Orang Ketiga

Penulis : yen

Pemeran Utama : SHINee’s Kim Kibum, SHINee’s Choi Minho, Kim Ara

Pemeran Pendukung : SHINee’s Kim Jonghyun, SHINee’s Lee Jinki, SHINee’ Lee Taemin

Panjang : Oneshot

Rating : General

Genre : Friendship, Romance

P.S. : Pernah baca Iubirea Mea atau Boy’s Bawdy Time? Nah, ini bisa disambung-sambungin ama kedua cerita tadi. SHINee vs Ara.

“CURANG!!” Teriak Ara mengkal, melempar joystick Xbox-nya dengan kasar.

Key tergelak senang, “Klo kalah terima aja kali. Nggak usah menfitnah segala,” sahutnya disela-sela tawa.

Ara memberengut, melipat tangan di dada, bersungut-sungut tidak jelas. “Ganti! Winning Eleven mulu.  MotoGP 10/11 aja!”

Key mencibir, “Siapa takut?”

“Lu takut, klo ngelawan Minho,” celutuk Jonghyun.

Key mendesis malas, “Nggak usah bawa-bawa nama dia deh. Ngerusak mood gue.”

“Hmmm… nggak bisa ngalahin cowoknya, ceweknya yang lu jadiin sasaran,” Jinki menoyor kepala Key dari belakang. Ara tercabik, setengah bangga pada Minho, setengah sebal karena dalam urusan game, popularitasnya memang selalu berasa di bawah bayang-bayang pacarnya itu. Hah! Siapapun memang mengakui kehebatan Minho dalam bermain Xbox. Yah, semuanya, kecuali Ara.

“Minho ama Taemin kok blom nyampe-nyampe juga ya?” Jonghyun meraih ponselnya. Urung menekan nomor Minho, Taemin sudah nampak di ambang pintu, mengibas-ibaskan mantelnya yang bersalju.

Jinki melongok melalui bahu Taemin, “Kok sendirian Taem? Minho mana?”

“Lho Ra? Kamu bukannya punya janji ama Minho Hyung?” Tanya Taemin heran, menatap Ara dengan pandangan tak percaya, mengabaikan pertanyaan Jinki.

Ara menautkan alis, “Eh? Enggak tuh. Kalian kali yang punya janji ngumpul di sini,” elaknya ringan, tetap asyik memainkan joystick.

Taemin menggaruk belakang telinga, menelengkan kepala, “Tapi dia bilang kalian ada janji di Namsan Tower,” melirik jam tangan, “Satu setengah jam yang lalu. Makanya dia nggak mau waktu aku ajak ke sini.”

“Oh? Enggak. Lagian ngapain ke Namsan Tower? Kurang kerjaan. Lagi turun salju gini. Dingin kali!” Ara masih bersikukuh. Taemin hanya mengangkat bahu, berlalu ke belakang, mencari pelayan keluarga Key, minta dibuatkan coklat panas.

Key melirik Ara, “Ini hari jadian kalian ‘kan?”

Sontak Ara menoleh ke arah Key, membelalakkan mata, “Eh? Emang iya? Kok kamu inget? Padahal aku ama Minho aja nggak inget lho.”

“Siapa bilang Minho nggak inget? Dia bela-belain pulang dari Jepang ngapain klo bukan mau ngerayain hari jadian kalian?” celutuk Jinki datar.

Ara memasang wajah polos, mengangguk-angguk kecil, ber-oh pelan. Sejurus kemudian berseru kaget, menepuk jidat, teringat kalau sebulan yang lalu Minho sempat mengajaknya ketemuan di Namsan Tower, tepat saat tanggal dan jam ‘jadian’ mereka. Waktu itu Ara hanya mengangguk tak perhatian, tengah sibuk membaca manga. Aduh! Lagian itu ‘kan sudah sebulan? Wajar ‘kan kalau Ara lupa?

“Astaga!! Namsan tower ya? Aishh… lupa!!” Teriaknya, serabutan berlari keluar dari rumah Key. Berlari pulang kerumahnya yang terletak persis disebelah rumah Key. Sepuluh menit kemudian Ara -yang tampak sudah berganti baju- kembali ke ruang tengah keluarga Key, ber-hosh mengatur nafas. “Oppa, anterin!”

Keempat namja didepannya serentak menoleh. Sedetik kemudian mereka saling bertukar pandang. Jonghyun mengangkat bahu, Taemin buru-buru menengak habis coklat panasnya, Jinki menyeringai, Key memasang wajah tercabik.

Gadis 15 tahun itu mulai tak sabar, menghentakkan kaki, “Nggak ada yang mau nganterin? Tega bener! Badai salju tuh. Ntar klo aku hilang gimana?” Mulai hiperbolis, menggerutu tak jelas, “Mana ponselnya Minho dimatiin lagi. Argh… ribet banget sih tu cowok!”

Key menghela nafas, “Ya udah, sini gue anterin.”

Tepat saat Key meraih mantelnya, Jinki menggeleng cepat, berseru, “Jangan cari mati Key! Kayak nggak kenal Minho!”

Taemin mengamini dengan anggukan, Jonghyun lagi-lagi mengangkat bahu, memasang tampang aku-nggak-ikutan-ah! Sementara Key hanya menyeringai lebar, melempar pandangan penuh pertimbangan pada Ara.

“Ya ampun! Ribet banget sih? Jadi nganterin nggak?” Desak Ara tak sabaran, menyeret lengan Key.

Menyisakan Jinki yang menghela nafas panjang, “Runyam urusan. Bakalan ngamuk tu bocah.”

Lagi-lagi, dan lagi-lagi, Jonghyun hanya mengangkat bahu. Sukses membuat Taemin gemas, “Jjong Hyung! Komentar kek, apa kek, kakek-kakek kek! Ngangkat bahu doang, sok cool!”

Kali ini Jonghyun menyeringai, “Klo menyangkut Minho, gue nggak ikutan deh!”

“Calon adek ipar lu yang satu itu emang aneh. Klo lagi normal, dewasa banget. Tapi klo lagi angot, beuh, galaknya minta ampun. Pencemburu kelas wahid.  Nggak kenal kawan atau lawan. Berani-berani ndeketin Ara, babat habis,” celutuk Jinki, berlebihan. “Parahnya, adek lu nggak ada ngerti-ngertinya. Masih aja suka bikin Minho marah. Liat aja, temen si Ara ‘kan 90% justru cowok.” Imbuhnya saat melihat Taemin dan Jonghyun tidak merespon.

“Kira-kira Key Hyung pulang utuh nggak ya?” Desah Taemin lirih, beberapa saat kemudian.

Kali ini bukan hanya Jonghyun yang mengangkat bahu, Jinki juga ikut-ikutan.

***

Minho menatap tajam kearah mobil sport yang berhenti tak jauh darinya. Ia kenal betul siapa pemilik mobil itu, Key, salah satu sahabatnya. Bukan, lebih tepatnya sahabat Jonghyun. Ya, Key adalah sahabat Jonghyun. Dan… rival Minho. Setidaknya, Key adalah satu-satunya orang yang… menurut perasaan Minho, adalah rivalnya dalam urusan Ara. Walaupun Ara selalu bersikap cuek pada Key, tapi nyatanya gadis itu lengket benar pada Key. Berbeda dengan Jinki yang jelas-jelas adalah idola sekaligus rival Ara dalam bidang akademik, Taemin yang merupakan partner in crime, Jonghyun yang nyata-nyata kakak kandung dan Minho yang menyandang predikat ‘calon suami’ Ara, status Key benar-benar abu-abu.

Tetangga?

Itu sudah pasti, sejak Ara belum lahir, rumah mereka memang sudah bersebelahan.

Kakak-adik?

Mungkin, tapi mana bisa dua orang berbeda jenis kelamin dan tidak punya hubungan darah sama sekali dapat menjadi ‘saudara’ tanpa rasa yang lain?  Lagipula Ara selalu bilang tidak sudi punya kakak macam Key bukan?

Sahabat?

Bisa jadi. Tapi… Key bukan tipe orang yang suka bersahabat dengan perempuan.

Jadi?

Entahlah, mungkin semuanya, mereka berdua adalah tetangga yang saling bersahabat dan sudah seperti saudara sendiri.

 

Rahang Minho seketika mengeras, benar dugaannya. Ara nampak melangkah ringan, keluar dari mobil. Gigi Minho mulai bergemelutuk saat dilihatnya Ara melambai riang, tersenyum lebar mengucapkan terima kasih. Tangan Minho sudah mengepal keras saat kepala Key muncul dari balik jendela, menyeringai tanggung ke arah Minho yang berdiri kaku di sebelah Ducati putihnya.

“Nggak turun dulu Key? Ehm, jalan bertiga?” Tawar Ara pada Key yang tampaknya tidak berniat turun.

“Gua langsung cabut aja. Noh, tampang si Minho udah jelek banget. Bisa ditelen bulet-bulet gue,” ucap Key pelan, mengulurkan mantelnya pada Ara. “Minho bawa motor, Ra. Pakai aja!” Potongnya cepat sebelum Ara sempat membuka mulut.

Ara yang memang hanya memakai hoodie tipis menyeringai lebar, mengangguk, “Thanks ya Key! Ntar malem lanjut deh nge-gamenya!”

Key menyeringai, segera menginjak pedal gas-nya dalam-dalam. Setengah khawatir karena Minho ternyata tetap nekat membawa motor -bukannya mobil- saat hujan salju seperti ini. Berharap sepenuh hati Minho tidak berpikir yang tidak-tidak atas perlakuannya pada Ara barusan. Minho tidak mungkin membawa mantel ekstra ‘kan? Key mendesah panjang, walaupun begitu, ia yakin Minho pasti akan memaksa Ara memakai mantelnya. Bukankah Minho selalu melepas dan memakaikan jaketnya pada Ara saat ia memboncengkannya?

Setelah mobil Key menghilang ditingkungan, Ara berbalik, melambai riang pada Minho. Gadis itu berjalan setengah meloncat-loncat. Dua langkah kaki kanan, meloncat kecil, dua langkah kaki kiri, meloncat, begitu seterusnya hingga sampai didepan Minho. Menyeringai lebar, “Maaf… lupa….” Ucapnya ringan, memasang senyum termanis yang pernah ia punya.

Minho masih memasang wajah dingin, menatap mata Ara dalam-dalam. Ara menggigit bibir bawahnya, salah tingkah.

“Ho… aku ‘kan dah minta maaf. Maaf, maaf, maaf…” Ara menangkupkan tangan di depan dada, memelas.

“Kenapa kau diantar Key?” Tanya Minho dingin.

Ara mengangkat bahu, menyahut ringan, “Hujan salju. Kebetulan Key-nya juga mau.”

Minho menyeringai sinis, “Kebetulan? Heh, kalau Key kebetulan juga menyukaimu dan memintamu jadi pacarnya, apa kau juga mau?”

Ara mendelik tak percaya pada Minho yang tengah menatapnya dingin dengan kedua tangan terlipat didepan dada, “Apa maksudmu?” Sergah Ara kasar.

Minho bergeming, berucap datar, “Aku tidak jauh-jauh pulang dari Jepang hanya untuk bertengkar.”

Ara menelan ludah, “Aku juga tidak susah-susah ke sini  ditengah hujan salju untuk bertengkar denganmu.”

“Bagus. Jadi berhentilah bersikap seperti itu di depan pria lain. Aku tidak suka,” Minho meraih pergelangan tangan Ara, terkejut saat gadis itu justru mengibaskannya.

“Bersikap seperti apa? Memangnya aku melakukan apa di depan Key? Hah?” Seru Ara mengkal, berkacak pinggang.

Minho kembali meradang, nada suaranya ikut naik, “Kau tidak tahu? Berapa tahun kita pacaran? Kenapa kau tidak pernah mencoba mengerti?”

Ara mengeryitkan alis, “Tahu apa? Mengerti apa?”

Minho mendengus pelan, enggan menjelaskan kecemburuan yang tiba-tiba merongrong hatinya.

“Aku memang tidak paham apa yang kau maksud. Jadi kenapa kau tidak katakan saja dengan jelas?” Ara menatap Minho dengan tajam.

“Kau, kekanak-kanakan,” sahut Minho, penuh penekanan.

Ara terbelalak kaget, ia tahu pasti Minho paham kalau ia paling tidak suka disebut kekanak-kanakan.

“APA?” Seru Ara setengah berteriak.

Minho menggerutu tanpa berpikir, “Apa yang kupikirkan? Bagaimana bisa aku pacaran dengan bocah kekanak-kanakan macam kau.”

“Choi Minho! Salah, bukan. Minho-ssi yang sangat dewasa dan bijaksana,” Ara berkata dengan sangat sinis, “Aku memang kekanak-kanakan. Kalau kau mau pacar yang dewasa, sana! Cari saja yang lain!”

Minho mendelik kaget, “Apa maksudmu? Sebentar… apa tadi, kau menyebut nama lengkapku?”

“Iya. Choi Minho. Kenapa? Tak suka? Terserah kau! Aku tidak peduli lagi apa yang kau suka, apa yang tidak kau suka!” Ara berbalik, melangkah cepat meninggalkan Minho yang terbelalak menatap punggungnya.

“Astaga… kenapa jadi begini?” Keluh Minho pelan, mengucak rambut frustasi. Ara sudah menghilang di tikungan bersama taksi yang dinaikinya. Bukannya mereka tidak pernah bertengkar, tapi biasanya baik Minho dan Ara bisa menahan diri. Keduanya lebih memilih diam saat marah. Tapi entah kenapa, hari ini keduanya justru memilih melampiaskan kekesalan dengan saling berteriak.

***

“Terima kasih Ajussi,” ucap Ara pelan pada supir taksi yang mengantarnya. Gadis itu berjalan gontai menuju rumahnya. Sepi.

“Jjong Oppa belum pulang?” Tanya Ara pada pembantunya.

“Belum, bukankah anda tadi pergi berdua?” Bibi Han justru balik bertanya.

Ara hanya ber-oh pelan, “Iya. Mungkin masih di rumah Key.”

“Anda tidak mau makan malam dulu?” Panggil Bibi Han saat melihat Ara berbalik hendak pergi lagi.

Gadis itu hanya menjawab singkat, “Bibi makan duluan saja. Aku tidak lapar.”

Ara berjalan cepat menuju rumah sebelah, tanpa merasa perlu memencet bel atau apalah, gadis itu langsung merangsek masuk. Hanya mengangguk kecil pada para pelayan di rumah Key. Bergegas menuju kamar Key saat salah satu pelayan itu mengatakan Key sejak tadi siang tidak keluar dari kamarnya.

Lagi-lagi, tanpa mengetuk pintu, Ara sudah merangsek masuk ke dalam kamar Key. Gadis itu menghembaskan tubuhnya di sebelah Key, mengedarkan pandangan, “Yang lain mana?” Tanyanya saat tidak menangkap sosok manusia selain Key yang tengah duduk bersila di depan LCD super besarnya, tengah asyik mengutak-atik joystick, bermain Xbox.

Key melirik Ara sekilas, mengeryit saat menyadari Ara masih menggunakan mantelnya. Key menghela nafas, “Kau pulang sendirian? Minho mana?” Ia bisa merasakan aura masalah dari wajah Ara yang terlipat masam.

“Yang lain mana?” Ara kembali bertanya, tak menggubris wajah penasaran Key.

Nightclub.” Key menjawab singkat, tetap fokus pada game-nya.

Ara melirik jam tangannya, pukul 7 malam. Gadis itu meraih joystick, menimangnya sebentar, kemudian meletakkannya kembali. Ia beringsut menuju tempat tidur Key yang juga super besar, tidur telungkup sembari melihat permainan Key.

“Kau tidak ikut? Tumben.” Ara berusaha memecah kesunyian.

“Males, lagi alergi cewek,” sahut Key ringan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar LCD.

Ara mengeryitkan dahi, “Alergi cewek?”

Key mengangguk pelan, tapi sejurus kemudian menepuk dahi. Gara-gara ia mengangguk, fokusnya pada game terganggu. Kalah. Cowok itu per-puh keras, menatap galak pada Ara.

“Bukan aku yang salah. Kau sendiri yang meleng,” sangkal Ara buru-buru.

KRUCUK…

Key yang semula sudah memasang wajah siap membunuh tertawa keras mendengar suara perut Ara.

“Lapar?” Tanya Key, masih menahan geli.

Ara memberengut, “Di rumah nggak ada orang. Di luar salju. Di sini cuma ada kau.”

Key menaikkan kedua alisnya, “Lalu? Apa hubungannya dengan perut laparmu?”

“Tidak ada yang bisa diharapkan,” jawab Ara sembari menenggelamkan wajahnya ke bantal bulu angsa milik Key.

Key menyeringai, “Bibi Han nggak masak?”

Ara mengangkat wajahnya, “Aku malas makan klo tidak ada temannya.”

Key bangkit dari duduknya, menghampiri Ara, menepuk pelan kepala gadis itu, “Manja! Ayo, aku juga lapar.”

“Kau sedang patah hati ya? Kata Kepala Pelayanmu, kau sedari tadi mengurung diri dalam kamar,” tuduh Ara jahil, menyeringai.

Seringai Ara seketika hilang berganti dengan ekspresi heran ketika ia melihat Key hanya mengangkat bahu tak peduli. Biasanya teman kakaknya yang satu ini akan langsung marah-marah tak jelas jika diledek.

“Kau mau spageti atau sup kental?” Tanya Key, mengabaikan tatapan penuh curiga yang dilemparkan Ara padanya.

“Aku sendiri yang masak.” Lanjut Key cepat saat melihat rona bingung di wajah Ara.

“Sup kental aja ya,” putus Key sembari berjalan keluar, meninggalkan Ara yang masih terbengong-bengong.

***

Minho berdiri gelisah di depan rumah Ara, menekan bel tak sabaran. Sejak gadis itu pergi begitu saja, ia terus berusaha menelpon Ara, sia-sia, gadis itu mematikan ponselnya.

“Elu ternyata.  Ayo, masuk!” Sambut Jonghyun sembari membuka pintu lebar-lebar. Bibi Han sepertinya sudah tidur, sehingga Jonghyun sendiri yang membuka pintu.

“Lu  sendirian Ho? Ara mana?” Tanya Jonghyun heran saat tidak melihat adiknya.

“A-Ara? Emang dia belum pulang?” Minho balik bertanya, gugup.

Jonghyun menatap tajam kearah Minho, “Maksud lu apa? Tadi Key nganterin Ara ketemuan ama elu ‘kan?”

Minho menelan ludah, “Tadi dia pulang duluan. Gue pikir dah nyampe rumah.”

Jonghyun menatap curiga teman sekaligus pacar adiknya itu, “Ara belum pulang dan juga nggak nelpon. Gue pikir dia ama lu. Makanya ampe nyaris tengah malam gini gue santai aja.”

Minho hanya menatap Jonghyun dengan pandangan bersalah, “Ada sedikit salah paham antara gue ama Ara.”

“Kalian berantem? Hah. Bukan itu masalahnya sekarang.” Sentak Jonghyun kesal, sigap meraih ponselnya, berusaha menghubungi Ara.

“Kayaknya ponsel Ara mati Jjong. Dari tadi gue udah coba nelpon dia. Awalnya cuma nggak diangkat, tapi sejak jam 8 tadi, ponselnya dah nggak aktif,” ucap Minho, menggaruk bagian belakang lehernya yang sebenarnya tidak gatal.

Jonghyun mendelik, buru-buru masuk rumah, mengambil jaket dan kunci mobil. Sejurus kemudian cowok itu sudah siap, “Kau, ikut denganku!” Ucapnya pada Minho. Langkah tergesanya kedua cowok itu terhenti saat Bibi Han bertanya heran, “Anda mau kemana? Ini sudah tengah malam.”

“Ara belum pulang, aku hendak mencarinya Bi. Bibi di rumah saja, kalau Ara pulang, segera hubungi aku.” Jawab Jonghyun buru-buru.

Bibi Han mengangguk-angguk, “Eh, tapi Nona Ara ‘kan hanya ke sebelah. Di rumah Kibum-ssi.”

Jonghyun dan Minho serentak bertukar pandang, setengah tak percaya setengah lega. Keduanya bergegas menuju rumah Key, sama seperti Ara, keduanya juga tanpa basa-basi merangsek masuk. Tertahan di depan pintu kamar Key, Kepala Pelayan ngotot tidak mengijinkan mereka masuk. Key terkenal galak jika ada yang mengganggunya tidur.

“Apa Ara ada di dalam Paman?” Tanya Jonghyun pada akhirnya.

Kepala Pelayan mengangguk ragu-ragu, “Iya Tuan.”

Minho mengepalkan tangannya kuat-kuat, “Biarkan aku masuk Paman!” Sentaknya dengan suara keras.

Kepala pelayan menggeleng lemah, “Maaf Tu-”

Tanpa menunggu jawaban, Minho telah merangsek ke depan, mendorong bahu kepala pelyan yang bersikukuh tak mau beranjak. Jonghyun hanya bisa menghela nafas panjang.

Tepat saat keributan nyaris terjadi, pintu kamar Key terbuka, “Ada apa ribut-ribut di depan kamarku?” Key dengan tampang kesal dan mata memerah bertanya dengan nada tajam dan dingin.

“Ara nginep di sini Key?” Tanya Jonghyun sembari memanjangkan leher, melongok ke dalam kamar melalui bahu Key.

Belum sempat Key menjawab pertanyaan Jonghyun, Minho tiba-tiba mendorong dadanya dengan kasar, membuat Key terhuyung ke belakang.

“Minho! Tahan emosi lu,” seru Jonghyun tertahan, melempar tatapan penuh peringatan pada Minho. Key hanya melirik dan melempar senyum sinis ke arah Minho yang menatapnya garang.

Jonghyun menghela nafas panjang saat melihat adiknya bergelung di tempat tidur Key, memeluk guling.  “Tu anak dari kapan di sini?” Tanyanya sembari duduk bersila di sebelah Key yang sudah kembali asyik dengan Xbox-nya.

“Tadi sore,” jawab Key singkat.

Minho masih berdiri tegak di sebelah tempat tidur Key, bingung hendak melakukan apa. Kalau menuruti amarahnya, dia pasti sudah membopong Ara keluar dari kamar Key sejak tadi. Tapi jika Jonghyun yang notabene adalah kakak kandung Ara saja bersikap santai, ia bisa apa?

“Minho!” Panggil Key tanpa menoleh pada Minho. Yang dipanggil hanya melirik malas, beranjak duduk di tepi tempat tidur. Tangannya terulur kearah wajah Ara, menyingkirkan anak rambut yang menjuntai di dahi gadis itu. Kali ini Minho hanya bisa menghela nafas panjang, sedikit penyesalan menerobos hatinya. Tidak seharusnya ia menuruti kecemburuannya yang tak berdasar. Bersikap kekanak-kanakan di depan Ara. Bukankah yang paling dikagumi dan disukai Ara darinya adalah kedewasaannya selama ini? Jika ia bersikap kekanak-kanakan seperti tadi, bukan tidak mungkin Ara akan melihatnya sebagai Minho yang lain. Minho kembali menghela nafas panjang, memejamkan mata. Sebersit pikiran melintas dalam otaknya, nyatanya, Ara lebih memilih berduaan dengan Key daripada menghabiskan waktu dengannya yang notabene adalah pacarnya. Apalagi mereka berdua akhir-akhir ini sangat jarang bertemu karena Minho kuliah di Jepang. Minho menggeleng kuat-kuat, berusaha mengusir pikiran itu dari tempurung kepalanya.

“Kita tanding Street Fighter, yang menang dapet Ara. Gimana?” Tantangan Key yang diucapkan tiba-tiba, datar  dan tanpa ekspresi itu sukses membuat Jonghyun dan Minho serempak menoleh dengan kecepatan cahaya.

***

Minho dan Key saling melempar pandangan datar selama beberapa saat. Sejurus kemudian keduanya memalingkan muka, mengalihkan pandangan. Minho menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, tangan terlipat didepan dada. Udara dingin menerobos serat-serat mantelnya. Ini benar-benar gila! Dini hari, hujan salju, mereka bertiga justru berdiri di tengah taman keluarga Key. Tapi, hawa dingin alam masih belum seberapa jika dibandingkan dengan hawa dingin yang menguar dari diri Minho dan Key.

Jonghyun menatap tajam 2 orang namja didepannya, “Aku tidak percaya kalian berdua melakukan hal konyol seperti ini.”

Key dan Minho serempak menoleh kearah Jonghyun, menelan ludah. Mereka hapal kebiasaan Jonghyun, jika ia sudah bicara dengan bahasa formal seperti ini, berarti masalahnya memang sangat serius. Jonghyun membalas tatapan keduanya dengan pandangan kesal, tak percaya dan prihatin.

Saat ini sudah dini hari, bukannya tidur damai dalam pelukan malam, kedua temannya itu malah menebar aura peperangan. Kalau saja Jonghyun tidak cepat menyeret keduanya, bisa saja Key dan Minho saat ini telah adu fisik dihadapan Ara, yang parahnya sama sekali tidak sadar telah menjadi sumber perkara. Gadis itu tetap nyenyak, tidur bergelung di kamar Key.

“Jjong, bisa kau tinggalkan kami berdua? Ada yang ingin aku bicarakan dengan pria berdarah panas ini.” Ucap Key dingin, mengalihkan pandangannya ke butiran-butiran salju yang melayang pelan dihadapannya. Minho bergeming, tetap menatap Jonghyun yang terperangah mendengar permintaan Key.

“Aku menyeret kalian kemari bukan agar kalian berkelahi di alam bebas. Minho, pulanglah! Key, kau tidur dirumahku!” Perintah Jonghyun, tegas.

“Kurasa apa yang Key katakan ada benarnya. Kami perlu bicara,” sahut Minho tak kalah dingin dari Key.

Jonghyun hanya bisa menggelengkan kepala, frustasi. “Terserah kalian saja. Aku tahu kalian tidak bisa disebut sahabat dekat. Tapi perkara perempuan tidak layak untuk dijadikan alasan sebuah permusuhan. Sekalipun, perempuan itu adalah adikku sendiri.”

“Kami tak akan sampai bermusuhan, Jjong. Kau berlebihan,” celutuk Key, kali ini dengan nada geli.

Minho menyeringai lebar, “Tenang saja, Jjong. Sekalipun ini berakhir dengan kematian salah satu dari kami, kau tidak akan terlibat.” ucapnya dengan nada main-main.

“Minho benar,” sahut Key cepat, dengan intonasi yang sama dengan Minho barusan.

Jonghyun menatap keduanya bergantian, mengacungkan tinjunya. “Kalian ini! Benar-benar! Membuatku khawatir saja.”

Serentak ketiganya tertawa. Ucapan Jonghyun tentang perempuan dan permusuhan barusan tiba-tiba saja membuat Key dan Minho merasa telah melakukan hal konyol.

“Ya sudah. Bicaralah yang baik,” Jonghyun mengangkat bahu, beranjak meninggalkan Key dan Minho yang masih tertawa pelan, “Kurasa salju lumayan juga, bisa mendinginkan otak kalian.” Ucapnya pelan, mirip gerutuan tak jelas.

Baru beberapa langkah Jonghyun berjalan, tiba-tiba ia berbalik, memandang kedua namja didepannya dengan tampang luar bisa serius, “Kalau masalah ini sampai membuat Ara menangis. Kalian berdua yang akan kubunuh!” Ancamnya garang.

“Oh… mengerikan,” desah Key dan Minho bersamaan.

Sepeninggalan Jonghyun, Key dan Minho hanya berdiri saling memunggungi. Keduanya asyik dengan pikirannya masing-masing.

“Kenapa hanya aku?” Pertanyaan Key memecah kesunyian yang mengambang.

Minho menelan ludah, memejamkan mata sejenak. “Karena sikap Ara padamu…” Minho mengambil jeda sejenak, berusaha mencari kata-kata yang tepat.

“Berbeda dari sikapnya pada namja lain? Itukan maksudmu?” Potong Key tak sabaran, menghela nafas panjang.

Minho ikut-ikutan menghela nafas panjang, malas mengiyakan pernyataan Key barusan.

“Kalau aku jadi kau, Minho. Aku tidak akan peduli apa yang Ara rasakan pada orang lain. Apa yang orang lain rasakan padaku atau pada Ara. Aku hanya akan peduli pada apa yang aku rasakan pada Ara dan apa yang Ara rasakan padaku.” Ucap Key datar, tanpa emosi.

Minho perlu beberapa saat untuk mencerna kalimat Key barusan. Ia melirik Key yang ternyata masih berdiri membelakanginya, asyik menadahkan tangan, menatap antusias pada salju yang tertampung ditelapak tangannya itu.

“Kalau kau bertanya apa aku menyukai, ehm, mencintai Ara. Jawabannya adalah IYA.” Ucap Key lagi, kemudian meniup salju di tangannya.

“Dan kalau kau menanyakan hal yang sama pada Ara, taruhan, dia juga akan memberikan jawaban yang sama.” Imbuh Key dingin, menoleh, menatap Minho tajam.

Entah mengapa, Minho tak bisa berkata-kata. Saat ini pikirannya sibuk berperang sendiri, hatinya sibuk melerai perang nalar dan logika diotaknya. Minho? Dia terjebak ditengah peperangan itu, terdiam.

Key mengeluh panjang, “Apapun perasaan Ara padaku, apapun perasaanku pada Ara, bukan itu yang harus kau pedulikan. Nyatanya, dia memilih bersamamu. Bersama seorang Minho.”

Setelah mengucapkan kata pamungkasnya, Key ikut terdiam. Ia kembali memikirkan perkataanya barusan. Ia bahkan tidak yakin akan kebenaran perkataannya itu. Ia tidak yakin mengapa mengatakannya pada Minho. Mengapa?

“Key, untukmu, cinta itu apa? Ehm, maksudku, cinta seperti apa yang kau rasakan pada Ara?” Minho menguatkan hatinya untuk bertanya.

Key mendengus, terkekeh kecil, “Cinta seperti apa? Aku juga tidak tahu. Tapi, rasanya berbeda dengan cinta yang kurasakan pada gadis lain. Cinta yang entah mengapa membuatku merasa cukup hanya dengan selalu berada saat dia memerlukanku. Tanpa keinginan memiliki sama sekali.”

Minho mendongakkan kepalanya ke langit malam, salju mulai mereda. “Aku taruhan, seandainya aku bertanya pada Ara, apa ia mencintaimu, dia tidak akan menjawab, Key. Dia hanya akan menatapku bingung, kemudian mengatakan kalau gurauanku tidak lucu sama sekali.”

Seketika itu juga Key menoleh, memandang Minho dengan tatapan terkejut, “Maksudmu?”

Minho menyeringai penuh kemenangan, “Cintamu yang terlalu besar pada Ara, tidak memberinya kesempatan untuk mengetahuinya. Yang ia tahu, kau tidak akan pernah meninggalkannya. Kau akan selalu ada untuknya. Dan itu membuatnya tidak pernah merasa takut kehilangan seorang Key. Perasaan itu membuatnya tidak akan pernah menyadari kalau ia sebenarnya… mungkin, hanya mungkin, juga mencintaimu.”

Minho menutup pernyataannya dengan sebuah decakan kecil, ber-puh panjang, mengusap bagian belakang leher. Gerak-gerak Minho itu tak lepas dari pandangan jeli mata Key.

“Kau menyesali perkataanmu barusan, Minho?” Tanya Key menegaskan.

Minho menghela nafas panjang, “Mungkin. Tapi, kau benar, Key. Aku tidak perlu memedulikan hal lain. Nyatanya, Ara memilih bersamaku. Itu saja sudah cukup.”

Keduanya tidak sadar, dari balik gerumbul bunga krisan, sepasang mata menatap mereka. Bingung, tak percaya, merasa tengah bermimpi. Bingung, ya, bingunglah yang sebenarnya mendominasi. Saksi mata itu, Ara, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menghela nafas panjang. Tak ada yang lain dalam pikirannya selain pertanyaan, “Apa maksud semua ini? Apa yang sebenarnya mereka pikirkan?”

Catatan Penulis :

Kali ini aku nekat. Nulis tanpa konsep yang jelas, tanpa ide yang mantap, tanpa tujuan dan idealisme yang tertancap dalam dada #apalah

Lihat sendirikan, gimana berantakannya FF ini? #bunuh-diri