Taemin’s Short Journey

Chapter 2

Author : yen

Main Cast : SHINee’s Lee Taemin, SHINee’s Kim Jonghyun

Support Cast : SHINee’s Lee Jinki,

Length : Chaptered

Words : 4.684

Rating : General – PG15

Genre : Fabel, Fantasy, Friendship.

Summary : Apa jadinya jika Taemin -jantan tulen yang imut dan tampan tak terbantahkan- tersesat di tengah belantara kota yang ganas dan brutal? Apakah pertemuannya dengan Jonghyun –Frog Prince Wannabe– akan menyelamatkannya? Atau justru menjerumuskannya ke lubang tanpa dasar?

Warning : Chapter ini cenderung lebih ‘meledak’ dibanding ‘bersinar’. If you know what i mean🙂

Note : Enchanted Maze adalah sebuah taman yang terdapat di Mornington Peninsula, Victoria.

***

Sekelebat aku melihat warna bulu Kangin Hyung yang hitam pekat di ujung belokan. Spontan aku berbalik kearah yang berlawanan. Celaka! Ekor abu-abu lusuh Key Hyung terlihat dari celah-celah tumpukan kardus dan plastik sampah di ujung yang satunya.

Aku terjebak! Bagaimana ini?

Si bola kuning menciap-ciap histeris di atas punggungku.

“Diamlah, kau membuat kepalaku pusing!” Pekikku tertahan, sadar jika teriakanku bisa memberi Kangin Hyung dan Key Hyung petunjuk.

“Hei, lewat sini!”

Sontak aku menoleh kearah sumber suara, seekor katak hijau sibuk melambai-lambaikan tangan kearahku. Mata bulatnya jelalatan melihat Kangin Hyung dan Key Hyung yang sekarang berjalan dalam diam, mengendap-endap. Sepertinya mereka mulai bisa mencium jejakku.

Merasa tak punya pilihan lain, aku membuang harga diriku jauh-jauh dan berlari mengikuti katak hijau yang sekarang melompat-lompat diantara genangan air di sebuah gang sempit yang aspalnya berlubang-lubang.

“Cepat, cepat. Aku tahu tempat yang aman. Ayo!”

Katak itu terus memanduku berlari zig-zag, melewati sela-sela kardus, sampah berbau menyengat, sekelompok tikus yang ikut lari tunggang langgang karena meihatku, perdu semak tumbuhan apalah. Setelah sekian belokan -aku tak mampu lagi menghitungnya- tiba-tiba ia berhenti dan berbalik badan.

“ARGH!!” Teriakku, terkejut. Nyaris saja aku melindas tubuh hijau bulatnya itu.

Katak itu hanya menyeringai, berujar kalem, “Kalian sudah aman. Mereka tidak akan bisa menyusul.”

Aku masih berhosh mengatur nafas. Dadaku rasanya sesak sekali. Katak itu malah tersenyum-senyum tak jelas. Hebat sekali dia, sama sekali tidak terlihat kehabisan nafas atau apalah.

“Terima kasih,” cetusku pelan setelah berhasil menata nafasku kembali. Katak itu bukannya menjawab, ia malah sibuk mengamati pepohonan dan perdu yang menggerumbul tepat dihadapan kami. Seolah-olah ada hal menarik disana.

 “Ehm… aku bilang, terima kasih sudah menyelamatkanku.” Seruku lebih keras, berusaha mengalihkan perhatiannya.

Aku menggaruk leher, keki. Katak itu benar-benar mengabaikanku. Sekarang ia bukan hanya menatap perdu, tapi melongok-longok tak jelas.

“Jonghyun. Kim Jonghyun. Dan kau, siapa?” Tanyanya tanpa menoleh, apalagi berbalik.

Aku mengerutkan alis, “Jonghyun?”

Ah… itu pasti namanya.

“Taemin. Aku, Lee Taemin.” Sahutku kemudian, tersenyum pada pantat katak. Mau bagaimana lagi? Dia tidak berbalik sih.

“Hei… kita satu marga. Aku juga Lee, Lee Jinki Junior. Hyung bisa memanggilku JJ. Keren ‘kan?”

Sontak saja aku berjengit kaget. Suara itu sepertinya berasal dari atas kepalaku.

“Taemin, apa kau tidak bermaksud menurunkan penumpangmu?” Kali ini Jonghyun berbalik, menyeringai lebar.

“Kau juga harus memanggilku dengan Hyung. Sopanlah sedikit,” imbuhnya cepat. Secepat cengiran yang menghilang dari wajahnya.

Penumpang?

Oh… astaga! Aku sampai lupa kalau tengah menggendong bola kuning yang ternyata bernama Jinki Junior alias JJ.

 

“Kau bisa turun sekarang,” perintahku pada makhluk bola kuning tersebut.

Bola kuning itu justru mencengkeram tengkukku lebih kuat lagi. “Kakiku sakit, Hyung…” rengeknya manja.

Aku menghela nafas panjang. Sudahlah, toh tubuh imutnya sama sekali tidak terasa berat.

“Kenapa kau membawa-bawa anak ayam dipunggungmu? Dan kenapa juga para anjing itu mengejarmu? Kau menculik anak ayam itu dari tangan mereka? Seharusnya kau tidak mencampuri urusan orang lain. Sekarang kau sendiri yang susah ‘kan? Ada beberapa hal di dunia ini yang tak boleh kau campuri. Biarkan segalanya berjalan sesuai takdirnya.” Berondong Jonghyun Hyung. Sukses membuatku melongo. Kupikir dia pendiam. Ternyata bisa bicara sepanjang itu tanpa menarik nafas.

“Aku tadi sedang mencari Appa-ku. Saat aku bertanya baik-baik pada para ajusshi itu, mereka malah ingin memakanku. Untung ada Taemin Hyung yang baik hati menolongku,” potong JJ, menciap antusias sebelum aku sempat membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Jonghyun Hyung.

Appa? Huh? Siapa namamu tadi?”

“Iya, Appa-ku. Aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya, kangen. Jadi, aku mencarinya kemana-mana. Bertanya pada semua orang. Eh, tapi jangan bilang-bilang pada Umma-ku, ya, Hyung. Aku tadi tidak pamitan. Soalnya, Umma tidak pernah mengijinkanku sih. Oh iya, lupa, namaku Lee Jinki Junior, Hyung. Kurasa… Lee Jinki itu nama Appa-ku. Kau kenal dengannya Hyung?”

Appa-mu itu, seperti apa?”

Umma bilang, Appa itu seekor ayam jantan yang tampan dan gagah sekali. Kau kenal Appa-ku?”

“Entahlah, aku tidak yakin. Mungkin aku kenal.” Sahut Jonghyun Hyung, datar nyaris malas-malasan.

“Benarkah? Benarkah? KYAA!! Akhirnya aku bisa ketemu Appa!”

“Hei! Siapa yang bilang aku kenal Appa-mu? Aku hanya bilang mungkin! Dasar bocah!”

Aku hanya bisa termangu mendengar percakapan mereka. Tidak yakin harus ikut menanggapi atau tidak. JJ nampaknya antusias sekali. Sejak tadi ia bergerak-gerak terus dipunggungku. Sementara Jonghyun Hyung mulai terlihat mengkal.

Berdehem pelan, akhirnya aku memutuskan buka suara. “Jadi, JJ bisa ikut denganmu untuk bertemu dengan ayam yang ‘mungkin’ adalah Appa-nya itu, ‘kan?”

Jonghyun Hyung mendelik galak padaku, “Mau melepas tanggung jawab padaku? Enak saja. Kau yang membawanya, kau juga yang harus mengurusnya! Siapa suruh kau sok jadi pahlawan kesiangan menolong bocah itu? Huh?” Ketusnya dingin.

Aku hanya bisa menyeringai, menggaruk leher yang sebenarnya tidak gatal. Yah… Jonghyun Hyung benar.

“Tapi, aku harus pulang, Hyung. Nanti Sohwa mencariku,” tawarku, sopan.

“Bukan urusanku,” cetus Jonghyun Hyung, tetap dingin.

Hyung… bantu aku mencari Appa-ku,” keluh JJ. Entah siapa yang dia panggil Hyung. Aku atau Jonghyun Hyung.

“Taemin Hyung. Kau ‘kan sudah menyelamatkan nyawaku. Sekalian saja, bantu aku mencari Appa. Menolong itu tidak boleh setengah-setengah. Iya ‘kan, Jonghyun Hyung?”

Jonghyun Hyung menatap JJ dengan sorot kosong, seolah tak percaya bocah macam dia bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu. Aku sekuat tenaga menahan tawa. Lihat saja, begitu Jonghyun Hyung mengangguk atau mengiyakan pernyataan JJ, dimulailah penderitaan Jonghyun Hyung. Ah… mungkin lebih tepatnya, penderitaan kami berdua.

“Yah….” Gumam Jonghyun Hyung, ragu-ragu. Tak yakin dengan apa yang sebenarnya di-iya-kannya sendiri.

Aku menepuk jidat. Habislah kita, Hyung!

JJ melonjak kegirangan di atas punggungku, bersorak penuh kemenangan, “Jadi, kau juga mau menolong aku dan Taemin Hyung sampai akhir ‘kan? Terima kasih, Jonghyun Hyung!”

Belum sempat Jonghyun Hyung membantah apalah, JJ sudah kembali berseru, “Kau sudah menolong aku dan Taemin Hyung melepaskan diri dari kejaran preman jelek. Dan tentunya, kau akan menolong kami sampai akhir. Kau kan sudah bilang ‘iya’. Lelaki sejati tidak akan menjilat lidahnya sendiri.”

“Ludah,” cetus Jonghyun Hyung, sorotnya masih setengah kosong setengah isi.

“Jonghyun Hyung jorok! Masak main ludah!” Jerit JJ seolah-olah baru saja mendengar kata-kata paling kotor sedunia.

Tawaku tersembur, tak tertahankan lagi. Kalau saja aku tidak ingat ada makhluk bulat di atas punggungku, pasti aku sudah bergulingan.

“Maksud Jonghyun Hyung, ia membetulkan peribahasamu. Yang benar ludah, bukan lidah. Jadi, lelaki sejati tidak akan menjilat ludahnya sendiri.” Jelasku perlahan setelah berhasil meredam tawa.

“Sudah! Kalian membuatku pusing saja! Kalau kau ingin bertemu dengan ‘mungkin’ Appa-mu itu, ikuti aku! Cepat!”

Sepertinya Jonghyun Hyung benar-benar mengkal dengan ulah kami. Ia ngeloyor begitu saja, berjalan cepat tanpa menoleh untuk memastikan kami mengikutinya atau tidak.

“Ayo, Hyung. Nanti kita tertinggal. Cepatlah! Kau menunggu apa sih? Kenapa belum bergerak juga?”

Haisshh… cerewet sekali bocah ini! Memangnya siapa yang mau mengantarnya?

Hyung… please….”

Huh! Kenapa Tuhan menciptakanku begini sempurna? Sudahlah tampan tak terbantahkan, berhati lembut pula! Membuatku tidak bisa menolak sebuah permintaan tolong.

Sudahlah!

Akhirnya aku beranjak mengikuti Jonghyun Hyung. Menyerat kaki malas-malasan. Otakku sepenuhnya tertuju pada empuknya kasur di kamar Sohwa. Hmm… juga susu pisang. Tiba-tiba aku merasa lapar.

Tak lama kemudian kami sampai di suatu tempat yang ditumbuhi perdu tinggi. Bagiku, perdu ini terlihat seperti pagar hidup. Hmm… tapi bentuknya lucu juga, seperti gajah hijau raksasa. Cute.

Jonghyun Hyung dengan santainya melangkah ke rongga yang terbentuk diantara kedua kaki gajah. Rasa gamang menyergapku seketika. Entahlah, tapi perasaanku mengatakan, pagar ini seolah memisahkan dunia tempatku berada dengan dunia apalah yang ada disebaliknya. Namun, aura misterius itu juga terasa mengundangku. Membuat penasaran, ingin melihat apa yang ada di balik pagar hidup ini.

“Ayo! Cepat!” Sergah Jonghyun Hyung dengan sebal, mata bulat besarnya mengintip dari balik ‘kaki gajah’.

Aku menyeringai lebar, buru-buru menyelinap masuk diantara kaki gajah itu. Tepat saat kedua kaki depanku masuk kedua mataku langsung disambut oleh dua pagar tinggi yang mengapit. Waktu mendongak ke atas, langit nampak sebagai garis panjang bagiku. Di ujung lorong, ada pagar yang sama tinggi. Kurasa aku tahu apa ini. Labirin. Ya ini labirin besar yang terbuat dari tanaman. Wow, fantastic baby!

 “Hyung, kau tinggal di sini?” Cetusku ingin tahu, mengejar Jonghyun Hyung yang melompat-lompat, tak jauh didepanku.

Katak itu tak mengacuhkan pertanyaanku. Ia terus melompat-lompat lincah. Memanduku melewati lorong-lorong labirin yang membingungkan dan nampaknya tak berujung.

Hening beberapa saat. Kami terus berjalanan beriringan. Awalnya perjalanan ini cukup menyenangkan. Labirin yang unik dan menantang. Tapi, pemandangan yang itu-itu saja segera membuatku bosan. Aku mencoba menghitung berapa kali belok kanan, berapa kali belok kiri. Strategi pemusnah bosanku berhasil. Berhasil membuat kepalaku pusing, tentunya. Daripada pusing, aku memilih bersenandung kecil.

“Jaemieobsoe, jaemieobsoe, jaemiebsoe, jaemieobsoe….”

Naas. Lagi-lagi aku terpuruk dalam kebosanan. Ternyata dari sekian panjang lagu itu, lirik yang bisa kuingat hanya satu kata saja, ‘jaemieobsoe’. Benar-benar membosankan!

“Kau tinggal di sini, Hyung? Setiap hari keluar masuk melalui labirin ini? Apa tidak bosan?” Tanyaku sambil lalu, berusaha mencari sesuatu yang bisa aku lakukan. Apapun itu asal bisa memecah kebosanan. Bahkan termasuk mencoba berbincang dengan katak setengah kosong setengah isi.

Jonghyun Hyung bergumam tidak jelas, “Aku tinggal di mana saja. Di atas bumi, di kolong langit. Aku adalah jiwa yang bebas. Yah… secara formal, aku tinggal di sini.”

Mendengar jawabannya yang berbau filsafat itu membuat kalimat yang kususun lenyap di ujung lidah. Astaga… katak yang satu ini memang aneh. Terkadang mencerocos tak jelas. Terkadang terlihat seperti orang linglung dan idiot. Sekarang justru bermain filsafat.

Huh? Bermain filsafat? Macam manusia saja! Kurang kerjaan. Memikirkan hal-hal yang semakin dipikirkan semakin membuatmu berpikir.

Haisshh…

Sebenarnya, aku sudah gatal sekali ingin bertanya, ‘Sebenarnya kita mau kemana? Apakah masih jauh, Hyung?’

Namun, tiba-tiba saja otak jeniusku menjawab sendiri, ‘Kita akan menuju sebuah kehidupan. Tempat hanyalah pembatas yang mengungkung kebebasan jiwa. Maka kita hanya menuju pada kehidupan itu sendiri. Satu lagi, kau haris ingat ini, jauh dekat itu hanyalah persepsi. Sebagaimana kosong adalah isi, maka isi adalah kosong’.

Puhh… memikirkan kemungkinan jawaban itu akan keluar dari mulut Jonghyun Hyung saja sudah membuatku malas, apalagi jika harus mendengarnya sungguhan. Daripada tertular penyakit filsuf-nya, aku memilih kembali diam. Sudahlah, nanti juga sampai. Walau entah, akan sampai di mana.

Atau jangan-jangan, lemotnya kambuh dan menjawab sambil menatap kosong, ‘Eh, kemana ya? Aku juga tidak ingat lagi kita mau kemana.’

Gubrakk! Lebih baik aku diam saja. Bukankah diam itu emas? Dan cerewet itu berlian? Hehehe….

Huffhh… sebagaimana bosan adalah bosan, maka bosan tetaplah bosan. Dan ternyata, aku benar-benar bosan. Katak filsuf setengah kosong setengah isi itu masih saja belok kanan, belok kiri dalam labirin. Sama sekali tak ada penampakan ujung labirin. Wajarkan kalau aku mulai curiga, jangan-jangan Jonghyun Hyung bukan setengah isi setengah kosong, tapi benar-benar KOSONG!

“WOW!”

Baik aku dan JJ tidak bisa menutupi seruan kagum saat meilhat pemandangan yang terhampar dihadapan kami, seolah dalam sekejap muncul begitu saja. Segala protes dan curiga menyublim dari otakku. Ini lebih dari pada memuaskan!

 

Jonghyun Hyung membungkuk dengan anggunnya, “Selamat datang di Enchanted Maze.”

Enchanted? Nama yang sungguh sesuai dengan kenyataannya. Memesona. Fantastik.

Wow, fantastic baby!

Jonghyun Hyung tersenyum geli bercampur maklum melihatku. Pasti tampangku saat ini sangat kampungan, melongo terpesona. Macam tampang Sohwa saat melihat anggota boyband kesayangannya. Aishh… sadar Taemin, jangan merusak harga dirimu sendiri!

HYUNG!! AKU PULANG!! HYUNG!!” Seru Jonghyun Hyung, entah pada siapa, Hyung yang mana. Aku tak melihat siapapun di sekitar sini.

Ternyata aku salah. Dari balik perdu dan pohon-pohon besar, satu persatu muncul berbagai hewan. Burung murai batu berekor panjang, monyet berwajah mesum-jahil, ayam jago, kelinci, kuda, unta, harimau, kura-kura, ular piton albino, kupu-kupu dan masih banyak lagi.

“Jjong! Selalu saja terlambat. Kau ‘kan tahu malam ini kita ada pesta besar, bukannya membantu malah menghilang!” Seru jerapah tampan bertampang oriental.

“Zhou Mi Gege macam tak hapal saja tabiat si Frog Prince Wannabe yang satu ini,” timpal si ular albino.

Wow! Fantastic baby! Aku sama sekali tidak tahu kalau ada tempat seperti ini di Korea Selatan. Sohwa pernah antusias bercerita tentang kebun binatang. Tapi tempat ini tidak sesuai dengan penggambaran Sohwa waktu itu. Alih-alih kandang dan pagar tinggi, tempat ini begitu luas dan bebas.

Gerombolan itu sejenak menatapku penasaran, tapi sejurus kemudian mereka sudah bubar kembali dengan rusuh tingkat tinggi. Sepertinya mereka memang sedang benar-benar sibuk.

APPA!”

Teriakan JJ membuatku terlempar kembali ke alam nyata. Si bola kuning itu, entah kaan sudah meluncur turun dari punggungku, berlari kencang menyongsong sesosok ayam jantan yang berdiri di kejauhan.

Heuh? Berlari kencang? Bukankah tadi ia bilang kakinya sakit? Awas saja kau bocah!

APPA!! APPA!! APPA!!”

Ternyata bukan hanya aku yang melotot heran dengan teriakkan JJ yang tak berujung pangkal itu. Sorot sosok yang dipanggil JJ dengan sebutan ‘Appa’ tak kalah herannya. Belum terhitung tatapan penghuni Enchanted Maze yang beragam. Mulai dari antusias, penasaran ingin tahu, bingung, curiga, menghakimi, sok cuek tak peduli, malas-malasan, bosan atau kosong. Hanya Jonghyun Hyung yang tanggapannya biasa-biasa saja.

“Ah… Jinki lagi, Jinki lagi. Dasar penebar benih. Anakmu yang mana lagi ini, huh?” Cetus seekor monyet, sengaja benar menyenggol bahu si ayam jago.

“Hei, bocah, tahu dari mana kalau dia ini Appa-mu? Huh?” Potong seekor murai batu bertampang pucat.

JJ menatap kosong kenari itu sebelum akhirnya menjawab sekenanya, “Umma selalu bilang kalau Appa-ku adalah ayam jago yang tampan dan gagah.”

Si Monyet menyemburkan tawa keras yang sangat tidak elegan, “Bukan berarti setiap ayam jago tampan adalah Appa-mu, Bocah!”

“Kalau menurutku, Hyukjae Hyung, bocah ini benar-benar anak Jinki Hyung. Bahkan Umma-nya saja memberinya nama yang sama, Lee Jinki Junior. Pasti ada hubungannya ‘kan?” Cetus Jonghyun Hyung, kalem.

Oh… jadi, si monyet bertampang jahil ini namanya Hyukjae? Dan jago itu punya nama yang sama dengan JJ, Lee Jinki? Jadi, ini ayam jago yang ‘mungkin’ Appa-nya JJ?

Aku hanya menatap mereka bergantian. Menyunggingkan senyum tanggung saat mendapati si murai batu tengah mengamatiku dengan sorot bosan.

“Jadi, namamu juga Jinki?” Tegas Jinki Hyung pada JJ, menyelidik.

JJ mengangguk penuh semangat, “Iya, Appa. Aku Lee Jinki Junior. Senang bertemu Appa,” serunya sembari membungkukkan badan 90°.

Jinki Hyung mengangguk tipis, tersenyum bertanya, “Siapa nama Umma-mu?”

“Tidak ada gunanya dia menyebut nama Umma-nya. Taruhan, kau tidak akan ingat. Terlalu banyak betina diluar sana yang sudah kau gauli.”

“Maaf, Hyung, tapi kurasa ini bukan percakapan yang cukup pantas untuk didengar JJ.” Cetusku cepat, memotong pernyataan si murai batu yang mulai menjerumus.

Hyukjae Hyung menganga menatapku, mengerjap-erjapkan mata bundarnya, “Benar, Kyu. Banyak anak dibawah umur di sini.”

Banyak? Apa yang maksudnya dengan banyak? Jelas-jelas hanya ada satu anak dibawah umur di sini, JJ si bola kuning.

 Banyak?

Tak sadar aku mulai menggaruk leher, keki. Mendelik heran melihat pandangan semua orang tertuju padaku. Mereka tersenyum simpul.

Astaga!!

“Aku sudah dewasa, Hyung!” Seruku mengkal. Enak saja mereka menyamakanku dengan JJ yang masih ingusan!

Bibir, eh, paruh si murai batu yang dipanggil ‘Kyu’ itu nampak menyeringai meremehkan, “Hanya anak kecil yang mengaku-aku kalau dirinya sudah dewasa.”

“Kali ini, aku sepakat denganmu, Kyuhyun!” Sorak Hyukjae Hyung, nampak kegirangan, melompat-lompat tak jelas ujung pangkalnya.

Oh… aku tidak suka makhluk berjudul Kyuhyun ini. Pintar memang, tapi mulutnya tajam. Aku juga bukan anak sopan, tapi setidaknya aku tidak asal buka mulut seenaknya. Sebagai jenius nomor satu, aku lebih banyak berpikir.

“Kenapa kalau kau yang mengatakannya jadi terdengar buruk ya? Padahal tidak begitu juga, Hyung.” Bantah Jinki Hyung pada si murai yang mencelanya.

“Aku ‘kan hanya menjalani takdirku sebagai ayam jantan. Kalau aku tidak beristri banyak, bisa-bisa spesies kami sudah punah sejak dulu. Kau juga tahu kalau telur kami lebih banyak dikonsumsi manusia daripada menetas. Belum lagi umur kami yang pendek karena manusia juga gemar memakan daging kami.”

Mendengar pembelaan Jinki Hyung yang datar tanpa emosi membuatku berpikir keras. Memeras cucian, eh, maksudku memeras otak.

“Jangan mengeluh, Hyung. Setiap hewan punya takdirnya sendiri-sendiri. Ada yang dilahirkan bebas, liar. Ada yang menjadi peliharaan kesayangan. Ada yang menyumbang tenaga. Dan ada juga yang menyumbang kehidupan sepertimu.” Sela Jonghyun Hyung, lagi dan lagi, berfilsafat.

“Menyumbang kehidupan apanya? Tugas Jinki adalah merayu, menggauli betina dan menebar benih dimana-mana. BAD BOY! Iya ‘kan, Kyu?” Teriak Hyukjae Hyung tak pandang situasi, menyentil ekor Kyuhyun Hyung, mencari dukungan.

Aku melengos jengah mendengar celutukan Hyukjae Hyung yang benar-benar kacau itu.

“Intinya sih, akui saja dia sebagai anakmu. Tak ada ruginya ‘kan?” Potong Jonghyun Hyung dengan santai dan ringan tanpa beban.

Bagiku, kesimpulannya itu lebih mirip sebagai jurus sakti mengakhiri tugas pancarian Appa JJ. Atau lebih tegasnya, mengubah status ‘mungkin’ Appa-nya JJ menjadi ‘jelas’ Appa-nya JJ.

“Oh-ya. Aku belum mengenalkan dia pada kalian. Namanya Lee Taemin,” sela Jonghyun Hyung, mengedip padaku. Tanggap, aku membungkuk pada para Hyung sekalian.

Sebelum seorangpun sempat menalar dan mungkin menolak kesimpulan Jonghyun Hyung, ia segera alihkan perhatian mereka. Aku dan Jonghyun Hyung harus bekerja sama ‘kan? Kalau Jinki Hyung urung mengakui JJ sebagai anaknya, berarti kami harus mencari Appa yang lain untuk JJ. Bukan pekerjaan yang menyenangkan, tentunya.

“Kenapa kau membawanya kemari?” Tanya Kyuhyun Hyung dengan nada suara yang membuatku ingin menelannya bulat-bulat dalam arti kata yang sebenarnya.

Oke. Pertanyaannya memang membuat kami tidak perlu lagi membahas keabsahan status Jinki Hyung sebagai Appa-nya JJ. Tapi… dia pikir aku ini barang yang bisa dibawa kesana-kemari? Huh?

Jonghyun menjawab malas-malasan, “Dia dikejar-kejar kelompok TOP Hyung sampai tersesat.”

“Aku tidak tersesat,” sangkalku cepat, menahan gengsi. Saking gengsinya, aku sampai tidak sempat berpikir, bagaimana Jonghyun Hyung bisa kenal dengan kelompok TOP Hyung.

“Menyangkal hanya akan membuktikan kalau kau benar-benar masih bocah,” cetus Kyuhyun Hyung, tersenyum mengejek.

Hyung… aku bukan bocah!” Rengekku mengkal, kelepasan.

Suara tawa yang terdengar bersahutan dari para Hyung membuatku tersadar telah melakukan kesalahan fatal. Haissh… kenapa juga aku merengek? Sungguh memalukan!

“BOCAH!! Apa yang kalian gosipkan di situ? Huh? Selesaikan tugas kalian! CEPAT!!”

Panggilan yang diiringi auman mengerikan dari seekor harimau sukses menyumpal tawa mereka. Bersungut-sungut, para Hyung mengeloyor pergi.

“Ayo, kau bantu Appa membuat topeng pesta. Kau suka yang seperti apa? Berbulu-bulu?” Tanya Jinki Hyung, menggandeng lengan, upss… maksudku sayap JJ.

Aku dan Jonghyun Hyung saling melempar seringai terbaik melihat adegan ayah-anak  yang jalan beriringan itu.

Mission complete! No doubt!

Bingung hendak berbuat apa, tanpa sadar aku mengikuti Jonghyun Hyung  yang berjalan kearah kemana Kyuhyun Hyung dan Hyukjae Hyung  tadi pergi.

Dari kejauhan aku bisa melihat Tuan Harimau masih sibuk mengaum kesana-kemari, memerintah ini itu.

Penasaran, aku mencoba bertanya. “Tuan Harimau itu, pemimpin Enchanted Maze ya? Kelihatannya sedikit… mengerikan.”

Jonghyun Hyung mengangkat bahu sok cool, “Yah… bisa dikatakan, begitulah. Hangeng Gege memang mengerikan. Tapi dia tidak akan memakan kita.” Cetusnya santai, mengedipkan mata.

“Manusia sering mengira bahwa dunia binatang adalah dunia kekerasan. Yang paling kuat yang berkuasa, memimpin. Padahal, itu tidak sepenuhnya benar. Hanya kebetulan saja Hangeng Gege adalah harimau. Selebihnya, kami di sini menghormatinya karena ia adalah sosok yang adil, bijaksana dan melindungi,” imbuh Jonghyun Hyung panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume.

Aku mengangguk-angguk, memasang ekspresi seolah-olah paham dengan yang dibicarakan Jonghyun Hyung. Bagaimana lagi? Aku ‘kan kucing rumahan, binatang peliharaan yang jarang berinteraksi dengan bangsaku sendiri.

“Kalian sedang merayakan apa sih, Hyung? Sepertinya sibuk sekali?” Sambarku cepat dan tepat saat Jonghyun Hyung siap membuka mulut akan melanjutkan kuliah ilmu hubungan perbinatangan-nya.

Jonghyun Hyung mengeryit aneh, “Kau tidak tahu hari apa ini?”

Sekali lagi aku merasa sangat bodoh. Memangnya ini hari apa? Ulang tahunku?

“Ini adalah Hari Manusia Sedunia. Sebagai balasan akan niat baik manusia yang mengadakan World Animal Day alias Hari Satwa Sedunia setiap tanggal 4 Oktober, kita juga harus membuat yang serupa dengan itu ‘kan?” Papar Jonghyun Hyung sembari menatapku prihatin, seolah-olah aku ini makhluk idiot paling mengenaskan sedunia.

“Hei! Ah… siapa tadi namamu? Bocah!” Seru Hyukjae Hyung, melambai-lambaikan tangannya padaku. “Sini! Aku perlu bantuanmu.” Panggilnya lagi, lebih bersemangat.

Walaupun aku tidak yakin dengan apa yang dia sebut dengan ‘membantu’, tetap saja aku berjalan menghampiri Hyukjae Hyung dan bertanya, “Namaku Taemin, Hyung. Ada yang bisa aku bantu?”

“Oh? Oke, Taemin. Kau,” tunjuk Hyukjae Hyung, tepat di depan batang hidungku. “Naiklah dan ikat ini di dahan yang itu,” perintahnya, mengulurkan sebuah benda bulat penuh pita berumbai dan menunjuk pohon di dekatnya.

Oh… bagaimana ini? What should i do?

“Jangan bilang kau tidak bisa memanjat pohon,” celutuk Kyuhyun Hyung, seperti biasa dengan nada suara menyebalkan.

“Ehm, a-aku….”

Haisshh… bagaimana ini? Apa aku harus jujur? ARGH!

“Hmm? Kau apa?” Desak Kyuhyun Hyung. Senyuman jahil terpampang jelas di wajahnya.

Aku menelan ludah panik. Melirik bola berumbai, pohon, Hyukjae Hyung, Kyuhyun Hyung dan Jonghyun Hyung bergantian.

“Aku phobia ketinggian.”

Takut-takut aku melirik ekspresi semua Hyung yang ada disekitarku. Datar. Sepi.

Huh? Apa aku tidak sedang bermimpi? Kupikir, mereka akan mengejek serta menertawakanku habis-habisan. Reaksi yang mereka berikan, sungguh ganjil. Seolah-olah tidak mendengar alasan yang kuungkapkan. Kenapa aku justru merasa bulu kudukku berdiri?

“Oh…. Baiklah, aku paham. Tidak apa-apa. Bukan salahmu kalau kau menderita phobia. Biar aku saja yang naik,” putus Hyukjae Hyung, lengkap dengan senyum tulus yang tersungging di bibirnya.

Sudah pasti, aku terkesiap mendengar jawabannya. Seperti inikah reaksi normal binatang jika mendengar kelemahan binatang lain? Berbeda sekali dengan tabiat manusia. Mereka sering menghina dan melecehkan sesama mereka hanya karena kekurangan kecil.

Ternyata, perikebinatangan itu jauh lebih mulia dari perikemanusiaan yang digembar-gembirkan manusia!

 “Kalau begitu, kau bantu aku menyusun biji-bijian ini saja. Kau tahu apa itu mozaik? Ah… sudahlah, kau lihat saja hasil karyaku. Ini, bagaimana?” Kyuhyun Hyung menunjuk sesuatu yang terlihat abstrak. Sukses membuat perhatianku teralih.

“Bagus, Hyung. Keren sekali,” celutukku kagum, tanpa berpikir.

Kyuhyun Hyung memberengut galak, “Aku tidak minta pendapatmu. Aku bilang, kau bikin yang semacam ini. Ini bijinya!” Serunya mengkal, menyodorkan beberapa kaleng biji-bijian warna-warni.

Aku mengerjap-erjapkan mata, sok tak mengerti.

Ya! Kau ini punya otak tidak? Kubilang, buat yang seperti ini!” Sergah Kyuhyun Hyung, frustasi.

Masih berlagak bingung, aku mengangguk-angguk pelan. “Sama seperti milikmu, Hyung? Sepertinya sulit….” Keluhku polos.

Kontan saja Kyuhyun Hyung mematuk kepalaku, gemas. “Seperti punyaku bukan berarti harus persis, bocah! Seperti itu artinya seperti. Hanya seperti, bukan sama.”

“Apa bedanya seperti dan sama, Hyung? Sama seperti punya Hyung atau seperti sama dengan punya Hyung?” Aku menahan tawa, mulai bermain dengan kata-kata.

Paruh Kyuhyun Hyung membuka-menutup beberapa kali. Terlihat benar kehabisan kata-kata.

 “Haisshh… kau ini! Menyebalkan sekali!”

Tawaku menyembur tak terkendali melihat ekspresi Kyuhyun Hyung yang menggemaskan. Wajahnya menggembung merah, mata melotot galak dan ekor panjangnya berdiri tegak. Huh! Kena kau! Siapa suruh kau menjebakku tadi? Membuatku malu karena kelepasan, merengek di depan para Hyung yang lain.

“ARGH!! DAMN KITTY! Kau mengerjaiku ya?”

“KYU!! Jangan mengucapkan kata-kata kasar pada anak di bawah umur. Kau memberi contoh buruk padanya,” sergah seekor kura-kura yang entah datang dari manalah, tiba-tiba muncul begitu saja.

Seekor ular albino mendekat, turut bergabung dalam percakapan. “Yesung Hyung! Superb! Kau membunuh 2 burung dalam sekali tembak. Salut… salut… salut….”

“Dia mengerjaiku!”

“Aku bukan burung! Juga bukan anak di bawah umur!”

Kaget karena berteriak bersamaan, aku dan Kyuhyun Hyung mendelik satu sama lain.

“Tuh ‘kan, Hyung.  Benar kataku. Perkataanmu tadi berhasil mengenai mereka berdua sekaligus. Tak sia-sia umurmu yang uzur itu. Kau memang hebat!” Sela si ular albino, tersenyum puas.

Yesung Hyung, si kura-kura, tersenyum masam, “Oh… Henry, diamlah! Berani-beraninya kau mengataiku uzur!”

“Siapa juga yang mengataimu? Aku memujimu, Hyung. Keuzuranmu itu… tidak sia-sia.” Bantah Henry Gege, si ular albino. Upss… kurasa dia bukan albino. Gege  yang satu ini memang putih karena dia berasal dari dataran China. Jelas terlihat dari logat kanton-nya.

“Ehm, ehm. Sepertinya tidak seorangpun di sini yang sudah menyelesaikan tugasnya.”

Deheman penuh wibawa itu membuat semua wajah tertoleh, bersiap mendapati wajah seram Hangeng Gege. Alih-alih wajah seram, yang kami dapati justru seringai khas milik Hyukjae Hyung. Suasana bertambah keruh saat tawa Jonghyun Hyung yang menyebalkan menguar di udara.

“Satu kali menjulurkan lidah, empat nyamuk tertelan,” seru Jonghyun Hyung penuh semangat, ber-high five dengan Hyukjae Hyung.

Serempak, bagai dikomando, Yesung Hyung, Kyuhyun Hyung dan Henry Gege menggeram marah.

“Menjulurkan lidah?!”

 “Peribahasa apa itu?”

 “Menjijikkan!”

Tiga serangan bertubi-tubi membuat Jonghyun Hyung jatuh terkapar, menangis sesenggukan di bahu Hyukjae Hyung. Untung saja melodrama ini tidak berlanjut. Maklum, rating-nya rendah. Pemerannya tidak ada yang tampan sih. Aishhh… apa yang kukatakan ini?

“Bagaimana dengan ini, Hyung?” Cetusku, menarik perhatian.

“Aku membuatnya saat kalian sibuk dengan uzur dan lidah,” imbuhku santai, mengangkat bahu. Para Hyung yang semula memasang wajah penasaran bercampur kagum akhirnya mengangguk bersamaan, menggumamkan sesuatu yang tidak jelas.

Kyuhyun Hyung yang membuka suara pertama kali. “Lumayan. Memperlihatkan sisi bocahmu dengan sempurna.”

“Bukankah ini tokoh-tokoh Hallowen? Kau kucing rumahan ya? Sepertinya kau cukup paham budaya manusia. Tapi aku tidak melihat kalung pengenal di lehermu.”

WHAT THE HELL??

Bagai tersambar petir aku mendengar pertanyaan Henry Gege itu.

Mana kalungku?? Sekejap saja aku menjadi panik. Meraba-raba seluruh leher. Tidak ada! Mungkin tersangkut di punggung? Juga tidak ada. Aduh…. bagaimana ini? Apakah ini berarti, aku resmi menjadi kucing liar?

ARGH!! TIDAK!! SOHWA!!

Taemin bodoh! Bukankah sejak tadi aku sudah menggaruk leher berkali-kali dan berkali-kali! Kenapa baru sekarang aku sadar kalau kalung pengenalku hilang? Bodoh! Bodoh! Bodoh!

“Dia pasti menghilangkan kalungnya.”

“Tidak usah panik seperti itu. Toh di sini, kau tidak akan memerlukannya. Tidak ada petugas yang akan menangkapmu selama kau tetap berada dalam lingkungan Enchanted Maze.”

 “Benar. Kau bisa tinggal di sini semaumu.”

“Sudahlah, jangan menangis. Kami juga tidak ada yang punya kok.”

Penghiburan para Hyung sama sekali tidak mempengaruhiku. Mataku mulai basah. Bagaimana kalau aku ditangkap petugas saat perjalanan pulang nanti? Apa aku tidak akan bisa bertemu Sohwa lagi? Apa aku tidak bisa melihat wajah Ji Yong lagi?

Haisshh… bisa-bisanya aku ingat setan poni itu disaat-saat seperti ini?

Minho….

TIDAK!! Kenapa pula aku ingat anjing kurap sarap itu?

Hiks. Aku ingin ketemu lagi dengan mereka.

“Tapi aku harus pulang. Tanpa kalung itu, bagaimana aku bisa kembali ke rumah? Petugas akan menangkapku,” keluhku nelangsa.

“Siapa yang mengharuskanmu pulang?”

“Sohwa pasti khawatir sekali kalau aku tidak ada di rumah saat ia pulang dari sekolah,” jawabku lemas, tanpa melihat siapa yang bertanya tadi.

“Sohwa itu, pemilikmu ya?”

Aku mengangguk, melirik Jonghyun Hyung yang barusan bertanya.

“Biarkan saja dia cemas. Biar tahu rasa manusia itu! Kenapa juga kau memedulikannya? Dia sudah mengurungmu sekian lama ‘kan? Sudah saatnya kau bebas!” Seru Henry Gege.

Aku mengedip-edipkan mata tak mengerti.

Jonghyun Hyung  tersenyum tipis, “Tidak semua manusia seperti itu, Ge.

Ah… dengar apa pendapat ‘pemerhati perilaku manusia’ kita ini!” Cetus Kyuhyun Hyung sarkastis, menyeringai pada Jonghyun Hyung.

“Dan tidak semua binatang, sepertimu.” Imbuh Jonghyun Hyung kalem. Seolah tidak terusik dengan sindiran Kyuhyun Hyung. Malah terlihat membusungkan dada, bangga.

“Tidak sepertiku, apa?” Henry Gege mendelik setengah bingung setengah tersinggung.

“Seperti kau yang tidak suka tinggal di tempat bersih dan tinggal tidur bergelung.” Kekeh Yesung Hyung, terlihat geli dengan ucapannya sendiri.

Pipi Henry Gege menggembung, “Siapa bilang aku tidak suka kebersihan? Kotak kaca itu tidak nyaman, bukan gayaku. Apalagi perlakuan mereka yang menyuapiku dengan tikus. Itu jelas melukai harga diriku! Aku ini binatang pemburu! Aku ini pengelana bebas.”

“Dia kabur dari rumah manusia yang mencoba memeliharanya,” bisik Jonghyun Hyung padaku, mencoba menjelaskan.

“Setelah sebelumnya menggigit dan membuat kekacauan di sana.” Kyuhyun Hyung ikutan-ikutan menjelaskan, tanpa merasa perlu berbisik.

“Aku hanya memberi mereka peringatan pada mereka. Ular bukan jenis binatang peliharaan. Bangsa kami tidak suka dikurung di ruang sempit. Itu saja!” Seru Henry Gege, melotot pada Kyuhyun Hyung yang hanya meringis.

“Iya, Henry. Aku juga tidak suka dikurung kok.” Cetus Kyuhyun Hyung dalam upayanya menghentikan pelototan Gege yang masih tertancap padanya.

Jonghyun Hyung mengangguk pelan, bersikap macam filsuf terbijak sedunia. Berujar pelan, “Ada beberapa tipe binatang. Seperti kau ini, Taemin. Bangsa kucing memang ditakdirkan menjadi hewan peliharaan manusia. Menjadi teman manusia. Begitu juga anjing. Mereka bahkan bukan sekadar teman. Tapi bisa menjadi penjaga dan penuntun juga. Sedangkan sebagian binatang yang lain, ada yang ditakdirkan liar, bebas. Bahkan, ada yang ditakdirkan menjadi makanan bagi manusia. Itulah kehidupan.”

“Aku paham perasaanmu, Taemin. Jadi, jangan khawatir. Aku akan mengantarmu pulang dengan aman. Kau sudah lihat kehebatanku dalam menemukan jalur aman saat pelarian tadi ‘kan?” Imbuh Jonghyun Hyung, menepuk dada.

“Benar. Besok biar Jonghyun mengantarmu. Malam ini, kau harus berpesta bersama kami. Kapan lagi kau merayakan Hari Manusia Sedunia, huh?” Potong Hyukjae Hyung.

Mendengar kata pesta, semuanya langsung bersemangat. Lupa kalau mereka sedang pura-pura mual, memasang ekspresi ingin muntah ketika mendengar kuliah ‘takdir sebagai binatang’ dari Jonghyun Hyung barusan.

Party people!”

Let’s go!”

Get loose!”

Party like our’s time up!”

Tidak perlu kuceritakan apa yang terjadi semalam suntuk itu. Kalian bisa bayangkan sendiri ‘kan?

Perlu kubantu membayangkannya?

Kira-kira begini. Kalau ada puluhan lelaki liar, upsss… maksudku binatang liar berkumpul di suatu tempat yang eksotis. Dengan makanan dan minuman yang melimpah ruah. Bakat konyol dan kegilaan yang meluap-luap dari otak cerdas macam Hyukjae Hyung dan Kyuhyun Hyung. Masukkan juga darah panas anak muda dalam hitungan. Oh ya, imbuhkan juga variable-variabel tak terduga lainnya.

Well, sekarang, kalian bisa membayangkannya ‘kan?

Kalau masih sulit, aku bantu dengan satu kata kunci. Yaitu, tak lain tak bukan, I’m crazy more than ever!!

Upsss… itu satu kalimat ya?

Sudahlah. Tidak penting. Pokoknya begitulah. It’s simple, don’t think too much!

***