Credit Pict. : Pipit Sunny

Author : yen

Cast : SHINee’s Kim Jonghyun, DBSK’s Yunho

Spesial appearence : Vera Veronika as Shin Ae Seok

Length : Vignette

Rating : General

Genre : Friendship, Life, Romance(?)

***

“Kau pandangi berapa lama pun, tidak akan membuatnya tahu perasaanmu, Jjong.”

Jonghyun tergeragap, refleks mencari wajah si penegurnya. Tepukan pemuda tegap itu di bahunya cukup bertenaga, menyisakan sedikit nyeri. Tentu saja bukan itu yang membuat Jonghyun terkejut. Justru ucapannya yang ringan dan bernada main-main itulah yang membuat Jonghyun merasa tertampar.

“Yunho Hyung, kau mengagetkanku saja!”

Pemuda tegap yang ternyata bernama Yunho itu terkekeh kecil. Pandangannya masih tertancap pada sosok yang sejak tadi diamati Jonghyun. Sosok seorang gadis yang tengah serius menari. Mata bulat jernihnya sempurna terarah pada cermin besar didepannya, memastikan setiap gerakan yang dilakukannya sempurna.

“Apa begitu terlihat, Hyung? Maksudku, apakah begitu jelasnya perasaanku hingga kau saja bisa mengetahuinya?”

Yunho tersenyum geli, “Sangat jelas. Saking jelasnya, kalian, orang-orang yang terlibat justru tidak dapat melihatnya.”

“Euh? Maksudmu?”

“Sistem pertahanan diri kurasa. Kalian saling berusaha menutupinya di depan yang lain. Membuat kedua belah pihak tidak menyadarinya.”

Jonghyun masih berusaha memahami maksud perkataan Yunho saat hyung-nya itu kembali angkat suara.

“Kalau aku jadi kau, Jjong. Aku tidak akan berpikir dua kali untuk mengatakannya,” celutuk Yunho santai, melipat tangan di depan dada. Matanya yang bersinar jahil melirik Jonghyun.

Kali ini Jonghyun berjengit, setengah tak percaya, setengah tak terima. “Apa maksudmu, Hyung?” Tanyanya sembari menatap tajam kearah Yunho yang masih asyik memandang sosok yang menjadi bahan pembicaraan mereka.

“Kau suka padanya ‘kan?”

Pertanyaan Yunho membuat Jonghyun merasa jantungnya mencelos ke dasar perut. Rautnya tampak sedikit memucat.

“Kau harus bergerak cepat, Jjong. Sebelum dia memutuskan memilih orang lain gara-gara kau bersikap acuh tak acuh seperti ini,” imbuh Yunho. Entah mengapa, diiluar kehendaknya sendiri, ia mengucapkannya dengan nada yang terdengar serius dan… sedikit getir?

“Memilih orang lain?” Desis Jonghyun pelan, seolah ia tidak memahami kalimat sederhana itu.

Yunho tersenyum tipis. “Bukan cuma kau yang menyukainya. Yah… semua lelaki normal di agensi kita memang menyukai Ae Seok, tentu dengan arti yang berbeda-beda. Yang jelas, belum lama ini, salah satu dari kita, entah bercanda atau serius, sudah mengatakan secara langsung pada Ae Seok kalau dia menyukai gadis itu.”

Jonghyun menelan ludah panik bercampur gugup. “Apa?!” Serunya tertahan, matanya sigap mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang latihan, seolah mencari sosok ‘saingan’nya itu. Sesuatu yang nyaris mustahil sebenarnya. Seperti kata Yunho, semua lelaki normal memang menyukai Ae Seok. Gadis sederhana yang selalu berpenampilan cuek. Dengan idealisme tinggi, pemikiran tajam yang  tanpa ragu diungkapkannya dengan lantang, semangat bekerja dan belajar yang keras, pantang menyerah yang menjurus pada keras kepala, dan seabrek tingkahnya yang terkadang terkesan urakan tidak peduli, membuat gadis itu tampak berbeda dari gadis lain. Sebuah daya tarik sekaligus alasan untuk menjauh darinya. Magnet bagi para lelaki yang merasa nyaman berteman dengannya. Mendatangkan antipati dari para gadis yang tidak siap dengan segala perbedaan Ae Seok dengan mereka.

“Siapa?” Tanya Jonghyun ragu-ragu, tercabik antara ingin tahu dan perasaan kalah bersaing. “Bukan… kau sendiri ‘kan, Hyung?” Tambahnya, lebih lirih dari pertanyaan pertama.

Yunho menyeringai aneh, “Bukan.”

Jonghyun seketika ber-puh keras, lega luar biasa. Setidaknya, dia tidak harus bersaing dengan seorang Yunho.

“Maksudku, bukan itu yang seharusnya kau tanyakan.”

Pernyataan Yunho sukses membuat Jonghyun menautkan alis.

“Kalau aku jadi kau, aku akan lebih fokus pada apa tanggapan Ae Seok.”

Jonghyun menepuk dahinya sendiri, “Jangan bilang dia menerimanya!”

Yunho terkekeh pelan, “Kalau Ae Seok menerimanya, kau pasti segera mengetahuinya. Taruhan, monyet jelek itu pasti sudah berkoar-koar kalau dia jadian dengan Ae Seok.”

Jonghyun menatap Yunho dengan sorot kosong, “Monyet jelek? Apakah itu berarti, Eun-”

“Sudah, tidak usah kau sebut namanya. Tidak etis. Bagaimanapun, ditolak seorang gadis bukanlah hal yang enak untuk diketahui umum,” potong Yunho ringan, memasang senyum bijaksana bercampur geli sekaligus prihatin.

Jonghyun menghela nafas panjang, tercabik antara lega dan putus asa. Lega karena Ae Seok tidak menerima lelaki itu. Dengan kata lain, ia masih punya peluang untuk memenangkan hati Ae Seok. Namun, jika seorang Eunhyuk saja tak mampu membuat hati Ae Seok tergetar, apalagi dirinya?

“Sudah memutuskan?”

Suara Yunho yang terdengar santai namun mengintimidasi membuat Jonghyun terlempar ke alam nyata.

“Apa, Hyung?” Tanyanya tak mengerti.

Yunho menatap Jonghyun dengan pandangan mencela. “Kau benar-benar menyukainya atau tidak?”

“Tentu aku menyukainya, tapi-”

“Just say it, Jjong!” Geram Yunho, nada suaranya lebih terdengar seperti orang frustasi daripada menyemangati. Rasanya benci sekali mengulang kalimat yang sama itu untuk kedua kalinya.

“Bagaimana kalau dia menolakku, Hyung?” Tanya Jonghyun lirih, lebih mirip sebuah keluhan.

Tawa Yunho menyembur keras mendengarnya, “Memangnya kenapa? Bukankah itu sudah resiko menjadi lelaki?”

“Astaga… kecilkan suaramu, Hyung,” desis Jonghyun. Ekor matanya berlarian ke kanan-kiri. Jelas sekali kalau ia merasa risih dan takut seseorang mencuri dengar percakapan mereka. Jantungnya nyaris berhenti berdetak saat mendapati kenyataan bahwa hampir seluruh mata menyorot kearahnya. Beberapa bahkan memasang wajah penasaran.

Yunho mati-matian menahan tawanya. Terutama saat Jonghyun menatapnya dengan ekspresi seolah-olah air matanya bisa meluncur kapan saja. Sigap ia mengedarkan pandangan, menyeringai, “Apa yang kalian lihat? Kami hanya sedang membicarakan masalah antar pria.” Kilahnya santai, mengangkat bahu. Membuat puluhan pemilik mata yang menatap antusias menarik niat untuk sekadar bertanya.

“Kalau kau benar-benar menyukainya, mencintainya, maka resiko ditolak sama sekali tak berarti,” cetus Yunho ringan setelah memastikan tidak ada yang menguping percakapan mereka.

Jonghyun mendesah lemah. “Aku takut, dia akan menjauh dariku. Aku tidak akan sanggup melihatnya memalingkan muka dan tidak mau menatapku lagi. Aku-”

“Kau takut sakit hati. Berhentilah mencari alasan atau pembenaran apalah. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Kau hanya takut terluka,” sergah Yunho. Kali ini intonasinya terdengar sinis dan sangat dingin.

Jonghyun menelan ludah. Separuh hatinya mengakui kebenaran ucapan Yunho, namun separuhnya lagi mengerang, membantah keras. Tidak! Sama sekali tidak!

“Kau benar, aku terlalu takut terluka. Aku terlalu takut sakit. Tapi, lebih dari itu semua, aku takut akan menyakitinya, Hyung. Aku tidak yakin aku mampu melindunginya,” Jonghyun mengeluh pendek. “Kau masih ingat apa yang terjadi pada Se Kyung? Aku tidak akan membiarkan hal itu terulang. Apalagi pada Ae Seok. Tidak akan!”

Yunho terkekeh sinis, “Kalau begitu, lupakan Ae Seok! Tinggalkan dia!”

“Meninggalkannya?” Pertanyaan Jonghyun seperti berasal dari tempat yang sangat jauh, lirih dan jerih.

“Ya. Tinggalkan dia! Biarkan dia melihat orang lain. Orang lain yang akan melakukan apapun untuknya. Orang yang rela meraih dan melepas semuanya demi Ae Seok!” Tantang Yunho.

“Bagaimana aku bisa meninggalkannya, Hyung? Tidak melihatnya beberapa saat saja sudah membuat hatiku sakit. Kalau aku bisa, aku juga ingin melepaskannya.”

Untuk kesekian kalinya Yunho tersenyum sinis, “Kau tidak bisa mendapatkan sesuatu tanpa kehilangan yang lain. Hidup itu pilihan. Yang bisa kau lakukan hanyalah memilih antara, jujur pada perasaanmu dan berani menghadapi semuanya. Atau, berkubang dalam ketakutanmu sendiri. Tapi, jangan libatkan Ae Seok di dalamnya. Jangan membuatnya bingung dengan sikapmu.”

“Bingung? Aku? Aku membuatnya bingung?” Tanya Jonghyun, benar-benar tak paham apa yang diucapkan Yunho.

“Kuberitahu satu hal. Alasan Ae Seok menolak orang yang menyukainya adalah, ia menyukai orang lain. Sayangnya, orang bodoh itu justru membuatnya bingung,” jawab Yunho datar tanpa ekspresi. Sejurus kemudian ia berlalu pergi, meninggalkan Jonghyun yang sibuk dengan perasaannya sendiri.

***

Yunho perlu beberapa detik menguatkan hatinya sebelum akhirnya sanggup berkata, “Just say it, Ae Seok-ya.”

“Tapi… aku ‘kan perempuan, Oppa.” Kilah Ae Seok lirih, terdengar seperti sebuah keluhan.

Yunho menghela nafas panjang, “Ada yang salah dengan menjadi perempuan?”

Ae Seok menggeleng pelan, “Bukan begitu, ta-”

“Kalau kau memang benar-benar menyukai Jonghyun, yakin kalau bersamanya akan membuatmu bahagia, maka kau tidak perlu memedulikan pandangan orang lain.” Potong Yunho sebelum Ae Seok sempat menyelesaikan keberatannya.

“Aku tahu. Sayangnya, aku belum siap harus menutup mata dan telinga dari pandangan orang. Aku takut orang-orang akan memandang rendah padaku, Oppa. Bahkan dengan mengesampingkan kemungkinan Jonghyun Oppa akan menolak perasaanku, itu tetap membuatku terbebani.”

Yunho memandang tajam gadis yang tertunduk dalam disebelahnya itu. “Cinta itu sederhana, Ae Seok. Jika kau yakin orang itu mampu membahagiakanmu, perjuangkan dia. Tapi jika menatapnya saja membuatmu sakit, maka alihkan pandanganmu darinya.”

Tawa lirih yang miris keluar dari bibir Ae Seok, “Memang. Cinta itu sederhana. Saking sederhananya, ia bisa menjadi begitu rumit.”

“Terus terang aku lelah, Oppa. Sikap Jonghyun membuatku bingung. Terkadang ia begitu perhatian dan hangat. Namun, di saat lain, ia menjadi orang yang sangat dingin, membuatku ketakutan. Di atas semua itu, aku juga bingung dengan perasaanku sendiri.” Keluh Ae Seok lirih.

“Di satu saat, aku merasa nyaman disampingnya. Di saat lain, aku ragu, apakah aku sanggup bertahan di sampingnya. Apakah aku mampu menghadapi semua rintangan untuk bisa bersamanya. Aku hanyalah trainee yang entah kapan memulai debutku. Sedangkan Jonghyun Oppa? Dia bersinar. Apa yang akan Shawol lalukan jika kami bersama? Apa tanggapan penggemarnya? Apakah ia akan mempertahanku? Aku tidak akan memulai sesuatu yang tidak bisa aku akhiri, Oppa.

Yunho menghela nafas berat, dadanya terasa sesak. Ia tidak pernah tahu, sebuah kalimat sederhana bisa begini menyesakkan. Sesak yang membuatnya berpikir, ‘Jauh bukanlah saat kau tak bisa melihat orang itu. Jauh adalah saat orang itu tepat dihadapanmu, tapi kau tak punya keberanian untuk meraihnya.’