yen : La, udah baca Death Note?

ula : udah, tapi nggak begitu suka

si Kira keren sih

yen : Raito? iya, keren

nih aku lagi baca, hmm… 1/3 bagian lah, di mangareader.net

ula : hihihi

bukannya tu manga dah kelar dari dulu? udah ada film-nya

yen : he-em, tapi pas bagian Raito hilang ingatan, aku agak ilfil, kekeke…

eh, klo novel Jepang, ada referensi?

ula : ilfil?? hihihi

emang kamu sukanya novel yang gimana? Posmodern??

yen : posmodern tu apaan? jgn pake istilah yg susah ah.

ula : hihihihi

kalo baca km bakal bingung gimana kesimpulannya

tp setelah membaca, banyak bisa kamu renungkan

hihihi

yen : hmm… kayaknya lumayan

haruki murakami ya? itu penulisnya kan? judul novelnya?

ula : banyak yg dah diterjemahkan

yg paling gampang di baca ada “dengarlah nyanyian angin”

kawabata yasunari juga haru biru

jepang bgt

model pramudya ananta toer gt

-bla-bla-bla-

Berawal dari chating sama Ula (temenku yg ‘kebetulan’ berbau Jepang) inilah, akhirnya aku mulai googling soal Haruki Murakami.  Hasilnya?

http://www.murakami.ch/hm/shortstories/main.html

Mari kita baca dulu cerpen-cerpennya, sebelum akhirnya meluncur menuju toko buku dan membeli novelnya, hehehe…

Ula… seperti biasa, tengkyu, arigato, cup muah-muah (huekss…).

Ah… aku barusan selesai mbaca on seeing the 100% perfect girl one beautiful april morning. Dan… Ula bener, bingung apa kesimpulannya, tapi justru itu yang bikin aku jadi mikir. Berusaha menggali sendiri makna yang ada. Berpikir, mengembangkan imajinasi. Well, LUMAYAN.

Lumayan? Yah, lumayan. Lumayan susah maksudnya ;p

Akhir-akhir ini aku mikir. Sebuah tulisan yang bagus bukanlah tulisan yang menggambarkan baik-buruk, mendoktrin, menjelaskan dan memuaskan. Tulisan yang bagus adalah tulisan yang bisa membuat pembacanya berpikir kritis, kreatif dan imajinatif. Entahlah, mungkin itu ke’soktau’an-ku saja. Yang jelas, aku lagi bosen ama cerita yang sok menasehati, memberi petuah apalah, menjelaskan baik dan buruk, memaparkan segala macam hal bijak antah berantah.

Bosan. Hanya bosan. Kenapa penulis tidak membiarkan pembacanya menyimpulkan sendiri? Menangkap makna yang ada sesuai dengan pemikiran dia sendiri? Kenapa?

Ah-ya (nepok jidat) pada kenyataannya, ada juga pembaca-pembaca yang malas berpikir, justru sibuk bertanya, siapa antagonis-protagonisnya? Jadi siapa yang benar-salah? Siapa yang baik-jahat? Ujung-ujungnya men-judge “tulisannya ngantung nih, serba nggak jelas”

Oh… ayolah. Jangan terjerambap dalam hitam abu-abu otakmu! Berhentilah melakukan pelabelan terhadap apapun. Apalagi untuk hal yang bahkan tak kau mengerti.

Dan yang terpenting! Yen! Cukup omong kosong-mu ini! Jangan berlagak sok pintar! Merasa keren karena banyak berpikir! Yen, kau adalah orang yang terlalu sibuk berpikir, merasa menjadi filsuf, padahal… do nothing. Kosong.