Aku beli buku baru!!

Tapi, tapi, tapi…

Kali ini aku seneng luar biasa!! Kenapa??

Karena aku (AKHIRNYA) dapet Burung-Burung Manyar!! KYA!!

 

OKE. Postingan ini nggak akan bermanfaat klo aku cuma sekadar pamer doang. Jadi, aku berusaha memberikan pendapatku soal novel-novel ini. Bukan review atau resensi. Hanya pendapat dan celutukan asal dari seorang pembaca yang banyak maunya.

5cm

Bercerita tentang 5 sahabat (Genta, Riani, Arial, Ian, Zafran) yang ‘ancur’. Ehm, normal sih sebenarnya. Khas anak muda. Ngomongin hal-hal yg nggak jelas (pinjem istilahnya Galih, nge-random), melakukan hal-hal gelo, idealis… ya gitu-gitu deh. Ada kisah cintanya juga. Di awal-awal, menurutku lucu, ringan, dan hey… kok malah masang begitu banyak alamat situs porno sih?

Pertengahan (saat mereka ber-5 di Ranu Kumbolo), mulai bosen. Bukan. Bukan karena ceritanya, tapi dari segi penceritaannya. Subyektif tentunya. Aku emang lagi bosen sama cerita yang kesannya mengurui, mengumbar banyak kata-kata bijak, menjelaskan baik-buruk, mendoktrin. Di novel ini emang udah berusaha dibuat ‘halus’ dengan cara menuangkan ide itu dalam bentuk percakapan antar para tokoh, bukan narasi panjang lebar. Tapi buat aku, tetep mbosenin. Aku lagi suka sama cerita yang sekadar mengisahkan, kemudian memberi keleluasaan agar pembacanya berpikir, mengambil kesimpulan sendiri. Bukan cerita yang kesimpulan dan hikmahnya secara tersurat disampaikan oleh penulis.

Di akhir, ada sedikit kejutan (soal cintanya). Rasanya sejak awal penulis menggiring pembaca buat ngira klo Genta bakal jadian ama Riani. Ternyata?? Tidak. Bukan Genta… tapi… baca sendiri deh. Nah, kurasa, ini yang paling aku suka. Realistis, nggak mehek-mehek model sinetron atau drama.

Secara keseluruhan, hmm… 3 dari 5 bintang.

Sunset Bersama Rosie

Hmm… gimana ya? Khas Tere-Liye lah. Banyak hal yang bisa kita pikirkan saat dan setelah mbaca novel ini. Aku blum pernah jatuh cinta yang ampe segitunya seperti Tegar Karang atau Sekar. Tapi orang ‘kan emang beda-beda.

Aduh, aku bingung mo bilang apa. Nggak adil klo ngebanding-bandingin karya orang. Tapi… klo dibanding Bulan Tenggelam di Wajahmu, Hafalan Sholat Delisa, Bidadari-Bidadari Surga dan Serial Anak-Anak Mamak (esp. Burlian), maka novel Sunset Bersama Rosie ini tergolong “biasa”. Nggak terlalu istimewa.Tapi bukan berarti nggak ada yang bisa diambil dari kisahnya. Ada banyak pelajaran yang bisa diambil. Tentang kesempatan, cukup (aku selama ini menyebutkan berhenti), penerimaan, berdamai, memaafkan, takdir, jodoh(?)

Dan… endingnya, aku nggak suka. Menurutku: lebay, sinetron, film india, too drama! Hehehe…

Secara keseluruhan, hmm… 3.5 dari 5 bintang.

Burung-Burung Manyar

OK. Save the best for the last.

Novel ini keren! Cool!

Banyak banget hal-hal kecil yang bikin aku mikir, tertohok. Sindiran Romo Mangun yang khas ‘yogya’ : halus, tapi nyelekit, jero, mak jleb, bolong!

Lagi-lagi, kisah cinta yang nyaris serupa dengan Sunset Bersama Rosie, seorang cowok yang terlalu takut untuk mengatakan, mengambil kesempatan. Tentu dengan kisah dan akhir yang berbeda.

Ah… ya, yang paling kuat dari novel ini (menurutku) adalah sudut pandang Teto sebagai seorang tentara KNIL terhadap Indonesia. Dan kupikir… ayolah… pahlawan atau pengkhianat itu ‘kan hanya pelabelan saja, tergantung sudut pandangnya. Kurasa Romo Mangun punya pendapat serupa. Ini terlihat jelas dari cara beliau nulis soal Diponegoro. Aku baru tahu, bagi kalangan tertentu DIponegoro itu bukan pahlawan. Justru taktik yang salah dari Diponegoro dianggap telah membuat Mataram merugi.

Saat aku mbaca novel ini, kadang-kadang aku ngerasa ‘lho kok? tiba-tiba nyeritain hal yang nggak ada sangkut paut sama cerita sebelumnya ya?’ Tapi, ternyata semua cerita itu berhubungan. Sama juga dengan hidup kita yang terkadang terjalin seperti anyaman laba-laba. Saling berkaitan satu sama lain, terkadang, tanpa kita sadari.

Aku suka pas bagian Romo Mangun menceritakan tentang perilaku burung Manyar. Wah… ternyata gitu to? Filsafat banget deh. Tapi emang iya, banyak perilaku binantang yang menurutku WOW! Kayak penyu yang setia pada tanah kelahirannya, pisang yang cuma sekali berbuah, lebah, semut… baunyak deh!

Gyah… bingung aku nyeritain novel ini. Baca aja lah sendiri. Pokoknya Burung-Burung Manyar is high recommanded by me! Hehehe…

Aku suka endingnya. Baru kali ini kematian tokoh utama (bukan Teto lho ya…) bikin aku menarik nafas lega.

Realistis banget! Nggak berlebihan, mengalir. Idealis, tapi nggak fanatik.

Secara keseluruhan, hmm… 4  dari 5 bintang. Hmm… atau 4,5 ya??

Finally!! Selesai juga.

Aku dah bilang ‘kan klo ini bukan review apalagi resensi? Ini hanya pendapatku sebagai pembaca. Sangat subyektif, hanya berdasarkan pemikiranku yang dangkal. Dan liat sendiri, betapa kacaunya aku dalam menuliskan pendapatku ini. Berantakan, lompat-lompat nggak jelas, random. but, yeah, that’s me! yen!