Segala sesuatu itu, akan dimintai pertanggungjawabannya

Semalem, entah kenapa tiba-tiba pengen nangis sendiri saat pemikiran itu kembali melintas. Aku bukan bermaksud sok religius, sok suci atau apalah. Hanya… sebagai manusia, hamba, makhluk, aku punya ketakutanku sendiri. Aku nggak tau kapan aku akan mati. Bukan aku takut akan kematian, buatku, meninggalkan itu lebih baik daripada ditinggalkan (dalam konteks apapun). Aku takut… akan apa yang terjadi padaku setelah kematian itu sendiri.

Aku bukan orang alim atau shaleh dengan banyak amal perbuatan baik sehingga pantas masuk surga. Tapi… aku terlalu takut untuk masuk neraka. Sehingga, setidaknya, kalaupun aku belum bisa berbuat baik, aku berusaha untuk tidak berbuat buruk.

Kembali ke masalah pertanggungjawaban. Suatu saat nanti, segala perbuatanku harus aku pertanggungjawabkan. Termasuk tulisan-tulisanku ini. Termasuk segala fiksi dan fanfiksi yang kuposting di sini.

Mampukah aku mempertanggungjawabkannya?

Aku… terlalu takut. Aku nggak yakin tulisanku ini bermanfaat baik. Jangan-jangan, justru sebaliknya. Semua tulisanku ini membawa pemahaman yang salah, membawa keburukan bagi pembacanya. Lalu, bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah nanti? Astaghfirullah….

Aku bukan Helvy Tiana Rossa, bukan Asma Nadia, bukan Darwis ‘TereLiye’, bukan Buya Hamka, bukan… bukan….

Aku… takut, sangat takut. Merasa tersesat. Atau, sebenarnya sudah tersesat? Semakin menulis, aku merasa nilai-nilai yang terkandung dalam tulisanku semakin jauh dari nilai-nilai kebaikan. Nilai kebaikan yang mana? Tentu nilai kebaikan menurut standar Allah.

Aku… takut tidak mampu mempertanggungjawabkan tulisanku di hadapan Allah. Terlalu takut jika semua tulisan ini justru menarikku dalam lembah siksa api neraka.

Aku… takut.

Nau’dzubillah….