Pagi itu, kau terbangun dengan dada yang sedikit sesak. Tentu saja rasanya tak seberat seperti puluhan batu menekan jantungmu. Tapi tetap saja, terasa sesak. Sesak yang membuatmu tanpa sadar menghela nafas lebih panjang dan lebih sering dibanding keinginanmu.

Pagi itu, saat udara bersih mengambang di seluruh penjuru kota. Saat burung-burung kecil bernyanyi riang. Saat fajar merekah merah, menebar pagi sekaligus semangat baru untuk semua orang. Saat daun-daun menari bersama angin, ranting berderak kecil melantunkan puisi harapan. Saat ombak laut berdebur menyapa pasir pantai. Saat kau merasa, sesak itu benar-benar nyata adanya. Ada di dalam rongga dadamu yang berdegup pelan.

Pagi itu, kau sadar benar. Sekalipun kau bersedih, bermuram durja, tak satupun bagian kecil dari dunia yang akan menyertaimu. Kau sadar benar, rasa sesak itu nyaris tak beralasan. Tidak satupun kejadian besar menimpamu. Kau sadar benar, hal-hal kecil yang terjadi belakangan ini seharusnya takkan sanggup menyakitimu. Kau sadar benar, hal-hal kecil itu tak cukup berarti. Di atas semua itu, kau sadar benar, ternyata hal-hal kecil sekalipun, jika datang beruntun akhirnya mampu menggores rasamu.

Pagi itu, saat kau merangkak turun dari tempat tidur. Saat melirik sekilas pada piyama birumu yang kusut masai. Saat berusaha mengingat kembali mimpi semalam yang terlupakan. Hal-hal kecil kembali menyergapmu. Melemparmu kedalam sebuah lorong samar yang membingungkan.

“Ini puisimu? Menjijikkan. Kau pikir puisi ini cukup bagus untuk Lang?” Gadis cantik bernama Mawar mengacungkan jari telunjuknya tepat didepan hidungmu. Kau hanya bisa menelan ludah, tak mau menunduk, tapi juga tak mampu menegakkan kepala. Gadis itu menatapmu dengan pandangan meremehkan, mengintimidasi. Anehnya, kau sama sekali tak peduli pada arti tatapannya. Kau justru sibuk membenak, apakah kau mengenal gadis itu. Pikiranmu beralih cepat, sekarang ia mengarah pada serpihan kertas abu-abu yang bergelimang lemas di seputar sepatumu. Baru saja, Mawar mengoyaknya, membuangnya tak peduli. Serpihan  kertas yang memang tergores puisimu diatasnya.

Puisi yang dengan jumawanya kau anggap sebagai sebuah keagungan, bukti kesungguhan cintamu pada sesosok makhluk Tuhan yang begitu kau damba. Puisi yang entah bagaimana bisa ada di tangan gadis bernama Mawar.

“Setidaknya, buatlah yang lebih baik dari ini. Kau, menyedihkan.”

Kau hanya bisa menatap nanar sosok ramping Mawar yang berlalu meninggalkanmu. Tepat saat punggungnya tak nampak lagi, kau merasa terusik. Bukan, ini bukan tentang perkataan gadis itu. Juga bukan tentang puisimu. Bagimu, hal-hal kecil seperti ini tak kan mampu menyakitimu. Lagipula, dalam labirin logikamu yang rumit, kau mengakui pernyataan gadis itu. Yang membuatmu terusik adalah rasa sesal yang tak mampu kau hindari, apalagi kau ingkari. Kenapa kau menulis puisi itu? Kenapa kau tidak menyimpannya saja dalam abu-abu gelap ruang otakmu? Dan yang paling kau sesalkan, adalah rasa penyesalan itu sendiri. Kau pun mulai kesal, kenapa kau harus merasa menyesal?

Pagi itu, saat kau menyeret kakimu menuju kamar mandi. Saat menanggalkankan pakaianmu satu persatu. Saat air membelai seluruh tubuhmu yang bertelanjang bulat. Saat air mengalir melewati sela-sela bulu halusmu. Diluar keinginanmu, hal-hal kecil itu meletup pelan, bersamaan dengan luruhnya busa sabun yang wangi dan lembut.

“Apa aku ini, menyedihkan?”

Kau bertanya pada bocah berwajah pucat dengan nada ragu, mengambang di udara.

“Menurutmu?” Bocah itu balik bertanya. Kalian duduk berhadapan di sudut taman kota. Menjeplak di hamparan rumput hijau lembut. Basah sisa hujan tadi malam merembes melalui serat kain seragam sekolah, perlahan membasahi kulit pahamu.

Kau memasang wajah kesal, “Aku bertanya padamu. Apa benar aku ini menyedihkan?”

Bocah berwajah pucat itu terkekeh geli, “Biasanya kau tidak peduli akan hal-hal seperti ini.”

“Biasanya. Yah, aku memang sedang tidak dalam kondisi biasanya,” Kau menghela nafas panjang.

Keheningan mengungkung kalian berdua. Udara kota terasa lembab dan berat. Gumpalan awan hitam masih menggantung di langit. Hujan yang baru saja berhenti, seolah sudah siap untuk segera menyapa bumi, lagi.

“Dia pasti punya alasan.” Suara tegas bocah itu mengejutkanmu.

“Bisa jadi, dia benar. Aku memang menyedihkan,” imbuhmu tak lama kemudian. Seperti yang sudah-sudah, kau tidak akan berhasil merangkai pembelaan atau pembenaran apapun dihadapan bocah itu.

“Kalau kau berpikir begitu, maka begitulah kenyataannya.”

Ucapan bocah berwajah pucat itu membuatmu ingin berhenti berpikir. Berharap dengan berhenti berpikir, maka hal itu berhenti menjadi kenyataan. Semakin lama kau memikirkan untuk berhenti berpikir, kau semakin merasa bahwa itu semua adalah gila.

Bocah itu membaca pikiranmu dengan tepat, mengeluh panjang, “Memikirkan hal-hal gila dengan serius adalah sia-sia.”

Kau melipat dahi mendengarnya, membuat bocah itu menyeringai lebar, “Itu menurut Haruki Murakami, bukan aku. Aku senang memikirkan hal-hal gila. Memang sia-sia, tapi kenapa? Tak ada salahnya melakukan hal sia-sia, bukan?”

Kau menggeleng pelan, “Itulah gunamu, bocah. Kau yang harus melakukan perbuatan sia-sia itu, untukku. Karena aku tak punya waktu dan tenaga. Bukan, lebih tepatnya, aku tidak punya kemauan untuk melakukannya. Aku terlalu pragmatis, bukan?”

“Bukan salahmu terlahir pragmatis,” kali ini, bocah itu berusaha menghiburmu.

Kau mengangguk, “Aku tidak menyalahkan siapa-siapa. Tidak diriku sendiri, tidak kau, tidak orang lain, tidak juga keadaan. Tidak.”

Tepat saat kau mengucapkan kesimpulanmu, bocah itu menghilang. Tanpa merasa perlu mengucap kata perpisahan apalah, dia pergi. Kau sama sekali tidak terkejut, tidak kesal. Kau sudah hapal, memang begitu kebiasaan si bocah berwajah pucat. Dia akan selalu ada untukmu, tak kenal bosan untuk mendengar keluh-kesahmu. Dia akan selalu ada saat kau membutuhkannya. Karena sejatinya, dia adalah kau dan kau adalah dia.

Pagi itu, saat kau menyeka tubuhmu dengan handuk lembut. Saat menelurusi detail lekuk tubuhmu sendiri. Saat perlahan mengusap bagian-bagian sensitif dari tubuh 16 tahunmu yang masih begitu muda, segar dan rapuh. Hal-hal kecil itu kembali menyeruak tak tertahankan, bagai menguar begitu saja dari pori-pori kulitmu yang halus.

“Sebenarnya kau serius atau tidak?”

Mendengar pertanyaan itu, jantungmu seketika berdegup marah. Entah kenapa, kau bahkan tak tahu alasannya. Kau hanya merasa, dalam rongga dadamu seperti ada seekor monster yang siap menyemburkan api berbisa. Hal-hal kecil tentang hidupmu yang menyedihkan, bocah berwajah pucat yang menyebut kau bukan yang biasa, telah mempengaruhi pikiranmu.

Alih-alih menjawab pertanyaan, kau justru memilih diam seribu bahasa. Api itu merayap pelan, lantas berkobar di seluruh pembuluh darahmu. Membakar setiap sel tubuhmu.

Setelah semua yang kau lakukan untuknya, teganya ia mempertanyakan keseriusanmu.

Benakmu sibuk mengeluarkan segala macam argumennya, menyudutkan hati hingga terpojok tak berdaya. Kau mulai merangkai pembenaran-pembenaran, pembelaan-pembelaan. Kau bahkan dengan sombongnya tidak mengakui kalau yang kau untai dengan indah dalam logikamu itu tak lebih dari pembenaran semu. Saat itu, kau membiarkan egoisme menguasai, menggilas logika yang selama ini kau junjung tinggi.

Pagi itu, saat kau merasa cukup dengan ritual mandi pagimu. Saat perlahan membuka pintu kamar mandi, melangkah pelan menyeberangi kamar. Saat memandang pantulan tubuhmu yang tak tertutup sehelai benangpun di cermin besar. Saat hidungmu mulai mencium aroma wangi segar green tea yang menguar dari body lotion yang kau sapukan ke seluruh permukaan kulitmu. Saatlah itu kau mengira telah melupakan segala hal kecil yang terjadi. Sayangnya, bukan karena kau merasa cukup dengan itu semua.

Tapi karena, saat kau memandang bibirmu, mengingat rasa bibirnya, hal-hal kecil itu menguap.  Hal-hal kecil itu, tertutupi oleh hal lain. Hal lain yang saat terjadi terasa besar, namun menjadi kecil saat kau mengingatnya kembali.

“Kau mencintaiku?”

Kau hanya bisa terpaku, tenggelam dalam gelap pekat manik mata orang yang kau damba lebih dari apapun. Lang. Kau salah saat mengira kau akan merasa senang jika Lang mengucap kata cinta dihadapanmu. Saat itu kau justru merasakan amarah yang amat sangat. Tentu bukan karena Lang menyapamu. Tapi lebih karena kalimat sapaannya, telah mengusik monster yang bersemayam dalam dadamu, lagi.

Monster api itu menyentak galak, “Bukankah itu sudah sangat jelas? Kenapa kau mempertanyakannya?”

Seolah bisa mendengar raungan sang monster, Lang menyahut ringan, “Buktikan padaku. Aku perlu yang lebih dari sekadar puisi picisanmu.”

Kau benar-benar kehilangan kesadaran.  Otakmu menolak bekerja. Ototmu memberontak tak mau kau kendalikan. Bahkan perasaanmu menjadi kebas, hilang rasa. Kesempatan yang datang begitu tiba-tiba, bagai jatuh dari planet antah berantah.

Kau yang kosong, kau yang hampa. Monster mengambil alih semuanya, berseru tegas, “Bukti? Tak cukupkah semua yang telah ku lalukan untukmu, Lang?”

Pria pujaanmu itu hanya mengangkat sudut bibirnya dengan sinis. Cara tersenyumnya itulah  yang membuatmu jatuh cinta padanya. Senyum yang membuat satu-satunya yang tertinggal dalam dirimu ikut melayang pergi. Kesadaran. Tanpa kesadaran itu, kau bukanlah apa-apa. Tanpa kesadaran itu kau tak tahu apa-apa. Yang kau tahu, saat kesadaran itu kembali menghampirimu, semuanya sudah terjadi. Bibirmu telah melumat bibir Lang. Sesaat kau mengira kau tengah mencium sesuatu yang lembut dan hangat. Kau salah besar, yang kau rasakan ternyata begitu dingin dan hambar. Kau kembali kehilangan dirimu. Kau merasa terhisap dalam aliran pasir waktu. Berputar, melayang, mengalir bersama butiran waktu, terhempas ke dasar botol. Yang bisa kau ingat hanyalah semuanya menjadi basah. Kau duduk tergugu di sudut taman. Kau sendirian, tanpa Lang, tanpa bocah berwajah pucat. Bersama luruhnya air hujan, kau yakin air matamu juga mengalir. Atau setidaknya kau berusaha menyakini keberadaan air matamu. Semakin kau berusaha meyakininya, semakin kau sadar. Tak setitik pun air mata itu nyata adanya. Yang ada hanyalah air hujan yang menyelimuti tubuhmu yang menggigil dingin. Tapi kau tetap menyangkalnya. Kau bersikeras, air mata itu ada. Dia nyata. Semakin kau bersikeras, semuanya semakin terasa tak nyata bagimu. Taman itu, hujan itu, air mata itu, semuanya tak nyata. Pada akhirnya, hanya dengungan itu yang terasa benar-benar ada. Dengungan yang meresap hingga sumsum tulangmu.  Dengungan yang berujar lirih, “Kau mengecewakanku. Ternyata, kau tak berbeda dari yang lain. Murahan.”

Pagi itu, saat kau mematut dirimu didepan cermin. Saat tanganmu sibuk merapikan lipatan-lipatan kusut di baju seragam sekolahmu. Saat mengunyah roti bakar dengan perlahan. Saat menyeka sisa susu dari bibirmu. Saat kau berjalan pelan menuju halte. Saat itu kau tidak lagi peduli pada dunia. Tidak akan ada lagi hal-hal kecil atau besar yang akan mampu mengusikmu. Saat itu, akhirnya kau mengakui, kau sedang tidak dalam kondisi biasa-biasa saja.  Saat itulah, semuanya menjadi lebih buruk sekaligus lebih baik.

“Sepertinya aku sudah gila.”

Kau menoleh cepat, mencari sumber suara. Bukan karena perkataannya, tapi karena kau mengenali suara tersebut, Lang. Suara yang selama beberapa hari ini tak henti menggema dalam labirin asamu, “Kau mengecewakanku….”

“Biasanya aku tidak melakukan ini. Aku, seorang Lang, tidak pernah melakukan ini,” Lang menatapmu dengan matanya yang berdaya hipnotis. Ganjil, kali ini kau tak merasakan apapun. Tak ada desiran darah, degupan gugup jantung, ataupun amarah monster. Kau sepenuhnya sadar, sekaligus sepenuhnya tak merasa. Kau bahkan tak ambil peduli pada perkataannya barusan. Semuanya nampak buram, terbungkus dengungan kata-kata ‘kecewa’.

Kau membeku, mematung dalam kesendirianmu. Lang yang tak sabar, mencengkeram bahumu dengan erat. Rasanya sedikit sakit, tapi kau mengabaikannya.

“Aku berbaik hati memberimu kesempatan kedua. Buktikan kau mencintaiku!”

Saat itu, entah mengapa, kau hanya tertawa pelan, mengibaskan tangan tak acuh. Kau bahkan tak yakin akan apa yang kau lakukan. Kau hanya melakukannya, hanya ingin melakukannya.

Kau melihat Lang menelan ludah, membuat jakunnya yang maskulin bergerak elegan, “Aku tidak bercanda, juga tidak sedang mempermainkanmu.”

Setelah menghela nafas panjang Lang kembali berkata, “Ini memang gila. Tapi sepertinya aku menyukaimu. Yang kemarin kau lakukan membuatku kecewa. Aku ingin kau memperbaikinya. Buktikan kau mencintaiku!”

Matamu membelalak lebar. Kesadaranmu tersentak. Bukankah ini yang kau inginkan sejak dulu? Hal besar yang begitu kau dambakan, seorang Lang. Monster itu juga tertidur lelap. Tidak ada api yang menyembur. Kau sepenuhnya sadar sekarang. Dari dasar kesadaran itulah, tumbuh sebuah pemahaman. Pemahaman yang berbuah pertanyaan dan pertimbangan. Buahnya begitu lebat, ranum. Seolah terjadi begitu saja, kau tiba-tiba menyadari, bahwa keinginanmu terhadap Lang ternyata tak sebesar itu. Kau menginginkannya layaknya gadis-gadis lain menginginkan Lang. Tak ada yang istimewa dari perasaanmu. Tak ada yang istimewa dari keinginanmu. Ciumannya tak sehangat dan sebasah anganmu. Sentuhannya di kedua bahumu justru terasa menyakitkan. Tidak, kau tidak se-ingin itu mengharapkan seorang Lang. Kau, juga merasa kecewa.

Pagi itu, ketika kesempatan menghampirimu dari arah yang tak terduga. Saat itu juga kau kehilangan semangatmu.

“Terima kasih. Tapi maaf, tidak.”

Kau sendiri terkejut saat mendengar suaramu menjawab dengan begitu ringan dan santai, menolak sebuah kesempatan. Kesempatan yang hadir dari rahim kekecewaan.

Kau mencoba bertanya, “Kau tahu apa itu kecewa?”

Lang memandangmu dengan ekspresi tak tergambarkan.

“Kekecewaan adalah ketimpangan antara asa dan nyata,” Kau menghela nafas lebih panjang dari kau butuhkan, “Aku memberikan yang terbaik untukmu. Kau tak merasa cukup. Aku memberikan milikku yang paling berharga. Namun kau justru kecewa.”

Lang masih memandangmu dengan ekspresi yang sama, ekspresi yang tak mampu kau gambarkan dengan kata-kata.

“Terlepas dari rasa kecewamu padaku, rasa kecewaku padamu, aku tidak bisa membuktikan apa-apa lagi. Lebih tepatnya, aku tidak berusaha untuk bisa. Cukup sudah bagiku.”

Nampaknya, kalimat yang keluar dari mulutmu tak mempengaruhi Lang. Kalimat itu justru menghujam dadamu. Menancap dalam di jantungmu, merobek lapisan logika akalmu.

Pagi itu, saat menatap punggung Lang yang berlalu meninggalkanmu, kau tersadar. Sadar bahwa hal-hal kecil yang terjadi telah membawamu pada sebuah persimpangan. Di persimpangan itulah, kau bertemu dengan kesempatan. Masih di persimpangan yang sama, kau memutuskan untuk melepas kesempatan itu.

Pagi itu, saat bayangan Lang sempurna menghilang dari pandanganmu, kau menyadari. Tak perlu sehari atau dua hari untuk mengerti arti kata menyesal. Detik itu juga, penyesalan telah membuncah. Bahkan kau merasa, sebelum mengambil keputusan untuk melepas kesempatan itu, kau sudah merasakan penyesalan.

Pagi itu, saat hujan kembali turun membasahi tubuhmu, kau menyadari. Bahwa penyesalanmu itu, sedetik lagi hanya akan menjadi hal kecil. Hal kecil yang tak kan pernah sanggup menyakiti hatimu.

Pagi itu, saat semuanya telah berakhir, kau menyadari. Hal-hal kecil dan persimpangan jalan, hanyalah bagian takdir yang harus kau jalani. Sejak pagi itu, kau merasa siap menghadapi hal-hal kecil lainnya, siap menemui persimpangan selanjutnya. Atau setidaknya, kau berusaha untuk siap.

***

Aku menginginkanmu, Lang

Layaknya tanah menginginkan hujan

Aku mendambamu, Lang

Bagaikan daun mendamba angin

Aku menujumu, Lang

Laksana sungai menuju lautan

Aku mengharapkanmu, Lang

Seumpama panglima perang berharap membawa pulang kemenangan

Aku merindumu, Lang

Sebesar rindu bumi yang setia mengelilingi matahari

Aku mencintaimu, Lang

Hingga tak ada lagi ibarat yang mampu menggambarkannya.