Track 11 – Permintaan Terakhir

Author : yen

Kontributor : Afifah (Park Je Woo)

Main Cast : SHINee’s Choi Minho, Super Junior’s Yesung, SHINee’s Lee Taemin, SHINee’s Kim Ki Bum, Super Junior’s Kim Heechul, Cho Hyo Ra.

Support Cast : BIG BANG’s Kwon Ji Yong

Length : Sequel

Rating : General

Genre : Fantasy, Parallel Universe

Hyo Ra menatap lurus ke puncak Bukit Persembahan, mengabaikan Minho yang tengah menggenggam erat telapak tangannya. Untuk kedua kalinya ia harus meniti anak-anak tangga di punggung bukit itu, kali ini dengan Minho. Minho yang bukan lagi putra mahkota, namun Minho yang seorang kaisar Negeri Para Penerbang. Semuanya berjalan dengan begitu cepat. Dua hari yang lalu, seharusnya pernikahan Hyo Ra dan Taemin berlangsung. Kemarin Minho resmi dilantik menjadi kaisar. Hari ini, upacara pernikahan Hyo Ra dan Minho dilangsungkan.

“Tanganmu dingin sekali. Apa kau gugup?” Bisik Minho lembut, mendekatkan mulutnya ke telinga Hyo Ra.

Yang ditanya hanya tersenyum, menggeleng.

“Hyo Ra….” Panggil Minho ragu-ragu, menelisik wajah gadis di sebelahnya.

“Minho, maaf. Aku sedang tidak ingin membicarakan apapun saat ini.” Potong Hyo Ra pelan, menghentikan langkahnya sejenak.

Minho menghela nafas panjang, baru saja ia akan menyinggung soal Taemin. Minho merasa Hyo Ra tidak sepenuh hati menikah dengannya. Sepertinya gadis itu masih memikirkan kepergian Taemin.

Hyo Ra menggigit bibir bawahnya saat mengetahui bahwa Minho ternyata tengah berusaha membuang segala kekhawatirannya sendiri. Awalnya, bagi Minho, pernikahan ini tak lebih dari upaya memiliki seorang Veneris. Tapi ternyata, Minho memiliki sisi manusiawi yang romantis juga. Menjalani semua ritual pernikahan yang bagaimanapun tetap terasa sakral membuat hatinya sedikit goyah. Mulai merasa bahwa ia harus mencintai Hyo Ra setulus hati. Karena pernikahan, tetaplah pernikahan. Janji suci antara dua manusia yang siap berbagi sisa hidup, berbagi takdir.

Tepat saat mereka berdua tiba di puncak bukit, bukannya meletakkan buket bunga bersamaan dengan Minho, Hyo Ra justru melepas genggaman Minho dari tangannya.

Menyadari hal itu, wajah Minho mendadak pucat. “Kau-”

Belum sempat Minho menyelesaikan pertanyaannya, Hyo Ra sudah memotong terlebih dahulu, “Aku tidak akan membuatmu dalam keadaan sulit Minho. Aku sudah menepati janjiku untuk membantumu mendapatkan apa yang menjadi hakmu. Tapi, Dragon benar. Aku adalah miliknya. Tak seorangpun bisa memilikiku.” Gadis itu tampak menguatkan hati, menambahkan tulus, “Maaf. Aku harus pergi. Senang pernah mengenalmu, Pangeran Berkuda Putih.”

Saat itu juga, sebuah sinar terang yang sangat menyilaukan terlihat melingkupi Hyo Ra. Minho hanya bisa menatap nanar pemandangan dihadapannya. Dragon muncul tepat diantara Hyo Ra dan Minho, melempar tatapan dingin mematikan kearah Minho. Tanpa mengucapkan apa-apa, Dragon telah membawa Hyo Ra menghilang. Menyisakan Minho yang hanya bisa menatap kosong buket bunganya, juga meninggalkan desas-desus di kalangan istana. Sampai puluhan tahun kemudian, cerita itu terus berkembang. Bukan. Bukan tentang hilangnya mempelai wanita. Tapi tentang kemunculan Sang Penjaga Timur di dalam istana. Desas-desus yang akhirnya berakhir pada kesimpulan, bahwa Minho sejatinya adalah kaisar yang secara langsung direstui oleh langit, oleh Sang Penjaga Timur itu sendiri.

***

“Jangan lama-lama, kau harus segera pulang. Mengerti?” Tanya Dragon pada Hyo Ra yang mengabaikannya. Gadis itu memilih menatap punggung namja bermantel hitam yang duduk menjuntai di tepi mercusuar, tidak menyadari kedatangannya dan Dragon.

Dragon mendengus sebal, “Untung saja semuanya berjalan lebih cepat. Kalau tidak…. Hah! Bukankah aku sudah menyuruhmu waspada padanya? Kau punya bakat besar untuk menyukai orang dengan tipe seperti dia.”

“Bisakah kau tinggalkan kami berdua saja?” Keluh Hyo Ra tak peduli pada omelan Dragon.

Dragon mendelik sebal, “Astaga! Mengusirku? Kau-”

“Oh… ayolah! Aku masih akan bertemu denganmu ribuan kali lagi. Tapi ini adalah kali terakhir aku bisa bertemu dengannya.” Sembur Hyo Ra tak kalah sebal.

Dragon hanya mengangkat bahu, sejurus kemudian telah menghilang.

Hyo Ra tersenyum tipis, menghampiri namja bermantel hitam yang ternyata tengah memejamkan mata itu. Hyo Ra beringsut pelan, ikut duduk disebelahnya, lantas memeluk lengan namja itu.

“Dia baik-baik saja. Yeorin juga mengirim salam untukmu.” Celutuk namja itu sebelum Hyo Ra bertanya, seperti biasa. Ya, seperti biasa. Memang begitulah Key.

Key?

Ya, Key. Seharusnya, tepat setelah ia mengoper mutiara naga itu pada Taemin, Hyo Ra harus segera pulang ke semestanya. Tapi ia memohon sedikit lagi waktu pada Dragon. Selain ia ingin pergi dengan lebih spektakuler –ditengah prosesi pernikahannya dengan Minho- juga karena ia ingin bertemu dengan Key terlebih dahulu.

Saat Key membawa pergi Taemin dari Bukit Persembahan, Hyo Ra sempat meminta Key menunggunya di mercusuar, 2 hari lagi. Permintaan itulah yang membuat Key tersenyum tipis dan mengangguk sebelum terbang melesat.

Mengoper mutiara naga? Eh, memilih sang Pengusaha Negeri-negeri Timur? Kapan?

Tidak adakah yang memperhatikan? Hal itu Hyo Ra lakukan saat Taemin nyaris meninggal dipangkuannya. Saat Hyo Ra mendekatkan wajahnya ke wajah Taemin, menggerutu bahwa Taemin adalah orang bodoh. Ya, saat itulah Hyo Ra diam-diam menyentuhkan bibirnya ke bibir pucat dingin milik Taemin. Merasakan sebuah bola kecil mengalir dari tenggorokannya, meluncur pelan di atas lidah dan kemudian menghilang ke dalam mulut Taemin. Ya, Hyo Ra akhirnya memutuskan memberikan mutiara itu pada Taemin. Hyo Ra mengoper mutiara itu tepat waktu, membuat luka tusukan pedang di perut Taemin langsung sembuh. Secara kasatmata Taemin memang bersimbah darah, tapi sebenarnya, lukanya sempurna telah menutup. Mutiara itu juga yang membuatnya tak sadar, seolah-olah mati. Membuat semua orang, termasuk Minho terkecoh.

Kenapa Hyo Ra memilih Taemin?

Sebenarnya, bukan karena Taemin lebih baik daripada keempat kandidat lainnya. Bukan. Tapi karena detik itu juga, saat menatap wajah pucat Taemin yang mulai membeku, Hyo Ra merasa bahwa sebenarnya tak akan ada bedanya siapapun yang terpilih. Takdir sudah menetapkan, suatu saat kelak negeri-negeri timur akan bersatu dibawah kemimpinan seseorang. Tak penting siapa seseorang itu. Sejatinya, kelima kandidat tetap akan memiliki perannya masing-masing dalam proses penyatuan tersebut. Kelima kandidat akan ambil bagian dari sebuah kisah besar, penyatuan negeri-negeri timur. Hal yang utama dari tugas Hyo Ra justru memastikan, bahwa setiap kandidat menyadari arti penting diri mereka masing-masing dengan seimbang dan jernih. Tanpa dibebani dendam masa lalu.

“Hal yang paling disesali Taemin adalah ia tidak mempercayaimu sampai akhir,” imbuh Key saat melihat Hyo Ra hanya tersenyum.

“Benarkah?” Hyo Ra menyeringai, “Tapi ada bagusnya juga dia bersikap seperti itu. Kalau Taemin tidak nekat mengorbankan dirinya sendiri, mungkin sampai sekarang aku masih bingung mau memilih siapa.”

“Kau pasti akan memilihku,” sahut Key datar dan dingin, tanpa ekspresi.

Hyo Ra terkekeh kecil, “Terlalu percaya diri. Tapi mungkin saja, karena pada akhirnya, hanya kau yang masih percaya padaku.”

“Aku sudah menceritakan semuanya pada Heechul Hyung. Ia tak lagi salah paham padamu. Yah, wajar saja dia salah paham. Hyung sama sekali tidak mengira kau tega membunuh Taemin.” Key menghela nafas berat, melirik Hyo Ra yang masih tersenyum-senyum sendiri. “Dan itu sebenarnya tidak salah. Kau memang tidak berniat membunuh Taemin ‘kan? Kau hendak menyuruhnya pergi, berteleportasi tepat saat kau pura-pura menancapkan pedang Minho di perutnya,” mendengus malas, menambahkan sinis, “Kau naif. Kau pikir Minho akan percaya begitu saja padamu? Ia tidak akan puas sampai melihat dengan mata kepalanya sendiri mayat Taemin terbujur kaku.”

“Tapi Minho sekarang percaya kalau Taemin sudah benar-benar mati.” Sahut Hyo Ra kalem.

Key tersenyum sinis, “Dan kau merasa puas hanya dengan itu? Kau bisa membayangkan apa yang terjadi jika Minho tahu Taemin masih hidup?”

Hyo Ra menghela nafas panjang, “Minho tidak sejahat yang kau pikir Key. Dia sudah berubah banyak. Peristiwa belakangan ini membuat Minho menjadi orang yang berbeda. Lagipula, bukankah selama ini ia juga hanya berusaha mendapatkan kembali apa yang menjadi hak-nya?”

“Kau percaya pada Minho?” Nada suara Key lebih mirip keluhan.

“Aku percaya pada kalian berlima,” Hyo Ra menyandarkan kepalanya di bahu Key.

Giliran Key yang menarik nafas panjang, mengubah posisi duduknya sedemikian rupa hingga Hyo Ra bisa bersandar dengan nyaman.

“Taemin dan Yeorin akan hidup bahagia ‘kan?” Hyo Ra memecah kesenyapan yang sempat mengambang beberapa saat lamanya karena Key memilih untuk diam.

Key mengangguk pelan, “Tentu. Taemin sudah bisa menerima takdirnya. Ia akan mengemban tugas itu dengan baik. Ayah Yeorin juga sudah memutuskan menyerahkan tahtanya pada Taemin. Kami akan se-”

“Dan kau. Kau akan hidup dengan baik ‘kan?” Potong Hyo Ra tiba-tiba.

Key meneguk ludah, “Kenapa kau bertanya?”

Hyo Ra menyeringai lebar. Ia selalu suka saat Key mengeluarkan ekspresi penasaran. Tentu saja, hal itu hanya terjadi saat Hyo Ra menutup pikiran Key.

“Karena aku tidak akan ada di sini untuk melihatnya,” jawab Hyo Ra pelan.

Key menatap Hyo Ra tajam, menghela nafas panjang, “Kapan kau kembali ke duniamu?”

Key sadar, akan terdengar lebih nyaman jika ia bertanya, kau akan pulang ke duniamu? Tidak. Buat apa? Key tahu benar itu retoris. Untuk apa menanyakan sesuatu yang jawabannya sudah pasti. Cepat atau lambat, Hyo Ra akan pergi, kembali.

Hyo Ra bergumam pelan, “Segera, ehm, lebih tepatnya, sekarang.”

Key mengalihkan pandangannya dari wajah Hyo Ra. Mengeluh pelan. Sangat pelan hingga Hyo Ra tidak bisa mendengarnya.

“Key….” Panggil Hyo Ra lirih.

Key yang tengah mendongakkan kepala ke langit dengan mata tertutup hanya ber-hmm pelan.

“Kau mau membantuku ‘kan? Kalian berlima akan bahu-bahu mewujudkan kisah ini, bersama. Jadilah penyeimbang bagi mereka.” Pinta Hyo Ra dengan nada tegas.

Key menyeringai tipis, “Bukankah itu sudah tugasku? Tentu saja. Tidak semua orang terpilih seperti Taemin. Tapi semua orang sebenarnya memiliki peran masing-masing. Benar ‘kan? Bahkan sesuatu yang besarpun sejatinya tersusun dari hal-hal kecil. Jika tak ada yang bersedia melakukan hal kecil, bagaimana mungkin bisa tercipta sesuatu yang besar?” Urai Key panjang lebar, sukses membuat Hyo Ra tersenyum sangat lebar.

“Kenapa kau tersenyum selebar itu?” Tanya Key setengah tersinggung, setengah merajuk.

Hyo Ra mengangkat bahu, “Hari ini kau banyak bicara.”

Key memalingkan muka, mendengus pelan. Hyo Ra tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.

“Tawamu berisik sekali,” umpat Key malas.

Tawa Hyo Ra malah semakin menjadi, “Tapi kau suka ‘kan?”

Tiba-tiba saja Key tersenyum lebar, “Yah… aku suka.”

Jawaban Key yang tidak terduga itu sukses membuat pipi Hyo Ra memerah. Tawanya seketika terhenti, berganti dengan suara tawa Key, yang ternyata, dua kali lebih keras dibanding tawa Hyo Ra tadi.

“Tawamu tak kalah berisik! Menyebalkan!” Seru Hyo Ra pura-pura marah, tetapi nyatanya tak tahan untuk tersenyum lebar.

Key terbahak semakin keras, “Tapi kau suka.”

Hyo Ra mendengus, menggembungkan pipi. Sejurus kemudian berkata dengan nada sok serius, “Kau harus belajar tersenyum dan tertawa di depan gadis lain. Jangan hanya didepanku saja.”

Tawa Key seketika padam. Ia menatap Hyo Ra lamat-lamat, menelisik setiap detail wajah gadis itu. Hyo Ra tercekat melihat tatapan Key yang terasa ganjil. Seluruh badannya serasa membeku, kaku tak mampu bergerak. Hanya jantungnya yang berdebam puluhan kali lebh keras.. Gadis hanya bisa membalas tatapan matanya, tenggelam dalam hitam pekat manik mata Key. Sampai detik ini, Hyo Ra masih belum bisa melihat apapun dalam mata itu.

Cukup lama keduanya diam saling memandang. Sampai tiba-tiba saja, bersamaan, keduanya memalingkan wajah, bangkit dari duduk.

“Sudah saatnya?” Nada bicara Key lebih terdengar seperti pernyataan daripada pertanyaan.

Hyo Ra mengangguk tipis, “Selamat tinggal Key. Terima kasih atas semuanya.” Jawabnya sembari tersenyum manis, perlahan berjalan mundur. Pandangan keduanya kembali beradu. Tanpa sadar, detik itu juga, keduanya mengucap permintaan dalam hati. Permintaan yang sama persis. Dua buah permintaan terakhir yang berpilin menjadi satu, melesat naik ke langit luas. Meledak, pecah berhamburan menjadi hujan pelangi yang tak kasatmata.

Key refleks berusaha meraih pinggang Hyo Ra, khawatir gadis jatuh dari tepi mercusuar. Sayang, luput. Terlambat. Hyo Ra telah terjun bebas dari puncak mercusuar. Alih-alih berdebam ke tanah, saat berada di udara, tubuh Hyo Ra berubah menjadi seberkas cahaya hijau lembut yang perlahan memudar dan kemudian hilang. Key meneguk ludah, mengeluh pelan dalam hati.

***

“Kau mau kemana Key? Ini sudah malam.” Tegur Jinki pada Key yang tengah mengendap-endap keluar dari kamar hotel.

Key berjengit kaget, membekap mulutnya sendiri, “Hyung! Kau mengagetkanku saja.”

“Mau kemana?” Jinki tidak menggubris gerutuan Key.

Key menyeringai lebar, “Aku mau jalan-jalan di pantai. Cari udara segar.”

“Insomnia-mu kambuh? Atau kau bermimpi lagi?” Nada suara Jinki terdengar khawatir sekaligus prihatin.

“Gadis itu bunuh diri di depan mataku Hyung. Ia melompat dari atap gedung,” keluh Key pelan.

Jinki menelan ludah, benar-benar prihatin. Sudah seminggu ini Key terus-menerus dihantui mimpi. Mimpi yang menyeramkan tentang seorang gadis bergaun hijau muda. Malam pertama, Key bermimpi melihat gadis itu mengikat Minho di sebuah tiang tinggi, membakarnya hidup-hidup. Kemarin, Key bercerita ia bermimpi lagi. Gadis itu nampak sedang duduk bersimpuh di depan Taemin yang tergeletak bersimbah darah. Dan malam ini, gadis itu bunuh diri. Apa maksud semua mimpi Key?

“Tidak apa-apa Hyung. Itukan hanya mimpi. Kau sendiri yang bilang,” celetuk Key saat melihat ekspresi Jinki.

“Mau kutemani?” Tawar Jinki berbaik hati.

Key menggeleng pelan, “Tidak usah. Kau pasti sangat lelah. Aku hanya keluar sebentar.”

“Ya sudah. Hati-hati,” ucap Jinki setelah berpikir beberapa saat. “Jangan pulang terlalu malam, besok kita masih ada pemotretan lagi. Kau membawa ponselmu ‘kan? Kalau ada apa-apa, cepat hubungi aku atau manager Hyung.”

Key hanya tersenyum, mengacungkan kedua ibu jarinya, kemudian melangkah lebar menuju lift. SHINee memang sedang melakukan pemotretan untuk sebuah produk. Mereka mengambil lokasi di pantai laut timur, tepatnya di Sokcho.

Key menyusuri pantai tanpa arah yang pasti, hanya mengikuti kemana kakinya berjalan. Saat melihat beberapa orang berseragam SAR tengah menyorotkan senter besarnya ke arah laut, Key justru menghindari mereka. Saat ini ia sedang ingin sendiri. Sembari beranjak menjauh, lamat-lamat ia masih bisa mendengar salah satu dari mereka -mungkin komandan atau ketua regu- meneriakkan perintah untuk menghentikan pencarian malam ini, sudah terlalu larut. Key  melirik arlojinya, jam 10 malam. Kemarin ia sempat tak sengaja mendengar beberapa karyawan hotel tempat mereka menginap bergosip tentang seorang gadis yang hilang di laut. Tim SAR sudah mencarinya berhari-hari, mulai pagi buta hingga larut malam, tapi gadis itu belum juga ditemukan. Saat ia menceritakannya pada teman-temannya, Taemin justru menambah-nambahi. Katanya gadis itu ada hubungannya dengan Kyuhyun. Setidaknya, itulah kabar yang beredar di internet.

Tak terasa, Key sudah berjalan cukup jauh.  Tak nampak tanda-tanda kehidupan disekitarnya. Senyap. Key kembali melirik arlogi yang melingkar di pergelangan tangannya kirinya, nyaris tengah malam. Lelah, Key menghempaskan diri ke atas hamparan pasir. Duduk bersila sembari bertopang dagu.

Ia kembali teringat akan mimpi-mimpinya. Sebenarnya, ia tidak mampu mengingat mimpi-mimpi itu dengan jelas. Semuanya terasa buram. Hanya seperti potongan adegan-adegan yang acak dan kabur. Hal yang membuat Key gelisah justru kenyataan kalau ia sama sekali tidak merasa takut dengan gadis yang ada dalam mimpinya. Aneh bukan? Jelas-jelas gadis itu melakukan hal buruk pada teman-temannya. Tapi kenapa Key malah merasa ingin bertemu lagi dengan gadis itu? Yah, Key sebenarnya ingin sekali tidur, kemudian memimpikan gadis itu lagi. Ingin melihat wajah gadis itu dengan lebih jelas. Ingin bertanya padanya.

Key mengacak rambutnya dengan geram, “Apa yang kau pikirkan Key? Dia bahkan sudah bunuh diri. Kau terlambat meraih tangannya. Bodoh!” Umpatnya pelan, meraih sebuah batu kecil yang tergelatak di samping kakinya, melemparkannya sekuat tenaga ke tengah laut.

“EH? Apa itu?” Tanya Key pada dirinya sendiri saat menyadari, tak jauh dari tempatnya duduk, tepat di garis pantai, ada sebuah bayangan hitam. Dari jauh tampak seperti batang pohon yang hanyut terbawa arus, bergoyang pelan dimainkan ombak.

Rasa penasaran Key membawanya mendekati bayangan itu, terkejut saat menyadari bahwa benda itu bukanlah batang pohon, namun sesosok manusia. Tepatnya, seorang gadis yang memakai pakaian renang, tertelungkup basah kuyup.

Tanpa pikir panjang Key membalik tubuh gadis itu, panik memeriksa nadi di pergelangan tangan dan leher si gadis. Bergidik sendiri saat menyadari betapa dingin tubuh gadis itu.

Key mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru, berharap masih ada petugas dengan seragam SAR di sekitar tempat itu. Nihil. Mereka sudah menghentikan pencarian sejak tadi. Pantai benar-benar lengang, hanya ada ia dan gadis yang entah hidup, entah mati didepannya.

Key serabutan mengeluarkan ponsel, menghubungi Jinki.

“Hyung!!” Panggilnya panik begitu mendengar suara mengantuk Jinki menjawab.

“Hyung! Gadis. Di pantai. Pakai baju renang. Tubuhnya dingin sekali. Harus aku apakan??” Key kembali berseru panik, hilang akal.

“APA?? Gadis apa Key? Bicara yang benar!”

Terdengar suara gedubrak-gedabruk dari seberang, entah apa yang terjadi pada Jinki.

Key menelan ludah, berusaha tenang, “Ada gadis terdampar di pantai. Aku tidak tau dia masih hidup atau sudah mati.”

“Apa? Gadis terdampar?” Jinki terdengar sangat kaget, “Baiklah. Aku segera kesana membawa bantuan. Kau dimana?”

Key mengedarkan pandangan, bingung, “Aku tadi berjalan ke arah kiri dari pintu keluar hotel. Menyisiri pantai, sekitar satu jam.”

Jinki mengangguk mantap, lupa kalau Key tidak bisa melihatnya. “Kau tunggulah di sana. Lakukan pertolongan pertama. CPR atau apalah.”

Key membelalak tak percaya, Jinki sudah memutus sambungan telpon.

“CPR?!” Key berseru tertahan, setengah bingung setengah takut. “Gila. Jinki Hyung sudah gila. Ia menyuruhku melakukan CPR pada seorang gadis yang entah hidup entah mati ini?”

YA!!”

Key berteriak kaget, gadis didepannya tiba-tiba bergerak, mengerang pelan.

“K-kau masih hidup?” Tanya Key tergagap, menggenggam tangan si gadis.

Gadis itu kembali mengerang lemah, perlahan matanya membuka. “Key…” panggilnya pelan saat melihat wajah Key.

Yang dipanggil malah berjengit kaget, “Kau mengenaliku?”

Gadis itu tersenyum tipis, sedetik kemudian ia sudah jatuh pingsan.

Key terpaku ditempatnya. Sampai Jinki datang bersama tim SAR, polisi, dan beberapa karyawan hotel, Key masih terpaku ditempatnya. Diam menatap wajah gadis yang terdampar itu, menggengam erat tangannya. Terkesima. Senyum itu, Key pernah melihat senyum itu. Ya, ia merasa sangat mengenali senyuman itu.

‘Kumohon. Pertemukan lagi aku dengan Key. Di tempat di mana aku diijinkan mencintainya.’

 

‘Kumohon. Pertemukan lagi aku dengan Hyo Ra. Di tempat di mana ia diijinkan membalas cintaku.’

Catatan Penulis :

Yen : LEBAY!! Hueksss… #muntah gara-gara nulis permintaan terakhirnya KeyRa.

Key : Maksud lu??

Yen : Lu lebay Key! Lebay sangat!

Key : Selebay-lebaynya gue, tetep lebih lebay elu. ‘Kan author-nya elu, kekeke…

Yen : …. #ngasah golok

Key : Donghae Hyung?!

Yen : Eh? Donghae Oppa, nyariin aku ya?  #pasang-muka-manis-tanpa-dosa