Track 10 – Crown Prince Killer

Author : yen

Main Cast : SHINee’s Choi Minho, Super Junior’s Yesung, SHINee’s Lee Taemin, SHINee’s Kim Ki Bum, Super Junior’s Kim Heechul, Cho Hyo Ra.

Length : Sequel

Rating : General

Genre : Fantasy, Parallel Universe

“TIDAK!”

Ketiga namja itu seketika terlonjak kaget mendengar seruan Hyo Ra, memasang wajah tidak mengerti. Apanya yang tidak?

“Maksudku, Minho tidak perlu mengkhawatirkan Taemin. Aku sendiri yang akan menanganinya. Kalian urus saja yang lain,” sahut Hyo Ra kalem.

“K-kau akan membunuhnya sendiri?” Yesung tergagap saking kagetnya, menelan ludah.

Minho tak kalah terkejutnya dari Yesung, melotot tak percaya pada Hyo Ra. Hanya Heechul yang nampak santai tidak peduli.

“Kalian pikir aku tidak berani? Tidak akan tega?” Hyo Ra menatap Minho dan Yesung bergantian.

Minho menggeleng lemah, menatap tajam mata Hyo Ra.

“Kau sudah berjanji akan mempercayaiku. Baru segini saja kau sudah melanggarnya?” Tuntut Hyo Ra pada Minho, nada suaranya lebih terdengar seperti keluhan kecewa.

“Tentu aku mempercayaimu Hyo Ra. Selama kau juga menepati janjimu,” sahut Minho tegas.

Heechul menengahi situasi yang mulai panas dengan mengajak Minho pergi, “Baiklah. Rencananya sudah jelas. Sekarang kau ikutlah denganku. Kau akan mengajarimu cara mengelabui Key, agar dia tidak bisa membaca pikiranmu dengan tepat.”

“Benar. Rencana kita bisa gagal total kalau Key sampai tahu. Heechul Oppa paling jago dalam hal tipu-tipu pikiran, jadi belajarlah darinya,” sahut Hyo Ra, memasang wajah tak berdosa ke arah Heechul. Yang disindir tidak sadar, malah tersenyum bangga.

Minho cepat-cepat menarik dagu Hyo Ra, menghadapkan wajah Hyo Ra kearahnya. “Kau terlihat imut sekali saat memasang wajah tanpa dosa seperti ini. Jadi jangan memperlihatkannya pada orang lain. Kau mengerti?”

“Kau ini! Apa tidak ada yang lain diotakmu?” Sergah Hyo Ra kesal, mendorong bahu Minho, menyuruhnya segera menyusul Heechul yang sudah meninggalkan ruangan.

“Kenapa kau tiba-tiba melakukan hal ini?” Tanya Yesung tajam saat mereka hanya tinggal berdua, Minho sudah pergi mengikuti Heechul.

Hyo Ra menautkan alis, “Membantu kalian dan mengkhianati Taemin? Itu yang kau maksud?”

Yesung tersenyum sinis, “Kau bisa membaca pikiran rupanya.”

“Tidak ada teman sejati, sebagaimana tidak ada musuh abadi dalam politik. Semuanya hanyalah masalah kepentingan. Kau juga tahu hal itu.” Sahut Hyo Ra dingin, tak mngindahkan pernyataan Yesung barusan.

“Kau memang mengerikan. Kau memilih Minho karena tahu dia tidak akan menduakanmu ‘kan? Sementara Taemin justru menikahi Yeorin terlebih dahulu,” Yesung mendengus kasar, “Aku dengar kau yang meminta Taemin melakukan itu, tapi aku yakin, bukan itu yang sebenarnya kau inginkan.”

Hyo Ra tersenyum tipis, “Sepertinya kau paham sekali hati wanita. Kami memang terkenal lain di bibir, lain di hati.”

“Tetap saja, bukan itu alasan utama kau melakukan hal ini,” Yesung kembali tersenyum sinis.

Hyo Ra mengangkat bahu, “Benarkah? Lalu apa alasan utamaku?”

“Aku tidak tahu, dan tidak mau tahu. Asalkan kau tidak merugikan kami, aku tidak akan ambil pusing,” sahut Yesung dingin.

Hyo Ra menatap Yesung lamat-lamat, “Kalau kau mau, aku bisa saja mengkhianati Minho dan menjadikanmu kaisar Negeri Para Penerbang. Bahkan bisa lebih dari itu, aku bisa menjadikanmu penguasa negeri-negeri timur. Syaratnya hanya satu, percayalah padaku!”

“BRAK!”

Yesung menggebrak meja dengan kasar, menatap tajam kearah Hyo Ra yang malah memasang senyum tenang, “Aku bukan orang yang akan mengambil hak orang lain. Terlebih lagi, aku bukan seorang pengkhianat! Ingat itu baik-baik nona Hyo Ra,” tandas Yesung dengan sangat dingin, kemudian berlalu meninggalkan Hyo Ra yang menyeringai puas. Puas karena apa yang ia dugakan tentang Yesung ternyata 100% benar. Kandidatnya yang paling misterius itu, punya keteguhan hati yang tegar bagai karang, tak tergoyahkan. Kaku memang, tapi itulah kualitas yang diperlukannya untuk mendukung seseorang yang mudah goyah. Dibelakang seorang pemimpin besar, pasti ada seorang pendukung berhati besar.

***

“Kau gugup?” Taemin memeluk Hyo Ra dari belakang, meletakkan dagunya di bahu kanan gadis itu.

Hyo Ra menggeleng pelan, membuat pipinya menyentuh pipi Taemin, “Yeorin bagaimana?”

Taemin berdecak pelan, “Bisakah kau tidak menyebut namanya? Besok pagi kita menikah.”

“Dan tadi pagi kau menikah dengan Yeorin. Tapi sore ini kau justru mengirimnya ke rumah orang tuanya.” Hyo Ra menghela nafas pelan, “Dia terlihat begitu sedih.”

“Dia akan lebih sedih lagi jika harus melihat upacara pernikahan kita. Tenang saja, dia bersama Key, semuanya akan baik-baik saja. Toh, besok aku akan menyusulnya,” sahut Taemin ringan. Taemin melakukan semua ini atas saran Heechul, mengirim Yeorin terlebih dulu ke negeri asalnya. Sebenarnya itu memang tradisi, setelah menikah di rumah mempelai pria, keduanya akan pergi mengunjungi orang tua mempelai wanita. Hanya saja, jika biasanya mereka berangkat berdua, Heechul malah menyuruh Yeorin berangkat duluan, Taemin akan menyusul dengan teleportasi. Tentu saja itu semua hanya akal-akalan Heechul agar Key berada jauh dari istana saat upacara pernikahan Hyo Ra dan Taemin. Karena memang Key yang mendapat tugas mengawal Yeorin. Alasannya tentu saja agar Yeorin tidak jatuh ke pihak Minho dan dijadikan sandera atau alat untuk menjatuhkan Taemin.

“Yeorin mencintaimu,” keluh Hyo Ra pelan, menyandarkan kepalanya di dada Taemin. Tak bisa dipungkirinya, berada dalam pelukan Taemin terasa cukup nyaman. Berbeda dengan pelukan Minho, yang selalu saja membuat jantungnya berdebar tidak karuan.

Taemin menghela nafas panjang, mempererat pelukannya, “Dan aku mencintaimu.”

“Kenapa?” Hyo Ra melepaskan pelukan Taemin, berbalik, mencari jawaban dalam mata Taemin.

Taemin menatap Hyo Ra lamat-lamat, “Karena aku mempercayaimu.”

Hyo Ra membalas tatapan Taemin, sembari mencari kejujuran di dalam mata biru teduh itu. Taemin tidak berbohong, ia memang mempercayai Hyo Ra. Percaya bahwa sekalipun Hyo Ra belum mencintainya, tetapi Hyo Ra tidak akan menyakitinya. Tidak akan memanfaatkannya. Tidak bersamanya hanya karena alasan politik dan kekuasaan semata. Taemin yakin, Hyo Ra bersamanya karena ia memang mau bersamanya. Tanpa alasan dan tujuan lain.

“Benarkah? Kalau begitu, percayalah padaku Taemin. Sampai akhir.” Ucap Hyo Ra sembari tersenyum.

Taemin membalas senyuman Hyo Ra, mengangguk mantap.

***

Hyo Ra melangkah perlahan, menghampiri Taemin yang berdiri gelisah di samping Heechul, tepat di kaki Bukit Persembahan. Tepat saat gadis itu sampai di hadapan mereka, Taemin tanpa basa basi langsung menggandeng tangan Hyo Ra, membimbingnya menaiki bukit. Namun sebelumnya, Taemin menyempatkan diri untuk melempar tatapan galak ke arah Heechul yang tengah bersiul pelan.

“Sepertinya, sekarang ini, kau yang gugup,” goda Hyo Ra pada Taemin yang melangkah mantap sembari memandang lurus ke atas Bukit Persembahan.

Taemin mengalihkan pandangannya, menghela nafas dalam-dalam, “Tentu saja. Sebentar lagi kau jadi istriku. Aku tidak sabar menunggu nanti ma-”

“PLETAK!”

“YA! Kenapa kau memukulku? Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga!” Seru Taemin saat Hyo Ra menjitak kepalanya.

Hyo Ra menutupkan buket bunga ditangannya di depan wajah, menggerutu jengah. Bagaimana tidak? Taemin ternyata tengah membayangkan malam pertamanya bersama Hyo Ra. Tentu saja gadis itu malu setengah mati. Walaupun sebenarnya, terselip sedikit rasa bersalah karena hal itu tidak akan pernah terjadi.

Taemin merebut buket bunga dari tangan Hyo Ra, tersenyum geli melihat rona merah di pipi calon pengantinnya itu, “Kau cantik sekali,” ucapnya sembari meraih pergelangan tangan Hyo Ra, tak sabaran kembali menariknya menaiki tangga yang menuju puncak Bukit Persembahan.

“Cepatlah…” Bisik Taemin karena Hyo Ra berjalan sangat pelan, hati-hati menjaga bagian bawah gaunnya yang menjuntai ke tanah.

“Apa aku perlu menggendongmu?” Taemin bergaya seolah-olah siap mengangkat Hyo Ra.

Hyo Ra menggembungkan pipinya, “Kau tak sabaran sekali!”

Taemin terkekeh geli, kembali melangkah menaiki tangga. Tidak memperhatikah raut muka Hyo Ra yang tiba-tiba menegang pucat. Mereka sebentar lagi sampai di puncak bukit. Hyo Ra menyipitkan matanya, menatap tajam kearah kuil di kaki bukit. Ia bisa merasakan Yesung dan kawan-kawannya mulai bergerak mengambil posisi. Gadis itu menghela nafas panjang, tangannya merangkul erat lengan Taemin. Sebentar lagi Minho akan muncul. Benar saja, belum sempat Taemin mengucapkan pertanyaannya pada Hyo Ra yang tiba-tiba bersikap aneh, Minho sudah muncul, mengacungkan katana-nya di leher Donghae. Bersamaan dengan Yesung dan 9 orang berseragam hitam yang menyandera perdana menteri, panglima perang dan pejabat-pejabat lainnya.

Taemin menatap tak percaya pada Hyo Ra yang justru menahannya saat ia ingin berteleportasi, ingin menghadapi Minho.

Hyo Ra tersenyum tipis, “Maaf Taemin. Aku hanya ingin mengembalikan apa yang menjadi hak Minho.”

Taemin berdiri kaku, bukan hanya tidak bisa berteleportasi, perkataan Hyo Ra membuatnya membeku tak bisa bergerak. Bahkan tak bisa mengeluarkan suara. Sempurna membeku. Taemin hanya bisa menatap ayahnya yang diikat paksa oleh Minho. Geram melihat para pejabat dan prajurit bukannya melakukan perlawanan, malah melihat semua kejadian dengan tatapan dingin, seolah mereka memang menginginkan semua itu terjadi sejak dulu.

“Taemin, tidak semua yang kau inginkan bisa kau miliki. Apa yang menjadi hak orang lain, pasti akan kembali pada pemiliknya. Jangan memaksakan diri,” ucap Hyo Ra pelan, “Kau percaya padaku ‘kan?” Tanyanya penuh harap.

“Ini ‘kah keputusanmu?” Tanya Taemin buru-buru saat merasa kemampuan bicaranya telah kembali.

Hyo Ra menghela nafas panjang, melirik Minho yang tengah berjalan santai ke arah mereka.

“Percayalah padaku Taemin, kumohon,” bisik Hyo Ra panik. Gadis itu bisa melihat apa yang sekarang ada dipikiran Taemin. Bukan hanya itu, ia juga bisa merasakan sakit yang membetot hati Taemin. Perasaan dikhianati dan ditinggalkan bercampur aduk dengan perasaan ingin melakukan yang terbaik, walaupun itu untuk terakhir kalinya.

“Hyo Ra, aku tahu kau hanya ingin menempatkan semuanya sesuai seharusnya. Aku mengerti. Aku akan-”

Hyo Ra memotong cepat perkataan Taemin, “Jangan. Tidak! Percayalah padaku!” Taemin berniat mengorbankan dirinya. Merasa semua ini hanya akan berakhir jika salah satu dari dirinya atau Minho mati. Dan lihatlah, semua orang memilih Minho, berada dipihak Minho. Termasuk Hyo Ra, gadis itu juga telah memilih Minho. Jika kedamaian dan ketentraman negera bisa dicapai dengan kematiannya, Taemin siap. Terlebih jika itulah yang diinginkan Hyo Ra.

“Biar aku yang menyelesaikannya Hyo Ra,” ucap Minho dingin, mengacungkan katananya di depan leher Taemin.

Hyo Ra menatap gugup sisi tajam katana Minho yang melintang tepat di depan matanya, “Minho! Ingat janjimu!” Seru Hyo Ra tegas.

Taemin tak melepas pandangannya dari wajah Hyo Ra, hatinya kebas, otaknya tak mampu lagi berpikir jernih.

“Kalau begitu, lakukan sekarang juga,” ucap Minho dingin, mengulurkan hulu katana pada Hyo Ra.

“Hyo Ra, benarkah ini keputusanmu?” Taemin berbisik lirih.

Hyo Ra menerima katana yang disodorkan Minho dengan ekspresi datar, “Ya. Baiklah.”

Minho menyeringai puas, mengambil jarak dari Taemin dan Hyo Ra. Memberi ruang yang lebih luas pada Hyo Ra. Taemin menelan ludah, memejamkan mata sejenak. Hyo Ra memenang katana itu dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih melingkar erat di lengan kiri Taemin.

Hyo Ra melirik Minho, memastikan hanya Taemin yang bisa mendengar apa yang akan ia katakan, “Taemin, aku akan-”

Belum sempat Hyo Ra menjelaskan, Taemin sudah memotong, berucap dingin, “Lakukan saja.”

Hyo Ra berdecak kesal, “Percayalah padaku!”

“Benarkah ini keinginanmu? Kalau benar, maka jangan pernah kau menyesalinya. Karena itu akan membuat pengorbananku sia-sia.” Ucap Taemin pedih. Tangan kanannya merenggut katana dari genggaman Hyo Ra, menancapkannya di perutnya sendiri.

Hyo Ra berseru kaget, jatuh terduduk saat berupaya meraih tubuh Taemin yang terhuyung. Hyo Ra menopang kepala Taemin di atas pangkuannya, mencabut katana dari perut Taemin, menatap jerih darah yang menyembur keluar. Gadis itu bisa melihat keputusasaan dan sesal dalam tatapan Taemin yang mulai meredup.

“Seperti ini ‘kan rasanya berkorban untuk seseorang atau sesuatu? Ternyata selama ini aku sangat bodoh. Ternyata apa yang aku rasakan, sakit yang kualami, tak sebanding dengan penderitaan Ibunda dan Jinki Hyung. Terlebih mereka mengalaminya karena ku paksa, bukan karena keinginan sendiri. Betapa mahalnya kekuasaan. Betapa mahalnya sebuah kedamaian.”

Hyo Ra tergugu saat mengetahui apa yang dipikirkan Taemin. Sekuat hati memanggil Key lewat pikirannya. Hanya Key yang bisa membantu. Segalanya berjalan kacau, tidak sesuai rencana.

“Aku mencintaimu Hyo Ra, dan inilah caraku mencintaimu,” bisik Taemin lirih, berusaha mengangkat tangannya, menghapus air mata yang mengalir deras di pipi gadis itu.

Minho berdiri kaku di tempatnya, tak mengira Taemin akan membunuh dirinya sendiri, melepas semuanya hanya demi kebahagiaan seorang gadis bernama Hyo Ra.

Hyo Ra mengedarkan pandangan ke langit, berseru tertahan, berteriak dalam hati, “KEY! Kumohon!”

“Hyo Ra…” panggil Taemin pelan, tersenyum lembut, memejamkan matanya perlahan-lahan.

Hyo Ra menelan ludah panik, mendekatkan wajahnya ke wajah pucat Taemin, membuat rambut panjangnya menjuntai, menutupi wajah keduanya, “Berapa kali ku bilang, percaya padaku? Kau bodoh, sangat bodoh. Kau putra mahkota yang bodoh. Orang bodoh yang terlalu baik hati,” cecar Hyo Ra tanpa berpikir.

Tiba-tiba terdengar suara bentakan keras, “Mengacau saat aku tak ada? Kau pengecut!”

Suara Key. Itu Key! Benar saja, Key sudah mengacungkan pedangnya tepat di muka Minho yang pias terkejut, tak mengira Key tiba-tiba mendarat mulus dihadapannya.

Hyo Ra sigap mengangkat wajah, berseru dalam hati, membuka koneksi antara pikirannya dengan pikiran Key, bertelepati, “Jangan Key. Abaikan Minho. Bawa pergi Taemin ke tempat Yeorin berada, sekarang juga!”

Key melirik sekilas ke arah Hyo Ra dan Taemin, wajahnya yang semula marah berubah dingin melihat Taemin yang terbaring kaku di pangkuan Hyo Ra.

“Kumohon, percayalah padaku Key!”

Key mangalihkan pandangannya dari tubuh Taemin yang bersimbah darah ke wajah pias Hyo Ra yang tak melepas tatapannya dari wajah Taemin. Gadis itu memang sibuk menjelaskan melalui telepati, menceritakan banyak hal pada Key, tapi tatapannya tetap tertancap di wajah Taemin. Wajah tenang yang lebih mirip orang tidur nyenyak daripada mati.

Key kembali memutar kepala, menyeringai tajam pada Minho. Sejurus kemudian ia mengambil keputusan, tidak ada salahnya percaya pada Hyo Ra. Key menyarungkan pedangnya dalam sekali sentak, meloncat ringan, menyambar tubuh Taemin. Key tersenyum tipis dan mengangguk sekilas saat Hyo Ra meneriakkan sebuah permintaan lewat telepati.

Minho hanya bisa terbengong saat melihat Key membawa terbang tubuh Taemin. Sedetik kemudian keduanya sudah menghilang diluasnya langit, menyisakan Hyo Ra yang masih duduk berlutut di tanah.

“Hyo Ra…” Panggil Minho lembut, menarik tubuh gadis itu dalam pelukannya, mengusap lembut punggung Hyo Ra.

Hyo Ra membiarkan Minho memeluknya, pelukan yang sekarang terasa dingin, tanpa debaran jantung yang memacu cepat, “Taemin sudah tidak ada. Aku juga sudah menepati janjiku, mengembalikan apa yang menjadi hakmu, Putra Mahkota Minho.”

“Sttt… Semuanya sudah selesai, berakhir. Aku tahu ini berat untukmu Hyo Ra. Bukan salahmu, bukan kau yang membunuh Taemin. Dia sendiri yang berkorban.” Sahut Minho dengan suara lembut, menenangkan.

“Maukah kau berjanji padaku Minho?” Tanya Hyo Ra, melepas pelukan Minho, menatap mata Minho yang sekarang bersinar lembut. Seluruh dendam itu telah sempurna hilang dari sorot matanya, berganti dengan sorot teduh. Nyaris sama dengan sorot mata Taemin.

Minho tersenyum, benar-benar tersenyum untuk pertama kalinya, “Apa?”

“Jangan biarkan semua ini sia-sia. Kau harus menjaga Negeri Para Penerbang ini dengan nyawamu. Melindungi rakyat yang telah mendukungmu, menjadikan mereka tenang dibawah kepemimpinanmu,” pinta Hyo Ra tenang dan terkendali.

Minho menatap Hyo Ra dengan pandangan tak mengerti. Tapi sejurus kemudian ia mengangguk, “Aku akan melakukan apa saja yang kau minta.”

Hyo Ra berjalan menuruni tangga sembari menunduk, menyembunyikan senyum sinisnya yang terkembang sempurna. Minho mengucapkan janji itu tanpa berpikir, hanya ingin mengambil hatinya saja. Tapi tidak. Hyo Ra sudah tidak peduli lagi. Bagi Hyo Ra, kepergian Taemin telah merubah segalanya. Termasuk rencana yang telah ia susun. Berubah. Kini tak ada lagi yang ia pedulikan, sekalipun itu berupa tatapan tajam Heechul yang jelas berkata bahwa Hyo Ra adalah pengkhianat. Pengkhianat yang kejam. Pengkhianat yang tega memaksa orang yang mencintainya sepenuh hati untuk melakukan bunuh diri. Tidak. Hyo Ra tidak lagi peduli. Ia juga tidak merasa perlu untuk menjelaskan apapun pada Heechul. Bahwa sebenarnya semua ini terjadi di luar rencananya. Jika saja Taemin percaya padanya. Jika saja Taemin mau mendengarkannya, semuanya tidak akan berakhir seperti ini. Tapi toh, tak pernah ada kata menyesal bagi seorang Veneris. Tidak akan pernah!

Untuk kedua kalinya dalam sehari ini Hyo Ra mengedarkan pandangannya ke langit luas. Jika tadi ia mengharap kedatangan seseorang, maka kali ini sebaliknya. Ia hanya perlu sedikit waktu. Sedikit lagi.

Next :

Track 11 – Permintaan Terakhir

“Maaf. Aku harus pergi. Senang pernah mengenalmu, Pangeran Berkuda Putih.”

“Taemin dan Yeorin akan hidup bahagia ‘kan?”

“Kau harus belajar tersenyum dan tertawa di depan gadis lain. Jangan hanya didepanku saja.”

“Gila. Jinki Hyung sudah gila. Ia menyuruhku melakukan CPR pada seorang gadis yang entah hidup entah mati ini?”