Seperti biasa, ini bukan review atau resensi. Hanya pendapat dan lintasan yang muncul di otak setelah aku membaca novel-nya.

Langsung aja.

Novel ini terdiri dari 4 empat serial,sequel, tetralogi, atau apalah itu disebut.

Novel pertama “SUMMER IN SEOUL”

Udah ketebak dari judulnya, yap, novel ini mengambil setting lokasi di Seoul. Bercerita tentang kisah cinta Sandy (Indonesia-Korea) yang kerja di butik perancang terkenal dengan Jung Tae Woo yang artis terkenal. Bermula dari ketukernya hp Sandy dan manager si artis. Berlanjut perkenalan antar keduanya, gosip yang disengaja maupun tidak disengaja. Bla-bla-bla (maaf, aku nggak pinter mereka-ulang sebuah cerita #plak). Intinya, dari pura-pura pacaran jadi pacar beneran. Sekian! Ah… tentu dengan konflik klasik (maaf) macam ternyata Tae-Woo itu adalah orang yang tidak sengaja nabrak kakak Sandy hinggal meninggal. Sandy yang kecelakaaan dan tidak sadarkan diri. Then… happy ever after.

Novel kedua “AUTUMN IN PARIS”

Tentu saja settingnya di Paris (hehehe…). Kisah tentang Tara dan Tatsuya. Hmm… cinta terlarang antara kakak dan adik sedarah yang bertemu, saling jatuh cinta kemudian terpuruk saat mengetahui kenyataan yang ada (haisshh…bahasa gue, menjijikkkan!). Ukay. Apa yang bisa kita harapkan dari kisah seperti ini? Happy ever after? Mungkin, iya. Tentu dengan definisi ‘bahagia’ yang sedikit berbeda. Singkat kata, Tatsuya meninggal.

Novel Ketiga “WINTER IN TOKYO”

Apa aku masih harus bilang klo settingnya di Tokyo? Baiklah. Ini kisah antara Keiko dan Kazuto. Kazuto adalah tetangga baru Keiko. Kazuto, cowok yang melarikan diri dari New York karena gadis yang dicintainya memutuskan untuk menikah dengan sahabatnya. Klasik? Well, kita lanjut aja. Singkat cerita, Kazuto akhirnya mulai bisa melupakan gadisnya dan menyukai Keiko. Nah… ini dia adegan favorit kita! Kazuto kehilangan ingatan dan gadisnya (duh, siapa ya namanya?) datang dan bilang nggak jadi nikah. Bagus! Langsung ke akhir cerita, Kazuto inget Keiko. Lagi-lagi, happy ever after!

Novel Keempat “SPRING IN LONDON”

Setting, jelas, London (tapi dasar akunya bego, saat mbaca ni novel, aku malah ngebayangin Paris #gubrak). Kisah cinta antara Naomi dan Danny. Ini juga tentang masa lalu. Kakak laki-laki Danny ternyata adalah orang yang telah memperkosa Naomi. Konfliks berkisar diantara trauma Naomi pada laki-laki dan kenyataan tentang perkosaan itu. Tenang aja, happy ever after kok. Ah… ada sedikit konflik tentang perjodohan Danny juga sih.

Nah. Sekarang dibahas secara keseluruhan.

Untuk penggemar romance yang mengharu biru, penuh dengan perasaan-perasaan yang menyayat hati (apa ini, yen?) dijamin pasti suka. Cara Ilana Tan menggambarkan perasaan masing-masing tokoh sangat bagus. Pemilihan kata dan kalimatnya bener-bener mengena.

Cukup sekian ulasannya.

Sekarang masuk ke inti masalah. Apa yang seorang yen rasakan dan pikirkan seteleh mbaca novel ini?

Awalnya aku penasaran dengan karya Ilana Tan. Pertama, karena ada seseorang yang bilang kalau FF-ku mengingatkannya akan novel Ilana Tan. Bingung antara harus lompat girang atau manyun, aku milih tersenyum tipis saja. Kedua, Storm sempet nawarin novel Ilana Tan yang lain, klo nggak salah judulnya Sunshine Become You. Berhubung aku cuma berhasil dapet e-book (tentu gratisan) Four Season, jadi aku baca aja novel ini sebagai selingan (sebenernya aku lagi mbaca The Girl with the Dragon Tattoo).

Hal pertama yang melintas diotakku adalah : Novel citarasa fanfiction. Tanpa bermaksud apapun, aku ‘kan nggak bisa ngontol pikiran yang tiba-tiba melintas.

Buat aku, secara umum, ide-nya (maaf) pasaran. Udah puluhan atau ratusan novel, cerpen atau apalah lainnya dengan tema besar yang sama. Belum lagi konflik-konflik klise macam hilang ingatan, koma, trauma masa lalu dan sebangsanya.

Fiksi memang fiksi. Dan ini masalah selera aja. Bukannya aku nggak suka kisah romantis. Cuma… sejak aku terjerumus dalam dunai tulis-menulis, aku nggak bisa lagi menilai sebuah tulisan dengan obyektif. Dulu, waktu aku cuma ngambil posisi sebagai pembaca murni, aku nggak serewel dan senyebelin ini dalam menilai tulisan. Sama dengan kupingku yang nggak pernah menolak musik jenis apapun. Mulai dari Trio Macam, Armada, Adele, Guns and Roses, Linkin Park, Limp Bizkit, King Crimson, Gazette, BIGBANG dan segala macam, aku dengerin dengan kuping terbuka dan ikhlas tak mengeluh apapun.

Berhubung aku sekarang menyebalkan, aku cuma bisa ngasih 2 dari 5 bintang untuk Four Season (maaf).

Intinya, untuk sekadar bacaan, novel ini adalah novel yang bagus. Untuk perenungan atau diambil hikmahnya, aku nggak tau. Buat aku pribadi, nyaris yang ada yang baru yang bisa bikin aku tertarik dan berpikir lebih jauh. Cukup dengan ekspresi, “Hmm… yah. Lumayan.”

Satu hal yang bikin aku mengangguk-angguk adalah : sekarang aku paham kenapa Storm bilang kalau Yuyu bisa jadi penulis novel bestseller, seperti Ilana Tan ini.

Sekian.

Terima kasih.