Author : yen

Main Cast : BIGBANG’s Seungri (Lee SeungHyun), Kinsei Oguri

Support Cast : BIGBANG’s member

Length : Oneshot

Rating : General

Genre : Friendship, Life

Inspired by : Seungri’s interview with 10asia

Note : Sekali lagi, buat yang udah baca VVL, FF ini bisa dibilang salah satu cronicles-nya.

***

Kinsei mengerjap-erjapkan matanya, menggaruk alis. Ia sudah membaca pesan dari Seungri beberapa kali. Kesimpulannya? Seungri jelas dalam kondisi stress, entah karena apa. Yang jelas, baby panda itu sedang mencari teman yang bisa diajak bicara.

KIN!! FIGHTING!!

P.S : Aku tidak apa-apa, jangan khawatir

Your’s sweet Seung-chan

Tidak apa-apa, apanya? Tak ada angin tak ada hujan tak ada badai tiba-tiba mengirim pesan aneh seperti ini!

Jadi, inilah yang dilakukan Kinsei sekarang. Berdiri bingung di depan pintu dorm BIGBANG. Gadis itu bukannya tidak tahu atau lupa kombinasi angka untuk membuka pintu di hadapannya. Hanya saja, kedua belah tangannya sibuk membawa bungkusan besar. Bagaimanalah? Hendak meletakkan bungkusan itu ke lantai, rasanya ia tak tega.

“Kin? Sedang apa kau di sini? Kenapa tidak masuk? Kapan kau datang dari Jepang? Oh-ya, Ji Yong sedang tidak di dorm, ia ada di studio. Kebetulan, aku dan Youngbae mau ke sana. Kau mau ikut?”

Kinsei terperangah menatap sosok yang tiba-tiba muncul dari balik pintu, “Hyun-kun, kau membuatku terkejut!”

“Kenapa? Ada yang aneh dengan penampilanku?” Tanya TOP, sibuk menelisik setiap inci bajunya sendiri.

“Rambutmu, hyung,” celutuk Taeyang dari balik punggung TOP.

Kinsei tersenyum tanggung pada Taeyang, ingin melambai tapi tersadar tangannya penuh. “Young-kun, apa kabar?”

Seung Hyun tergelak, “Huh? Apa kabar?! Sapaan apa itu? Kaku sekali!”

“Kaku?” Tanya Kinsei, memasang wajah tidak terima.  “Benarkah?” Imbuhnya sembari menatap Taeyang, mencari pembelaan.

Orang yang ditatap hanya mengendikkan bahu tidak peduli.

“Ya, kaku. Seperti orang yang tidak saling kenal,” cela TOP dengan nada dibuat-buat, sok serius.

Kinsei mengerucutkan bibirnya, “Baiklah, kuperbaiki.”

“Young Bae oppa! Kenapa kau tampan sekali?!” Seru gadis itu, menyeringai ke arah TOP. Sengaja benar memanas-manasi anggota tertua BIGBANG yang terkadang bertingkah macam bayi itu.

TOP membelalak, mendesis kesal. “Bukan berarti kau harus berteriak macam itu, Kin!” Serunya kesal, memprotes.

Kinsei menggelengkan kepala malas. “Jadi, apa Seung-chan di dalam? Bisakah kalian membiarkan aku lewat?”

Baik Taeyang maupun TOP serentak memprotes, “Seungri?”

“Kupikir kau kemari ingin bertemu pacarmu?” Pertanyaan TOP terdengar seperti tuduhan tak berdasar di telinga Kinsei.

“Tidak, terima kasih. Aku ingin bertemu Seung-chan. Jadi, bisakah kalian berdua pergi saja dan jangan menghalangi perjalananku?” Ketus Kinsei mengkal, tak sadar mulai menggunakan gaya bahasa yang tidak lazim.

Taeyang mendengus geli mendengarnya. Sejurus kemudian ia menunduk dalam. “Silahkan masuk Tuan Putri. Orang yang ingin kautemui sedang bertapa di kamarnya.” Balasnya, menggunakan bahasa yang tak kalah aneh, mengikuti permainan Kinsei. Pemuda itu mendorong punggung TOP agar menyingkir dari bingkai pintu.

TOP menggelengkan kepala, menggerutu, “Drama apa ini? Kabaret? Opera sabun?”

Kinsei tidak bisa menahan semburan tawanya saat melihat Taeyang mengabaikan gerutuan TOP. Ia terus saja mendorong punggung pemuda yang jauh lebih tinggi darinya itu sekuat tenaga,  memaksanya berjalan.

“Apapun yang kaubawa itu, Kin. Jangan biarkan Seungri menghabiskannya sendirian. Sisakan untuk  kami!” Seru Taeyang sebelum menghilang di belokan.

Kinsei hanya menyeringai kecil, “Aku tidak janji,” jawabnya pelan, malas berteriak. Toh,  Taeyang sebenarnya juga tidak memerlukan jawaban.

Setelah punggung TOP dan Taeyang menghilang, gadis itu perlahan masuk ke dalam dorm,  menutup pintu dengan kakinya.

“Sepi sekali,” gumamnya sembari meletakkan bungkusan besarnya di atas meja makan. Sejurus kemudian Kinsei sudah mengetuk pintu kamar Seungri, memanggil pelan, “Seung-chan,  boleh aku masuk?”

“Tidak dikunci!”Seru Seungri dari dalam, mempersilakan.

Kinsei mengerutkan kening saat mendengar suara-suara tidak lazim dari kamar Seungri. Semacam bunyi benda keras terlempar atau dilempar, debam pintu dan orang terjatuh.

“Apa yang kaulakukan? Kautidak apa-apa?” Gadis itu menahan senyumnya saat mendapati Seungri terduduk di lantai dengan pose menjungkir aneh.

Seungri menyeringai malu.  “Tidak apa-apa, aku hanya sedang menyingkirkan barang-barang yang tidak pantas kaulihat,” kilahnya sembari melemparkan apalah ke kolong tempat tidur.

“Oh-ya? Apa itu?” Kinsei mencelutuk jahil, melonggok ke kolong tempat tidur. Matanya menyipit antusias.

Seungri buru-buru memblokir pandangan pandangan Kinsei. Serabutan berguling ke tepi tempat tidur, berusaha menutup celah dengan tubuhnya.

Melihat tingkah Seungri, Kinsei berdecak kesal. “Kau menyembunyikan apa?” Tanyanya dengan nada tajam menuduh.

“Bukan apa-apa. Hanya… kurasa kau juga biasa menemukannya di kamar Ji Yong,” sahut Seungri ringan. Tentu saja lengkap dengan seringai lebarnya.

Kinsei menatap pemuda di hadapannya dengan mata menyipit, “Dan apakah itu?”

“Jangan bilang, kau menyembunyikan perempuan di bawah situ,” tuding Kinsei, ujung matanya kembali melirik kolong tempat tidur.

Seungri tersedak hebat, “Hah? Memangnya Ji Yong sering menyembunyikan perempuan di bawah kolong tempat tidurnya?”

“Apa aku tadi bilang begitu? Hmm… kalau dipikir-pikir lagi, bisa saja,” sahut Kinsei cuek, mengangkat bahu.

Kali ini Seungri hanya terbengong bingung. Tiba-tiba merasa Ji Yong yang sedang mereka bicarakan itu adalah orang yang berbeda dengan nama yang sama. Pemuda itu perlahan bangkit dari posisinya kemudian duduk di tepi tempat tidur, masih dengan sorot kosong dan bingung.

Kinsei dengan santai menyusul duduk di sebelah Seungri, menepuk bahu pemuda itu. “Kau kenapa? Apanya yang tidak apa-apa itu? Kenapa aku tidak perlu khawatir? Huh?”

“Apa? Aku? Tidak, aku tidak apa-apa,” kilah Seungri, mengibas-ngibaskan telapak tangannya.

Kinsei terkekeh kecil. Ia paham benar kalau pemuda di sampingnya ini hanya sedang mencari perhatian. Sayang, aktingnya belum sebagus hyung tertuanya. Setidaknya, Seungri belum bisa membohongi seorang Kinsei.

“Tidak mau cerita? Yakin?” Tantang Kinsei, beranjak dari duduknya seolah siap akan pergi.

Kinsei sudah meraih pegangan pintu saat Seungri tiba-tiba berujar, “Kau pernah merasa semangatmu lebih besar dari kemampuanmu sebenarnya?”

“Huh?” Kinsei sigap berbalik, tidak menyangka akan mendengar keluhan seperti itu dari mulut Seungri.

“Seperti pemain tengah yang memaksa untuk mencetak gol,” desis Seungri pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Segera saja Kinsei sadar, masalah Seungri lebih besar daripada sekadar mencari perhatian. Gadis itu beringsut pelan, kembali duduk di sebelah Seungri. Suasana mendadak hening beberapa saat. Kinsei beberapa kali menghela nafas pelan, sibuk menyusun kata.

“Ji Yong nakal padamu? Berani-beraninya pada pandaku! Awas, kuhajar dia nanti!” Serunya kemudian, meninju udara dengan semangat berapi-api.

Tawa Seungri tersembur keras melihat tingkah gadis di hadapannya. “Astaga! Apa benar kau ini pacar Ji Yong? Reaksimu seolah-olah kau menyukaiku! Hah… kau sebenarnya memang menyukaiku ‘kan? Hmm? Your’s sweet Seung-chan….”

Kinsei tersenyum puas melihat reaksi Seungri. Tentu saja gadis itu lebih suka Seungri yang percaya diri berlebihan daripada Seungri yang berwajah muram.

“Masalah itu lagi?” Tanya Kinsei hati-hati.

Seungri tersenyum tipis –akhirnya berhasil mengendalikan tawanya. “Tidak juga. Hanya saja….” Pemuda itu seolah enggan melanjutkan kalimatnya.

“Ya?” Desak Kinsei dengan halus. Berusaha mengira-ngira sendiri, apa yang membuat Seungri kembali seperti ini. Tiba-tiba saja gadis itu teringat sesuatu. “Jangan bilang ini ada hubungannya dengan interview-mu di 10Asia,” tuduh Kinsei, gagal menghilangkan nada jengkel dari ucapannya.

Seungri menghela nafas berat, “Pemain tengah yang keras kepala ingin menjadi striker, padahal ia tidak mampu. Itulah aku.”

“Bagaimana mungkin?! Astaga… kenapa kau mundur ke titik ini lagi, Oppa?” Sergah Kinsei tajam.

Pemuda itu menggembungkan pipi, “Setiap kau memanggilku dengan sebutan oppa, aku merasa baru saja melakukan kesalahan besar,” rajuknya.

“Benar! Kau memang melakukan kesalahan besar!” Sungut Kinsei, galak.

“Iya, iya, Kin. Aku masih ingat perdebatan terakhir kita. Segala sesuatu punya tempat dan peranannya masing-masing. Bahkan sesuatu yang besarpun sejatinya tersusun dari hal-hal kecil. Jika tak ada yang bersedia melakukan hal kecil, bagaimana mungkin bisa tercipta sesuatu yang besar. Itu ‘kan yang kau katakan?”

Seungri menggeleng tipis saat Kinsei hendak memotong ucapannya, menambahkan cepat, “Tapi, Kin. Apa aku salah kalau merasa… BIGBANG, dengan atau tanpa seorang Seungri, mereka akan tetap berdiri. Tunggu sebentar, biarkan aku menyelesaikannya, Kin. Kau juga tahu ‘kan? Apa yang terjadi padaku dan HyunSeung saat awal pembentukan BIGBANG dulu? Aku hanya berusaha melihat kenyataan dengan lebih rasional.”

Kinsei yang sudah membuka mulut sejak tadi -gemas ingin menyela- seketika kehilangan kata. Matanya kosong menyorot pemuda di hadapannya, namun pikiran gadis itu melayang kemana-mana, berusaha menelaah fakta yang baru saja dilemparkan Seungri.

“Kalau ini semua karena Ji Yong, ehm… maksudku, soal bagianmu dalam lagu-lagu BIGBANG…” Saat Kinsei berhasil mengucapkan sesuatu, ternyata ia tidak mampu menyampaikan dengan jelas.

Seungri menyeringai tipis, “Aku tahu, suaraku memang tidak sekuat yang lain. Dan aku mengerti, Ji Yong melakukan tugasnya sebagai produser dengan sangat baik. Ia juga sudah menjelaskan semuanya, panjang lebar. Bukan hanya padaku, tapi juga pada yang lain. Memang seperti itulah lagu kami seharusnya.” Pemuda itu nampak menghela nafas sejenak, kemudian menambahkan, “Bukan itu, Kin. Aku bukannya tidak puas dengan bagianku yang sedikit itu.”

“Aku hanya tidak bisa menyingkirkan kenyataan, bahwa BIGBANG, tanpa adanya aku sekalipun, mereka tetap akan berdiri.”Lanjutnya lirih, mirip sebuah gumaman.

Kinsei mengangguk paham, “Dan itu membuatmu merasa… terganggu.”

Seungri tidak menanggapi pernyataan Kinsei. Pemuda itu hanya menarik nafas panjang. Pandangannya terlempar jauh ke luar jendela, menatap langit kota Seoul yang biru.

“Kau sudah membicarakan hal ini dengan yang lain?” Tanya Kinsei, mencoba mengorek keterangan.

Seungri mengangguk tipis, “Sudah.”

“Dan apa pendapat mereka?”

“Apa yang aku pikirkan itu tidak benar. Aku terlalu banyak berpikir. Aku memikirkan hal-hal yang tidak penting. Aku seperti orang kurang kerjaan, padahal masih banyak yang harus aku perbaiki. Dan hal-hal lain semacam itu,” sahut Seungri sembari membuka jarinya satu persatu, menghitung jawaban yang ia terima.

Kinsei tersenyum lebar, “Dan kau semakin terganggu dengan jawaban mereka.” Gadis itu mulai bisa meraba inti masalah Seungri.

Melihat pemuda di hadapannya mengiyakan kesimpulannya dengan sebuah anggukan, Kinsei bersiap menjatuhkan bom-nya. “Kau mau tahu apa pendapatku?”

“Kau benar, BIGBANG akan tetap berdiri sekalipun tanpa seorang Seungri. Itulah kenyataannya!” Cetus Kinsei cepat, tidak menunggu respon Seungri terlebih dahulu.

Wajah Seungri sontak memucat, setengah tak percaya pada telinganya sendiri. Tapi, jauh di dalam hatinya, pemuda itu merasa lega. Akhirnya ada yang setuju dengan pendapatnya. Selama ini ia terus saja berperang dengan dirinya sendiri. Ia yakin pendapatnya benar, tapi semua orang justru menyangkalnya. Ya, semua orang, kecuali gadis ini. Gadis yang sekarang tengah memasang senyum terbaiknya, mendukung setulus hati.

“Terima kasih,” ucap Seungri kemudian, bingung hendak berkata apa. Sejenak keheningan mengambang di langit-langit kamar Seungri. Kedua orang itu perpandangan beberapa saat, berusaha saling memahami perasaan masing-masing tanpa perlu berkata-kata.

Deheman Seungri memecah kesenyapan. “Eh, uh, maksudku… terima kasih atas dukunganmu. Lega juga, akhirnya ada yang sepakat dengan pendapatku.”

 Kinsei mendengus lega. Ia sempat khawatir, ucapan terima kasih Seungri tadi bersifat sarkastis. Gadis itu terkekeh kecil,  memukul pelan bahu Seungri. “Kapan aku tidak mendukungmu? Huh?” Celutuknya dengan nada main-main, membuat tanda kutip dengan jari telunjuk dan jari tengah saat mengatakan kata ‘tidak.’

Sejurus kemudian keduanya serempak tertawa. Bukan karena ada yang lucu, namun akibat rasa lega yang mereka rasakan.

“Tanpa seorang Seungri sekalipun, BIGBANG akan tetap berdiri tegak. Itu kenyataan pahitnya. Hmm… kau mau tahu apa kenyataan manisnya?” tegas Kinsei setelah tawanya mereda.

Seungri menaikkan sebelah alisnya. “Kenyataan manis?” Pandangannya kembali sempurna terarah pada Kinsei, meminta penjelasan.

“Iya. Kenyataan manis. Hmm… bagaimana ya mengatakannya?” Gadis itu memutar bola mata, tak sadar mulai menggigit bibir bawahnya, pertanda ia tengah berpikir serius.

Mau tak mau, Seungri terkekeh kecil melihat ekspresi Kinsei. Gadis yang 13 bulan lebih muda darinya itu justru terlihat lucu dan menggemaskan saat berusaha tampil serius.

“Ah! Benar!” Tiba-tiba saja Kinsei menyentikkan jarinya, seolah menemukan ide brilian apalah.

Gadis itu memulai atraksinya, bergerak mengitari kamar Seungri dengan tangan terentang lebar-lebar, “Kita ibaratkan, industri musik itu sebuah bakery. Dan BIGBANG adalah sebuah shortcake. Tentu bukan shortcake biasa. BIGBANG adalah shortcake yang sangat istimewa! Strawberry shortcake!”

Sorot mata Seungri mengikuti setiap gerakan Kinsei. Walaupun pemuda itu sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan gadis di hadapannya, ia tidak berusaha menyela atau memprotes apalah. Baginya, melihat tingkah absurd Kinsei merupakan salah satu bentuk tersendiri dari hiburan.

“Kita katakan saja keempat hyung-mu adalah tepung, gula, butter dan krim. Terserah siapa menjadi apa. Yang sudah pasti dan jelas, mereka adalah bahan utama. Cukup mereka berempat saja, dan… voila! Jadilah sebuah shortcake yang bernama BIGBANG.” Jelas Kinsei, berapi-api, layaknya dosen killer tengah menjelaskan rumus persamaan yang super rumit.

“Tapi, apalah istimewanya sebuah shortcake itu? Di tengah kepungan berupa-rupa cake, roti dan lainnya di bakery itu, shortcake BIGBANG sangatlah biasa, nyaris tidak menarik,” imbuh Kinsei cepat, kali ini tak lagi berapi-api. Intonasinya berubah rendah, dramatis.

Seungri mulai menangkap arah pembicaraan Kinsei, tak sabar menyela. “Kau mau bilang, akulah yang membuat shortcake itu menjadi istimewa? Aku si strawberry itu? Bahan tambahan yang melengkapi?”

“Lebih tepatnya, melengkapi dan menyempurnakan! Yes, it’s you! Strawberry Seungri!” Kinsei bertepuk tangan antusias.

Kali ini, Seungri yang nampak berpikir serius, “Benarkah? Menurutmu begitu?”

“Tentu saja. BIGBANG bisa berdiri tanpa seorang Seungri. Sejak awal memang begitu. Tapi… tanpa Seungri, BIGBANG yang ada, bukanlah BIGBANG yang seperti sekarang ini.” Tegas Kinsei, nada suaranya terdengar lebih serius, tidak lagi meledak-ledak berlebihan.

Melihat Seungri yang nampak ragu, Kinsei kembali angkat suara. “Seung-chan… sekalipun mereka, maksudku para hyung-mu, tidak mengatakannya padamu. Aku yakin, jauh di dalam hati mereka, kau itu istimewa. Yah… pelengkap memang. Namun pelengkap yang menyempurnakan. Pelengkap yang membuat BIGBANG menjadi utuh.”

Sekalipun Seungri tidak mengatakan apa-apalagi setelah itu, namun Kinsei tahu pasti, pemuda itu paham apa yang dimaksudkan olehnya. Terkadang, seseorang bukannya tidak mengerti. Ia hanya perlu sebuah penegasan, penguatan.

“Jadi, ngomong-ngomong soal strawberry shortcake. Sebenarnya aku membawa satu loyang besar strawberry shortcake kemari. Ada di meja dapur. Ba-”

Belum sempat Kinsei menyelesaikan kalimatnya, Seungri telah serabutan berlari keluar kamar. Berteriak antusias saat melihat bungkusan besar di atas meja makan, sigap membukanya. “Kenapa kau tidak bilang dari tadi, Kin? Kau sengaja membelikannya untukku? Ah… kau sungguh baik!”

Kinsei menyusul keluar kamat, berdecak kesal saat melihat Seungri telah duduk manis di kursi meja makan, melahap strawberry shortcake-nya tanpa permisi.

“Sisakan untuk yang lain!”

“Eh? Bukannya ini khusus untukku? Kau khawatir padaku sehingga bersusah payah membelikannya untukku, iya ‘kan?” Setitik kecil remah cake tersembur dari mulut Seungri saat ia mengucapkan kalimat protesnya itu, membuat Kinsei kembali berdecak kesal.

“Tidak juga. Itu pemberian dari… eum, katakan saja, calon ibu mertuaku. Saat kau mengirim pesan aneh tadi, aku sedang berada di toko rotinya. Karena aku bilang, aku harus segera pergi karena ada teman yang sakit, ia memberiku ini,” sahut Kinsei ringan, ikut meraih sepotong shortcake.

Seungri tersedak mendengar penjelasan Kinsei barusan. “Sejak kapan ibu Ji Yong punya toko roti?”

Yang ditanya hanya mengangkat bahu, “Siapa yang sedang membicarakan ibunya Ji Yong?”

“Bukankah kau tadi bilang, calon ibu mertua? Kau berselingkuh? Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau mengkhianati Ji Yong hyung!” Sembur Seungri. Setengah mengkal, setengah tak percaya.

Kinsei mendelik kesal, “Berlebihan! Aku ‘kan hanya mengikuti kencan buta, perjodohan. Dan itupun karena paksaan harabeoji. Siapa bilang aku berselingkuh?”

“Kau kencan buta? Astaga! Kenapa kau melakukannya?” Sentak Seungri, masih tidak terima.

Kinsei beranjak dari duduknya, berkacak pinggang. “Kau! Cerewet!”

“Hei! Kin! Apa Ji Yong hyung tahu kalau kau melakukan kencan buta?”

Kinsei sudah berlalu pergi, membuka pintu dorm, mengabaikan teriakan Seungri yang masih terus memanggilnya.

***

“Aisshh! Bukankah aku sudah bilang, jangan kau habiskan? Sisakan untuk kami!”

Seungri menyeringai lebar ke arah Taeyang yang bersungut-sungut marah, “Kau tidak mengatakan apa-apa saat pergi tadi.”

“Youngbae mengatakannya pada Kin. Dan tentunya, Kin sudah menyampaikan hal itu dengan sangat jelas padamu. Jangan coba-coba mengelak!” Kali ini, TOP yang mengarahkan telunjuknya tepat di batang hidung Seungri.

Mendengar nama Kinsei disebut-sebut, Ji Yong urung meraih potongan terakhir strawberry shortcake yang tersisa, bertanya bingung, “Kin tadi ke sini? Kalian bertemu dengannya? Kenapa tidak ada yang memberitahuku? Huh?”

Sayangnya, tak ada seorangpun memperhatikan Ji Yong.  Saat Taeyang dan TOP masih sibuk ‘menyiksa’ Seungri, Daesung sigap meraih shortcake yang urung diambil Ji Yong.

“Enak! Di mana Kin membelinya?” Seru Daesung setelah menelan habis shortcake-nya.

Ditengah-tengah usahanya melawan kedua hyung-nya, Seungri berteriak keras, “Itu pemberian calon ibu mertua Kin!”

Ji Yong membelalakkan mata, “Ibuku?!”

“Bukan, bukan ibumu. Calon ibu mertuanya yang lain lagi,” sahut Seungri tanpa dosa, masih dibawah tekanan Taeyang yang memiting lehernya.

“EH?”

Suasana mendadak sepi. Semua orang terdiam pada pose masing-masing. Saat Ji Yong meraih ponsel dari dalam saku celananya, semua orang menahan nafas.

“ Yeah, it’s me, Ji Yong.”

Dari nada bicaranya saja, keempat pemuda itu yakin 100% kalau Ji Yong sedang menghubungi Kinsei.

“Tidak ada apa-apa. Hmm… aku hanya ingin menanyakan tentang sesuatu. Seungri….”

Tiba-tiba saja Seungri merasa perutnya melilit sakit. Setitik penyesalan timbul. Kenapa juga ia kelepasan bicara soal ibu mertua Kinsei yang ‘lain’ itu? Runyam sudah urusan. Ji Yong pasti mengamuk. Yang lebih runyam lagi, Kinsei bisa dipastikan akan balas mengamuk pada Seungri, orang yang sudah sok ikut campur dan mengadu.

“Benar, Seungri menghabiskan jatah kami berempat. Jadi, kau setuju ‘kan, kalau kami memberinya pelajaran?”

 Tiga buah tawa dengan nada yang berbeda tersembur, meledak tak tertahankan saat mendengar lanjutan kalimat Ji Yong barusan.

 “Kin bilang, terserah mau diapakan,” ujar Ji Yong santai, kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.

Tanpa menunggu komando atau aba-aba terlebih dahulu, mereka berempat serempak menyerang Seungri yang masih tergagap kaget.

 “KIN!! AWAS KAU YA!!”

***

yen’s note : Maaf untuk typo, lagi males ngedit. Ngantukk… #PLAK