Real (or) Dream

 

Author : yen

Main Cast : Kim Ki Bum – Key (SHINee), Cho Hyo Ra

Support Cast : SHINee

Cameo : Gyeongshik (SHINee’s Manager)

Length : Oneshot

Rating : General

Genre : Humanity, Friendship, Life.

Credit to : Totto-chan’s Children by Tetsuko Kuroyanagi

“KEY!! BANGUN!!”

“KEY!! Kau ada jadwal ke rumah sakit pagi ini!”

“KEY!! Bangun atau kusiram kau dengan air cucian piring!”

Teriakan Jinki naik satu oktaf setiap berganti kalimat, nyaris memutuskan urat lehernya. Pagi ini memang luar biasa. Key susah sekali dibangunkan. Mungkin karena dia baru berangkat tidur pukul 2 dini hari, sepulang dari syuting CF terbarunya. Kalau saja Jinki bukan leader yang bertanggungjawab, dia memilih untuk mengabaikan Key. Biarkan saja anak itu tetap tidur, biar saja dia melewatkan jadwalnya, biar saja dia disemprot habis-habisan oleh manajer, biar saja dia ditegur Presdir Lee, bahkan, biar saja sekalipun dia dikeluarkan dari SMEnt. Biar saja!

“Key, bangun sekarang juga atau kau tidak akan bisa bangun lagi selamanya,” Jinki mengeluarkan jurus pamungkasnya. Kali ini bukan teriakan, tapi bisikan bernada dingin –serupa desisan hantu Thailand- yang dia hembuskan persis di telinga Key.

Jurus pamungkas yang sangat ampuh, karena sepersekian detik kemudian Key sudah terlonjak bangun, mengambil langkah seribu, serabutan menuju kamar mandi.

Jinki menyeringai menang melihat kelakuan dongsaengnya itu. Menyempatkan diri untuk menempelkan telinga di daun pintu kamar mandi, sekadar memastikan kalau Key benar-benar mandi dan bukannya melanjutkan mimpinya di dalam bathup. Setelah mendengar suara gemericik air dan keluhan panjang pendek Key yang kedinginan, Jinki mulai mengambil langkah lebar, menuruni tangga. Tugas lain sudah menantinya, memastikan acara sarapan berlangsung aman terkendali.

 “Cih! Ini omelet telur ayam atau telur ikan laut mati sih Hyung?”

Benar saja, mengingat koki pagi ini adalah Jonghyun, peristiwa piring terbang atau panci melayang memang bukan hal yang mustahil.

Jonghyun melotot sangar pada Taemin, melirik tajam pada Minho yang sedang mengunyah pelan suapan pertamanya.

“Emang agak keasinan sih,” celutuk Minho santai, “Tapi lumayan kok. Lagian, mana ada ikan yang bisa hidup di laut mati sih Taem?” Tambahnya buru-buru, melihat gelagat Jonghyun yang sewaktu-waktu siap memukulnya dengan penggorengan.

“Ini bukan agak lagi Hyung! Ini banget, banget, banget as-” Taemin tidak berani melanjutkan protesnya, Jonghyun mengacungkan garpu tepat di depan batang hidungnya. Bocah itu menelan ludah, panik. Sejurus kemudian menjejalkan sepotong besar omelet ke dalam mulut, menyeringai lebar kearah Jonghyun.

“Astaga Jjong. Apa yang kau lalukan?” Suara tegas Jinki membuat ketiga adiknya menoleh serempak.

Jonghyun berlahan-lahan menurunkan garpunya, “Sarapan Hyung. Ini bagianmu,” sahutnya sembari menyodorkan piring pada Jinki.

“Kau sendiri? Sudah makan?”

“Sebentar, bagian Key belum selesai,” tandas Jonghyun, kembali sibuk dengan penggorengannya.

 Jinki memakan omeletnya tanpa banyak protes, sesekali matanya tertuju pada televisi yang tengah mengabarkan kematian Muammar Qaddafi. Sejurus kemudian memindah saluran, meringis melihat kabar meninggalnya pembalap MotoGP, Marco Simoncelli.

“Pagi…” Sapa Key, menghempaskan diri ke kursi.

“Siang,” sahut Minho dan Taemin berbarengan.

“Bagianku mana?” Key celingukan, tidak memedulikan sindiran Minho dan Taemin.

Jonghyun datang dari dapur dengan 2 piring ditangannya, “Nih. Sorry agak berantakan,” ucapnya sembari meletakkan piring didepan Key.

Key membelalak tak percaya, menatap isi piringnya dengan pandangan ngeri, “Ini apa Jjong?”

Yang ditanya justru mengacungkan garpu, “Kebanyakan komentar, kubunuh kau.”

“Tapi, ini a-” Key tidak jadi melanjutkan pertanyaanya, Jjong kali ini mengacungkan pisau.

“Sudah, berhenti bercanda, cepat selesaikan sarapan kalian! Taemin, tolong kau bacakan jadwal kita hari ini,” potong Jinki cepat, sebelum pertumpahan darah benar-benar terjadi.

Taemin mengangguk mantap, berdehem beberapa kali, “Jinki Hyung pemotretan, Jonghyun Hyung take vocal bareng IU, Key Hyung kunjungan sosial ke  rumah sakit anak, Minho Hyung kuliah, aku sekolah,” serunya lantang.

Key melipat dahi, memprotes, “Kenapa hanya aku yang ke rumah sakit? Bukannya Minho juga?”

“Aku ada ujian mendadak Key, dosennya killer banget. Ntar klo masih sempat, aku susul deh,” timpal Minho santai.

Key mengeluarkan puh panjang mendengar janji-janji palsu Minho. “Nyusul? Mana ada sejarahnya Minho nyusul? Nggak dateng, itu yang sering.”

Jinki mengirim tatapan berhenti-ngobrol-dan-cepat-habiskan-makananmu pada semua adiknya, membuat keempat anak itu mengurungkan niat untuk kembali saling mencela. Mereka menghabiskan omelet hasil karya Jonghyun sembari sesekali mengeryit aneh, bahkan Jonghyun sendiri juga merasa kalau masakannya tidak bisa disebut enak.

Jinki bangkit dari duduknya, meraih piring-piring milik dongsaengnya yang sudah kosong, menumpuknya menjadi satu. Namja itu tanpa banyak bicara langsung membawanya menuju tempat cuci piring. Sejurus kemudian dia kembali dengan tangan penuh busa, “Kalian, cepat berangkat. Minho, kau antar Taemin. Jjong, kau berangkat dengan Choi Jin Hyung. Key akan diantar Gyeongshik Hyung,” titahnya tegas, lengkap dengan tatapan tajam tak terbantahkan.

Keempat dongsaengnya segera beranjak, kalau sang Leader sedang in charge jangan sekali-kali membantahnya.

“Kami berangkat Hyung!” Teriak mereka bersamaan.

Jinki mengangguk sekilas, siap melanjutkan acara mencuci piring-nya. Berbalik cepat saat ekor matanya menangkap kejanggalan pada diri Jonghyun, “Jjong! Kau tidak bermaksud pergi ke studio rekaman dengan celemek itu ‘kan?”

Segera saja, semua mata tertuju pada Jjong yang serabutan melepas celemek masaknya, menyeringai malu, “Lupa Hyung, terlalu menghayati peran jadi koki sehari,” kilahnya mengada-ada, mengundang kekehan geli para dongsaengnya.

***

“Key! Bangun, kita sudah sampai di rumah sakit.”

“Key! Kau ini tidur atau mati?”

“KEY!!” Geongshik, sang Manager SHINee sampai harus berteriak di sebelah telinga Key untuk membangunkannya.

Orang yang dibangunkan hanya menggeliat malas, mengerjap-erjapkan mata, “Sudah sampai mana Hyung?”

“Kita sudah sampai di rumah sakit,” sahut Geongshik sebal.

Key menyeringai, “Maaf, Hyung, aku ketiduran. Ngantuk sekali. ‘Kan Hyung sendiri yang mengatur jadwalku. Astaga… sudah seminggu ini aku hampir tidak tidur sama sekali.”

“Berhenti mengeluh. Cepat kau masuk, semua orang sudah menunggumu.”

Key hanya bisa memberengut mengkal, sebelah tangan mengusap mata, sebelah lagi merapikan baju yang sedikit kusut.

“Ayo! Bergegas!” Seru Geongshik, membuka pintu mobil tak sabar melihat Key yang masih menggeliat kanan-kiri.

“ASTAGA HYUNG!! Ini dimana?” Seru Key histeris, terbelalak menatap jajaran tenda ala kadarnya yang berdiri di tengah sebuah padang pasir luas.

Gyeongshik berdecak sebal, “Ada apa denganmu hari ini? PMS? Sebentar mengeluh, sebentar kemudian berteriak histeris.”

Key masih menatap pasir di bawah kakinya dengan melotot tak percaya, “T-tapi Hyung, ini dimana? Memangnya ada tempat seperti ini di Korea Selatan?”

“Tentu saja tidak. Ini di Somalia! Kau dengar? S-O-M-A-L-I-A!” Seru Gyeongshik mengkal sepenuh hati.

Key menepuk dahi, “APA? SOMALIA? ASTAGA!!”

“KAU ITU YANG ASTAGA!!” Teriak Geongshik tak kalah keras. Key hanya menatap manajernya dengan pandangan horor.

“Kau akan berkeliling ke rumah sakit dan kamp pengungsian. Kebetulan ada seorang dokter muda dari Korea yang sedang melakukan proyek kemanusiaan di sini, jadi kau akan ditemani olehnya. Nih,” Ujar Geongshik, menyodorkan sebuah ransel ukuran sedang ke dalam pelukan Key, menambahkan, “Semua keperluanmu ada di tas itu. Baik-baiklah, jaga bicaramu, jangan sampai menyinggung perasaaan orang. Aku pergi dulu, ada yang harus aku urus.”

Key membelalak, “H-Hyung, k-kau mau kemana?”

Geongshik tak mengindahkan pertanyaan Key. Manager SHINee itu sudah melajukan Land Rovernya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kepulan debu yang membuat Key terbatuk-batuk.

“Kim Kibum-ssi?”

Key refleks menoleh ke sumber suara, seorang gadis manis dengan wajah asia timur tampak menatapnya.

“Mari ikuti aku,” ucap seorang gadis bermata bulat hitam yang tengah menatap dingin kearah Key.

Key menelisiknya dari ujung rambut hingga ujung kepala, “Siapa kau? Eh, kau orang korea?” Tanyanya tanpa berpikir.

“Namaku Cho Hyo Ra. Dan ya, aku orang korea.” Sahut gadis itu, sekarang dengan nada meremehkan.

Key menggeleng geram, “Apakah kau adalah dokter yang dimaksud Manager Hyung?” Tanyanya tak yakin, melirik Canon EOS yang tergantung di leher Hyo Ra.

Hyo Ra menyeringai sinis, “Aku memang dokter.”

Sebenarnya Key mengkal sekali melihat cara Hyo Ra bersikap padanya, namun ia berusaha mengendalikannya. Tak ada gunanya marah-marah pada satu-satunya orang yang bisa diajak bicara. Sejauh mata memandang, Key hanya melihat gurun dan orang-orang berkulit hitam yang ia yakin seratus persen tidak akan mengerti bahasa korea.

Setelah menarik-hembus nafas beberapa kali, Key akhirnya berkata, “Baiklah. Jadi apa yang harus aku lakukan?” Sekali lagi Key melirik kamera Hyo Ra. Untuk apa gadis itu –yang katanya seorang dokter- membawa kamera?

Hyo Ra mendelik tak percaya, “Apa yang harus kau lakukan? Heh? Memangnya tujuanmu ke sini untuk apa? Berwisata?” Tanyanya datar. Sejurus kemudian gadis itu memasang senyum sinis, menjentikkan jari, “Ah… pemotretan. Tentu saja.”

“Berhentilah bersikap seperti itu padaku! Aku tidak tahu kenapa aku ada di sini!” Seru Key mengkal. Mengkal? Ya mengkal. Setengahnya pada Hyo Ra dan setengahnya lagi pada manager-nya yang telah meninggalkannya seorang diri di antah berantah tanpa penjelasan apapun.

Hyo Ra mendengus sinis, “Yah. Tentu saja. Semua orang juga tidak tahu kenapa mereka ada di sini. Di dunia yang begitu kejam pada mereka.”

“Berhentilah berkata sinis padaku!” Akhirnya Key tak bisa menahan sebalnya. Ia berteriak kencang, tepat di depan wajah Hyo Ra.

“Tidak bisakah kau berhenti berteriak-teriak seperti itu, Kibum-ssi?” Ucap Hyo Ra dingin, menatap tajam mata Key yang membelalak garang.

Hyo Ra mengibaskan tangannya, “Sudahlah. Tuan Fotomodel, Manager-mu tadi memintaku menemanimu berkeliling dan mengambil fotomu saat berpose bersama anak-anak di sini,” ucapnya malas.

Key mengeryitkan alis, “Aku? Berpose? Maksud-”

“Berhentilah pura-pura polos dan naif Kibum-ssi. Memangnya apalagi yang selebritis lalukan saat kunjungan kemanusiaan? Kalian ‘kan hanya bisa berpose, memasang wajah sok prihatin sembari menghitung-hitung saldo yang akan masuk ke rekening kalian.” Ucap Hyo Ra cepat, memotong perkataan Key. Membuat tanda kutip dengan telunjuk dan jari tengah saat mengucapkan ‘kunjungan kemanusiaan’.

“Apa maksudmu, Hyo Ra-ssi?!” Sentak Key tersinggung, wajahnya tampak memerah marah.

Hyo Ra mendengus malas, “Lupakan. Kau hanya membuang waktuku, Kibum-ssi.” Gadis itu meninggalkan Key begitu saja, berjalan lurus menuju gedung di belakangnya.

Key menatap punggung Hyo Ra dengan pandangan yang setajam laser, siap membunuh. Tepat saat punggung Hyo Ra menghilang dibalik pintu, Key tergeragap, memukul dahinya dengan telapak tangan, ber-puh keras. Key tersadar, lebih baik bersama gadis sinis daripada bengong sendirian di tengah padang pasir. Sejurus kemudian Key sudah berlari, buru-buru mengejar Hyo Ra.

Tepat di depan pintu tenda, langkah Key seketika berhenti. Ini jauh lebih mengerikan dari yang ia pikirkan saat Gyeongshik menyebut rumah sakit dan kamp pengungsian tadi. Di dalam tenda tersebut, puluhan tempat tidur berjajar seadanya, berhimpitan satu sama lain. Dan di setiap tempat tidur itu, berbaring tenang -lebih tepatnya diam- sosok-sosok kurus kering, tulang berbalut kulit.

Hyo Ra mendengus sebal seraya menggamit lengan Key, menggandengnya menjauh.

“Aku cukup tahu kalau mulutmu sangat tajam. Tapi, kumohon jangan menatap anak-anak manis itu dengan pandangan horormu. Mereka sudah cukup menderita tanpa perlu ditambah dengan melihat tampangmu yang menyeramkan,” gerutu Hyo Ra sambil terus menyeret Key, keluar dari tenda.

“A-apa itu tadi?” Key mencicit, setengah tak percaya, setengah takut.

“APA?? Kau menyebut mereka dengan APA?? Kau ini…” Hyo Ra membentak keras, kehilangan kata-kata di ujung kalimatnya yang penuh amarah.

Key menggaruk bagian belakang lehernya, menyeringai gamang, “Mereka… oh Tuhan…”

Key bahkan harus menelan ludah beberapa kali hingga akhirnya dapat menemukan kembali kemampuan bicaranya, berucap lirih penuh penyesalan, “Maaf… aku….”

Hyo Ra memejamkan mata sejenak, menghembuskan nafas dengan kasar, “Kau….”

“Boleh aku menjenguk mereka?” Key memotong perkataan Hyo Ra yang menggantung.

“Aku tidak tau apa yang bisa aku lakukan, tapi… entahlah,” imbuh Key ragu-ragu.

Hyo Ra menelisik wajah Key dengan seksama, berusaha mencari ketulusan dari pancaran mata Key yang masih terlihat bingung.

“Jangan memberikan tatapan kasihan pada mereka. Kau bisa?” Putus Hyo Ra pada akhirnya. Melihat Key mengangguk pasti, Hyo Ra tersenyum tipis. Sejurus kemudian keduanya beriringan memasuki tenda. Key menyempatkan diri menghirup nafas dalam-dalam pada langkah terakhir sebelum pemandangan itu kembali menyambutnya.

“Tersenyumlah,” bisik Hyo Ra pelan. Gadis itu menggengam pergelangan tangan Key, membawanya menyusuri sela-sela tempat tidur.

Key menarik kedua bibirnya, berusaha tersenyum. Walaupun dalam hati, ia yakin benar senyumannya pasti nampak aneh sekali. Bagaimana mungkin seseorang bisa tersenyum jika dihadapannya puluhan anak kecil terbaring lemah, sakit dan menderita. Yah, menderita. Sekalipun Key tidak merasa yakin kata menderita mampu mewakili apa yang dirasakan anak-anak Somalia ini, ia hanya bisa menggunakan kata itu. Menderita.

Jantung Key serasa berhenti berdegup saat salah satu anak yang dilewatinya mengangkat tangan kecilnya yang pucat kurus, berusaha meraih Key.

“Dia ingin memegangmu,” desah Hyo Ra lirih. Gadis itu berlutut, sigap meraih tangan si anak, membelainya sangat hati-hati.

“Sayang, kau akan segera sembuh. Lihat siapa yang menjengukmu. Dia seorang kakak yang datang dari negeri yang sangat jauh. Dia ke sini untuk mendoakanmu, agar cepat sembuh,” bisik Hyo Ra lembut.

Key menatap anak bermata bulat indah itu dengan perasaan tak karuan, memegang bahu Hyo Ra, ikut berbisik, “Dia paham bahasa korea?”

Hyo Ra melemparkan tatapan membunuhnya pada Key, mendesis pelan, “Tidak. Tapi dia bisa merasakan ketulusan seseorang.”

Key menatap Hyo Ra selama beberapa detik, menimbang-nimbang. Saat Key berusaha mengulurkan tangannya, menyentuh kaki si anak, Key merasa hati dan jantungnya jatuh ke dasar perut. Kaki itu terasa keras dan kering, bahkan ototnya pun kaku dan mengejang. Dan panas, anak itu sedang demam. Key perlahan menyapukan telapak tangannya, tersenyum setulus mungkin.

“Kau akan segera sembuh. Semuanya akan baik-baik saja,” ucap Key pelan. Anak lelaki itu berusaha senyuman Key. Namun karena semua ototnya telah kaku, senyumnya menjadi mirip seringai kesakitan.

Bocah itu mengatakan sesuatu dalam bahasa yang tidak dimengerti Key.  Suaranya sangatlah pelan, lemah. Lebih mirip sebuah desisan parau. Sepertinya, lidah dan bibirnya juga kaku. Hyo Ra menggigit bibir bawahnya, melempar pandangan pada dinding tenda.

“Apa katanya?” Key menyentuh bahu Hyo Ra pelan.

Hyo Ra menatap Key lamat-lamat, menelan ludah, berdehem kecil untuk membersihkan kerongkongannya yang tiba-tiba terasa sakit, menjawab pelan, “Dia mendoakan kebahagiaanmu.”

Mendengar jawaban Hyo Ra, Key kehilangan kata-kata. Dalam usaha menahan air matanya yang nyaris jatuh, Key mencoba menyentuh lengan anak itu. Namun, tiba-tiba saja anak itu kejang.

“Hyo Ra!” Seru Key panik, tidak tahu harus melakukan apa.

Hyo Ra menelan ludah, mengusap lengan anak itu dengan lembut, membisikkan kata-kata yang tidak bisa Key dengar dengan jelas. Anak itu mengejang, semakin hebat.

Melihat Hyo Ra yang hanya menenangkan tanpa berusaha memberi suntikan atau apalah, Key berdecak kesal, “Apa yang kau lakukan? Kau ‘kan seorang dokter. Lakukan sesuatu!”

Beberapa anak di sekitar mereka serempak menoleh karena suara Key yang menggelegar. Hyo Ra bergeming, ia tetap fokus pada bocah malang didepannya.

Seorang gadis berambut keriting pendek dengan pakaian perawat yang nampak lusuh menghampiri mereka, mengambil alih si bocah setelah sebelumnya membisikkan sesuatu pada Hyo Ra.

Hyo Ra mengangguk lemah, beranjak dari duduknya, menarik pergelangan tangan Key, menariknya keluar tenda.

Key tersaruk-saruk mengikuti langkah Hyo Ra. Matanya tertancap pada anak itu. Bocah lelaki itu sekarang tak lagi kejang, ia sudah tertidur tenang. Tenang? Tidak, itu sangat tenang. Sampai-sampai Key tidak lagi dapat melihat dada kurusnya yang bergerak pelan mengatur nafas. Dia, anak malang itu, terlalu tenang.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau diam saja?” Desak Key saat mereka telah berasa di luar. Hyo Ra hanya terdiam, mendongakkan wajahnya dengan mata terpejam.

“Bukankah kau seorang dokter? Kenapa kau diam saja? Lakukan sesuatu!” Key mengguncang bahu Hyo Ra dengan kasar, menuntut jawaban.

“Apa yang bisa kulakukan? Kami tak punya vaksin apapun untuk tetanusnya,” Hyo Ra menggeleng perlahan, “Apa yang bisa kami lakukan Kibum-ssi? Apa?”

Key melepas cengkeramannya dari bahu Hyo Ra, tertunduk lesu.

Gadis perawat itu menghampiri mereka, membisikkan sesuatu pada Hyo Ra. Sejurus kemudian Hyo Ra tampak menunduk, jari-jari kedua tangannya saling bertaut didepan dada.

“Apa yang terjadi pada anak itu?” Desis Key pelan, menatap punggung si perawat yang menghilang di balik tenda.

Hyo Ra menghela nafas panjang, “Dia sudah lebih baik sekarang. Dia tidak lagi menderita, tidak lagi merasakan sakit.”

Key termangu sejenak, menatap butiran pasir di ujung sepatunya. Hyo Ra menepuk –nepuk lembut punggung Key yang bergetar, tergugu. Sekilas Hyo Ra melihat air mata meluncur turun melewati batang hidung Key, menetes, meresap hilang saat menyentuh pasir berdebu.

***

“Tersenyumlah sedikit, Kibum-ssi. Ini ‘kan waktu makan siang. Wajahmu bisa membuat mereka kehilangan selera makan,” celutuk Hyo Ra iseng, menyenggol bahu Key dengan bahunya.

Key menatap bocah-bocah kecil yang belepotan memakan bubur jagung encer, menyeringai malas pada Hyo Ra, “Panggil aku Key. Tidak usah terlalu formal.”

“Jangan bilang sebentar lagi kau akan memintaku memanggilmu Oppa,” goda Hyo Ra sembari memutar bola matanya, tersenyum jahil.

Key terkekeh geli, menjitak kepala Hyo Ra, “Terlalu percaya diri! Siapa juga yang mau jadi oppa-mu?”

Giliran Hyo Ra yang menyeringai, mengusap bekas jitakan Key di kepalanya, “Setidaknya, kau bisa tersenyum lagi.”

Key tersenyum kecil, tangannya otomatis terangkat hendak mengacak rambut hitam Hyo Ra. Urung saat melihat gadis itu mengangkat alisnya, memandang keberatan. Key menyeringai, mengalihkan tujuan, mengusap lembut rambut tipis bocah cilik yang rakus melahap bubur dalam wadah plastik berwarna oranye.

“Makan yang banyak, anak baik. Jadi kau bisa sedikit gemuk,” ujar Key pelan, menyembunyikan salah tingkahnya.

 “Kenapa?” Tanya Key saat mendengar Hyo Ra mengeluh pelan.

Hyo Ra menatap Key dan anak didepannya bergantian, menjawab lirih, “Jika ia sedikit saja bertambah gemuk, ia tidak akan mendapatkan jatah makanan lagi.”

Key mengeryitkan alis, “Maksudmu?”

“Kami tidak punya banyak bahan makanan. Hanya yang berat badannya kurang dari 70 persen berat normal yang mendapat jatah makan. Kau lihat ‘kan, tadi, ada penimbangan terlebih dahulu?”

Key mengalihkan pandangannya ke tenda sebelah. Nampak olehnya beberapa anak kurus, yang bahkan garis tenggkoraknya pun terlihat. Mereka menunggu giliran ditimbang dengan diam, penuh pengharapan.

Mendadak Key merasa dadanya sakit, tenggorokannya sakit. Ia teringat omelet Jonghyun tadi pagi. Jelas-jelas omelet itu jauh lebih enak dan bergizi dibanding bubur encer yang bahkan tidak ada rasanya ini.

“Ayo!” Ajak Hyo Ra tanpa menoleh pada Key, melangkah keluar dari tenda pengungsian.

Key menyeret kakinya mengikuti langkah ringan Hyo Ra, menyusuri padang pasir.

“Kita mau kemana?” Tanyanya setelah mereka berjalan cukup jauh. Key mengusap lehernya yang banjir keringat, udara memang sangat panas, mencapai 49 derajat Celcius. Matahari bersinar garang tepat di puncak kepala.

 “Apa yang ada dalam ranselmu? Apa kau membawa roti, biskuit atau apalah?” Tanya Hyo Ra kemudian, melirik Key yang masih sibuk dengan keringatnya.

Key mengangkat bahu, “Entahlah. Gyeongshik Hyung yang menyiapkannya. Sebentar, aku lihat dulu.”

Setelah beberapa saat mengaduk-aduk isi ransel, Key mengulurkan sebungkus biskuit kearah Hyo Ra, “Hanya ini. Manager sialan itu bahkan tidak memberiku air mineral. Awas dia nanti!”

Hyo Ra mengabaikan makian-makian Key yang masih berlanjut.

“Kita akan mengunjungi seorang ibu yang luar biasa,” celetuk Hyo Ra, menatap antusias bungkusan biskuit yang sudah berpindah ketangannya.

“Itu dia. Ayolah, cepat sedikit Key. Kau lambat sekali, seperti kura-kura.” Gerutu Hyo Ra, tak sabaran menarik pergelangan tangan Key.

Mau tak mau, Key tersenyum geli. Di Korea, adalah umum melihat pria menarik wanitanya. Bukan sebaliknya seperti ini.

Seorang ibu yang tengah menyusui bayinya terlihat antusias melihat kedatangan Hyo Ra. Hyo Ra tersenyum lebar, mengulurkan bungkusan biskuit ditangannya dengan ekspresi sangat puas..

Sang ibu mengambil alih bungkusan biskuit dari tangan Hyo Ra, balas tersenyum lebar.

Key sedikit terlonjak saat ibu itu tiba-tiba meneriakkan sesuatu dengan suara sangat nyaring. Segera saja, dari dalam rumah, bermunculan beberapa kepala kecil yang melongok penuh minat. Rumah ini, sebenarnya tak layak disebut rumah. Tingginya hanya sebatas dagu Key. Dengan dinding dan atap dari jerami yang disumpal kain di sana-sini.

Si Ibu merobek bungkusan biskuit, membagikan keping-kepingnya pada semua anaknya yang masih kecil-kecil. Segera saja, wajah-wajah kecil bermata indah itu tersenyum lebar, tertawa senang. Mengelilingi Hyo Ra dan Key, takut-takut menyentuh lengan mereka berdua.

Hyo Ra tertawa kecil, memeluk salah satu diantara mereka tanpa merasa risih, “Enak biskuitnya, Sayang?”

Entah mengerti entah tidak, tapi gadis kecil dalam pelukan Hyo Ra itu mengangguk mantap. Menggigit dan mengunyah biskuitnya dengan tetap tersenyum lebar.

Kali ini, Key harus berkali-kali membuang muka, menyembunyikan matanya yang buncah air mata.

“Eh? Untukku?” Key sedikit berjengit saat sebuah biskuit tiba-tiba terulur di depannya, salah satu dari bocah itu menyodorkannya.

Key melirik si Ibu yang ternyata tengah tersenyum padanya, mengangguk. Seolah-olah ibu itu menyuruhnya menerima biskuit tersebut.

“Aku juga? Terima kasih.”

Key menoleh cepat, Hyo Ra tengah menerima biskuit dari tangan dekil bocah yang lain. Melihat itu, Key ragu-ragu menerima biskuitnya, menggigitnya sedikit. Tersedak. Bukan karena biskuitnya, tapi karena tenggorokannya yang luar biasa sakit menahan tangis.

Hyo Ra segera menghampiri Key, menepuk pelan punggungnya, “Ini pasti pertama kalinya kau menikmati biskuit seenak ini. Iya ‘kan?”

Key mengangguk, menggigit sisa biskuitnya, “Sangat enak.”

“Ehhh…”

Baik Hyo Ra dan Key serempak menoleh, menatap cangkir kecil yang terjulur didepan mereka.

“Waaa… ini hebat sekali Key. Mereka memberimu barang paling berharga yang mereka punya. Kau sangat beruntung,” Hyo Ra berseru antusias, tak sadar memeluk lengan Key kencang-kencang.

Key menyeringai, mengamati cangkir yang gompal dibeberapa bagian tersebut. Di dalam cangkir itu, beriak tenang air coklat keruh yang nampaknya… sama sekali tidak higienis.

“Ambillah!” Hyo Ra mengguncang lengan Key lebih keras lagi.

Key menerima cangkirnya, mengacak pelan rambut si bocah, tersenyum penuh terima kasih.

Ladies first,” celetuk Key dengan ekspresi jahil, menyodorkan cangkir pada Hyo Ra.

Hyo Ra mengangkat alisnya, “Tidak, kau saja.”

“Ayolah. Kau tidak menghargai mereka. Melihat situasi tempat ini,” Key memutar pandangannya ke segala penjuru, menambahkan dengan intonasi ganjil, “Mereka perlu perjuangan keras, berjalan puluhan kilometer untuk mendapatkan secangkir air.”

Hyo Ra mendelik, menyeringai, “Justru karena itu, kau saja yang meminumnya.”

Key menatap Hyo Ra dengan kesal, meminum airnya dalam sekali teguk, memejamkan mata. Berusaha sekuat tenaga tidak menunjukkan ekspresi aneh, sekalipun rasa air itu memang aneh.

Hyo Ra tertawa senang, meninju bahu Key, “Kau memang luar biasa.”

Key melempar tatapan membunuh pada Hyo Ra, membuat gadis itu buru-buru menghampiri si Ibu. Nampaknya berpamitan.

***

Suhu udara terasa lebih bersahabat sejak matahari terbenam. Key dan Hyo Ra duduk bersisian di atas pasir, tak jauh dari tenda “Rumah Sakit”.

“Kau ingat ibu yang kita datangi tadi siang?” Hyo Ra memutus lamunan Key.

“Dia adalah seorang ibu yang luar biasa. Ia mempunya 10 anak.” Menambahkan buru-buru saat melihat ekspresi Key mendengar angka 10. “Bukan… tidak semuanya anak kandungnya. Lima diantara mereka adalah anak angkat. Ibu itu menemukan mereka menangis di jalan, kehilangan orang tua, saat perjalanannya mengungsi kemari.”

Key menghela nafas panjang, menatap ribuan bintang yang tersebar di langit gelap, tepat di atas kepalanya. Bertanya ragu-ragu, “Apa diantara mereka, maksudku, anak-anak itu, ada yang mencoba bunuh diri?”

Hyo Ra menoleh, menatap Key yang bergeming, tetap menikmati angkasa luas. “Mereka? Bunuh diri? Tidak. Tentu tidak. Seberat dan sesulit apapun hidup, bagi mereka, ehm, bagi kami, hidup tetaplah sebuah anugerah. Tentu dengan pemahaman yang berbeda dari pemahaman orang pada umumnya.”

“Sementara itu, di belahan dunia yang lain. Ada orang yang bunuh diri karena alasan yang tidak jelas, sepele.” Sahut Key ironis.

Hyo Ra menyeringai, “Termasuk kalian, para selebritis.”

Key bergeming, tidak menanggapi sindiran Hyo Ra. Banyak sekali pikiran yang melintas dalam tempurung kepalanya. Tentang segala perbandingan antara kehidupannya beberapa tahun terakhir ini dengan pengalaman seharinya berada diantara anak-anak Somalia.

“Maaf, aku lupa memotretmu seharian ini. Kuharap, manager-mu tidak marah,” Suara Hyo Ra yang memecah keheningan, berhasil membuat Key tersenyum kecil. Hyo Ra mengucapkannya dengan nada menyesal, bukan menyindir.

“Tidak apa-apa. Peristiwa hari ini, sangat mudah diingat. Tanpa perlu melihat selembar foto pun,” sahut Key ringan.

Keduanya kembali terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga Land Rover yang tadi pagi mengantar mengantar Key datang lagi, keduanya tetap tidak saling berbincang. Saat Gyeongshik turun dan mengucapkan terima kasih pada Hyo Ra, gadis itu hanya tersenyum tipis. Ia bahkan tidak merasa perlu mengucapkan selamat jalan pada Key. Hyo Ra segera menyeret langkahnya pelan, kembali ke dalam tenda pengungsi, mengabaikan Key yang hendak mengucapkan salam perpisahan.

***

“KEY!! BANGUN!!”

“KEY!! Kau ada jadwal ke rumah sakit pagi ini!”

“KEY!! Bangun atau kusiram kau dengan air cucian piring!”

Key menggeliat malas, seluruh badannya terasa panas, tenggorokannya kering.

“Key, bangun sekarang juga atau kau tidak akan bisa bangun lagi selamanya.”

Kali ini, Key membuka matanya yang terasa berat. Mendapati wajah Jinki yang tersenyum penuh kemenangan.

Hyung… aku masih lelah. Cuaca Somalia benar-benar menguras staminaku,” keluh Key panjang pendek.

“Somalia apanya? Sana, mandi. Jangan mengigau tidak jelas,” Jinki menarik selimut Key.

“Cepat, Key! Kau ada jadwal berkunjung ke rumah sakit anak hari ini!” Seru Jinki tak sabar, Key berusaha mempertahankan posisi selimutnya.

“Rumah sakit anak? Bukannya dibatalkan? Aku ‘kan sudah ke Afrika, Hyung….” Protes Key, masih tarik menarik selimut dengan Jinki.

Jinki mendengus kesal, “Dasar! Tukang Mimpi. Sana, pergi mandi!” Kali ini, Jinki menarik tangan Key hingga terangkat berdiri, mendorong punggung adiknya ke dalam kamar mandi. Mengabaikan seruan protes dari mulut Key. Menyempatkan diri untuk menempelkan telinga di daun pintu, sekadar memastikan kalau Key benar-benar mandi dan bukannya melanjutkan mimpinya di dalam bathup.

Di dalam kamar mandi, Key masih berdiri didepan cermin, mengucak matanya. Tangannya terulur, membuka keran air bathup. Suara gemericik air membuatnya terbangun, teringat sesuatu. Key menatap lamat-lamat aliran air jernih dihadapannya, mendesah pelan. Kembali mengulurkan tangan, menutup keran air. Key beranjak menuju shower. Mulai hari ini, detik ini juga, tidak peduli apa yang dia alami barusan adalah mimpi, kenyataan, atau bahkan nyata-nyata minpi, Key sudah bertekat. Ia harus lebih menghormati setetes air dan sebutir nasi yang ada dihadapannya.

Sementara itu, Jinki yang telah mendengar suara gemericik air mulai mengambil langkah lebar, menuruni tangga. Tugas lain sudah menantinya, memastikan acara sarapan berlangsung aman terkendali.

“Cih! Ini omelet telur ayam atau telur ikan laut mati sih Hyung?”

END

 

P.S. : Terkadang, kita terlalu banyak membaca. Mengira memahami hanya dengan membaca. Tak sadar, kita lebih sering terjebak, hanya mampu melihat dari sudut pandang yang sama dengan penulisnya. Tak sanggup melihat sisi lain dari sebuah kisah.

FF ini mulai ditulis beberapa saat sebelum kematian Muammar Qaddafi, diselesaikan saat upacara pemakaman Kim Jong Il sudah berlalu beberapa hari. Keduanya, adalah pemimpin besar yang pernah ada di dunia. Diakui atau tidak. Sekali lagi, cobalah melihat dari sudut pandang yang berbeda.

With lost of love,

yen