Taemin’s Short Journey

Chapter 1

Author : yen

Main Cast : SHINee’s Lee Taemin, SHINee’s Kim Jonghyun

Support Cast : Kwon Sohwa, BIG BANG, Super Junior, SHINee

Length : Chaptered

Rating : General – PG15

Genre : Fabel, Fantasy, Friendship.

Summary : Apa jadinya jika Taemin -jantan tulen yang imut dan tampan tak terbantahkan- tersesat di tengah belantara kota yang ganas dan brutal? Apakah pertemuannya dengan Jonghyun –Frog Prince Wannabe– akan menyelamatkannya? Atau justru menjerumuskannya ke lubang tanpa dasar?

***

Hidup menjadi kucing lucu milik seorang gadis cantik menurutku adalah kehidupan paling mewah dan menyenangkan dari segala bentuk kehidupan yang mungkin ada di muka bumi ini.

Bagaimana tidak? Setelah bangun pagi, mandi bersama gadis cantik -tentu dengan melewatkan bagian setan poni- maka bentuk kenyamanan hidup yang lain sudah menungguku. Semangkuk besar susu rasa pisang yang disajikan Umma. Hmm… yummy!

“Mandi, Taem?”

Oh,  rasanya aku ingin sekali mencakar muka menyebalkan didepanku ini, Minho. Tapi, melihat muka dasarnya saja, aku sudah kasihan. Tak berbentuk, bagai ditabrak truk tronton dari segala arah. Bukan, lebih tepatnya seperti habis keluar dari mulut unta ompong. Belum lagi ekspresi wajahnya yang tak pernah berubah itu, macam orang mabuk laut di darat. Tak pernah terlihat antusias, selalu saja malas-malasan tak berenergi. Cocok benar dengan kepintarannya yang jongkok. Orang-orang, termasuk si aneh Ji Yong boleh-boleh saja menganggap anjing sharpei itu imut dan menggemaskan. Tapi bagiku, Minho itu tak lebih dari lipatan handuk kotor!

Hufhhh… sabar Taemin…. Sabar. Kucing sabar, awet tampan. Takkan kubiarkan Minho merusak pagiku yang indah dengan ocehan tak pentingnya!

Akhirnya, aku memilih mendongakkan wajah, berjalan melewatinya. Biarkan anjing jelek menggonggong, kucing tampan tetap berlalu.

“Taemin… Minie… sini, manis. Nah, anak baik, habiskan susumu ya!”

Lihatlah! Umma selalu menyambutku dengan antusias. Aku mengerling, tersenyum jumawa pada Minho, si anjing sosis keriput. Lihat siapa yang jadi tersayang di sini? AKU! TAEMIN.

“Miaow….”

Jawabanku yang merdu dan merayu sukses membuat Umma terkekeh senang, mengusap-usap kepalaku dengan kegemasan tingkat tinggi.

“Pagi Umma, Appa, Ji Oppa!”

Kedatangan Sohwa berhasil merebut perhatian Umma yang tertuju padaku. Ah… biarkan saja, lebih baik aku menikmati susu pisangku. Sesekali aku menoleh kearah meja. Keluarga Kwon sudah berkumpul sempurna.

Appa yang hari ini nampak tampan sekali dengan celana jeans dan kaos polo-nya. Entahlah, aku juga bingung setengah hidup, Umma cantik, Appa tampan berkarisma, Sohwa manis, kenapa… Ji Yong seperti itu? Serba aneh dan tidak jelas arah tujuannya.

Selera fashionnya… kacau! Kaos tanpa lengan yang kusut masai, celana jeans buluk yang telah hancur dimamahbiak tikus. Gaya rambut ekor kecebong, tato yang memenuhi seluruh tubuh, tindikan di telinga, belum lagi badan cekingnya,  macam gelandangan di kawasan elit Gangnam-gu saja!

“Kau sudah mengerjakan semua PR-mu, So?”

Aku menatap bingung wajah Appa yang tengah memandang anak gadisnya. Yang ditanya justru sibuk mengganggu kakaknya, ikut-ikutan menyuap dari mangkuk sereal kakaknya.

“Aishh, kau ini. Makan saja tidak becus,” gerutu Ji Yong saat melihat bibir adiknya yang belepotan susu.

“Aaa….” Sohwa malah membuka mulutnya lebar-lebar, minta disuapi.

Kalian tahu apa yang paling membuatku iri pada Ji Yong? Yeah, dibalik semua keanehannya, dia adalah lelaki paling bertanggung jawab, penuh kasih sayang, lembut, pengertian dan paling gentleman yang pernah kutemui.

Haisshhh… apa ini? Seolah aku ini fangirl-nya saja. Ehm, walaupun setiap kali aku mengakuinya membuatku mula-mual dan ingin buang air besar, tapi Ji Yong memang tipe idaman semua wanita. Tidak tampan, tapi kau tidak akan bosan melihat wajahnya yang unik. Tidak atletis macam binaraga, tapi justru tidak akan membuatmu ketakutan melihat otot-otot yang timbul berlebihan. Senyumnya juga manis… hehehe….

Oh! Cukup sudah! Cukup! Aku normal! Tidak doyan manusia, terutama Ji Yong! Aku kucing normal yang menyukai kucing betina. Yah… walaupun tak bisa kupungkiri, gadis-gadis dari spesies Homo sapiens memang menggairahkan!

Astaga!! Pantas saja kalian mengira cerita ini adalah FF dengan rating NC. Dari tadi mulutku tak henti mengeluarkan kalimat bermakna ganda. Aishhh…..

“Pertanyaan Appa belum kau jawab, So,” celutuk Ji Yong sembari mengulurkan sesendok penuh sereal ke dalam mulut Sohwa. Membuat pikiran-pikiran anehku tentang Ji Yong seketika buyar berkeping-keping.

Sohwa buru-buru menelan serealnya, “Em, em… sudah, Appa. Aku sudah menyelesaikannya tadi malam.”

Appa mengangguk puas, beralih pada anak lelakinya, “Dan kau, Ji?”

Ji Yong menatap Appa-nya bingung. “Aku sudah tidak dalam masa-masa mengerjakan PR, Appa.” Sahutnya sembari membelai-belai poninya.

“Maksud Appa, apa kau sudah menyelesaikan skripsimu.” Kali ini suara Appa terdengar serius dan sedikit menekan.

Sohwa menyeringai lebar mendengar percakapan Appa dan Oppa-nya. Mencelutuk riang, “Akan jadi keajaiban dunia yang kedelapan kalau Oppa sampai bisa menyelesaikan skripsinya.”

Ji Yong menyembur galak, “Kau pikir mudah?”

“Aku tidak berpikir….” Sahut Sohwa, benar-benar tanpa berpikir. “Dan setelah kupikir, justru karena tidak mudah makanya bisa jadi keajaiban dunia,” imbuh Sohwa dengan tampang polos.

“Haisshh, kau ini!”

Sohwa sigap menghindari tangan kakaknya yang teracung tinggi hendak menjitak, sibuk menyemburkan tawa.

Appa, Umma, aku berangkat!” Seru gadis itu, menyambar ranselnya.

“Hei! Tidak ikut mobilku saja?” Seru Ji Yong pada Sohwa yang sudah berlari keluar rumah. Tentu saja setelah menyempatkan diri mengusap kepalaku.

“Tidak! Aku tidak mau mati muda!” Sohwa balas berteriak.

Aku mengekor sembari terus menyundul-nyundulkan kepalaku ke mata kaki Sohwa. Mengantarnya sampai pintu depan, lantas menunggu mendapat ciuman selamat tinggal. Oh… hidupku penuh hal-hal yang romantis, bukan?

Perginya Sohwa ke sekolah, bukan berarti kehidupan nyamanku ikut pergi. Segera setelah Sohwa menghilang di balik gerbang, aku langsung berlari mengitari rumah. Bergegas menuju halaman belakang, hari ini aku ingin menemui temanku, Shindong si ulat pelompat.

“DongDong Hyung! Hyung!”

Eh, kemana ulat gembul itu? Tak nampak batang tubuhnya. Biasanya, tubuh bulat hijaunya sudah merayap-rayap di atas daun Kedondong, memamahbiak.

Hyung! Kau di mana?” Panggilku sekali lagi, mengintip ke semua helai daun, mencari-cari.

Ah… kalian pasti heran kenapa aku memanggilnya dengan sebutan Hyung bukan?

Kalau menggunakan standar umur seperti yang biasa kalian –para manusia- pakai, jelas-jelas DongDong Hyung jauh lebih muda dariku. Umurnya baru 23 hari, sedangkan aku sudah 1 tahun lebih. Tapi… tentu saja tidak serta merta itu berarti bahwa aku lebih dewasa darinya. Untuk ukuran ulat, DongDong Hyung sudah sangat dewasa. Dan tentu saja, sebagai kucing, aku ini masih remaja. Yah… kira-kira sedikit lebih tua dari Sohwa yang berumur 16 tahun.

Kalian paham ‘kan?

Tidak?

Oh, baiklah. Tidak apa-apa. Bukankah sudah kukatakan sejak awal kalau aku ini jenius? Dalam dunia binatang, IQ seekor kucing hanya bisa dikalahkan oleh  monyet dan simpanse. Sayangnya, aku belum pernah mendengar ada monyet atau simpanse yang mau repot-repot berpikir. Percuma saja mereka punya IQ tinggi jika tidak mau berpikir, bukan? Jadi, bisa dikatakan, di dunia binatang, kucinglah yang paling jenius. Ditambah lagi kenyataan, bahwa aku lebih pintar dibanding kucing-kucing lainnya.

Nah, kalau kalian tidak bisa memahami apa yang kukatakan, itu wajar saja. Jadi, tidak usah merasa malu.

Mari kita kembali ke masalah Shindong ulat Kedondong alias DongDong Hyung. Kemana ya dia?

Hyung!”

Aku terkejut setengah pingsan melihat kondisi DongDong Hyung yang sungguh ganjil. “H-Hyung?! Apa yang terjadi padamu?”

Hati-hati aku mencoba menyentuh tubuh Hyung yang melengkung aneh. Tubuhnya terasa sedikit keras, tidak kenyal-kenyal empuk seperti biasanya. Dia juga nampak lemas. Biasanya, ulat gembul yang satu ini lincah sekali. Melompat riang kesana kemari.

Hyung…. kau sakit ya?” Panggilku lirih, menatap iba DongDong Hyung yang menggantung pasrah di bawah sebuah daun.

“Hahaha… Taemin, kau ini! Katanya jenius, masak tidak tahu?” DongDOng Hyung tiba-tiba tertawa keras, kegirangan.

“Euh? Tahu apa? Kau tidak sakit ya? Mengerjaiku? Aishh, Hyung! Aku benar-benar khawatir!” Erangku mengkal, menggoyang-goyang ekor.

Lagi-lagi, DongDong Hyung menyemburkan tawa keras, membuat badannya yang perut semua itu terguncang hebat.

“Aku tidak apa-apa, Taemin. Hanya perlu tidur beberapa hari. Setelah itu….” DongDong Hyung memutar matanya dengan lucu, sengaja benar menggantung perkataannya, membuatku penasaran.

“Setelah itu, apa?” Serobotku, antusias.

“Menjadi lebih tampan,” sahut Hyung dengan percaya diri.

Tentu saja kali ini aku menyemburkan tawa, berguling-guling di atas rumput. “Kau memang lucu, Hyung! Mana mungkin tidur beberapa hari bisa mengubahmu menjadi tampan?”

“Lihat saja nanti. Setelah aku bangun dan keluar dari selimutku ini, kau akan terperangah melihat betapa tampannya aku!” Seru DongDong Hyung tak mau kalah, menatapku galak.

“Iya, iya, Hyung. Amin…. Aku berdoa semoga kau benar-benar berubah jadi tampan. Setidaknya, aku akan punya teman yang sama-sama tampannya denganku. Bosan juga menjadi The One and Only Handsome,” seruku sembari lari terbirit-birit ke dalam rumah, meninggalkan DongDong Hyung yang geram sepenuh hati mendengar kalimat pamungkasku.

“PRANGG!!”

“ARGHH!! TAEMIN!! KUBUNUH KAU!”

Astaga-naga-bala-bala! Celaka tujuh belas! Apa yang telah kulakukan? GAWAT! Tanpa banyak berpikir, aku menghambur kembali ke halaman belakang. Lari lintang pukang mengelilingi pohon kedondong, berbalik cepat menyusuri semak mawar dan deretan lily. Nyaris terjerembap saat akar cemara sengaja menyandungku. Hah, dia ‘kan memang teman Minho. Pasti dia ingin tontonan gratis seperti sebulan yang lalu saat aku menumpahkan sereal milik Minho. Waktu itu Minho berhasil memaksaku berlari mengelilingi dapur 30 putaran penuh. Berakhir tersudut di bawah tempat cuci piring. Dan kalian tahu apa yang dilakukannya padaku? Menggigit? Mencakar? Oh, aku bahkan lebih rela ia mencabik-cabik mukaku yang tampan tak tertahankan. Sayangnya, selera menyiksanya sangat ganjil. Minho menindih dan menjilatiku habis-habisan! Benar-benar menjijikkan! Najis! Dan sangat melukai harga diriku sebagai lelaki!

“TAEMIN!! BERHENTI KAU!!”

Mau tak mau, aku tertawa keras mendengar ancaman Minho yang sekali lagi memperlihatkan betapa kecil otak yang dia punya. Mana ada pelarian yang mau menaati perintah konyol macam itu?

Hosh, hosh, hosh!

Sembari mengatur nafas, aku terus berlari, sesekali menoleh ke belakang. Bahkan dalam keadaan genting begini, aku masih penasaran, kira-kira ide apa yang ada dalam otak tumpulnya. Seandainya kali ini dia berhasil menangkapku, apa yang akan dia lakukan? Memikirkannya membuatku bergidik.

“SUDAH KUBILANG!! BERHENTI!!”

Oh… astaga! Ternyata Minho masih mengejarku. Padahal aku sudah mengitari halaman sebanyak 4 kali. Kenapa tiba-tiba dia menjadi begini atletis? Pasti ada yang salah dengannya. Atau jangan-jangan… ini sedang musim kawin bagi anjing?? TIDAK!!

“BRUKK!!”

“ARGH!!”

“HAH! MAU KEMANA LAGI KAU??”

Ahhh… bagaimana ini? Bagaimana? Bagaimana?!

Seluruh buluku berdiri tegak, jantungku berdetak 100 kali lebih cepat, nafasku memburu satu-satu. Aku terpojok di sudut pagar kawat. Pohon cemara sialan itu berhasil menjegalku.

“Aku tidak akan kemana-mana,” cetusku dengan senyum manis terkembang, buru-buru menambahkan, “Dan aku bisa membantumu menyelesaikan puzzle itu dalam waktu 1 jam. Aku janji!”

ARGH!! Taemin bodoh!! Kenapa aku malah menyinggung harga dirinya yang rendah itu? Dia mengerjakan puzzle itu sebulan penuh, dan… belum berhasil! Bagaimana aku bisa menawarkan bantuan yang justru meruntuhkan harkat martabatnya? Habislah aku!

Tampang Minho yang semula kegirangan karena berhasil menyudutkanku sontak berubah sangat mengerikan. Di saat-saat seperti ini, mau tak mau aku mengakui, bagaimanapun, Minho adalah seorang, eh, seekor anjing. Seram!

“Oh, eh, ah, euhm… maksudku…. maksudku….” Ucapku tergeragap. Merasa dikhianati IQ-ku yang tinggi. Kenapa dia tidak membantuku disaat-saat genting begini? Ayo… berpikirlah Taemin! Berpikir!

“Hmm… apa?”

Huaaa… rasanya jantungku menggelinding kebawah, menggelapar di atas rumput mendengar suara Minho yang terdengar cool dan sangat jantan itu. Sejak kapan dia bisa begitu menakutkan??

“A-apa yang akan kau lakukan?”

Minho justru tersenyum sangat menawan, membuat jantungku benar-benar jatuh ke dasar perut.

“TIDAK!! JANGAN NODAI AKU!! Tuhan… jangan biarkan aku berakhir seperti ini! Jangan, sungguh jangan! TIDAK!! SOHWA!! APPA!! UMMA!! JI YONG!! Siapapun… tolong, kumohon… tolong aku!” Jeritku sepenuh paru-paru saat Minho mendekatkan wajah gepengnya ke arahku.

Suara Minho menggelegar tepat di telingaku, “YA! APA YANG KAUPIKIRKAN?! DASAR BOCAH MESUM!!”

Aku memejamkan mata kuat-kuat, merapatkan tubuhku ke pagar kawat di belakangku. Merapal semua doa dan mantra yang kuketahui.

Hei! Apa ini? Kemarin rasanya tidak ada?

Aku membuka sedikit mataku, mengintip dari celah-celah kelopak mata. Sejak kapan ada lubang di pagar ini?

TUHAN!! TERIMA KASIH!! Kau mengirimkan jawaban atas doaku demikan cepatnya!

Aku sigap menyelinap keluar melalui celah kecil itu, sedikit tersangkut. Meronta dan menerjang-nerjang panik.

Huffhhh….

Setidaknya, sekarang aku bisa mengatur nafasku yang nyaris putus. I’m FREE!

“Mau lari kemana kau, Taemin? Sini, masuk kesini!” Seru Minho beberapa saat kemudian. Otak bodohnya perlu waktu cukup lama sebelum akhirnya mengerti kalau aku sudah lepas dari cengkeramannya.

Aku menyeringai penuh kemenangan, “Kenapa bukan kau saja yang kesini, Minho?” Tantangku, menggoyang ekor, sengaja benar memanas-manasinya.

“Oh… tidak. Aku malas. Kau pasti akan masuk sendiri, kecuali kau berniat tinggal di luar sana,” sahut Minho tenang, seolah-olah kemenangan ada dipihaknya.

Eh, tenang? Bukankah itu mencurigakan? Sejak kapan Minho punya ketenangan dan kepercayaan diri yang begini berkharisma? Ah… semakin dipikir-pikir, aku semakin merasa ada yang aneh dengan keadaan kami.

WHAT THE FUCK?!

ARGH!! Taemin bodoh!

Minho benar, mau tidak mau aku pasti masuk ke rumah kembali bukan? Memangnya aku mau tidur dan makan di mana? Dan dia tinggal menunggu kesempatan dengan sabar di depan celah sempit itu.

Tumben dia sepintar ini?

Tidak, tidak mungkin Minho menjadi pintar. Aku tetap lebih pintar. Tenang Taemin… jangan menunjukkan kecemasanmu. Berpikir, berpikir dan tenanglah.

Ah… benar juga. Aku tinggal memutar ke pintu gerbang depan. Menunggu seseorang pulang dan membawaku masuk. Tak masalah itu Sohwa, Appa atau Ji Yong. Atau, siapa tahu Umma kebetulan keluar kemanalah atau mengambil apalah kemudian menemukanku? Sekalipun mereka mungkin akan bingung kenapa aku tiba-tiba ada di luar rumah, kurasa itu tidak akan menjadi masalah besar. Aku memang jenius ‘kan?

“Hei! Kau mau kemana??” Teriakan dan panggilan Minho mengiringi langkah kepergianku.

Aku menoleh, mendongakkan dagu, mengembangkan senyum di bibir, “Jalan-jalan. Hari ini cerah sekali, sayang dilewatkan dengan terkurung dalam rumah.”

Mata Minho tampak berkedip-kedip, kurasa dia sedang berpikir. Sejurus kemudian ia mengeryit, “Kau tidak boleh jalan-jalan! Kuadukan kau pada Ji Yong kalau berani berkeliaran!”

Kali ini aku tidak mampu menahan tawa yang meledak dari mulutku, “Siapa juga yang peduli pada si Poni Kecebong itu? Bilang saja kau ingin ikut bertualang denganku,” semburku geli. Terlebih saat melihat tampang Minho yang mengenaskan, tercabik antara marah, kesal dan iri.

“Panggil aku dengan Hyung! Kau bocah songong tak tahu adat!”

Hahaha….

Kalian pasti heran bercampur geli mendengar topik pembicaraan Minho yang tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba berubah tidak jelas.

Aku?

Oh… aku sudah terbiasa dengan segala kebodohan Minho. Menyuruhku memanggilnya dengan sebutan Hyung hanyalah sekian banyak dari sedikit pertahan terakhir yang ia miliki saat kalah telak melawanku. Selalu saja begitu, bahkan di dunia manusia pun, kuperhatikan, saat seseorang terdesak maka ia akan membela diri dengan umurnya.

‘Kau bocah ingusan tahu apa?’

‘Aku lebih tua darimu, lebih punya pengalaman!’

‘Kau harus hormat pada yang lebih tua!’

‘Hei! Bagaimanapun, aku ini Hyung-mu!’

Huh! Kalimat-kalimat di atas, kalian akrab ‘kan dengan mereka? Deretan kata menyebalkan yang sama sekali tidak berdasar!

Sudahlah, daripada emosi jiwa karena hal tidak penting dan absurd, lebih baik aku melaksanakan rencanaku saja. Menunggu seseorang di pintu gerbang.

“Taemin! Hei! Taemin!”

Panggilan Minho yang kembali terdengar tak kugubris sama sekali. Persetan!

Wah… pagi yang indah. Beberapa kenalan –tikus got, semut, cacing tanah, kecoak, burung, kucing liar- yang ketemui selama perjalanan menyapaku. Kubalas dengan senyuman dan goyangan ekor sebaik mungkin. Yah… aku memang cukup akrab dengan mereka. Setiap akhir pekan, aku dan Sohwa selalu keluar rumah, jalan-jalan atau bersepeda. Beda dengan si malang Minho yang nyaris terkurung selamanya di rumah karena Ji Yong terlalu sibuk untuk sekadar joging. Papan tulis itu lebih suka berolahraga dengan treatmill dan barbel. Membosankan.

Kalian tahu Hachiko? Itu… anjing jepang yang setia pada tuannya? Kenal ‘kan? Masak tidak kenal? Baiklah, kuberi waktu 5 menit untuk mencari tahu dan berkenalan dengannya.

Mulai!

….

Selesai!

Nah, kalian sudah kenal?

Belum?

Astaga!!

Apa gunanya kalian 24/7 melototi layar laptop dan smartphone jika untuk info sederhana seperti ini saja harus aku juga yang menjelaskan? Kalian tidak kenal google?

Sudahlah, kita kembali pada Hachiko saja. Aku tidak pernah bersimpati padanya. Oh… bukan karena aku ini jahat atau tidak punya perasaan. Jangan berburuk sangka dulu dong!

Hanya saja, di dunia perbinatangan, apa yang dilakukan Hachiko adalah hal yang sangat wajar, kalau tidak boleh dikatakan… sangat biasa. Itu sudah menjadi hukum alam, anjing memang sangat setia pada tuannya. Sebagaimana kami, para kucing, setia pada rumah kami. Yah… ini terdengar sedikit kasar, kucing bukan setia pada tuannya, tapi pada rumahnya.

Hei, kalian heran kenapa aku ketularan Minho, membicarakan hal-hal yang diluar topik? Tidak, aku tidak tertular Minho kok. Aku hanya sedang mencoba menggambarkan situasiku sekarang. Aku yang setia menunggu pintu gerbang, tidak peduli siapa yang membukanya, yang penting aku bisa masuk rumah.

Nah… kalian cukup pintar. Sekarang kalian sudah tahu ‘kan apa perbedaan mendasar antara kesetiaan Taemin si kucing dan Hachiko si anjing?

Kalau kalian sampai tidak paham juga, terlalu! Aku malas bercerita pada kalian!

Ah… bercanda, bercanda… aku tetap akan bercerita.

Eh, tapi… apa itu?? Bola? Sejak kapan bola bisa menggelinding ke atas? Sejak kapan bola bisa mengembang dan mengempis dengan sendirinya? Semakin dekat, semakin terlihat jelas bahwa si bola itu tengah jalan terpincang-pincang. EH, berjalan? Bukankah itu berarti, ia punya kaki?

Hyung! Tolong… tolong, kumohon tolong aku. M-mereka hendak memakanku….”

Ahh… dan sejak kapan bola bisa meminta tolong?

“Tolong Hyung, aku tidak sanggup lari lagi,” pinta si bola terengah, menatap nanar ke ujung jalan.

Saat menyadari apa yang dilihatnya, aku mengerang frustasi. Lihatlah, jarak gerombolan preman gelandangan sok jagoan itu hanya sepelemparan batu dari tempat kami berdiri. Terlambat untuk menghindar, mereka pasti sudah melihat bola kuning berkaki kecil ini bicara padaku. Walaupun kami saling mengenal, bukan berarti kami cukup akrab.

Tanpa banyak berpikir, aku segera duduk, menegakkan punggung. “Sembunyilah di belakang tubuhku, jangan bersuara dan jangan bergerak,” gumamku pelan, tapi cukup terdengar oleh si bola kuning.

“Terima kasih,” seru si bola kuning, buru-buru mengerutkan tubuhnya. Nafasnya terdengar tak beratutan.

Aku menghela nafas panjang, berharap petualanganku hari ini tidak akan dimulai dengan berkelahi melawan gerombolan anjing liar, luka apalagi… darah.

“Sepertinya kalian buru-buru, Hyung.” Sapaku pada gerombolan sangar yang kini berdiri didepanku. Berusaha terlihat tenang, menutupi gemuruh jantung yang berpacu tak terkendali.

“Menyingkir,” desis TOP Hyung, si pimpinan geng.

Key Hyung menggeram keras, “Kenapa kita tidak sekalian saja menghabisi kucing sok tampan yang suka ikut campur ini, Hyung?” Sambarnya mengkal, melotot menatapku.

Aku menelan ludah gugup, saudara sebangsa Minho ini tampaknya bukan hanya lapar, tapi juga marah. Aishh… apa yang diperbuat si bola kuning dengan mereka? Mencari musuh yang tak sepadan. Bodoh!

TOP Hyung menatapku dengan matanya yang tajam, “Sekali lagi kuperingatkan kau, menyingkir dari urusanku.” Intonasinya terdengar biasa saja, bahkan terkesan ramah. TOP Hyung bahkan tersenyum kecil saat mengucapkan ancamannya itu. Tapi, justru itulah yang menakutkan. Ancaman yang diucapkan dengan tersenyum.

“Aku tidak tahu apa yang Hyung maksud,” cetusku sok bodoh.

“Menyingkir kau, BASTARD!!”

Tanpa peringatan, Kangin Hyung menerjang maju, seolah siap menelanku bulat-bulat.

STOP!”

Teriakan TOP Hyung membuat gerakan Kangin Hyung berhenti seketika.

“Mundur. Sudah kubilang, jangan bertindak tanpa perintahku,” perintah TOP Hyung dengan nada setengah bosan setengah malas. Kangin mendelik ke arah pemimpinnya, melempar pandangan mencela yang sama sekali tidak digubris oleh TOP Hyung. Kalah pamor, Kangin berbalik, berjalan menjauhiku dengan ekor lemas menjuntai.

Perlahan, selangkah demi selangkah, TOP Hyung mendekatiku. Aku bergidik melihat ketenangannya yang luar biasa. Tipikal pemimpin yang ditempa oleh kekerasan hidup dijalanan. Cerdas, tegas, kuat dan… nekat. Beradu fisik dengannya jelas bukan pilihan. Belum lagi Kangin Hyung dan Key Hyung yang terkenal beringas. Kalau aku memaksa dan nekat, kurasa aku tetap punya peluang untuk mengalahkan mereka. Tapi… bagaimana jika salah satu dari gembel ini mengidap rabies? Tidak! Seorang Taemin tidak boleh tertular rabies!

“Naik kepunggungku,” desisku pelan, berusaha tidak membuat gerakan pada bibirku.

Aku bisa merasakan tubuh bola kuning yang menempel erat dipunggungku bergetar hebat. Aku merendahkan badan sebaik mungkin, mempermudah usahanya naik kepunggungku.

“Cepat!” Erangku lebih keras. Terlalu keras sepertinya, ekspresi TOP Hyung berubah aneh.

Tepat saat si bola kuning berhasil, aku sontak berbalik, mengambil langkah seribu. Salakan Key Hyung dan Kangin Hyung terdengar bersahutan. Tak ada waktu untuk menoleh, tak ada waktu untuk memastikan apa mereka mengejarku. Yang jelas, salakan keduanya tetap terdengar dari jarak yang konstan. Tidak menjauh, juga tidak mendekat.

Bola kuning itu mencengkeram punggungku dengan kuat, menciap-ciap jerih. Aku tidak peduli. Yang kulakukan adalah terus berlari, berlari dan berlari. Nafasku tersengal, dadaku sesak, jantungku siap meledak kapan saja. Berbelok di gang sempit, meluncur di turunan curam, nyaris terpeleset genangan air.

DAMN! Salakan mereka justru terdengar semakin keras. Aku mengedarkan pandangan sembari tetap berlari. Lorong sempit, kotor dan diapit gedung tinggi. Astaga… aku tidak lagi mengenali wilayah ini. Sepertinya aku berlari tanpa memedulikan arah, dan berakhir dengan… TERSESAT!

Oh! SHIT!!

Sekelabat aku melihat warna bulu Kangin Hyung yang hitam pekat di ujung belokan. Spontan aku berbalik kearah yang berlawanan. Celaka! Ekor abu-abu lusuh Key Hyung terlihat dari celah-celah tumpukan plastik sampah di ujung yang satunya.

Aku terjebak! Bagaimana ini?

Si bola kuning menciap-ciap histeris di atas punggungku.

***