Rumah keluarga Yen[1], Chongsapah (Pasir Panjang), Sedau, Singkawang Selatan; 11 April 2012

“Kapan?”

“Dua minggu lagi. Mereka akan datang langsung dari Changsha[2].”

Mama terbatuk kecil, menatap pemuda di depannya dengan sorot lelah.

“Kau sengaja mengaturnya agar Meihui bisa mengikuti UAN terlebih dahulu?”

Pemuda itu hanya mengangguk samar. Lengkungan di bibirnya lebih mirip seringai miris daripada sebuah senyuman. Ekor matanya yang tajam melirik kursi di sudut ruangan. Gadis itu masih tertunduk, menyembunyikan ekspresi wajah dan perasaannya. Sedari tadi, gadis itu memang menolak bersitatap dengannya.


Suara batuk ditingkahi helaan nafas berat kembali terdengar. Membuat pandangan si pemuda kembali terarah pada wanita setengah baya di depannya.

 Kali ini seulas senyum tulus terukir di bibir Mama. “Terima kasih, Fang. Aku tidak tahu apa jadinya urusan ini jika tidak ada kau.”

Sebuah helaan nafas yang terdengar dari sudut ruangan berhasil mengalihkan perhatian mama dari pemuda jangkung yang tersenyum tipis menanggapi ucapan terima kasihnya.

“Mama tidak akan memaksamu jika kau tak mau,” ucap Mama lemah, mencoba membuat kontak mata dengan putri sulungnya.

Gadis berwajah oriental itu bergeming. Ia terus saja menatap kosong lantai papan di bawahnya, seolah ada hal yang menarik di sana.

“Yen Meihui….”

Mendengar nama lengkapnya disebut dengan intonasi lelah membuat gadis itu terpekur semakin dalam.

“Maafkan Mama.”

Sontak si gadis mengangkat wajah, tersentak. Sorot matanya nampak menatap sang Mama, tak percaya bercampur terluka. Perlahan kepalanya mulai bergerak ke kiri-kanan, menggeleng lemah. Bibirnya yang gemetar membuka sejenak, seolah hendak melontarkan suatu kalimat. Namun, sedetik kemudian ia justru beranjak pergi tanpa sepatah katapun keluar dari bibir pucatnya.

“Mei!”

Sosok yang dipanggil justru semakin memperlebar langkah, berderap meninggalkan rumah. Menyusuri jalan gang sempit yang dihimpit rumah-rumah yang nyaris serupa dengan rumah yang baru ia tinggalkan -rumah papan beratap daun nipah berukuran 4 x 6 meter.

Tidak, Ma. Jangan. Jangan memanggilku. Biarkan aku berlari.

Biarkan aku melarikan diri dari masalah ini. Atau setidaknya, biarkan aku berusaha berlari.

Biarkan aku menipu diri. Merasa telah berlari dari masalah. Walau sejatinya, aku tidak beranjak kemanapun.

Biarkan aku berlari, Ma. Sebentar saja. Bukan, kali ini saja. Biarkan aku berlari, kali ini.

Aku janji, Ma. Besok, atau kapanpun nanti. Aku tidak akan pernah berlari lagi.

Setelah ini, aku akan menghadapi semuanya.

Semuanya!

 

“Mei!”

Langkah kaki gadis itu terhenti sejenak. Teriakan Mamanya terdengar samar, disusul suara batuknya yang tak kunjung henti.

“Biarkan dia, Tante. Dia hanya perlu waktu untuk sendirian.”

Suara Yi Fang terdengar jauh lebih samar dari panggilan mamanya. Tapi, justru perkataan itulah yang membuat Meihui semakin mempercepat langkahnya.

Ucapan yang menyakitkan. Seolah waktu akan bisa menyelesaikan semuanya. Seandainya itu benar. Tapi, ya… tak bisa dipungkiri. Ia memang perlu waktu, menyendiri. Waktu untuknya berpikir dan menerima. Menerima semuanya.

Taman Teratai, Singkawang; 21 April 2012

Untuk kesekian kalinya Meihui menghela nafas. Pandangannya yang selama 5 menit penuh menancap pada selembar foto di tangannya akhirnya beralih. Kini, matanya sempurna terarah pada hamparan air di hadapannya. Sore itu, Taman Teratai yang terletak di selatan jantung kota Singkawang terlihat sepi. Hanya beberapa pasang muda-mudi yang nampak asyik bercengkrama, menatap jejeran pegunungan di kejauhan ataupun sekadar mengayuh bebek air di danau. Pemandangan yang membuat Yi Fang dan Meihui berkali-kali mendengus,  membuang muka jengah.

“Ehm. Namanya Zhang Xi Lei. Tapi, kurasa dia tidak akan keberatan kau panggil Gege[3] atau Lei-ge.” Suara berat Yi Fang memecah keheningan.

Meihui bergeming, seolah tak mendengar ucapan Yi Fang barusan. Tak seperti biasanya yang selalu ekspresif, saat ini gadis itu hanya menatap kosong dengan wajah datar tanpa emosi.

Yi Fang menghela nafas panjang, menatap punggung Meihui yang duduk membelakanginya. “Dia… tampan bukan?”

Karena Meihui tetap tidak menjawab, pemuda jangkung itu kembali berusaha memancingnya.“Kau beruntung bisa mengenalnya sebelum menikah lusa pagi. Sekalipun hanya lewat foto.”

Sekali lagi tatapan Meihui beralih. Kali ini ia memutar kepala, mendongak mencari sosok Yi Fang yang berdiri tak jauh darinya. Matanya menyorot Yi Fang dengan pandangan mencela. “Beruntung? Ya. Tentu, sementara amoy[4] lain dibeli oleh kakek-kakek tua peyot bernafsu besar, aku justru dibeli pemuda tampan nan kaya raya. Beruntung, karena dia pasti sudah melihat puluhan atau bahkan ratusan foto amoy cantik, namun dia justru memilihku. Begitu?” tandasnya sinis, sedikit lebih kasar dari yang sebenarnya ia maksudkan.

“Kalau itu yang kau anggap beruntung, ya… aku memang sangat beruntung,” imbuh Meihui singkat, kembali memalingkan muka dari lawan bicaranya.

“Kau menyalahkanku?” tanya Yi Fang dengan intonasi datar dan dingin.

Gadis tersenyum sinis pada hamparan air di hadapannya. “Aku bukannya tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi padaku. Sejak usaha Papa bangkrut lima tahun yang lalu, saat Papa meninggal setahun yang lalu dengan mewariskan setumpuk hutang. Saat melihat Mama yang bekerja keras dan mengabaikan pneumonia[5] yang diidapnya. Saat melihat adik-adikku merengek meminta uang sekolah. Aku tahu, cepat atau lambat ini akan terjadi,” ucapnya pelan, mengerling foto calon suaminya yang sejak tadi ia pegang.

“Kenapa tidak sekalian kau tambahkan, sejak kau dan enam adikmu mengerti bagaimana rasanya  kelaparan? Huh?” potong Yi Fang, tak kalah sinisnya dari Meihui.

Alih-alih marah atau tersinggung, Meihui justru tertawa getir mendengar tanggapan Yi Fang. Diam-diam, pemuda itu menghela nafas panjang. Pandangannya sejak tadi tak lepas dari sosok gadis itu. Bagaimanapun, ia lebih suka Meihui yang marah-marah daripada Meihui yang menertawakan nasibnya seperti ini.

“Yi Fang-ge,” panggil Meihui lirih, memecah kesenyapan yang sempat mengambang.

Pemuda itu berdehem pelan, sekadar memberi tanda kalau ia mendengar panggilan Meihui. Entah mengapa, mendengar gadis itu memanggilnya membuat jantungnya berdebar lebih keras dan cepat.

“Sejak kapan Gege jadi makelar amoy?” Pertanyaan yang dilontarkan Meihui lebih terdengar seperti tuntutan.

Yi Fang mendengus kecil. Pemuda yang sedari tadi berdiri itu akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Meihui, duduk di tepian danau.

“Ini pertama dan terakhir kalinya,” sahutnya pelan, nyaris tak terdengar.

Meihui menoleh, mendapati wajah Yi Fang yang tertunduk lesu, tepat di sebelahnya. “Aku, amoy pertama dan terakhir yang Gege jual?”

“Berhentilah bertanya seperti itu. Aku tidak menjualmu! Aku hanya….”

“Memberikan jalan keluar terbaik untukku dan keluargaku. Terima kasih,” potong Meihui cepat. Secepat matanya menghindari tatapan tajam Yi Fang.

Yi Fang merasa dadanya terhantam batu besar, sesak dan sakit. Perlu beberapa saat sampai pemuda itu mendapatkan kembali suaranya, berujar jerih, “Kau punya ide lain? Jalan keluar yang lebih baik? Katakan padaku.”

Meihui menunduk sedalam yang ia bisa, berusaha menyembunyikan air mata yang mulai mengalir. Berusaha mengingkari rasa sakit di tenggorokannya.

“Yen Meihui. Katakan apa yang harus aku lakukan? Kau pikir ini mudah bagiku? Kau pikir aku….” Suara Yi Fang terdengar bergetar menahan emosi.

Keheningan kembali menyelimuti taman. Pasangan terakhir sudah beranjak pergi dari tepi kolam, berjalan bergandengan memasuki salah satu cafe yang berjajar rapi di sekitar danau. Menyisakan Yi Fang dan Meihui yang masih berkutat dengan pikiran mereka masing-masing.

“Fang-ge, benarkah aku boleh mengatakannya? Sekalipun ini sangat tidak mungkin, sangat gila dan sangat memalukan, bolehkah aku hanya sekadar menanyakannya?”

Yi Fang menatap gadis di depannya dengan pandangan tak mengerti, “Apa?”

Bukannya menjawab, gadis itu justru menatap mata Yi Fang dengan sorot kosong.

“Apa, Mei? Kau punya pendapat lain?” desak Yi Fang. Bukan karena rasa ingin tahu. Tapi karena jengah ditatap sedemikan rupa oleh gadis itu.

“Tidak bisakah… kau menikahiku saja?”

Untuk beberapa saat, Yi Fang merasa seluruh indera-nya tidak berfungsi. Pemuda itu tertegun menatap mata gadis di depannya. Mata yang sama sekali kosong. Tak ada ada apa-apa dalam mata bulat hitam pemilik wajah oriental itu. Sempurna kosong.

“Aku hanya bertanya. Aku tahu itu tidak mungkin.” Suara lirih Meihui menyadarkan Yi Fang. Menghempaskannya kembali ke dunia nyata. Menerbangkan angan yang sejenak tadi sempat meliar di benaknya.

“Bolehkah aku sekadar menjawabnya, Mei? Sekalipun itu tidak mungkin terjadi, aku ingin menjawab pertanyaanmu,” balas Yi Fang, berusaha menjaga suaranya agar terdengar tetap normal dan tidak bergetar.

“Ya?”

Rahang tegas Yi Fang mengeras, parasnya seketika mengeruh. “Kalau itu bisa membuatmu bahagia, aku pasti akan melakukannya. Menikahimu….” Yi Fang tidak mampu menyelesaikan ucapannya. Hanya gumaman lirih yang keluar dari mulutnya, membuat sesuatu yang terdengar seperti kata-kata mimpi, gila, melepas tertangkap oleh telinga Meihui.

Pemuda itu nampak menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya, “Sayangnya, Mei. Mimpi tetaplah mimpi. Tidak akan baik jika aku memaksanya menjadi kenyataan. Biarkan saja itu tetap menjadi mimpiku.”

“Tapi, Fang-gege! Aku-”

Yi Fang tersenyum getir, memotong perkataan Meihui. “Kau tidak akan bahagia jika menikah denganku. Menikah denganku sama artinya dengan membiarkan keluargamu tetap dalam keadaannya yang sekarang. Dan aku taruhan, kau tidak akan bahagia jika keluargamu tidak bahagia.”

Meihui tertegun, kedua matanya mengedip beberapa kali. “Gege, tidakkah terbersit dalam pikiranmu? Aku bisa saja memilih menjadi gadis egois dan hanya memikirkan diriku sendiri?”

Decakan tak percaya meluncur dari sela bibir Yi Fang, disusul tawa kecil yang miris. “Kau tak akan mampu melakukannya. Aku mengenalmu, Mei. Lebih dari kau mengenal dirimu sendiri.” Suara pemuda itu terdengar sedikit parau saat mengatakannya.

Meihui sempurna kehabisan kata, tertunduk dalam ketika mendengar alasan pemuda di hadapannya. Hati kecilnya mengakui kebenaran pernyataan Yi Fang. Pemuda yang oleh mama dan papa-nya sudah dianggap sebagai anak mereka sendiri ini memang mengenalnya dengan baik. Keluarga Yen dan keluarga Li bersahabat sejak lama, sejak papa Meihui dan papa Yi Fang masih sama-sama remaja tanggung. Bisa dikatakan mereka tumbuh besar bersama. Hubungan Yi Fang dan keluarga Yen semakin dekat setelah papa dan mama Yi Fang meninggal dalam sebuah kecelakaan dan pemuda itu menjadi sebatang kara..  Bahkan, sebelum pabrik pengolahan karet milik papa Meihui jatuh bangkrut, Yi Fang merupakan tangan kanan papanya.

“Mungkin sekarang kau tega melakukannya, namun kau pasti akan segera menyesalinya. Dan aku tidak akan membuatmu menyesali apapun. Tidak akan pernah,” imbuh Yi Fang pelan. Pemuda itu menangkupkan kedua tangannya di kedua sisi wajah Meihui, menghadapkan wajah pucat si gadis ke arahnya.

Selama beberapa saat pandangan keduanya saling mengunci. Tak ada lagi kata-kata yang terdengar dari bibir keduanya. Seolah mereka tengah mencoba saling mengerti dan memahami melalui cara yang lain. Sesaat kemudian keduanya mendengus bersamaan, serempak memalingkan wajah.

“Pulang?” ajak Yi Fang, beranjak dari duduknya. Pemuda itu menepuk-nepuk bagian belakang celana jeans-nya sembari mengedarkan pandangan. Cahaya jingga mentari nyaris hilang tertelan gelapnya malam. Taman Teratai di pusat kota Singkawang itu semakin ramai. Café-café dan tempat karaoke di sekitarnya semakin penuh dengan pengunjung yang ingin menikmati suasana malam.

Meihui mengangguk pelan, menyetujui ajakan Yi Fang. Gadis itu sekali lagi melempar pandangannya pada bayang samar pegunungan nun jauh di seberang danau. Sulit untuk tidak merasa bahwa ini adalah kali terakhir ia bisa melihatnya. Esok-luas, saat suaminya membawanya ke China, Taman Teratai di Kota Singkawang hanya akan menjadi kenangan. Tergantung kenangan mana yang ia pilih, senang atau sedih.

Rumah keluarga Yen, Chongsapah (Pasir Panjang), Sedau, Singkawang Selatan; 21 April 2012

“Mama sungguh tidak memaksamu, Mei. Kalau kau tak mau, Mama tidak akan menikahkanmu dengan pemuda itu,” ucap Mama perlahan, memperhatikan gerak tangan putri sulungnya yang tengah berkutat dengan setumpuk baju yang harus ia lipat.

“Kita masih bisa membatalkannya. Mama akan minta Fang membicarakannya dengan keluarga Zhang,” imbuhnya saat tidak melihat respon balik dari lawan bicaranya.

Tangan Meihui terhenti sejenak dari aktifitasnya. Gadis itu berdehem pelan sebelum akhirnya menjawab lirih, “Aku tidak terpaksa, Ma. Aku melakukannya karena aku mau melakukannya.”

“Meihui….”

Meihui menggeleng pelan, balik menatap mata sang mama yang mulai basah oleh air mata. “Ma, sungguh, jangan begini. Mama yang Mei kenal adalah seorang mama yang kuat, yang tidak pernah menangis di depan anak-anaknya. Sesulit apapun situasinya, Mama akan tetap tersenyum di hadapan kami,” pintanya lirih, merangkum kedua tangan mamanya dalam telapak tangannya sendiri.

Mendengar perkataan anak gadisnya, air mata mama meluncur begitu saja, membasahi pipi pucat tirusnya. Meihui menghela nafas panjang, memasang senyum terbaik semampunya.

“Mei pernah dengar Papa mengatakan bahwa Mama selalu terlihat cantik, baik saat tersenyum, marah atau menangis sekalipun. Tapi, Ma, aku bukan Papa yang bisa mengatakan hal-hal gombal seperti itu, jadi jangan menangis, Mama jelek kalau menangis,” ucap Meihui sembari menyeka pipi mamanya dengan ibu jari. Gadis itu berusaha menyamarkan sedan tangis yang nyaris terlontar dari tenggorokannya menjadi batuk-batuk kecil.

Mama memaksakan senyumnya mendengar upaya keras anak gadisnya untuk bergurau. Tangan tuanya mengelus lembut rambut hitam panjang anak sulungnya.

“Nah, Mama terlihat cantik jika tersenyum,” puji Meihui tulus. Hatinya yang merah meradang akibat segala hal yang menimpanya akhir-akhir ini sedikit terobati melihat orang yang paling ia sayangi kembali tersenyum.

“Kau juga cantik, Meihui. Anak gadis kebanggaan Mama,” balas sang Mama, mencium puncak kepala anak gadisnya dengan lembut.

Meihui memejamkan matanya sejenak, menahan air mata sekaligus meresapi ciuman hangat mama yang mungkin saja akan menjadi yang terakhir kalinya.

Rumah keluarga Yen, Chongsapah (Pasir Panjang), Sedau, Singkawang Selatan; 23 April 2012 – dini hari

Jiejie[6] tidur saja, biar aku yang menjaga Tao.”

Meihui menoleh ke sumber suara kemudian tersenyum tipis pada pemilik seraut wajah yang mirip dengannya itu. Jika bukan karena garis rahang adik laki-lakinya yang sangat tegas dan alis matanya yang lebih tebal, kedua kakak beradik ini akan sangat sulit dibedakan.

“Tidak apa-apa, Han. Kau saja yang tidur,” tolak Meihui ringan, mengabaikan kedua tangan adiknya yang terulur. Meihui dan Han mendesis bersamaan saat Tao -adik bungsu mereka yang baru berumur 1,5 tahun- mengerang kecil dalam tidurnya. Sudah seminggu ini suhu badan bocah cilik itu tidak normal, demam.

“Mama dan adik-adikmu sudah tidur?” tanya Meihui sembari terus mengayun pelan Tao dalam gendongannya. Bocah kecil itu selalu rewel saat sedang tak enak badan. Satu-satunya cara untuk menenangkannya adalah dengan mengajaknya berjalan-jalan di luar rumah, sekadar mencari udara segar. Lebih tepatnya, menghindar dari kelima kakaknya yang tidur berjejal dalam sumpeknya rumah mereka. Ya, ketujuh kakak beradik itu memang tidur bersama di ruang tengah. Satu-satunya bilik kecil yang ada digunakan oleh mama. Bukan mama yang menetapkan pengaturan tempat tidur itu, melainkan Meihui. Gadis itu tahu pasti mama mereka akan terganggu dan tidak bisa istirahat dengan baik jika harus tidur dengan bocah-bocah lasak.

 Han menjawab pertanyaan kakaknya dengan sebuah anggukan. Tangannya kembali terulur, membelai lembut rambut Tao, membuat bocah itu kembali tenang. “Istirahatlah, Yi-jie[7]. Besok ‘kan kau akan menikah,” saran Han tanpa menoleh pada kakak perempuannya.

“Maaf…. Aku salah bicara ya?” Tanya pemuda tanggung itu saat tidak mendapat tanggapan apapun dari kakaknya.

Meihui tertawa kecil melihat wajah Han yang memias karena merasa bersalah. “Tidak, Didi[8]. Kau justru membuat pernikahanku besok terlihat seperti sesuatu yang sangat normal.”

“Sekalipun Lei-ge itu tampan dan kaya raya, aku tidak suka Yi-jie menikah dengannya.” Han memajukan bibirnya saat mengungkapkan keberatannya itu.

Meihui kembali tertawa geli mendengar gerutuan bocah lelaki berumur 15 tahun itu. Gadis itu mengucak pelan rambut Han sesaat. Hanya sesaat, karena detik berikutnya adik lelakinya itu sudah menjauhkan kepalanya dari jangkauan Meihui sambil menggerutu sebal, “Yi-jie! Aku bukan kucing.”

Keluhan Han justru membuat tawa kakaknya semakin menjadi. Namun tawa itu padam seketika saat pemuda tanggung itu mencelutuk ringan, “Aku lebih suka kalau Yi-jie melanjutkan kuliah saja. Kalaupun mau menikah, nanti setelah mendapat gelar dokter seperti yang selalu Yi-jie inginkan. Itupun bukan dengan Lei-ge, tapi dengan Yi Fang-ge.”

Tangan Meihui yang sudah terulur lebih panjang –hendak kembali mengucak rambut adiknya- seketika membeku di udara. Paras gadis itu sontak dingin, sorot matanya tiba-tiba menjadi kosong.

“Ah…Yi-jie, maaf. Aku salah bicara lagi ya?”

Jiejie….”

Meihui tersentak kaget. Matanya berkedip dua kali, menatap wajah adiknya yang nampak sangat bersalah. “Tidak, Han. Tidak apa-apa,” kilahnya cepat. Secepat ia memalingkan wajah, menghindari sorot mata adiknya yang terlihat penuh pertanyaan sekaligus kekhawatiran. Seharian ini ia berusaha tampil ceria di hadapan mama dan adik-adiknya yang lain, namun di depan Han, ketegaran hatinya menjadi goyah. Sulit sekali rasanya mempertahankan topeng yang dipakainya dan bermain peran di hadapan pemuda tanggung yang polos dan lembut ini.

Jiejie menangis?”

Gadis itu buru-buru menyeka air matanya dengan ujung lengan baju, tersenyum tanggung. “Tidak, Han,” elaknya serak.

Han menghela nafas panjang, “Yi-jie tidak pandai berbohong, apalagi padaku.”

Giliran sang kakak yang menghela nafas panjang, tak mampu membantah apalah. “Mungkin karena terlalu bahagia, sampai tak bisa menahan air mata,” kilah Meihui, masih tidak mau menatap langsung ke manik mata Han.

“Bohong! Jelas-jelas saat ini Yi-jie tidak bahagia!”

Meihui sedikit berjengit mendengar nada bicara Han yang lebih tinggi dari biasanya. Parasnya menjadi keruh, mata beningnya menyorot tajam wajah adiknya yang memerah marah.

Yi-jie, jangan menikah! Kau tidak perlu melakukannya demi kami. Aku anak lelaki tertua keluarga Yen. Aku yang akan menanggung semuanya. A-aku akan berhenti sekolah dan bekerja. Aku tidak suka orang-orang mengatakan kalau Mama menjualmu! Aku tidak rela kau menyandang citra buruk seorang amoy! A-aku… aku… aku….” Han tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Dadanya terasa sangat panas, seolah bisa meledak kapan saja. Tenggorokannya juga sakit bukan main.

“Jangan menyakiti dirimu hanya demi kami,” keluhnya samar. Pemuda tanggung itu menyeka bulir air yang menetes di sudut matanya dengan cepat. Nafasnya memburu satu-dua.

Meihui hanya menatap adiknya dengan sendu, bibir bawahnya mulai bergetar. Han tidak pernah semarah ini, tidak pernah mengeluarkan suara sekeras ini.

“Han-didi….”

Meihui perlu menghela-hembus nafas selama beberapa saat sebelum akhirnya dapat berujar, “Aku akan bahagia, Han. Aku janji. Asalkan kalian-keluargaku bahagia, aku pasti bahagia.”

Yi-jie tidak mungkin bahagia jika menikah dengan orang yang tidak kaucintai,” Keluh Han lamat-lamat, tak berani memandang mata kakaknya yang buncah air mata. Jari-jarinya sibuk bermain dengan tangan kecil Tao. Bocah dalam gendongan Meihui itu tertidur pulas. Seolah tak peduli dengan perdebatan kedua kakaknya.

Meihui menyeka air matanya sendiri, tersenyum lembut, “Aku akan mencintai Lei-ge.”

Jiejie mengatakannya dengan ringan, seolah itu adalah hal yang sangat mudah,” sungut Han tak terima, mendengus kesal.

Meihui tertawa pelan, “Katakan saja itu memang tidak mudah. Tapi aku akan berusaha. Tidak ada yang mustahil asalkan kita berusaha dan tidak menyerah.”

Han menatap nanar sosok kakaknya, mendesah berat.

“Yen Xiu Han.”

Meihui berhasil menarik perhatian adiknya dengan memanggil pemuda itu dengan nama lengkapnya.

“Sepeninggalanku, kau adalah anak tertua keluarga Yen. Kau yang bertanggung jawab untuk menjaga mama dan adik-adik. Berjanjilah, kau tidak akan menyerah. Kau harus melanjutkan sekolah setinggi-tingginya, menjadi orang sukses dengan tetap menjaga nama baik keluarga. Kau tumpuan kami,” ucap Meihui sungguh-sungguh. Nada suaranya sedikit bergetar. Gadis itu memberi penekanan sedemikian rupa pada ‘tumpuan’ kata, membuat Han menggigit bibir bawahnya dengan gugup.

“Mama bilang, keluarga Zhang akan memberikan 30 juta sebagai mahar pernikahan kami. Ditambah dengan 2 juta yang akan dikirim secara rutin setiap bulannya, kuharap itu cukup untuk kalian.”

Han melenguh marah mendengar kalimat kakaknya yang terakhir. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Rahangnya bergemelutuk pelan.

“Jangan menganggap itu sebagai bayaran atas kakakmu. Jangan berpikir terlalu banyak. Jangan pedulikan cibiran orang pada Jiejie. Terserah mereka hendak bilang apa, berpikir bagaimana. Amoy adalah gadis-gadis tekun, pekerja keras dan memiliki pengabdian yang tinggi pada orang tua. Jangan sia-siakan semua yang sudah Jiejie lakukan. Kau harus bisa mengangkat derajat keluarga kita. Jangan biarkan seorangpun merendahkanmu, merendahkan keluarga kita. Aku hanya mengharapkanmu, Han. Hanya kau.”

“­Jie….” panggil Han pelan, berusaha menghentikan kakaknya. Hatinya serasa diremas dan dikucuri asam mendengar kakaknya mengucapkan kata-kata penyemangat dengan sorot kosong.

Meihui tertawa pelan, “kau harus memperluas rumah ini agar Chen dan Ping tidak perlu saling menendang saat berangkat tidur.”

Han  ikut tersenyum miris mendengarnya. Ekor matanya melirik ke dalam rumah, mendapati adik-adiknya yang tidur saling tumpang tindih. Pemuda itu kembali menatap Meihui yang tengah menyenandungkan sesuatu di telinga Tao.

“Aku akan ingat semua perkataan Jiejie. Aku akan membuat mama dan Jiejie bangga padaku. Aku janji,” ungkapnya pelan namun sungguh-sungguh.

Meihui mengangkat wajahnya, membalas tatapan sang adik. Perlahan namun pasti, bibir mereka mengembangkan senyuman. Senyuman menyambut masa depan. Berat memang, tapi akan selalu ada harapan.

Pelabuhan Sedau, Singkawang; 15 Agustus 2012

 

Li Yi Fang.

Yi Fang-ge.

Gege.

 

Terima kasih.

Sungguh terima kasih.

 Terima kasih telah memusnahkan khayalku.

Terima kasih telah menyelamatkan keluargaku.

Terima kasih telah meluluhlantakkan asa ringkih berbalut mimpi milikku.

Terima kasih telah memberi kami jalan keluar dari semua masalah memuakkan ini.

Terima kasih karena Gege yang melakukannya untukku, bukan orang lain.

 

Separuh hatiku menjerit tak terima. Separuhnya lagi kebas.

Bukan, ini bukan salah Gege.

Bukan salah Mama.

Bukan salah mendiang Papa.

Bukan juga salahku.

Sudah tentu bukan salah Tuhan.

 

Ini hanyalah takdir.

Takdir yang ketika aku menggugatnya dengan kata ‘Kenapa?’ maka Tuhan akan dengan ringannya balik bertanya, ‘Kenapa tidak?’

 

Gege.

Bolehkan aku berharap, seorang Li Yi Fang, selamanya, tetap menjadi seorang Gege untuk Yen Meihui?

Aku berjanji, aku akan bahagia.

Dengan begitu, Gege pasti juga akan bahagia.

Bukankah saat itu kau bilang kebahagiaanku adalah kebahagiaan Gege juga?

Sungguh, aku akan bahagia.

 

Yi Fang melipat kembali secarik kertas yang telah ia baca puluhan kali sejak tiga bulan yang lalu. Pemuda itu menghela nafas panjang saat tangannya perlahan menyelipkan kertas tersebut dalam saku jaket denimnya. Pandangannya beredar, menatap keramaian pelabuhan. Sorotnya yang tajam menelisik kapal besar yang bersandar di dermaga.

Gege! Yi Fang-ge!”

Yi Fang melambai riang saat menangkap sosok yang berlari ke arahnya dengan tergesa.

“Astaga! Hati-hati, Han!”  Untung saja pemuda jangkung itu sigap meraih lengan Han sehingga ia tidak sampai jatuh terjerembap mencium beton dermaga.

“Ah! Terima kasih, Ge. Nyaris saja.” Han hanya menyeringai lebar melihat raut Yi Fang yang mengeryit mengkal.

“Kecerobohanmu tak ada bedanya dengan Mei,” keluh Yi Fang pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Han yang mendengar nama kakak perempuannya disebut kembali menyeringai tanggung, bingung harus memberi reaksi seperti apa.

Gege pergi hari ini?” celutuk Han, berusaha memecah kecanggungan yang terbentuk di antara keduanya.

Yi Fang mengeryit, “Iya.”

“Ma-maksudku, Gege yakin? Ehm… kenapa tidak tinggal saja? Sebenarnya, Gege hendak pergi ke mana?”

Sosok yang ditanya hanya menatap Han lekat-lekat, merasa pemuda tanggung itu sebenarnya hendak menyampaikan sesuatu. Hanya saja Han terlalu bingung hendak memulai dari mana.

“Ada apa?” Tanya Yi Fang lugas, malas berbasa-basi.

Han mengedipkan matanya, menelan ludah gugup. “Mama bilang, sama seperti saat Papa dulu meninggal, kau tidak perlu pergi. Ehm… sekalipun Meihui-­­jie­ sudah tidak di rumah, eh, maksudku sudah pergi…. Euh, sudah… menikah, kami tetap menganggapmu seperti keluarga sendiri. Gege, tidak perlu pergi seperti ini. Semuanya tetap sama, Ge.”

Yi Fang tersenyum getir. Matanya sempurna terarah ke cakrawala, seolah ada sesuatu di hamparan langit biru yang sangat menarik perhatiannya. Pemuda itu berdehem kecil, menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans-nya.
“Hidup selalu berubah, Han. Tak ada yang selalu sama. Tak ada yang tetap.”

Han menggaruk bagian belakang lehernya yang sebenarnya tidak gatal, menyeringai bingung.

Kapal besar yang merapat di dermaga mulai mengeluarkan suara ‘phongg-phongg’ dengan keras, memanggil semua penumpang untuk segera naik.

Yi Fang berdehem kecil, memperbaiki letak ransel di punggungnya. Pemuda jangkung itu menepuk pelan bahu Han, tersenyum berpamitan.

“Yi Fang-ge! Hati-hati! Jangan lupa berkirim kabar!”

Pemuda jangkung itu melambaikan tangannya tanpa menoleh sedikitpun. Kaki panjangnya melangkah mantap menaiki anak tangga kapal. Kedua tangannya mengepal erat, seolah menggenggam kuat keteguhan hatinya.

Sorot mata Han terus mengikuti punggung Yi Fang hingga sosok jangkung itu menghilang di tengah kerumunan orang-orang yang sibuk dengan urusan masing-masing. Dengung antusias terdengar mengambang di pelabuhan. Beberapa penumpang yang tadi turun dengan kapal yang akan membawa pergi Yi Fang terlihat gelisah menunggu jemputan. Beberapa penumpang yang akan berangkat bersama Yi Fang nampak gelisah, takut tertinggal kapal. Hidup selalu begini, ada yang datang, ada yang pergi. Karena setiap akhir adalah awal yang baru.

Pustaka :

http://www.sedau.org/

http://agnesdavonar.gerychocolatos.com/?p=687

http://www.berita2.com/daerah/kalimantan/6203-perkawinan-unik-amoy-singkawang.html

http://fiksi.kompasiana.com/prosa/2010/07/10/aku-si-amoy-singkawang-yang-malang/

http://id.wikipedia.org/wiki/Marga_Tionghoa_umum

Footnote:


[1] Marga; nama keluarga (Pinyin : Yán, Wade-Giles : Yen)

[2] Ibukota Provinsi Hunan, Republik Rakyat Cina.

[3] Panggilan untuk kakak lelaki (Mandarin)

[4] Sebutan untuk gadis yang beranjak remaja dan belum menikah (Singkawang)

[5] Paru-paru basah

[6] Panggilan untuk kakak perempuan (Mandarin)

[7] Pannggilan untuk kakak perempuan pertama (Mandarin)

[8] Panggilan untuk adik laki-laki (Mandarin)