Cengeng banget ya?? Tapi iya, entah kenapa, aku nyaris nangis pas mbaca Death Note, bagian ini :

Tapi… setelah ku pikir-pikir lagi… Ah… L maupun Raito bukan tipe romantis seperti ini! Pasti ada udang di balik bakwan(?). Tapi entahlah, bahkan setiap hitam pun mempunyai sisi putihnya bukan. Sejahat-jahatnya orang, sedingin apapun orang, ada saat-saat mereka luar biasa baik dan hangat. Nggak pada semua orang memang. Jahat dan Baik, itu cuma pelabelan otak dangkal kita ‘kan?

Dan ngakak pas baca yang ini :

Well, Raito-kun, hajar aja, gapapa ko, kekeke… Cewek emang nyebelin ya? Dan paling menyebalkan dari mereka adalah senyebel-nyebelinnya cewek, segondok apapun kita ama mereka, tetep aja harga diri kita nggak memungkinkan kita memukul mereka. #berasa-jadi-cowok

Kemudian, aku cuma bisa menyeringai pas bagian ini:

Raito! Kau keren!! Hmmm… Aku suka karakter cowok yang nggak termehek-mehek ama cewek. Cold, apalagi ampe freeze (bukan sekadar cool).

Aish… parah, ketawa nggak karuan pas bagian ini :

Hahahaha….

Haruskah aku bilang, “Dasar cowok! Dimana aja, siapa aja, sama aja!”

Tapi sekali lagi, aku nggak percaya begitu aja. L pasti punya tujuan terselebung. How boring!!

Yeah… cukup deh. Kembali fokus mbaca. Hmm… mulai tertarik beli manga-nya nih. #tumben-banget

Sekarang aku tau aku suka sama siapa!! Aku suka ama Tsugumi Ohba dan Takeshi Obata hehehe… #nggak-nyambung.

Oh-ya, mungkin ada yang lebih nyaman nyebut Raito sebagai Light. Tapi aku tetep milih Raito. Kupikir, ini lebih orisinil, berasa mbaca manga dalam bahasa jepangnya. Bukannya orang jepang nggak ngenal huruf L? Juga nggak ada kata dengan akhiran huruf konsonan (kecuali n). Jadi, aku tetep pilih Raito. Seperti aku nyebut Lufi-nya One Piece dengan Rufi.

Nah… sejauh ini manga Death Note aku kasih 4 dari 5 bintang. Manga ini kumplit banget. Ada seriusnya, ada lucunya, ada terharunya, ada sebelnya. Dan semua rasa itu terangkum apik. Nggak berlebihan, terselip rapi, mengalir wajar sepanjang cerita. Salut untuk manga-ka dan penulisnya. Ceritanya keren, penggambarannya detail (aku suka ekspresi-nya), karakter tokohnya kuat. Duh… aku punya bakat besar untuk gampang jatuh cinta pada sesuatu yang tidak ada. Gawat! Harus menjaga kewarasan nih. Supaya nggak berlebihan dalam mencintai Raito, kekeke…

Tenang aja, santai, jangan keburu marah Terrence Graham Grandchester… kau tetap cinta pertamaku! #Heh?

Tapi… kadang aku ngerasa Death Note ini terlalu cepat, nggak ada manis-manisnya. Eh, maksudku, manis-manisnya dikit banget. Ah… well, aku ‘kan emang bukan lagi mbaca Soujo manga, bukan serial cantik. OK. Lanjut.

Now reading : Chapter 33 – Movement.