Pada Suatu Ketika (Gadis Panda)

Author : yen

Main Cast : BIGBANG’s G-Dragon  (Kwon Ji Yong)

Support Cast : Teddy Park, Sakura.

Length : Oneshot ( 4.214 word)

Rating : General

Genre : Friendship, Life

P.S : Buat yang pernah baca Venus: Vesper and Lucifer, FF ini juga bisa dianggap sebagai chronicles-nya

Warning : Don’t think too much. It’s just my random opinion.

***

397-5 YG Building, Hapjeong-dong, Mapo-gu, Seoul

Teddy melempar pandangan mencela ke arah rokok yang terselip manis di sela bibir Ji Yong, mengeryit kesal.

“Sebatang lagi,” ucap Ji Yong pelan, lengkap dengan seringai malas campur bersalahnya.

Teddy hanya bisa menggeleng pelan, “Kemarikan, aku juga mau,” sahutnya sembari meraih kotak rokok di depan Ji Yong.

“Jangan, Hyung.” Cegah Ji Yong, sigap menjauhkan rokoknya dari jangkauan Teddy.

Teddy melipat dahi melihat kelakuan Ji Yong yang  tengah asyik menghembuskan asap rokoknya, membentuk asap itu menjadi lingkaran-lingkaran di atas kepalanya.

“Seseorang bilang padaku, merokok adalah bunuh diri jangka panjang,” jelas Ji Yong, menatap nanar lingkaran asap ciptaannya yang memudar.

“Seseorang?”

Ji Yong menyeringai tipis, “Kinsei.”

Teddy mendorong kursi kerjanya menjauh dari komputernya, menghela nafas panjang. Ia hapal di luar kepala, hanya ada satu penjelasan saat Ji Yong mulai menyebut-nyebut nama Kinsei. Pikiran pemuda itu tengah melakukan perjalanan ke dimensi lain.

“Pulanglah! Besok saja kita lanjutkan aransemen lagu ini,” ucapnya dengan nada memerintah.  Mereka memang tengah merampungkan aransemen lagu untuk album solo terbaru Ji Yong.

Ji Yong menoleh cepat, melempar ekspresi tidak terima, “Kita lanjutkan saja, Hyung. Baru jam 3 pagi,” bantahnya setelah melirik jam di pergelangan tangan kiri.

“Sepertinya di luar sedang turun salju.”

Celutukan Teddy  yang keluar konteks membuat Ji Yong mengerutkan dahi. Tapi sejurus kemudian wajahnya nampak sedikit pias akibat ulah Teddy  yang tersenyum penuh arti sembari berucap ringan, “Sepertinya salju terakhir tahun ini.”

Ji Yong tampak tertegun mendengar perkataan Teddy barusan, ia memejamkan mata sesaat, serasa terlempar ke masa lalu.

“BERHENTI!!”

Sontak, Ji Yong menginjak pedal rem sekuat tenaga, nyaris membuatnya menghantam kemudi.

“Ada apa, Kin?” Tanyanya dengan nada cemas nyaris histeris, menoleh pada gadis yang duduk di sebelahnya.

Gadis itu hanya menyeringai lebar, “Salju.” Tangan kanannya menunjuk keluar jendela, tangan kiri sigap membuka pintu.

Ji Yong yang masih terkejut karena teriakan Kinsei hanya bisa menatap nanar gadis yang telah berjalan santai di trotoar.

“SALJU! SALJU! SALJU!!” Teriak Kinsei penuh semangat. Bersikap seolah-olah teriakannya tadi mampu membuat salju turun lebih banyak.

“Aishh… gadis ini benar-benar membuatku gila!” Gerutu Ji Yong, melangkah keluar.

 “Kau itu bukan unta yang tidak pernah melihat salju! Bersikaplah sedikit wajar!” Teriaknya sembari melangkah lebar, menyusul si gadis yang sekarang justru berdiri tegak, membuka kedua telapak tangannya lebar-lebar.  Matanya yang bulat jernih berbinar jenaka setiap butiran salju menyentuh telapak tangannya.

Ji Yong tersenyum kecil saat menyadari Kinsei telah sibuk dengan dunianya sendiri.

“Dingin, Kin. Ayo kembali ke mobil,” ajak Ji Yong pelan, menggamit lengan Kinsei.

Gadis itu mengedipkan matanya dengan cepat, menggembungkan pipi, “Sepertinya akan jadi salju terakhir tahun ini. Sebentar lagi ya?”

Ji Yong menggeleng pelan, “Tahun depan masih ada. Ayolah. Kau bahkan sedang flu,” tolaknya, menatap galak Kinsei yang semakin memberengut.

Kinsei bergeming, gadis itu menatap butiran salju di telapak tangannya dengan pandangan takjub bercampur nelangsa. “Buatku, bisa saja ini menjadi salju yang benar-benar terakhir,” keluhnya lirih, hanya terdengar oleh telinganya sendiri.

Sayang, saat itu Ji Yong sama sekali tidak mendengar dan tidak mau mendengarkan keluhan Kinsei. Ia justru sibuk menarik tubuh Kinsei, memaksa gadis itu kembali ke mobil. Andai saja dia tahu….

“Ji Yong!”

“Astaga! Kau tidak mendengarkan, ya?”

“JI YONG!”

“Eh? Ya?  Apa, Hyung?” Ji Yong gelagapan, kembali terlempar ke masa kini. Saat ia mengedarkan pandangan, orang yang memanggilnya sudah tidak ada di tempat semula.

Ternyata Teddy telah menatapnya prihatin  dari pintu studio, “Pulanglah! Kau kacau sekali malam ini. Jangan lupa, hidupkan exhaust fan sebelum kau keluar. Asap rokokmu itu,” decaknya mengkal, sekali lagi mencela kebiasaan Ji Yong saat sedang stress, ROKOK.

“Tapi aransemen kita belum selesai, Hyung!” Seru Ji Yong berusaha mencegah Teddy yang sudah berjalan di lorong. Pemuda jangkung itu tidak menanggapi panggilan Ji Yong. Ia terus saja berjalan santai dengan kedua tangan terbenam dalam saku celana jeans-nya.

Ji Yong menggaruk belakang lehernya yang sebenarnya baik-baik saja, tidak gatal. “Hyung!” Panggilnya sekali lagi, pantang menyerah.

Kali ini Teddy mengangkat tangan kirinya, melambai tanpa menoleh apalagi berbalik. Gayanya yang cuek dan cool itu sukses membuat Ji Yong mati kutu.

Setelah punggung Teddy menghilang dari pandangan, Ji Yong kembali masuk, menghidupkan exhaust fan kemudian tiduran di sofa, menunggu asap rokoknya tersedot bersih. Pikirannya kembali melayang ke masa lalu. Tak lama kemudian pemuda itu nampak jatuh tertidur.

Ji Yong mengerang kesal, melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Rupanya ia tertidur selama 2 jam lebih, sudah pagi. Segera saja ia menyambar jaket, mematikan exhaust fan kemudian berjalan keluar. Langkah kakinya terhenti di depan studio dance, suara musik Fantastic Baby terdengar jelas dari tempatnya berdiri.

Ji Yong membuka sedikit pintu studio, mengintip ke dalam. Seringai jahilnya terkembang saat dilihatnya salah satu juniornya tengah berlatih dance dengan atribut yang tidak lazim, ember dan alat pel. Alat-alat itu mengingatkannya pada masa-masa menjadi trainee.

“Jae, setelah selesai dengan urusanmu di sini, bersihkan juga studio mixing!” Teriak Ji Yong, sengaja benar mengagetkan juniornya itu.

Jae tergeragap, gugup menghentikan gerakan dance-nya, tangannya yang memegang pel tergantung aneh di udara, “Ya? Oh, Ji Yong Sunbae?”

Ji Yong menyembunyikan tawanya dengan berdehem keras, “Iya. Kau pikir aku hantu?”

Jae menelan ludah, “Kupikir belum ada orang. Ini baru jam 5 pagi.”

Ji Yong memasang wajah galak, “Lakukan apa yang kuperintahkan tadi. Kau dengar ‘kan? Huh?” Ucapnya ketus.

“Perintah? Apa?” Jae nampak menelan ludah, gugup, ia sama sekali tidak ingat.

“Studio mixing! Aku baru saja memakainya. Kau bersihkan sekalian,” sentak Ji Yong mengkal.

Jae mengangguk pelan, “Studio mixing. Baiklah.”

“Satu lagi. Kau harus menambah sedikit tenaga pada lenganmu. Jangan hanya melambaikannya saja.  Seperti ini,” imbuh Ji Yong, mengayunkan tangan kanannya ke depan, memberi contoh. “Bahumu juga, jangan bergerak-gerak bagai jeli begitu. Tahan dan buat sedikit kaku.  Akan terlihat lebih maskulin,” imbuhnya, sekali lagi memperlihatkan gerakan yang seharusnya.

Juniornya hanya menatap Ji Yong, terperangah. Setengah tak percaya senior yang terkenal dingin dan sadis saat mengkritik itu mau mengajarinya.

Tepat saat Ji Yong menarik keluar kepalanya, Jae membungkuk dalam sembari berteriak antusias, “Terima kasih, Sunbae!”

Ji Yong terus saja berjalan, tanpa melirik apalagi menoleh. Ia menyeret kakinya menuju tempat parkir yang terletak di depan gedung, sesekali menguap lebar. YG Building masih sepi, baru beberapa trainee yang nampak berdatangan. Sesekali Ji Yong menjawab sapaan mereka dengan anggukan dan senyuman tipis. Setengah berpikir, kira-kira siapa saja dari para trainee ini yang suatu saat nanti akan diproduserinya. CEO Hyun Suk sudah berjanji padanya, ia berhak menjadi produser bagi grup baru yang kemungkinan besar akan debut akhir tahun ini.

Setibanya di tempat parkir, Ji Yong segera menekan kunci elektronik-nya, membuka pintu mobil. Namun, alih-alih segera masuk ke dalam mobil, Ji Yong hanya menatap Bentley-nya selama beberapa saat. Pemuda itu nampak menghembuskan nafas panjang beberapa kali. Membayangkan harus menyetir sendirian di pagi buta begini tiba-tiba membuatnya malas. Sejurus kemudian pemuda itu tampak melenggang santai meninggalkan tempat parkir. Sebuah gitar lengkap dengan casing-nya tersampir di punggung tegapnya.

Entah mengapa, tiba-tiba saja pemuda itu ingin keluar dari zona nyamannya. Sesekali naik transportasi publik tampaknya bukan ide yang buruk. Siapa tahu akan ada ide melintas. Kebetulan ia punya beberapa lagu yang belum terselesaikan. Lebih tepatnya, beberapa lagu yang belum memenuhi standar pribadinya.

“Ji Yong Oppa!”

Ji Yong tersenyum tipis, sedikit menganggukkan kepala pada seorang gadis yang menyapanya. Dalam hati bertanya sendiri, ‘VIP atau salah satu trainee ya? Entahlah.’

Gadis itu berlari menjauh sembari tersenyum lebar, melambai riang pada Ji Yong yang masih mempertahankan senyum tipisnya.

“Sepertinya VIP,” gumam Ji Yong pada dirinya sendiri. Di luar kehendaknya, pemuda itu terkekeh kecil. Geli bercampur miris dengan nasib boyband-nya yang mempunyai penggemar dengan karakter yang unik. Yah, semua orang tahu, VIP memang unik, jika tidak mau disebut aneh. Dibandingkan fangirl boyband lain yang selalu histeris saat bertemu idolanya -bahkan ada yang menjadi penguntit atau rela berkemah di luar gedung agensi atau dorm hanya untuk bertemu- VIP memang terlalu ‘dingin’. Adalah lazim bagi Ji Yong dan teman satu grupnya melihat beberapa VIP bergerombol di dekat dorm atau kantor agensi mereka. Tapi itulah, mereka hanya sekadar menyapa, melambaikan tangan kemudian pergi. Jarang sekali yang mencoba mendekat, meminta tanda tanda atau foto bersama.

Seungri yang paling sering mengeluh soal perilaku VIP. Ia tak bosan-bosannya menggerutu, menyalahkan sikap Ji Yong yang terkesan arogan dan bermulut tajam dalam mengkritik. Kekakuan Young Bae di depan fans wanita dan kharisma TOP yang berlebihan, juga sikap ceria namun tertutup dari Daesung sebagai penyebab ini semua.

Ji Yong terus melangkah ringan menyusuri daerah Hapjeong-do yang masih sepi. Hanya beberapa orang yang terlihat melintas. Hampir seluruh orang yang berpapasan dengan Ji Yong berjalan dengan cepat. Entah terburu-buru, atau sekadar tidak suka berasa di ruang terbuka dalam cuaca dingin seperti ini.

Pemuda itu tersenyum miris saat menyadari perkiraan Teddy benar 100%. Salju memang sedang turun. Tidak terlalu deras, namun butir-butirnya masih terlihat jelas di putik-putik kecil bunga Maehwa yang hampir mekar. Sesekali ia mendongakkan wajah, merasakan dinginnya titik-titik salju yang menyentuh permukaan kulitnya.

“Kin… kau suka salju ‘kan? Aku tidak. Karena salju selalu membuatku ingin memelukmu. Hal yang tidak mungkin bisa aku lakukan lagi,” desah Ji Yong pelan. Senyum pahitnya pun terkembang sempurna.

Paju Book City Bus Stop,  Paju-si, Jeonggi-do

Untuk kesekian kalinya Ji Yong mendengus kesal pada dirinya sendiri. Sudah puluhan kali pemuda itu merutuki ketololannya sendiri. Entah apa yang ada diotaknya tadi. Saat duduk-duduk di halte Hapjeong, sebuah bus merah berhenti dihadapannya. Dan saat itu juga, Ji Yong langsung melompat naik, tidak berpikir arah tujuan dan rute bus yang ia naiki. Itu ketololan pertama. Ketololan selanjutnya adalah ia tertidur sepanjang perjalanan. Ketololan masih terus berlanjut saat ia terbangun dan sadar sudah berada di Paju-si. Dalam usahanya menghentikan semua ketololannya, pemuda itu turun di halte terdekat. Di sanalah ia berada saat ini, halte Paju Book City.

Tapi keadaan benar-benar tidak memihak Ji Yong. Ketololannya masih terus berlanjut. Pemuda itu tiba-tiba sadar, ia tidak tahu bus apa yang bisa membawanya pulang ke apartemen-nya atau paling tidak, ke YG Building. Inilah ketololan terbesarnya. Apartemennya terletak di lingkungan yang sama dengan YG Building, bisa-bisanya ia naik bus hingga sejauh ini. Entah setan apa yang mempengaruhinya.

Menghembuskan nafas perlahan, pemuda itu mengeluarkan gitar dari dalam casingnya, membunuh waktu dengan memainkan lagu yang belum ia selesaikan. Entahlah, ia sudah berkali-kali berusaha menyelesaikan lagu yang satu ini. Tetapi Ji Yong selalu ada yang kurang dengan pilihan komposisi nada dan liriknya.

Oniichan! Kau pikir aku tidak punya kerjaan? Aku ada kuliah pagi!”

Ji Yong  refleks menoleh, menyeringai tipis melihat betapa repotnya gadis itu. Tangan kanan gadis itu memeluk sebuah boneka panda yang lebarnya dua kali lipat badannya sendiri, tingginya juga tak beda jauh dengan tinggi badannya sendiri. Tangan kirinya menenteng sebuah casing yang nampaknya juga berisi gitar. Belum lagi dipunggungnya bergelayut sebuah ransel besar berwarna hitam.

 “Kau yang mau showcase, kenapa aku yang harus menderita? Tidak mau! Kau ambil saja gitarmu di halte!”

Sembari terus berteriak dalam bahasa Jepang, gadis itu menatap gitar Ji Yong dengan alis terangkat, mengabaikan pandangan bertanya yang diarahkan Ji Yong padanya.

“Tidak mau!”

Ji Yong mengeryitkan alis. Teriakan gadis itu mulai mengganggunya.

“Kalau aku bilang tidak mau, berarti tidak mau!”

Kali ini Ji Yong merasa perlu menutup telinganya. Jeritan gadis itu punya jangkauan 3 oktaf.

“Iya. Halte bus dekat stasiun Hapjeong, ehm… sekitar satu setengah jam lagi.”

Walaupun Ji Yong tidak begitu paham bahasa Jepang, ia tahu pasti kalau gadis itu tengah membicarakan halte tempat ia naik bus tadi.

“Terserah kau saja!” Seru gadis itu garang, merenggut kasar headset di telinganya, memberengut pada boneka yang sekarang terduduk pasrah di bangku panjang.

“Sudahlah tertidur di bus, tersesat entah di manalah, harus pula mendengar jeritan gadis panda yang membuat telinga berdenging. Haisshh… nasibku!” Gerutu Ji Yong pada dirinya sendiri.

Gadis di sebelahnya melirik galak, “Sopan sedikit, Tuan. Setidaknya, jangan mengumpatku dengan bahasa yang kumengerti.” Serunya pada Ji Yong, kali ini dengan bahasa korea yang sangat fasih.

Ji Yong menelan ludah kaget, menyeringai malu tertangkap basah menggerutu. “Maaf. Kupikir kau tidak bisa bahasa korea.” Menelisik wajah gadis dihadapannya. Tidak nampak garis korea sedikitpun di wajah itu.

Gadis itu membalas seringaian Ji Yong dengan senyuman malas dan mengangkat bahu.

“Ehm, kau… berdarah Korea?” Cetus Ji Yong, berusaha mencairkan suasana yang canggung.

Gadis itu menatap Ji Yong dengan tatapan datar nyaris malas, “Tidak. Aku 100%  Jepang.” Sahutnya pendek, berusaha seramah mungkin.

“Lanjutkan saja permainan gitarmu,” potong Sakura –si gadis Jepang itu- dengan cepat dan tegas. Sukses membuat pemuda di hadapannya mengerjap bingung. Sejurus kemudian Ji Yong tampak menghela nafas panjang, kehabisan kata-kata.

Hampir 4 menit penuh keduanya sibuk dalam arti kata yang berbeda. Ji Yong benar-benar sibuk dengan senar gitar dan chord-nya, tak sadar mulai bersenandung pelan. Tentu saja, Sakura juga sibuk. Sibuk memerhatikan kelincahan jari-jari Ji Yong serta mendengar permainan gitarnya yang bersih. Masih satu lagi, sibuk mengagumi suara Ji Yong yang unik.

Tepat saat lagunya selesai, Ji Yong menoleh ke arah Sakura, tersenyum canggung, “Bagaimana?”

Sakura mengedipkan mata beberapa kali, sedikit terperangah. “Apanya?”

“Menurutmu?” Ji Yong menaikkan kedua alisnya, menyeringai.

“Huh?”

“Ya?”

Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba keduanya terdiam, saling menatap bingung. Detik berikutnya, serempak keduanya tertawa berderai. Tersadar kalau percakapan mereka sangat ganjil dan absurd.

“Jadi… kau tersesat?” Celutuk Sakura setelah tawa keduanya mereda.

Ji Yong terlihat seperti salah tingkah dan kehilangan muka. “Euh? Apa sangat terlihat?”

Sakura terkekeh kecil, “Kau yang tadi bergumam tentang ketiduran,  tersesat dan tidak tahu ini dimana.”

Jawaban Sakura membuat Ji Yong merasa menjadi orang terbodoh sedunia yang tidak tahu arah dan buta lokasi.

“Ehm, bukan begitu. Maksudku, aku tadi ketiduran di dalam bus dan terbawa hingga kemari. Dan bukannya aku tidak tahu ini di mana. Ini Paju Book City, ‘kan?” Kilah Ji Yong, menyeringai, menggaruk belakang lehernya yang sebenarnya tidak gatal.

Sakura tersenyum tipis, mengangguk. Keduanya kembali terdiam. Ji Yong memetik gitarnya sembarangan. Memperdengarkan nada-nada pendek yang sebenarnya rapi namun tentu tidak utuh.

“Permainan gitarmu, bagus.” Cetus Sakura, meraih tangan boneka pandanya. Gadis itu memeluk bonekanya, setengah bersembunyi di balik punggung si panda.

Ji Yong tersenyum geli melihat tingkah Sakura, “Pandamu juga bagus.”

“Bukan pandaku!” Kilah Sakura mengkal, kembali mendudukkan si panda.

“Tapi pandamu sungguh-sungguh bagus. Mengingatkanku pada seseorang,” balas Ji Yong dengan raut serius.

Sakura mengerang pelan, “Memang bagus. Tapi bukan punyaku. Panda ini, titipan seseorang untuk Onnichan.” Menepuk jidat perlahan, seperti teringat sesuatu, “Eh, mengingatkanmu pada siapa? Pacarmu? Dia juga memberimu boneka seperti ini?”

“Seungri, temanku. Tidak. Tidak ada yang memberiku boneka. Seungri itu, mirip dengannya.” Sahut Ji Yong pendek, menunjuk mata si panda.

Sakura membulatkan bibir, “Seungri? Seperti nama laki-laki.”

Ji Yong terkekeh geli, “Bukan seperti. Dia memang laki-laki sungguhan.”

Lagi-lagi Sakura membulatkan bibir, “Akan sangat lucu kalau ada laki-laki yang mirip panda.”

“Sayangnya, Seungri sama sekali tidak lucu,” potong Ji Yong, menjentik dahi si panda dengan telunjuknya.

Sebuah mobil berderum lewat di depan mereka, menimbulkan suara berisik yang membuat obrolan itu terhenti beberapa saat.

Onnichan bukannya kakak lelaki? Aku tidak tahu kalau lelaki Jepang suka menerima hadiah semacam ini,” cetus Ji Yong, kembali membuka percakapan.

Sakura menyeringai aneh, mengangkat bahu, “Aku juga tidak yakin Oniichan akan suka. Tapi bagaimana lagi? Fangirl memang suka melakukan dan memberikan hal-hal aneh pada idolanya ‘kan? Katanya sih supaya selalu diingat.”

Fangirl? Kakakmu seorang idola ya?” Tanya Ji Yong, memancing cerita yang lebih panjang dari mulut Sakura. Entah mengapa, dia suka melihat ekspresi gadis itu saat bercerita.

“Semacam itulah.” Sahut Sakura malas-malasan, mengangkat bahu.

“Dan kau sendiri?”

Sakura menyeringai lebar, “Aku? Bukan siapa-siapa.”

“Maksudku, kau itu, idola atau fan?” Desak Ji Yong penasaran. Bersiap melempar pertanyaan selanjutnya.

“Bukan dua-duanya,” sahut Sakura, masih dengan seringai lebarnya yang menggemaskan. Sengaja benar bermain-main dengan kenalan barunya itu.

Benar saja. Jawaban Sakura yang diluar dugaan membuat Ji Yong menelan ludah kehabisan kata-kata, mati kutu.

“Begitu?” Tegas Ji Yong kemudian. “Kau tidak suka pada siapapun? Aktor? Penyanyi atau apalah?”

Sakura menggeleng beberapa kali, tapi sejurus kemudian gadis itu menggangguk cepat. Tingkah yang sekali lagi sukses membuat Ji Yong tersenyum lebar.

“Maksudku, aku bukan seorang fangirl, tapi, ya… aku suka beberapa aktor, penyanyi, ehm… juga boyband,” cetus Sakura sembari memiringkan kepala, memutar bola mata.

“Arashian?” Tebak Ji Yong.

Lagi-lagi, Sakura menggeleng-mengangguk tidak jelas, “Aku suka Arashi, tapi bukan Arashian. Bisa meletus kepala Jun-kun, kalau aku jadi Arashian.” Gumamnya, juga tak jelas.

“Jadi?” Cetus Ji Yong, tidak mengerti apa maksud perkataan Sakura barusan.

Sakura menatap Ji Yong dengan pandangan kosong, “Apanya?”

“Kau, apa?”

“Aku?”

Ji Yong menghela nafas putus asa, “Rasanya, ini akan jadi percakapan teraneh sepanjang hidupku.”

“Dari tadi kita hanya saling melempar kata-kata pendek dengan nada bertanya,” imbuhnya dengan intonasi geli bercampur putus asa.

Sakura masih bertahan dengan tampang polosnya, “Huh? Begitu?”

“Kau mulai lagi,” cela Ji Yong kesal.

“Benarkan?”

Kali ini Ji Yong benar-benar kehabisan stok kata-kata untuk meladeni gadis aneh di hadapannya. Pemuda itu memilih kembali berkonsentrasi pada gitar dan lagunya.

Tiba-tiba saja, Sakura memecah keadaan yang janggal itu dengan berkata serius, “Aku memang bukan seorang fangirl. Hmm… begini. Aku merasa tidak pantas menyebut diriku sebagai Arashian, VIP atau apalah lainnya. Bagaimana mungkin aku menyebut diriku VIP kalau aku bahkan tidak punya satupun original album mereka?”

Sontak, jari-jari Ji Yong berhenti memetik senar gitar. Mau-tak mau, sadar-tak sadar, nafasnya sedikit tertahan saat Sakura menyebut VIP.

“Oh, jangan menatapku seperti itu. Aku punya lagu mereka dalam playlist iPhone-ku. Kubeli secara legal lewat iTunes atau Soribada. Eh, tapi ada beberapa  yang download ilegal,” kilah gadis itu, malu-malu.

“Itulah kenapa aku tidak menyatakan diri sebagai VIP. Mana ada fans sejati yang mendownload illegal lagu idolanya?” Imbuh Sakura, terkekeh geli.

“Kau kenal BIGBANG?” Kali ini suara Ji Yong terdengar setengah berharap.

Sakura mengangguk tipis, “Aku kenal lagu mereka. Baru-baru ini Onnichan memasukkan salah satu lagu mereka dalam iPhone-ku. Menurutku, lumayan. Jadi aku coba mendengarkan lagu mereka yang lain. Well, tidak mengecewakan, bagus.”

Ji Yong mendengus pelan, “ Jadi, lumayan atau bagus?”

“Lumayan bagus.”

Kali ini tampang Ji Yong berlipat kusam. Seorang gadis tak dikenal mengatakan lagunya ‘hanya’ lumayan bagus. Wajar ‘kan kalau dia kesal?

“Tampangmu jelek sekali. Apa kau VIP? Kau tidak suka aku menilai mereka dengan lumayan?” Tanya Sakura, menelisik wajah Ji Yong.

Ji Yong menaikkan alis. Tanpa bermaksud narsis, ia hanya heran, bagaimana gadis dihadapannya bisa mengenal BIGBANG tapi tidak mengenali seorang Kwon Leader?

“Aku bukan VIP,” sahut Ji Yong setelah beberapa saat terdiam, bingung hendak menjawab apa.

Sakura mengangguk-angguk kecil. “Tapi, lagumu barusan. Agak sedikit berbau G-Dragon. Dalam arti kata positif tentunya,” celetuknya ringan.

“Berbau G-Dragon? Memangnya kau pernah menciumnya?” Celutuk Ji Yong, lebih pada dirinya sendiri.

Gadis dihadapannya langsung melotot garang, “Hah? Maksudmu?”

“Tidak. Tidak ada, aku hanya bercanda,” tampik Ji Yong cepat-cepat, malas berdebat. “Jadi, kau suka BIGBANG tapi bukan VIP?” Tegas Ji Yong, setengah mengalihkan pembicaraan setengah benar-benar penasaran.

Sakura terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk. “Begitulah. BIGBANG itu, termasuk kategori keren. Yah… untuk ukuran boyband.”

Cuping hidung Ji Yong yang sempat mengembang saat Sakura sampai pada kata ‘keren’ sontak menguncup.

“Maksudmu?” Sentaknya, lebih keras dari yang ia maksudkan.

Sakura menepuk dahinya, mengeluh, “Oh… kau pasti VIP. Kalau tidak, kenapa reaksimu seperti itu?”

“Bukan. Tidak seperti itu,” kilah Ji Yong cepat. “Aku hanya tidak suka membanding-bandingkan. Boyband, solois, ataupun band, mereka semua musisi ‘kan?”

Musician? Kurasa tidak juga. Sebagian besar boyband tak lebih dari performer. Bukan songwriter, composer, sound designer apalagi arranger. Kenapa mereka tidak menciptakan lagu sendiri jika mereka memang musisi?” Debat Sakura, bersemangat.

Ji Yong mendengus pendek, “Bisa jadi, mereka juga menciptakan lagu. Tapi tidak mempublikasikannya. Mungkin, karena tidak diijinkan oleh agensi mereka.”

“Ada yang seperti itu?” Sahut Sakura tak mau kalah.

Kali ini Ji Yong hanya mengangkat bahu, “Mungkin saja ‘kan? Kita tidak pernah tahu.”

“Kenapa?”

“Kemungkinan pertama, lagu ciptaan mereka tidak sesuai dengan imej yang telah dibentuk agensi. Kedua, lagu mereka tidak cukup komersil menurut pandangan agensi. Ketiga, agensi sengaja mengikat mereka.” Ji Yong mengembangkan jarinya satu persatu setiap kali mengungkapkan teorinya.

“Mengikat?”

Ji Yong berdecak kesal karena lawan bicaranya kembali hanya melemparkan pertanyaan pendek. Walaupun begitu, akhirnya ia menjawab juga. “Kalau kau bisa melakukan semuanya seorang diri, bargaining position-mu menjadi lebih tinggi. Agensi tentu punya kekhawatiran, kau berani memutuskan kontrak dan keluar semau-mu karena kau merasa tidak memerlukan bantuan mereka lagi.”

“Begitu?” Tegas Sakura ragu-ragu.

Ji Yong terkekeh geli, “Jangan menganggapnya serius. Kita ‘kan hanya sedang berandai-andai. Itu hanya kemungkinan.”

“Dan kau juga tidak boleh lupa, penyanyi juga termasuk musisi,” imbuh Ji Yong, masih dengan senyum di bibirnya.

Sakura seketika memberengut. Ia merasa tidak semua penyanyi itu, benar-benar bisa menyanyi. Kebanyakan hanya asal mengeluarkan suara dan menjadikan wajah tampan atau cantik mereka sebagai pengalih perhatian.

“Aku tidak pernah suka pada dunia mereka,” sentak Sakura tiba-tiba. Intonasinya terdengar sangat kesal.

Ji Yong mengangkat sebelas alisnya, bertanya pendek, “Dunia apa?”

“Show biz, entertainment industry,” sahut Sakura, tak kalah pendek.

“Apa salahnya?” Lagi-lagi, Ji Yong melontarkan pertanyaan pendek.

Sakura menyeringai malas sebelum mengemukakan alasannya. “Mereka mengaku-aku sebagai seniman. Nyatanya mereka adalah pebisnis sejati yang tentu saja, berorientasi pada uang.”

Tawa Ji Yong menyembur tak terkendali mendengar alasan Sakura. “Kau ini bodoh ya? Namanya saja show biz. Business! Bisnis! Bagaimana mungkin tidak melibatkan uang?”

Sakura berniat melemparkan pandanya ke arah Ji Yong, sayang terlalu besar. Ia melirik gitarnya. Lagi-lagi urung, bisa dipenggal Onii-chan kalau gitar itu sampai tergores gara-gara menghantam kepala Ji Yong.

“Lagipula, kehidupan mereka itu… terkadang tidak masuk akal,” celutuk Sakura setelah berhasil meredam keinginannya untuk ‘menganiaya’ lawan bicaranya.

Kali ini Ji Yong hanya menatap Sakura lurus-lurus, bingung hendak berkata apa.

“Euhmm… maksudku,” Sakura menelan ludah gugup.

Walaupun tatapan Ji Yong membuatnya salah tingkah, beberapa saat kemudian gadis itu berhasil mengeluarkan pendapatnya. Ia berkata dengan pelan dan ragu-ragu, “Kenapa mereka selalu memberikan kesan bahwa semuanya sempurna? Bukankah apa yang mereka jalani sama sekali jauh dari itu?”

Ji Yong mengerutkan alisnya, matanya tetap menyorot tajam. Seolah menantang lawan bicaranya mengeluarkan semua argumentasinya.

Tanpa sadar, Sakura kembali memeluk boneka pandanya. Terlihat benar gadis itu mencari pengalihan untuk menutupi kegugupannya.

“Aku memang tidak benar-benar tahu apa yang terjadi dalam kehidupan nyata para idol. Tapi… kudengar, persaingan antar mereka sangatlah ketat. Mereka juga dituntut untuk bekerja keras untuk memenuhi target pemasukan yang gila-gilaan. Bahkan, aku pernah mendengar, ada anggota idol grup yang sakit dan perlu opname, tapi managernya memaksa, eh, maksudku berkeras meminta mereka untuk tetap menghadiri acara penyerahan award apalah. Bukankah itu sedikit tidak… manusiawi? Dan yang paling tidak masuk akal bagiku, kenapa mereka bertahan dengan semua itu?” Setelah menyelesaikan argumennya yang sarat keraguan, Sakura diam-diam melirik pemuda di depannya melalui bahu si panda. Tegang menunggu reaksi Ji Yong.

Sejurus kemudian Sakura menghela nafas lega. Ji Yong hanya tersenyum tipis kemudian mendongak menatap langit yang muram. Salju memang sudah berhenti turun. Tapi matahari nampaknya masih enggan muncul.

“Coba kita lihat dari sudut yang lain,” ujar Ji Yong, kembali menatap Sakura. “Bukankah itu juga merupakan bagian dari profesionalitas? Mungkin, ada beberapa dari idola terkejut dengan tuntutan kerja seperti itu. Tapi, bukankah itu juga sudah rahasia umum? Ah… lebih tepatnya kondisi umum. Semua pekerjaan punya sisi nyaman dan sisi beratnya masing-masing. Itu hanyalah salah satu dari sekian banyak konsekuensi yang harus mereka, lebih tepatnya, kita, semua orang yang memutuskan untuk terjun dalam dunia kerja. Apapun itu.”

Sakura mengedipkan matanya beberapa kali, seolah apa yang baru saja didengarnya dari mulut Ji Yong adalah sesuatu yang belum pernah terlintas dalam pikirannya.

“Jadi, bagi para idola itu, apa yang mereka jalani tak lebih dari sebuah pekerjaan? Mereka tidak menyukainya, tapi tetap melakukannya karena keharusan? Bagaimana seseorang bisa merasa bahagia dengan hal seperti itu?” Tanya Sakura dengan sorot kosong.

Ji Yong berdeham kecil, “Mungkin saja. Maksudku, mungkin ada beberapa orang yang merasakan itu. Semacam keterpaksaan. Keterlanjuran. Merasa tercebur dan tidak bisa keluar lagi. Tapi, jangan lupa, ada di antara mereka yang melakukan pekerjaan yang mereka sukai. Atau, menyukai apa yang mereka kerjakan.”

Onnichan pernah bilang, kebahagiaan itu adalah pilihan. Menikmati apapun yang terjadi sekarang, dan bahagia. Atau menganggap apa yang kita kerjakan sekarang sebagai beban kemudian berharap kebahagiaan akan datang sebagai upah dari kerja keras kita itu. Apa itu yang kau coba katakan?” Tegas Sakura, menatap Ji Yong dengan perasaan kagum.

Pemuda didepannya itu mengangguk kecil, “Memilih untuk bahagia saat ini juga, atau nanti. Kita tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi pada diri kita. Tapi, kita bisa mengendalikan apa yang kita lakukan, apa reaksi kita terhadap apa yang terjadi pada kita.”

“Bahagia sekarang, atau nanti,” celutuk Sakura pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Untuk beberapa saat keduanya termenung diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Merasa sedikit aneh telah begitu panjang lebar bertukar pendapat dengan orang asing.

Keheningan yang sempat mengambang pecah seketika saat Sakura tiba-tiba beranjak dari duduknya. Berseru keras, “Itu bus-ku! Terima kasih atas percakapannya. Sampai jumpa!”

Ji Yong hanya bisa terperangah saat gadis itu membungkuk dalam kemudian sigap melompat ke dalam bus merah yang berhenti tepat di depan mereka. Pemuda itu masih terpaku kosong saat pintu bus menutup. Tidak siap dengan perpisahan yang begitu tiba-tiba.

Saat ia tersadar, bus itu sudah menghilang di kejauhan. Menyisakan perasaan nelangsa. Bagaimana tidak? Ternyata ketololannya masih terus berlanjut. Hal pertama yang ia sadari adalah, bus merah itu juga bus yang ia tunggu sejak tadi. Bus tujuan Hapjeong-dong. Hal selanjutnya adalah ia bahkan tidak tahu siapa nama gadis yang berbincang dengannya barusan. Mereka tidak saling menyebutkan nama.

Alih-alih menepuk jidat, Ji Yong hanya bisa tersenyum tipis. Inilah hidup. Banyak kebetulan yang ternyata bukan kebetulan.

Apapun maksudnya, apa yang terjadi padanya pastilah bukan sebuah kebetulan. Ia yang tanpa berpikir naik bus hingga ke Jeonggi-do. Bertemu gadis panda, berbincang panjang lebar dengannya. Lupa tidak saling menyebutkan nama. Bengong dan tidak ikut naik bus yang baru saja membawa pergi gadis itu. Apapun itu, pasti ada sebuah tujuan tak terlihat. Ada informasi yang harus tersampaikan antara dirinya dan si gadis panda. Informasi yang mungkin, akan terus mengalir pada pihak lainnya. Informasi yang entah akan berujung seperti apa. Yang jelas, semua hal di dunia ini pasti ada tujuannya.

Tidak ada kebetulan yang murni kebetulan.