Gimana ya, rasanya tiba-tiba dapet ‘warisan’ sebuah surat dari Ayah yang udah 11 tahun lalu meninggal? Ayah yang bahkan, wajahnya aja udah hampir hilang dari ingatan si anak. Bukan hanya karena waktu yang sudah berlalu, tapi juga karena saat Ayah-nya meninggal, dia baru berumur 4 tahun.

Yeap, itulah yang dialami Georg Røed.

Nah… seperti biasa (lama-lama aku bosen selalu ngulang kata-kata ini), ini bukan review atau resensi apalah. Ah… bingung aku! Intinya gini, novel ini bercerita tentang seorang anak yang mbaca surat dari Ayahnya yang udah meninggal. Kayaknya hampir 80% (perkiraanku aja sih, hehehe…) novel ini memang berisi surat sang Ayah yang bercerita tentang si Gadis Jeruk.

Mulai dari pertemuan pertama mereka. Usaha-usaha si Ayah mencari si Gadis Jeruk keseluruh penjuru kota. Perilaku si Gadis Jeruk yang, awalnya, terasa luar biasa aneh bin ganjil (tentu ada penjelasan logis di akhir cerita). Pertemuan kedua, pertemuan ketiga (yang selalu melibatkan sejumlah besar jeruk) dan pertemuan-pertemuan lain. Singkat kata, keduanya menjalani kisah cinta yang… DONGENG BANGET! Penuh teka-teki, manis, romantis, nyaris tidak masuk akal, sedikit lebay (kekeke…) dan berakhir dengan… tercerabut dari kehidupan. Seperti adanya pertemuan, tentu ada perpisahan ‘kan? Sebagaimana ada bahagia, juga ada kesedihan. Lalu?

Haishh… otakku bener-bener lagi tumpul! Langsung aja, apa yang aku anggap menarik dari novel ini adalah :

1. Cara si Ayah (Jan Olav) mengisahkan ceritanya dengan si Gadis Jeruk. Sebuah kisah nyata yang dipandang dari sudut berbeda dan penuh imajinasi, hasilnya… sebuah dongeng luar biasa yang… KEREN! Membuat aku berpikir, ternyata, dongeng bukanlah cerita picisan yang tidak punya logika. Dongeng bukanlah khayalan-khayalan indah yang berlari dari realita. Dongeng sejatinya adalah sebuah kisah yang dilihat dari sudut pandang sarat imajinasi, buncah kreatifitas dan berani keluar dari gelapnya rongga kepala. Upss… bahasaku mulai aneh.

2. Pendapat si Ayah tentang dongeng itu sendiri : “Semua dongeng punya peraturan sendiri, dan barangkali peraturan itulah yang membedakan mereka satu sama lain. Aturan-aturan yang tidak pernah perlu dimengerti. Hanya perlu diikuti. Jika tidak, apa yang mereka janjikan tidak akan menjadi nyata.”

3. Ada hal-hal kecil yang membuat aku penasaran, misalnya tentang Moonlight Sonata (Beethoven menamainya Sonata in C minor, Opus 27 nomor 2). Menurut si Georg, “Bagian pertamanya (Adagio sostenuto) indah, dan mungkin sedikit aneh, tapi bagian penutupnya (Presto agitato) seperti penuh bahaya mengancam.”

Well, kayaknya aku harus download deh!

Juga tentang Teleskop Hubble. Aku dah dari jaman dulu tahu, kalau bintang-bintang yang kita lihat sekarang dari Bumi bukanlah keadaannya yang ‘sekarang’. Gini, kita bisa melihat sebuah benda karena benda itu memancarkan atau memantulkan cahaya yang tertangkap oleh  mata kita, iya ‘kan? Nah… cahaya dari bintang-bintang itu, perlu waktu jutaan bahkan milyaran tahun untuk sampai ‘bisa’ kita lihat. Yang bikin aku WOW, adalah kenyataan bahwa saat melihat semesta, luar angkasa, bintang-bintang… sebenernya, kita sedang menatap : masa lalu. Kenapa ini nggak terpikirkan sejak dulu? Yen bego!!

Satu lagi detail kecil yang bikin aku meringis (setengah seneng setengah miris) adalah… VENUS. Entah kebetulan, entah Venus memang merupakan benda paling menarik untuk dibahas bagi semua pencinta astronomi, tapi Venus bukan hanya bikin aku sukses inget FF pertamaku, tapi juga hampir seluruh cerita hidupku. Well, tentu hal itu nggak akan di bahas di sini, hehehe….

4. Yang terakhir, tapi justru yang terpenting. Pertanyaan besar si Ayah yang harus dijawab oleh Georg. “Apa yang akan kamu pilih seandainya kamu punya kesempatan untuk memilih? Akankah kamu memilih hidup yang singkat di bumi kemudian tercerabut lagi dari semua itu, tidak pernah kembali lagi? Atau, apakah kamu akan berkata tidak, terima kasih?”

Buat aku, pertanyaan ini semacam, “Kalau kamu boleh milih, kamu pilih dilahirkan dan menjadi dirimu yang sekarang atau tidak pernah dilahirkan sama sekali?”

Huffhh….

Hidup itu pilihan bukan? Dan setiap pilihan pasti punya konsekuensi. Setiap pilihan pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Jadi, apa pilihan kamu?

Hidup, dengan semua yang terjadi. Bahagia, sedih, merasa, galau, dan sebagainya dan sebagainya. Atau, tidak pernah hidup sama sekali? Yang… entah seperti apa itu.

Kalau kalian balik bertanya, maka aku akan menjawab dengan pasti, “Aku memilih dilahirkan dan HIDUP!”

Kenapa?

Karena nyatanya, sekarang ini aku HIDUP.

Menurutku nih:

Aku? Menyesali hidup? Itu sama aja dengan menistakan perjuanganku sendiri. Aku yang waktu itu masih kecil mungil, berupa sperma, lari tunggang langgang menuju sel telur, bersaing dengan 250 juta rival. Setelah menang, bagaimana mungkin aku menyesalinya? Aku yakin, walaupun aku nggak inget (karena semua ingatanku akan alam ruh dan alam rahim hilang tepat saat aku dilahirkan ke dunia), aku pasti punya alasan kuat, kenapa aku sampai berjuang segitu hebatnya agar bisa terlahir ke dunia.