GAY

Penulis : yen

Pemeran :

  • Kim Heechul of Super Junior sebagai dirinya sendiri
  • Aku sebagai adik laki-laki Heechul

Panjang : Vignette

Rating : General

Genre : Family, Life

Quote : Kau bisa saja tak peduli. Tapi, sekali saja, bisakah kau melihat dari sudutku?

***

Langkahku terhenti di ambang pintu. Alih-alih melanjutkan langkah memasuki kamar, aku memilih berdiri menyandar pada bingkai pintu, mengamati sosoknya selama beberapa saat.

Orang ini benar-benar membuatku GILA!

“Apa yang kau lakukan di kamarku?” Sapaku tak ramah pada sosok yang tengah duduk di tepi ranjangku.

Sosok itu menatapku tajam, sorot marah terpancar jelas di matanya, “Dan apa saja yang kaulakukan di sekolah belakangan ini? Sok menjadi jagoan, hah?”

Aku mendengus malas, Umma pasti sudah mengadukan semua perkelahianku padanya.

“Berhentilah membuat Umma khawatir,” nada suaranya terdengar melembut. Hyung-ku satu-satunya itu mengalungkan lengannya di leherku. Perbuatan yang wajar saja sebenarnya, tapi tidak disaat suasana hatiku sedang panas seperti ini.

“Singkirkan tanganmu, Hyung!” Sergahku kasar, menepis lengannya. Merasa kalau  ia berkeras tidak mau melepas rangkulannya, aku memberontak keras, “Aku bukan gay sepertimu, atau teman-temanmu itu. Lepaskah!”

Seringaian di wajahnya seketika padam, berganti tatapan nanar tak percaya, “Apa yang barusan kau katakan?”

Jantungku serasa tercabik saat mendengar nada suaranya yang setengah tak percaya setengah terluka. Aku membanting diriku ke atas tempat tidur, hendak membenamkan wajahku diantara guling dan bantal. Tapi tangannya terlebih dahulu menarik kerah baju seragamku, memaksaku kembali berdiri tegak. Sorotnya tajam dan dingin, “Jawab pertanyaanku! Apa yang baru saja kau katakan?”

Dengusan malas keluar dari mulutku, seiring dengan bibirku yang membentuk seringai sinis, “Hyung, aku tahu kau sudah  mendengarnya.”

“Ulangi sekali lagi,” desaknya, cengkeramannya membuatku mulai sesak nafas.

Aku meronta keras, mendorong dadanya kuat-kuat, berteriak setengah histeris, “Jangan memaksaku mengatakannya lagi! Itu menjijikkan!”

“PLAK!”

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kananku. Sukses membuat luka di sudut bibirku yang belum kering benar kembali mengeluarkan darah.

Alih-alih menjerit kesakitan, aku justru merasa lucu sekaligus jijik menyadari bahwa orang yang melakukannya adalah hyung-ku sendiri. Heechul Hyung. Ya, ia yang menamparku! Ini benar-benar membuatku gila!

“Menampar? Bahkan caramu berkelahi saja sudah selayaknya perempuan,” desisku kasar. Walaupun kedua tanganku terkepal erat di kanan kiri badanku, aku sama sekali tak berniat balik menghajarnya. Wajah cantiknya yang memerah karena menahan amarah itu semakin membuatku muak.

“PLAK!”

Kali ini pipi kiriku yang menjadi sasaran empuk tangan lentik-halus Heechul Hyung.

“Tampar terus Hyung. Aku tidak akan membalas,” tantangku ringan, terkendali. “Asal kau tahu saja. Kami, para lelaki, terbiasa menggunakan tinju, bukan tamparan.” Imbuhku datar, lengkap dengan senyuman mengejek.

Kali ini, tangan hyung mengambang di udara. Nafasnya terdengar memburu. Terlihat sekali ia tengah mati-matian mengontrol amarahnya, “Jaga mulutmu, bocah!”

Tawaku menyembur merobek kesunyian. Dengarlah! Umpatannya saja sangat tidak ‘lelaki’. Sepertinya aku harus mengajarinya kata-kata kasar yang lebih seru. Paling tidak, ia bisa mengatakan, ‘Shut your fucking mouth!’atau apalah yang semacam itu. Apa susahnya?

“Asal kau bisa menjaga kelakuanmu, aku akan menjaga mulutku.” Balasku ditengah-tengah tawaku yang belum reda. Baiklah! Tapi ini terasa sangat lucu.

Heechul Hyung kembali menarik kerah bajuku, menghardik, “Kelakuan apa? Kesalahan apa yang kulakukan?”

Sontak aku menelan ludah. Ia tak menyadarinya? Tidak merasa kalau kelakuan abnormalnya itu sebuah kesalahan? Kesalahan yang tidak bisa diterima oleh masyarakat umum? Kesalahan yang… BRENGSEK! Membuatku harus berkelahi demi harga dirinya. Dan ia sama sekali tidak tahu?

“Kau bertingkah seperti gay! GAY! Kau dengar itu?!” Semburku tepat di wajah mulusnya. Menatap lurus-lurus matanya yang melotot galak.

Astaga… apa yang kulakukan?

Hyung….” Panggilku lirih. Aku benar-benar tidak menyangka ia akan bereaksi seperti ini. Rona merah itu menguap cepat dari wajahnya, berganti pucat. Cengkeramannya melemah, perlahan melepasku. Aku benar-benar menyesal saat melihatnya terhuyung kebelakang dan berpegangan pada sudut meja belajar.

“Aku tak mengira kau akan mengatakan hal seperti itu padaku,” ucapnya serak. “Tak terbayangkan tuduhan seperti itu keluar dari mulut adik kandungku sendiri.” Keluhnya lirih.

Lagi-lagi aku menelan ludah, jatuh terduduk di tempat tidur.

“Justru karena aku adikmu, Hyung. Aku tidak rela kau dipandang rendah orang-orang.” Timpalku tak kalah lirih, tertunduk dalam, tak mampu melihat sorot kecewa di manik matanya.

“Kau tahu pasti itu tidak benar.” Kali ini intonasinya terdengar lelah.

Aku menggeleng kuat, memejamkan mata, “Tidak. Aku tidak tahu, Hyung.”

Kedua mataku kembali terbuka saat dua buah lengan yang kuat mengguncang bahuku.

“Apa maksudmu, kau tidak tahu? Kau mengira aku ini….”

“Jangan diteruskan! Aku tidak mau mendengar kata-kata itu lagi,” potongku cepat, secepat nafasku yang tersengal.

“Aku ingin percaya padamu, Hyung. Bukan. Tidak. Aku percaya padamu. Tapi aku tidak percaya pada mataku sendiri,” ucapku terburu, berlomba dengan nafas satu-duaku yang nyaris berhenti.

 “Kau melakukannya. Kau dan teman-teman artismu. Kalian melakukannya di depan umum,” lanjutku, tetap tergesa.

“Kau bahkan tersenyum setelah melakukannya, Hyung. Seolah-olah kau menikmati ciuman itu. Menjijikkan!” Aku bahkan tidak percaya pada telingaku sendiri. Aku mengucapkan semua ini dengan intonasi putus asa.

Tangan kirinya menarik daguku, membuatku mendongak menatapnya.

“Itu semua tidak benar. Itu hanya fanservice. Kau tahu ‘kan? Para ELF lebih suka melihat kami berciuman satu sama lain ketimbang mencium seorang gadis.”

Nada suara hyung terkontrol, tenang dan sabar. Entah mengapa hal itu justru membuatku kembali merasa  muak.

“Singkirkan tanganmu dari wajahku! Aku bukan ELF-mu yang sakit jiwa itu! Aku manusia biasa, Hyung! Bukan makhluk antah berantah bernama ELF!” Sentakku mengkal, menepis tangannya yang masih memegang dahuku.

Heechul hyung menggeleng, tersenyum tipis, “Aku tahu. Kau memang bukan ELF. Kau adikku, keluargaku.”

Terus terang, ketenangannya itu justru membuatku bergidik ngeri.

“Dengar. Aku tidak peduli apa yang orang katakan tentangku. Asalkan adikku, keluargaku percaya padaku, aku tidak peduli apa pendapat orang,” imbuh Heechul hyung, masih dengan intonasi terkontrol sempurna yang membuatku semakin takut.

Aku menghela nafas panjang dan berat. Berkataannya barusan terdengar seperti tuntutan yang membebaniku.

Hyung, kau bisa saja tidak peduli. Tapi, sekali saja, bisakah kau melihat dari sudutku?” Saat melihatnya hendak membuka suara, aku menyela cepat, “Menjadi selebritis adalah pilihanmu, Hyung. Kau tahu setiap pilihan memiliki konsekuensinya sendiri. Dan kau bertanggung jawab penuh atas pilihanmu itu.”

Heechul hyung hanya mengangguk tipis, “Teruskan.” Pintanya ringan, tersenyum maklum.

Sesaat hening menguasai. Dengan kesabaran yang mengagumkan, Heechul hyung menungguku menyusun kata-kata.

“Duniamu, adalah sebuah dunia yang sama sekali tidak kupahami. Bagiku, duniamu itu memiliki logika yang berbeda dari duniaku, dunia kami, dunia orang biasa. Aku benar-benar tidak mengerti dengan duniamu, Hyung. Aku belum pernah, dan sama sekali tidak berminat memasukinya. Aku tidak akan sanggup menanggung apa yang sudah kau dan teman-temanmu lalui selama ini.”

Raut Heechul hyung terlihat sedikit mengeras dan aneh saat mendengar perkataanku, tapi ia tetap menyunggingkan senyum tipis. Seolah menyuruhku meneruskan analisa dan segala protesku padanya.

“Sulit bagiku untuk memahami kau dan duniamu. Tapi… apa aku salah kalau berharap kau bisa memahamiku? Sebelum kau hidup diduniamu itu, bukankah kau juga pernah berada di duniaku?” Semakin lama, suaraku seperti kehilangan tenaga, melemah.

 “Duniaku ini, sayangnya tidak bisa sepenuhnya menerima kelakuan aneh yang kaukatakan sebagai fanservice itu. Yang kami lihat, kalian melakukannya. Tak peduli apa alasannya, kalian memang melakukannya. Hanya itu.”

Perlu waktu lebih lama sebelum aku mengeluarkan kalimat terakhirku, “Menjadi Kim Heechul of Super Junior adalah pilihanmu, Hyung.”

Suaraku nyaris tak terdengar saat aku mengucapkan, “Berbeda denganku. Aku tidak punya pilihan sepertimu. Aku tidak bisa memilih untuk tidak menjadi adik seorang Kim Heechul.”

Aku tidak lagi sanggup untuk sekadar meliriknya, apalagi melihatnya. Aku terlalu takut mengetahui seperti apa ekspresi atau sorot matanya. Sampai suara langkahnya terdengar menjauh dari kamarku, sampai terdengar suara pintu yang ditutup perlahan, aku tetap tidak sanggup mengangkat wajah. Kalau saja aku adalah seorang selebritis sepertinya, mungkin akan sangat dramatis dan menyentuh saat setetes air mata yang jatuh menuruni pipiku.

 Tapi tidak. Tentu saja tidak! Aku adalah seorang remaja berumur 17 tahun yang hidup di dunia nyata. Dunia yang tidak mengijinkan seorang lelaki menangis!

***

Catatan Penulis:

Maaf untuk para ELF. Sungguh tak ada niat menyakiti dan menjelek-jelekkan. Ini fiksi! Dan fiksi adalah fiksi.

Terima kasih.