“Sebaiknya, kita berpisah saja.”

Ia hanya menatapmu gamang. Alisnya yang tebal bertaut, seolah tak percaya dengan pendengarannya sendiri.

Kau berusaha memberikan penjelasan, “Aku lelah.” 

Bahkan kau merasa lelah itu menjadi berkali lipat lebih berat saat kau mengucapkannya dengan tenang dan datar.

“Lelah?” Tanyanya singkat, dengan intonasi serupa intonasimu tadi, tenang dan datar. Membuatnya terdengar seperti sebuah pernyataan, bukan pertanyaan.

 “Aku lelah terus menerus mengejarmu. Kau selalu berlari dengan sangat cepat. Sekuat apapun aku berusaha, rasanya tak akan sanggup menggapaimu. Jadi ku-”

Tiba-tiba saja, ia memotong perkataanmu, “Aku juga lelah. Ya, kita memang sama-sama lelah. Tapi,  aku akan terus bertahan! Aku akan menggenggam tanganmu, membawamu berlari bersamaku. Aku tidak akan pernah melepaskannya. Jadi, sekalipun lelah, kita akan bertahan. Mari terus berlari bersama!”

Bibirmu mengulas senyum begitu saja saat mendengat keteguhan hatinya itu. “Ya. Kita memang akan terus berlari. Hanya saja, sudah saatnya untuk kita berlari di jalur masing-masing. Kita berpisah di persimpangan ini. Kelak, mungkin kita akan bertemu kembali di persimpangan yang lain.”

“Persimpangan selanjutnya?” Lagi-lagi, pertanyaannya terdengar seperti pernyataan.

Kau mengangguk tipis namun mantap, “Ya. Akan selalu ada persimpangan selanjutnya. Persimpangan-persimpangan yang lain.”

Untuk beberapa saat, kalian berdua tersesat dalam keheningan yang mengambang dalam labirin rumit pemikiran.

“Baiklah!”

Seruannya membuatmu kembali terhempas ke alam nyata.

“Asalkan aku terus berlari cepat, aku akan sampai terlebih dahulu di persimpangan yang lain itu. Aku akan menunggumu di sana.”

Sekali lagi kau mengulas senyum.

“Dan jika ternyata kau sampai terlebih dahulu, kau tentu akan menungguku.” Kali ini ia menyatakan sesuatu dengan nada bertanya.

Melihatmu yang hanya terus tersenyum, ia kembali melanjutkan ucapannya, “Sekalipun kau tidak menungguku, aku akan mengejarmu!”

Dia tidak tersenyum sama sekali saat mengatakannya. Namun, dari sorot matanya yang teduh menenangkan, kau tahu pasti, keputusan telah tercapai. Perlahan, kau pun beranjak pergi. Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan lagi. Semua telah tersampaikan.

“Teruslah berlari! Sampai jumpa di persimpangan berikutnya!”

Suaranya memang terdengar jauh di belakang, samar. Namun sejatinya, suara itu datang dari masa yang akan datang, jauh di depan.