah, semuanya. Runtut dari awal pertemuannya dengan Dragon, hingga peristiwa Taemin–Jinki semalam, dan ditutup dengan sebuah permintaaan, “Kau kandidat dengan tingkat kebijakan dan kenetralan tertinggi. Tolong bantu aku.”

Heechul mendengarkan dengan sabar, tanpa menyela sama sekali, hanya sesekali mengangguk tipis. Saat mendengar permintaan Hyo Ra, Heechul terkekeh geli, “Kau ini aneh sekali. Bagaimana kalau aku minta kau memilihku saja? Apa kau akan menurutinya?”

Hyo Ra menggembungkan pipi, memberengut galak, “Kau tidak akan melakukan itu. Kau ‘kan tidak tertarik pada kekuasaan.”

“Yah… siapa tahu aku tiba-tiba tertarik,” Heechul mengangkat bahu, menaikkan kedua alisnya.

Hyo Ra tersenyum, “Tidak. Kau bukan pria seperti itu Heechul-ssi. Kau tidak akan rela menukarkan kebebasanmu dengan apapun.”

“Ah… kau ini! Pantas saja Taemin jatuh cinta padamu. Kau begitu memahami orang,” Heechul berseru dengan nada berlebihan, dibuat-buat. Tapi kemudian memasang wajah serius, “Panggil aku Oppa. Hmm? Dan aku akan membantumu. Bagaimana?”

Hyo Ra menautkan alis, bahkan dikehidupan nyatapun ia jarang memanggil orang dengan sebutan Oppa.

“Kenapa? Keberatan? Itukan bukan syarat yang sulit,” celutuk Heechul tanpa beban.

Hyo Ra menggela nafas, “Baiklah. Heechul Oppa.”

“Nah… begitu. Ah… tidak terbayang bagaimana ekspresi Minho dan Taemin jika mereka mendengar kau memanggilku Oppa,” Heechul tertawa geli, menambahkan serius, “Dan kau tidak boleh memanggil siapapun dengan sebutan Oppa. Hanya padaku. Setuju?”

“Terserah Oppa sajalah,” Hyo Ra menyeringai malas. Sukses membuat Heechul tersenyum penuh kemenangan.

“Jadi, kita mulai saja. Kau sudah tahu seperti apa aku, Minho, Taemin dan Key. Hmm… soal Yesung, singkatnya ia adalah orang yang selalu berusaha menempatkan segala sesuatu sesuai dengan aturan,” ungkap Heechul santai, menopangkan kaki kirinya ke paha kanan, menatap Hyo Ra yang balas memandangnya antusias.

“Itulah kenapa Yesung memilih berada dipihak Minho. Karena menurut aturan, Minho lah yang seharusnya menjadi putra mahkota. Dan Kaisar Donghae adalah pelaku kudeta. Iya ‘kan?” Tegas Hyo Ra yang dijawab anggukan dari Heechul.

“Kurasa, bukan kualitas seperti Yesung yang aku cari. Seorang pemimpin yang baik bukan orang yang selalu patuh pada aturan, tapi juga bisa membuat kebijakan.” Timbang Hyo Ra dengan suara pelan.

Heechul menepuk dahi, “Astaga Hyo Ra! Kau tidak perlu mengatakannya padaku.”

“EH?” Hyo Ra berjengit kaget.

“Cukup kau pikirkan saja, tidak usah kau ungkapkan. Walau bagaimanapun, aku adalah salah satu kandidat. Tidak baik kalau aku tahu terlalu banyak,” jelas Heechul.

Hyo Ra mengangguk pelan, “Baiklah. Aku ada rencana. Dan aku perlu bantuanmu. Hmmm… bisakah kau percaya saja padaku? Atau aku harus menjelaskan rencana ini padamu?”

Heechul tersenyum tipis, “Aku akan membantumu tanpa kau menjelaskannya. Katakan saja, apa yang bisa aku lakukan?”

“Bisakah kau panggil Minho dan Yesung kemari? Ada yang ingin bicarakan pada mereka.” Pinta Hyo Ra, menatap memohon.

Heechul menjentikkan jari, “Gampang. Asal kau tau saja. Ada salah satu pegawaiku yang merupakan mata-mata Minho. Dia bertugas mengamati semua kegiatan Taemin dan Key di sini,” sahutnya santai.

“APA?? Dan Oppa membiarkannya saja?” Seru Hyo Ra tak percaya.

Heechul mengangkat bahu, “Bukan urusanku,” mengibaskan tangan tak peduli. “Kapan mereka harus ke sini? Bagaimana kalau nanti sore sebelum matahari terbenam?” Tanya Heechul meminta pendapat.

Hyo Ra menggangguk setuju, “Aku harus kembali ke istana, sebelum ada yang menyadari kepergianku. Ah-ya, Oppa, jangan bilang siapapun kalau sekarang aku bisa teleportasi sendiri ya,” pintanya, memasang wajah manis.

“Tentu saja,” jawab Heechul maklum, “EH! Apa kau juga bisa terbang dan membaca pikiran seperti Key?”

Melihat Hyo Ra hanya mengangkat bahu, tersenyum sok misterius, Heechul per-puh pelan, “Aku iri sekali pada kau dan Key! Enak sekali bisa terbang kesana-kemari!”

Hyo Ra hanya tersenyum geli, sekejap kemudian sudah menghilang.

***

“Hyo Ra!” Seru Minho dengan intonasi cemas bercampur senang.

Hyo Ra meletakkan cangkir tehnya, berdiri menghampiri Minho yang tiba-tiba muncul di tengah ruangan.

Minho menarik Hyo Ra dalam dekapnnya, mengusap rambut Hyo Ra lembut, “Kau baik-baik saja ‘kan? Kenapa kau mau menikah dengan bocah bangsat ingusan itu? Mereka memaksamu? Aku senang sekali akhirnya kau bisa keluar dari sana. Aku-”

“Pasti akan menjemputku tepat saat upacara pernikahanku dan Taemin akan berlangsung, kemudian membunuh Taemin. Iya ‘kan?” Potong Hyo Ra, merasa ternyata memotong perkataan orang karena sudah tahu apa yang mereka pikirkan ternyata menyenangkan. Pantas saja Key suka sekali melakukannya.

Minho menghela nafas berat, “Kau juga menginginkan hal itu?”

“Kau masih ingin memilikiku?” Hyo Ra balik bertanya, perlahan melepaskan pelukan Minho, mengambil jarak. Mendapati mata Minho yang  memandangnya lurus-lurus.

“Tentu. Aku tidak akan membiarkanmu bersama orang lain. Kau harus jadi milikku!” Sahut Minho tegas.

“Baiklah. Aku akan membantumu mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi hak-mu, sebagai seorang putra mahkota.” Ucap Hyo Ra penuh penekanan, “Tapi kumohon, jangan banyak bertanya. Aku punya alasan untuk melakukan ini semua. Bisakah kau percaya padaku?”

Hyo Ra bisa mendengar kebingungan Minho akan permintaannya itu, banyak hal yang dipertimbangkan Minho sebelum akhirnya ia mengangguk, menjawab gamang, “Aku akan mencoba mempercayaimu. Asal kau berjanji tidak akan menikah dengan Taemin, atau siapapun.”

Hyo Ra tersenyum tipis, ternyata Minho khawatir ia akan menjadikan pernikahannya dengan Taemin sebagai jalan mengembalikan kedudukan Minho. Tentu saja Hyo Ra tak senaif itu, mengajukan syarat Taemin harus menyerahkan jabatan sebagai putra mahkota kepada Minho jika Taemin ingin menikah dengannya. Lagipula, apa Taemin bisa mengorbankan hal sebesar itu hanya demi Hyo Ra? Entahlah, tapi hal itu mungkin saja. Mengingat kelakukan Taemin yang akhir-akhir ini berubah.

“Hyo Ra. Aku bertanya padamu.” Tuntut Minho tak sabar melihat Hyo Ra justru sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Aku tidak akan menikah dengan Taemin. Kau bisa pegang janjiku,” sahut Hyo Ra tegas. Membuat Minho tersenyum lebar, nyaris mencium bibir Hyo Ra jika saja Heehul dan Yesung tidak muncul dari lantai bawah.

“Kalian tidak menyuruhku kesini untuk menyaksikan hal ini ‘kan?” Tanya Yesung dengan nada tajam, menatap dua orang didepannya dengan kesal. Sementara Heechul bersiul-siul tak jelas, mengedipkan sebelah mata kearah Hyo Ra.

Hyo Ra menyembunyikan mukanya di balik punggung Minho. Jantungnya masih berdebar keras, ia juga tidak menyangka Minho akan melakukan hal itu padanya. Apalagi saat ia mendengar kilasan di pikiran Heechul yang menjuluki dirinya sebagai ‘Crown Prince Killer’.

“Aish… kalian datang disaat yang tidak te-” Keluhan Minho terpotong, Hyo Ra sudah menendang tulang keringnya, sukses membuat Minho meringis kesakitan.

“Apa kami perlu pergi dulu? Yah… siapa tau kalian ingin melanjutkan-”

“OPPA!!” Sergah Hyo Ra sekuat paru-parunya, membungkam Heechul yang siap melontarkan lebih banyak lagi kalimat godaan.

Kali ini, Minho yang terbelalak kaget, menatap Hyo Ra tidak terima, “Kenapa kau memanggilnya Oppa? Hah?”

Hyo Ra menghembuskan nafas kesal, “Tidak usah dibahas! Aku meminta kalian berkumpul bukan untuk membicarakan hal tidak penting seperti ini.”

“Benar. Jadi apa maumu sebenarnya?” Sahut Yesung dingin, mengabaikan tatapan tajam Minho.

“Ayo, duduk dulu. Tidak nyaman berbincang sambil berdiri,” tawar Heechul, menunjuk meja bundar yang tadi diduduki Hyo Ra.

Tak lama kemudian keempat orang itu sudah terlibat pembicaraan serius.

“Bagaimana cara melakukannya?” Tanya Minho antusias.

Hyo Ra tersenyum tipis, “Kau akan membawa mereka berteleportasi langsung ke dalam kuil.”

Minho menggeleng lemah, “Tidak bisa. Aku hanya bisa membawa orang lain saat teleportasi. Yah, kau pengecualian.”

“Disitulah peranku, kau bisa membawa mereka asal aku ikut diantara kalian,” sahut Hyo Ra dengan sangat yakin.

Minho menatap Hyo Ra lurus-lurus, “Benarkah? Baiklah. Aku akan membawa Yesung dan 9 prajurit pilihan nanti malam. Kalian bersembunyi dulu di sana, besok pagi aku akan menyusul.”

“Tidak Minho, bukan nanti malam. Besok malam, tepat sebelum Hyo Ra menikah. Kau tidak ada kepentingan dengan Yeorin ‘kan? Jadi biarkan saja Taemin menikahinya,” Heechul ikut angkat pendapat.

Hyo Ra mengangguk tegas, “Heechul oppa benar,” mendelik kesal ke arah Minho yang tengah memberengut, “Ayolah Minho, fokus dulu pada rencana kita. Jangan mempermasalahkan kenapa aku memanggil Heechul dengan sebutan oppa. Kau ini kekanakan sekali!”

Minho semakin memberengut, “Jangan menikah dengan Heechul!” Protesnya tanpa berpikir.

“KAU GILA YA?” Teriak Hyo Ra sebal setengah mati.

“Minho, kau akan menyusul kami ke istana tepat saat Hyo Ra dan Taemin berada di Bukit Persembahan. Kau habisi Taemin, aku akan menangani Key dan segera menghabisi Donghae. Sisanya biar diurus teman kita. Hmmm… persis seperti rencana kita semula, hanya waktunya yang diundur satu hari. Iya ‘kan?” Sela Yesung tak sabaran.

“Key tidak usah kau pikirkan. Aku yang akan menanganinya,” Sela Heechul, buru-buru menambahkan saat Yesung menatapnya curiga, “Dia itu adikku. Dia akan lebih mendengarkan penjelasanku daripada kalian. Aku akan membuatnya sibuk sehingga tidak akan muncul di pernikahan Hyo Ra.”

Hyo Ra mengangguk setuju, “Tapi, bukankah lebih baik jika kalian tidak buru-buru membunuh kaisar Donghae?” Hyo Ra buru-buru menambahkan saat melihat Minho dan Yesung menatap curiga padanya, “Maksudku, bukankah selama ini Donghae hanya kaisar sementara karena Taemin dianggap belum cukup mampu untuk naik tahta? Jadi yang menjadi kunci semua masalah ini adalah Taemin. Jika ia bisa disingkirkan, maka Donghae tidak lagi ada apa-apanya. Dan, Minho bisa mengambil alih kekuasaan dengan damai. Paksa Donghae untuk menyerahkan jabatannya padamu,” ungkap Hyo Ra sembari menatap Minho.

“Kau benar juga. Dengan begitu, peralihan kekuasaan akan terjadi secara sah dan tidak mengakibatkan konflik baru. Aku setuju.” Sahut Heechul ringan, “Baik pendukungmu maupun pendukung Taemin akan bersatu dibawah kekuasaanmu Minho. Bukankah itu baik bagi kelangsungan negara? Dan kau bisa saja menghukum mati Donghae dengan alasan kudeta yang ia lakukan pada ayahmu. Hanya soal waktu saja.” Tanya Heechul pada Minho.

Minho bertukar pandang dengan Yesung, menimbang-nimbang. Sejurus kemudian keudanya tampak saling mengangguk.

 “Baiklah. Itu masuk akal.” Putus Minho pada akhirnya.

Suasana sejenak hening, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri.

Hyo Ra tiba-tiba mengeryit bingung saat tiba-tiba sadar ada yang tidak ia pahami, “Bukit Persembahan itu apa?”

Minho menoleh cepat ke arah Hyo Ra, “Hah? Apa? Kau belum tahu? Bagaimana kau ini? Mau menikah tapi belum paham tata caranya?”

Hyo Ra menyeringai malas, “Aku ‘kan tidak ada rencana menikah.”

“Sebelum upacara pengesahan sebagai suami-istri di kuil, semua pasangan dari keluarga istana harus melakukan persembahan di bukit. Pasangan itu akan membawa satu buket besar bunga ke atas bukit, hanya berdua saja, dan meletakkannya bersamaan di atas bukit itu. Semacam permintaan pada leluhur, nenek moyang dan penguasa alam. Agar pernikahan kalian diberkahi.” Heechul berbaik hati menjelaskan.

Hyo Ra hanya ber-oh pelan, “Begitu ya. Hmmm…”

“TIDAK!”

Next : Track 9 – Crown Prince Killer

“Minho tidak perlu mengkhawatirkan Taemin. Aku sendiri yang akan menanganinya.”

“Aku bukan orang yang akan mengambil hak orang lain. Terlebih lagi, aku bukan seorang pengkhianat! Ingat itu baik-baik nona Hyo Ra.”

“Benarkah ini keinginanmu? Kalau benar, maka jangan pernah kau menyesalinya. Karena itu akan membuat pengorbananku sia-sia.”

“Aku mencintaimu Hyo Ra, dan inilah caraku mencintaimu.”

“Kumohon, percayalah padaku Key!”