Itje Noerbaja & Kang Djalil (Berjuta Rasanya 2)

by Darwis Tere Liye on Tuesday, 31 July 2012 at 17:40 ·

Itje Noerbaja & Kang Djalil

”Itje!” Soeara nyonya (mevrouw) Rose terdengar dari dalam roemah. Nampak dari gelagat, nyonya sedang marah besar.

”Itje!!!”

Demi soeara matjam meriam meletoep doea kali itoe, Itje yang sedang asyik ngoepil sambil mengelap jendela katja kamar depan langsoeng poetjat pasi, bergegas menghentikan gerakan tanganja, menyampirkan kain lap di bahoe, berlari-lari kecil masoek.

”Itje!” Nyonya Rose seketika melotot, tidak pakai toenggoe-toenggoe Itje pasang posisi mendengarkan, ”Kamoe urang mahu kertja atau tidak, hah? Kamoe urang betjus kerdja atau tidak, hah? Lihat! Kamoe tahoe apa itoe, Itje?”

Itje gemetar mendekat, melihat ke arah teloendjeok nyonya, ”Iya, Nya.”

”Itu apa?”

”Eh, itoe boekannya medja makan, Nya?” Itje ragoe-ragoe, malah bertanya balik, polos.

”Dasar koewe baboe kurang adjar, tidak poenja sopan santoen, anak ketjil saja tahoe itoe medja makan.” Nyonya persis kakinya seperti habis ditimpa batu coelekan tiga kilo, wadjahnya merah padam menahan kesal, ”Kamoe lihat di atas medjanya, Itje. Kotor, hah. Mata kamoe ditaroeh di mana? Kenapa tidak segera dibersihkan?”

”Tadi soedah Itje bersihkan, Nya. Soenggoeh” Itje menelan ludah, tidak mengerti kenapa meja itu kotor lagi.

”Verdomme, Itje,” Nyonya melotot, ”Djangan banjak tjakap, tjepat kamoe lap bersih-bersih. Nanti malam, Meneer Van Houten poelang, semoea haroes terlihat bersih dan rapi.”

”Meneer poelang, Nya? Soenggoeh?” Wajah bulat Itje langsung sumringah, hendak berseroe senang demikian, tapi dia beoroe-boeroe menoetoep moeloetnya sebeloem kalimat itoe keloear, bergegas mengelap medja.

”Saya haroes ke roemah Mevrouw Elizabeth siang ini. Kamoe pastikan semoe soedah beres sebelum poekoel empat sore, paham?”

”Paham, Nya.”

”Dan kamoe urang poenya teman baboe di dapoer, pastikan masakan kesoekaan Meneer siap sebelum peokoel enam nanti malam, paham?”

”Nggih, Nya.”

”Bambang!!” Nyonya soedah meneriaki baboe lain, toekang kendali kereta koeda, Nyonya melangkah anggoen ke loear roemah, meninggalkan Itje yang menganggoek-anggoek seperti orang-orangan sawah.

”Bambang!” Suara nyonya terdengar melengking, ”Dasar inlander pemalas, kemana poela katjung satoe itu. Soedah dari tadi pagi disoeroeh bersiap, djangan-djangan malah tidoeran di kadang koeda.”

Itje soedah tidak terlalu mendengarkan omelan nyonya. Dia soedah asyik ber-hem-hem bersenandoeng lagoe, sambil mengelap medja makan agar terlihat kinjtlong. Ini kabar hebat punja, goemam Itje dalam hati, riang. Kalau Meneer poelang malam ini, berarti Kang Djalil joega ikoet poelang. Kang Djalil oh Kang Djalil. Itoe Kang Djalil siapa lagi kalau boekan tjenteng nomor satoe Meneer Van Houten. Kemana Meneer pergi, tidak akan pernah tanpa Kang Djalil.

Kang Djalil tambatan hati Itje.

***

Itje adalah gadis moeda, mekar dioesianja yang baroe enam belas tahoen, dia menjadi baboe di roemah Meneer Van Houten sejak oesia tiga belas. Iboenya adalah katjoeng lama keloearga itoe, belasan tahoen mengabdi, hingga tiga tahoen laloe, terdjadi penyerboean ke roemah besar itoe. Iboenya ikoet serta mendjadi korban. Menoeroet tjerita punja versi tjenteng rumah yang selamat, adalah rombongan maling bersendjata yang menyatroni malam-malam. Menoeroet tjerita serdadoe Belanda yang ikoet memeriksa, adalah inlander pemberontak yang menyerboe.

Itje terlaloe kecil oentoek mengerti, lebih banyak takoetnja, yang dia tahoe, selain beberapa keloearga dekat Meneer ikoet mendjadi korban, joega tewas beberapa baboe termasoek iboenya. Sedih betoel Itje melihat Iboenya meninggal. Tidak henti dia menangis menyeka pipi.

Selepas kejadian itoe, Nyonya Rose, istri Meneer, memasang pengoemoeman mencari baboe baroe, dan entah karena kasihan, atau memang boetoeh, Itje yang selama ini tinggal bersama bapaknya di roemah boeroeh perkeboenan teh milik Meneer Van Houten, akhirnja disoeroeh bantoe-bantoe di rumah Meneer.

Begitoe djoega Meneer Van Houten, sedjak kedjadian mengenaskan itoe, memoetoeskan oentoek merekroet lebih banyak tjenteng. Salah-satoenya adalah Djalil, pendekar moeda dari Kramat Djati. Oesia Djalil baroe doea poeloeh saat direkroet, tapi karena kesaktian silatnya tinggi, itoe Djalil lantas dipanggil Kang oleh belasan centeng lainnya, termasuk oleh Meneer Van Houten yang kemudian mengangkatnya sebagai pengawal nomor satoe. Lancar betoel karir Djalil di roemah besar itu, mendjadi orang kepercayaan Meneer.

Meski masih moeda, repoetasi Djalil loear biasa. Menoeroet bisik-bisik baboe dan tjenteng lainnya, Djalil bersedia memboenoeh siapa sadja asal dibajar segepok oeang kompeni, atau bersedia menjaga apapun asal disoempal dengan itoe kantong emas. Djangan tjoba-tjoba mengadjaknja bitjara, salah kata, alamat golok besar ditjaboet dari pinggangnja. Kalau berpapasan dengannja, jangan mengangkat wajah bersitatap, tersinggoeng sedikit itoe pendekar moeda, alamat poekoelan silat dikirim, dan bersiaplah setidaknya pergi ke Mak Oeroet tiga hari oentoek mengoeroet patah toelang.

Sedangkan Itje, boekan perkara moedah bagi anak perempoean oesia sebelas tahoen saat pertama kali bekerja di roemah besar. Tidak sekali doea Itje mengoendang masalah dan amoek besar Nyonya Rose. Beroentoeng Itje gadis yang radjin bekerja, serta poenja riwajat soal iboenya yang tewas itoe, djadi walaupoen sering terlaloe polos, menyebalkan, Nyonya Rose tidak sampai hati tega memecatnja.

Hari pertama kerja, persis saat Nyonya Rose mengoendang nederlander, ondernemer, toean tanah dan baroen Eropah lainnja, mengadakan itoe djamoean makan malam untuk orang-orang penting, sekaligus peringatan berkaboeng ituoe kedjadian soeram beberapa minggoe laloe. Dasar Itje masih gadis ingoesan, saat diteriaki, disoeroeh baboe senior lainnya menghidangkan soep bening ke meja makan, Itje polos tanpa tanya membawa nampan mangkok kobokan.

“Mevrouw Rose, ini soep bening apa, ya?” Salah-satu isteri toean tanah berdecap-decap mencicipi itu air di dalam mangkok, wadjah itu nyonya terlihat bingoeng.

“Rechts, ini rasanya eh, eh, menarik sekali Mevrouw Rose.” Nyonya nederlander lainnja tidak maoe ketinggalan berseroe dari seberang meja. Sebenarnja nyonya nederlander, isteri dari seorang kapiten ini hendak bilang rasanja tidak beda dengan air sadja, tapi karena dia soengkan dibilang kampoengan, djarang bergaoel ikoet makan malam gaya kerajaan, maka poera-poera ikoet memasang wadjah antoesias.

Nyonya Rose yang asyik ngobrol dengan tamoe di sebelah menoleh ke seberang, melihat tamoe-tamoenja lainnja sedang menyendok mangkok ‘soep bening’, melirik nampan Itje, baroe sadar kalau itoe baboenya telah menghidangkan air kobokan sebagai appertizer. Merah soedah wajah Nyonya Rose, melotot ke arah wadjah Itje yang tanpa dosa masih terbungkuk-bungkuk membagikan sisa mangkok di atas nampan.

“Wetenswaardig, ini soep bening menarik sekali.” Di seberang lain, isteri toean tanah lainnya lebih doeloe berkomentar, “Mevrouw Rose pastilah punja resep spesial ini aseli dari Itali? Atau Paris?”

“Boekan Itali atau Paris Mevrouw Elizabeth, ini pastilah resep spesial dari Monaco.”

Wadjah menggelemboeng Nyonya Rose, yang serba salah, setengah marah bercampur setengah malu, segera terlipat, demi mendengar arah itoe percakapan, dia pura-pura anggun mengangkat tangannja, menganggoek gaja khas bangaswan nederlander, “Ah, itoe hanja resep sederhana milik keloearga. Tidak spesial.”

Oh my God, beroentoenglah Itje, di doenia ini, terkadang gengsi serta ikoet-ikoetan mengalahkan kampoengan, dan djelas sekali gengsi nyonya-nyonya nederlander, toean tanah dan baroen Eropah itu terlalu tinggi walau oentoek mengakoei kalaoe di mangkok itoe hanya air putih biasa. Djamoean makan malam itoe berdjalan lancar-lancar sadja, batal djadi peristiwa memaloekan. Nyonya Rose poenja wadjah tetap bisa joemawa.

Tapi sejenak saja Itje selamat, lepas kereta koeda pergi dari halaman, membawa tamoe-tamoe poelang ke roemah masing-masing, Nyonya Rose matjam radio roesak mengomel panjang lebar di dapoer. Berteriak-teriak, menoenjoek-noenjoek djidat Itje. Bilang, dasar inlander bodoh, baboe doesoen, di depan baboe-baboe lain yang lebih senior, dan beberapa tjenteng yang kebetoelan ikoet menoempang makan. Itje menoendoek menahan tangis, kasihan sekali melihat Itje, gadis beroesia tiga belas tahoen dimarahi nyonya nederlander. Dia soenggoeh tidak tahoe kalau itu mangkok air kobokan. Bagi gadis kampoeng boeroeh perkeboenan teh, mangkok air kobokan itoe amat bagoes, Itje pikir itu pastilah soep bening.

Tidak coekoep kena omel Nyonya Rose, lepas Nyonya kembali ke roeang depan, hendak masoek kamar istirahat, giliran baboe lain siboek mentertawakan Itje kecil.

Saat itoelah cinta mereka bersemi, pembaca yang boediman. Ketika Djalil  tiba-tiba memoekoel meja, lantas berseroe marah pada itu semua baboe dan tjenteng anak boeahnja, “Apa jang kalian tertawakan, hah? Apa jang kalian tertawakan?”

Djalil djaoeh dari berwadjah tampan, di wadjahnya joesteroe ada doea goerat bekas loeka besar, wadjahnya kalau tak patoet disebut seram, terlihat amat kasar. Badannya kekar, tangannya koeat, soearanya serak tegas, terdiam soedah seisi dapur itoe, menoleh ke arah Djalil.

“Kalian senang mentertawakan bangsa sendiri, hah?” Djalil berdiri, mukanya masam, “Dia dimarah-marahi bangsa lain, direndahkah hanja karena salah membawa mangkok soep, dianggap baboe bodoh, tidak poeas, sekarang giliran kalian mentertawakannja?”

Baboe-baboe dan tjenteng menelan loedah.

“Dasar bangsa tidak tahoe maloe. Boekannya membela bangsa sendiri, malah dihina.” Djalil melangkah mendekati Itje.

Tjenteng nomor satoe itoe meraih poendak Itje ketjil, menepoek-nepoek, lantas berbisik, “Djangan dipikirkan, Itje. Kamoe lebih berharga dibanding semoea baboe di sini, bahkan sebenarnja, bagikoe, kamoe lebih berharga dibanding nyonya-nyonya koempeni yang kamoe lajani tadi.”

Itoelah cinta, pembaca jang boediman, malam itu, Itje ketjil bisa melihat hati Djalil yang sesoenggoehnya. Hati jang lemboet dan tampan. Dia menghapoes bisik-bisik di dapoer atau kamar baboe jang bilang, pemuda seram ini adalah tjenteng paling menakoetkan seloeroeh Batavia.

Itje ketjil menyeka air mata di pipi, menganggoek, menatap Djalil yang melangkah di bingkai pintoe dapoer, meneriaki anak boeahnya agar bergegas pergi.

***bersamboeng

**lambat sekali menulis naskah ini, keburu maghrib😦

Bagian Ketiga “Itje Noerbaja & Kang Djalil” (berjuta rasanya 2)

by Darwis Tere Liye on Wednesday, 1 August 2012 at 09:57 ·

Doea pekan sedjak ituoe kabar berita djamoean makan malam tiba, roemah Meneer Van Houten siboek boekan kepalang. Soedoet-soedoet roemah dibersihkan, kayoe-kayoe lapoek diganti, tiang-tiang disikat soepaya kincloeng. Djangan tanja tegel-tegel, soedah mengkilat, koecing lewatpoen bisa sambil bertjermin. Dan djangan tanja, soeara berdentum matjam meriam meletup Nyonya Rose lebih sering terdengar di langit-langit roemah, dan siapa lagi jang paling sering diteriaki, kalau boekan Itje.

“Itoe pot boenga tidak enak dipandang mata. Ganti!” Satu tangan Nyonya menoenjoek, satu tangan lagi di dagoe, berpikir apalagi jang koerang pas.

Itje menganggoek, tersengal-sengal masoek kembali lima menit kemoedian menjeret-njeret pot lain.

Nyonya menggeleng, “Tetap tidak enak dipandang mata, Itje. Terlaloe mentjolok, norak, kampoengan. Ganti.”

Itje menganggoek, menjeret pot itu keloear, memilih pot lain, masoek kembali soesah pajah.

Nyonya menggeleng, “Itoe boenga dibentji Mevrouw Coen, Itje! Kamoe tidak tahoe apa? Ganti!”

Itje menganggoek, mana poela dia tahoe kalau Mevrouw Coen bentji boenga melati, di kampoengnja boenga ini malah djadi hiasan konde, Itje menggeroetoe dalam hati, kembali tersengal menjeret pot.

Nyonya menggeleng kesal, “Ganti, Itje, boekan jang itoe, kamoe orang tjari jang lebih bagoes. Jang itu warna koeningnya terlaloe soeram. Ini makan malam dan pesta dansa, boekan pemakaman.”

Adalah sebelas kali lebih Nyonya Rose berseroe, “Ganti!” “Ganti!” dan “Ganti!” memboeat Itje matjam setrikaan besi diisi arang panas, bolak-balik di atas pakaian Meneer jang sedang disetrika, hingga akhirnja pot kedoea belas, Nyonya Rose berseroe, “Excellence! Excellence!” Wadjah Nyonya Rose terlihat senang, “Nah, itoe pot boenga soedah pas betoel dengan loekisan di atasnja.”

Itje menjeka peloeh di dahi, bergoemam bingoeng dalam hati, oentoek kesekian kalinja tidak pertjaya dengan apa jang baroe sadja dia alami. Itje tidak pernah paham, di doenia ini kadang gengsi dan norak itoe djaraknya hanja satoe mili. Fashion dan kampoengan itu bedanja hanja sedjari. Sebenarnja tadi, soedah habis itoe pot boenga di depan, tidak ada jang tjotjok, poesing haroes mentjari kemana lagi, Nyonya Rose tetap tidak poeas, diteriaki teroes agar bergegas, Itje akhirnja mengambil pot pertama jang disoeroeh ganti.

Bagaimana moengkin Nyonya Rose tidak tahoe kalau itu pot boenga jang pertama tadi? Itje menjeka lagi keningnja, ini persis seperti lawakan keliling kampoeng itoe. Nyonya Rose soedah berkeliling senang, mengomeli baboe lainnja.

Loepakan sadja, Itje menggeroetoe dalam hati, ini soedah poekoel lima sore, saatnja dia bergegas kembali ke kamar, sebentar lagi djadwal makan malam Meneer Van Houten, ada banjak pekerdjaan, dan jang lebih penting, sebentar lagi Kang Djalil akan menemoeinya di dapoer. Itje tersipoe sendiri membajangkannya, mentjium oejoeng badjunya, hoeek, senjumnja hilang, Itje boeroe-boeroe melangkah pergi, bekerdja seharian memboeatnya loepa bau ketiaknja soedah tidak ketoeloengan, saatnja mandi. Dia haroes terlihat tjantik dan wangi di depan Kang Djalil, boekan?

***

Malam ini, tinggal doea hari lagi itoe djamoean makan malam. Bisa dibilang kerdja keras Nyonya Rose patoet diatjoengi djempol—meskipoen jang bekerdja keras tentoe sadja baboe-baboe dan katjoeng rendahan.

Lihatlah, bahkan halaman belakang roemah dipenoehi oleh lampoe-lampoe teplok, memboeat indah soeasana. Joega halaman depan, pagar roemah, semoeanja meriah, terang. Apalagi di roeang makan, roeangan paling loeas, Nyonya Rose bahkan memasang lampoe petromaks besar model terkini, itoe lampoe dibawa langsoeng dari Malaka, lagi trend berat di sana, konon digoenakan gedoeng-gedoeng pertoenjoekan dan tempat bangsawan berdansa.

Sementara Nyonya Rose makan malam bersama Meneer Van Houten, senang membayangkan djamoean hebat doea hari lagi, membitjarakan tentang gaun dansa jang akan dipakainja, setelan netjes mahal Meneer jang baru datang dari London. Sementara itoe, Itje joega sedang bertemoe dengan Kang Djalil di balik pohon beringin, membitjarakan hal penting, mendjaoeh dari baboe lain.

“Kamoe djaga baik-baik botol itoe, Itje. Itoe botol berisi racoen mematikan, soesah sekali didapat.” Kang Djalil berbisik.

Itje gemetar menangkoepkan djemari, menggenggam botol, menganggoek. Ketjil sekali botol ini, tapi membajangkan akibatnja, besar sekali kengerian jang muntjul di wadjah Itje.

“Ini pertemoean kita terakhir kali sebelum loesa malam djamoean itoe diadakan. Kamoe ingat apa jang haroes dilakoekan?” Kang Djalil menatap Itje penoeh penghargaan.

Itje mengganggoek, keningnja berpeloeh, padahal oedara malam terasa dingin.

Hening sedjenak di balik pohon beringin.

“Akoe takoet, Kang.” Itje berbisik.

“Tidak ada jang perloe ditakoetkan, Itje. Semoea akan berdjalan sesoeai rentjana. Hanja tiga hari dari sekarang, di pagi harinya, serdadoe kompeni baroe menjadari kalau seloeroeh petingginja telah mati binasa. Governoer djenderalnya kita tahan. Persis di hari keempat, sisa-sisa pasukan pemberontak akan menjerbu Batavia, mereboet benteng-benteng kompeni, membangoen kembali kedjayaan Jayakarta. Di hari kelima, bangsa kita telah bebas dari pendjadjah, bebas dari penghinaan mereka. Di hari ke enam, akoe akan mendatangi bapakmoe, melamarmoe, Itje. Dan di hari ke toejoeh dari sekarang, kita akan menikah, mendjadi soeami, isteri jang berbahagia.” Kang Djalil tersenyum menjakinkan.

Itje menghela nafas pelan, berusaha ikoet tersenjum, itoe soenggoeh rentjana indah.

“Tapi, tapi akoe tetap takoet, Kang.”

“Djangan takoet, Itje. Djangan biarkan ketakoetan datang menjergap hati.” Kang Djalil berbisik tegas.

Hening lagi sedjenak di balik pohon beringin.

“Kamoe haroes tahoe, kamoe gadis jang pemberani Itje, kamoe soenggoeh gadis jang pemberani. Apa mereka bilang, Kang Djalil, tjenteng paling berani di Batavia, Kang Djalil, tjenteng paling djago, tidak takoet mati. Mereka soenggoeh keliroe, sesoenggoehnya, Itje, kamoe oranglah soember keberaniankoe. Kamoe oranglah jang memberikanku semangat oentoek meneroeskan rentjana ini. Djadi djangan takoet, Itje, demi akoe, Kang Djalilmoe.”

Gadis beroesia enam belas tahoen itu mengangkat kepalanja, menjeka pipinja jang basah oleh air mata. Beloem pernah dia disanjoeng begitoe tinggi. Apalah artinja dia, hanja baboe rendahan, tapi malam ini, tambatan hatinja, tjenteng kasar paling ditakoeti di seloeroeh Batavia, telah memoedjanja begitoe tinggi. Mendjanjikan banjak hal.

“Aku, aku takoet kehilangan Kang Djalil.” Itje berseroe lirih.

Kang Djalil tersenyoem lemboet, menepoek-nepoek bahoe Itje, “Akoe akan baik-baik sadja, Itje. Kita akan baik-baik sadja. Kalaupoen hal boeroek itoe terdjadi, maka itoelah harga sebuah perdjoeangan. Tjinta soetji kita haroes toendoek pada itoe tjinta jang lebih besar. Demi kemerdekaan bangsa ini, demi kebebasan tanah air kita. Akoe, kamoe orang, kita semoea haroes bersedia mengorbankan djiwa raga oentoek itoe. Demi anak tjutju kita. Demi hidoep masa depan jang lebih baik. Tjinta sutji kita tidak ada apa-apanya dibanding itoe semoea. Kamoe paham, Itje?”

Itje menganggoek, setetes air matanja jatoeh.

“Itje mentjintai Kang Djalil.”

“Kang Djalil joega mentjintai, Itje.”

Malam itu, wahai pembatja jang boediman, empat puluh delapan djam sebeloem aksi paling heroik jang pernah ada di tanah Batavia. Malam itu, empat puluh delapan djam sebelum pengorbanan gadis moeda bernama Itje Noerbaja. Sedjarah memang loepoet mentjatatnja, tidak ada jang tahoe, tapi tjerita ini akan membekukannya.

***bersambung

Bagian ke empat: “Itje Norbaja & Kang Djalil” (Berjuta Rasanya 2)

by Darwis Tere Liye on Thursday, 2 August 2012 at 09:06 ·

Tidak ada jang mentjolok doea hari berlaloe, selain itoe koki nomor wahid akhirnja tiba. Laki-laki parlente nan netjes dari Paris, oesianja baroe tiga poeloehan, perloe empat kereta koeda hanja oentoek membawa peralatan memasaknja sadja, beloem lagi pakaian dan keperloean dia sendiri. Tapi itoe boekan masalah, Nyonya Rose berseroe-seroe joemawa, menjiapkan apapoen keboetoehan. Sehari sebeloem djamoean, bahkan djadilah itoe dapoer disoelap sedemikian roepa sesoeai itoe selera koki nomor wahid.

Doea hari terakhir, Itje lebih banjak diam, tidak menanggapi itoe omelan Nyonya Rose jang aneh-aneh, lebih banjak bekerdja tanpa bersenandoeng ataupoen mengoepil. Sebenarnja Itje ingin lebih sering bertemoe Kang Djalil, tambatan hatinja, tapi Kang Djalil siboek, lebih sering mengurus keperluan Meneer Van Houten di luar—dan boleh jadi joega mengoeroes rentjana penyerboean itoe, tidak patoet dia orang menganggoe Kang Djalil-nja. Nampaknja betoel, itoe pertemoean saat Kang Djalil menjerahkan botol ratjun menjadi pertemoean terakhir mereka.

Botol ratjun itoelah jang memboeat Itje lebih banjak diam. Di kamar baboenja jang sempit, tidak coema sekali Itje menatap botol itoe, gemetar tangannja mengeloes, menghela nafas pandjang. Apakah dia tega meratjuni Meneer dan Nyonya Rose? Itje boeroe-boeroe mengoesir pikiran itoe. Kang Djalil pasti tidak soeka dia berpikir matjam-matjam. Di luar kamar terdengar suara koetjing menjenggol tempat sampah, Itje bergegas menjambar itoe botol ratjun, menggenggamnya erat-erat, memasoekannja ke dalam saku, nafasnja tersengal, takoet sekali ketahoean oleh tjenteng atau serdadoe lain jang bisa memboeat rentjana Kang Djalil berantakan.

Saat bekerdja, botol ratjun itoe selaloe dibawanja, dia takoet ada baboe lain jang tidak sengadja menemoekan itoe botol di kamarnja. Berkali-kali memegang sakoe, memastikan itoe botol tidak jatoeh atau tertinggal. Berkali-kali poela itoe Itje menghela nafas, beroesaha menenangkan diri. Djadi mana sempat dia nyeletoek atau mendjawab polos omelan Nyonya Rose.

Apalah daja, Itje tetaplah gadis baroe beroesia enam belas tahoen, satoe-satoenya jang memboeat dia tabah melewati doea hari terakhir, apalagi kalau boekan tjinta sutjinya pada Kang Djalil. Demi itoe semoea dia rela mengorbankan diri.

***

Pembatja jang boediman, siap tidak siap, mau tidak mau, misteri waktoe selaloe begitoe, akhirnja djamoean makan malam itoe tiba. Malam itoe, diantara hari-hari tahoen 1622, roemah besar Meneer Van Houten terlihat bertjahaya.

Kalau ada jang sedang berdiri di atas mercu suar pelaboehan Soenda Kelapa atau menara benteng kompeni, pastilah dia bisa melihat tjahaya gemerlap dari roemah jang terletak di selatan Batavia itoe.

Sedjak poekoel lima, satoe persatoe tamoe oendangan hadir menoempang kereta koeda. Ketepak, ketepok ladam menimpa djalanan terdengar ramai berirama, moesim kemarau, debu berterbangan. Setiap ada kereta koeda memasoeki halaman, gesit itoe para katjoeng depan menjamboet, terboengkoek-boengkoek memboekakan pintoe, dan nederlander, toean tanah, atau baron eropah penoeh gaja, berpakaian netjes nan mahal, toeroen dari kereta, menepoek-nepoek setelan dari deboe. Sementara katjoeng soedah membawa itoe kereta koeda parkir rapi.

Djamoean makan malam masih doea djam lagi, para Mevrouw jang datang lebih awal dengan anggoen diadjak berkeliling roemah oleh Nyonya Rose, jang dengan senang hati menjombongkan koleksi loekisan, permadani, pot-pot antik, dan barang hiasan mahal miliknja. Sementara Meneer Van Houten mengadjak Meneer-Meneer bertjakap-tjakap ringan di beranda sambil berdiri, tertawa sopan khas bangsawan saat ada jang melontarkan leloecon.

Poekoel enam lewat tiga poeloeh, hampir semoea tamoe penting telah hadir. Beberapa kapiten nederlander ikoet hadir, dan poeloehan serdadoe lainnja memenoehi halaman roemah. Sementara di dalam, Nyonya Rose sedang asjik mendjelaskan siapa jang memasak menoe malam ini, koki nomor wahid dari Paris.

“Ah, syukurlah Mevrouw Rose,” Salah-satu istri toean tanah berseroe memotong—terlihat sekali dia sirik dan tidak soeka dengan kemegahan atjara djamoean makan malam ini, “Setidaknja kalau begitoe, soep beningnja akan jaoeh lebih lezat dibanding soep bening resep keloearga Mevrouw Rose tiga tahoen laloe.”

Nyonya Rose poera-poera tertawa anggoen menanggapi sindiran itoe, mengangkat tangannja pada posisi sempoerna, “Tentoe sadja Mevrouw Chaterine, tentoe sadja. Hanja lidah orang-orang terhormat sadjalah jang bisa merasakan spesialnja itoe soep, apalagi djika lidah aseli ketoeroenan darah bangsawan. Oh well, maksoedkoe, lidah kita semoea.”

Nyonya-nyonya lain demi sopan santoen terhadap toean roemah ikoet tertawa. Padahal djelas-djelas Nyonya Rose sedang menjindir Mevrouw Chaterine, wanita eropa biasa jang mendapatkan gelar kebangsawanan karena pernikahan. Di doenia ini, entah itoe di kalangan ningrat atau orang awam, entah itoe di tempat-tempat megah nan mahal atau gang betjek nan bau, oeroesan sombong menjombong dan saling merendahkan sama bentoeknja, hanja beda kelasnja.

Poekoel toedjoeh koerang lima, terdengar soeara terompet dari loear. Nyonya Rose langsoeng berseroe riang, gerakan tangannja jang sedang menjdelaskan salah-satu koleksi tembikarnya terhenti, tamoe paling penting telah tiba. Joega Meneer Van Houten, dia menganggoek takjim, minta idjin keloear menjamboet langsoeng tamoe jang paling akhir tiba.

Kereta koeda paling bagoes di Batavia saat itoe merapat di depan beranda, katjoeng-katjoeng demi melihat siapa jang datang, lebih terboengkoek lagi memboekakan pintoe. Dan ditimpa cahaja lampoe, toeroenlah itoe governoer djenderal kompeni, wadjahnya terlihat gagah, koemisnja melintang, badannja tinggi besar, dengan pakaian governornja jang khas itoe, tidak loepa satoe pistol di pinggang, dan satoe pedang pandjang dalam sangkoer di sisi lainnja.

Welkom, Meneer Coen.” Meneer Van Houten berseroe menjamboet.

Mereka berdjabat tangan kokoh satoe sama lain, tersenyoem satoe sama lain.

Goede avond, Mevrouw Rose.” J.P. Coen pindah menjapa.

Dit is een grote eer, Meneer Coen.” Nyonya Rose seperti soesah bernafas karena perasaan senang.

“Seseonggoehnja, saja jang merasa terhomat, Mevrouw Rose.” J.P. Coen, tentoe sadja, walaupoen dia doeloe sebenarnja adalah serdadoe karir, terkenal kedjam dan dingin, lebih dari pandai berlakoe sebagai lajaknya bangsawan.

Mereka bertiga melangkah memasoeki roemah, di bawah tatapan tamoe-tamoe penting lainnja jang ikoet menoejoe roeang makan malam.

“Saja doea minggoe laloe baroe tiba dari Amsterdam, Mevrouw Rose.”

“Oh ya?”

“Ada salam ketjil dari Ratoe Isabella.”

“Soenggoeh?”

Dinjatakan di depan tamoe terhormat lain, kabar itu hampir sadja memboeat Nyonya Rose loncat matjam anak ketjil.

“Beliau bertanja pendek, Mevrouw Rose, well, kita tahoe, Ratoe siboek, banjak pertikaian politik di Eropa, tapi tetap sadja itoe seboeah pertanjaan penting. Akoe djawab, itoe keloearga Van Houten tidak bisa lebih makmoer lagi dari sekarang di Batavia. Mereka djangan-djangan bahkan lebih kaja dibanding VOC.” J.P. Coen tertawa ketjil, menjandjoeng.

Wadjah Nyonya Rose soedah terbelalak senang.

Tepat djam berdentang toedjoeh kali, saat governor J.P. Coen memasoeki roeangan makan malam, djamoean besar itoe serentak dimoelai. Kemeriahan pesta segera mendjalar. Piring-piring makanan mulai bergerak, menoe-menoe istimewa hasil ratjikan itoe koki nomor wahid mulai dihidangkan.

Tawa para tamoe terhormat memenoehi langit-langit, bersama denting sendok garpoe, soeara mengoenjah, minoeman dituangkan, tepok tangan, leloetjon, soeara tawa lagi, satu doea tidak tahan sampai memoekoel medja.

Meriah sekali itoe pesta. Baboe-baboe keluar masoek, siboek, katjoeng-katjoeng bergegas, di dapoer, di roeang makan. Para serdadoe jang berdjaga-djaga di loear joega ikoet berpesta, moengkin mereka pikir, sedikit maboek tidak mengapa, tidak ketinggalan para tjenteng bajaran, ikoet serta berpesta, itoe malam penoeh gembira, tidak perloe mentjemaskan apapoen, termasoek inlander pemberontak jang tahoen-tahoen terakhir semakin sepi.

Satoe djam hampir berlaloe, tiba saatnja menoe penoetoep. Nyonya Rose jang sedjak tadi teroes memastikan makan malam berdjalan lancar memberikan kode kepada baboe di dekatnja. Baboe itoe memberikan kode ke dapoer. Kode itoe tiba pada Itje, baboe jang akan bertoegas menghidangkan itoe menoe.

Itje menjeka keningnja jang berpeluh.

Itje mengelap telapak tangannja jang basah ke tjelemek. Ini persis seperti tiga tahoen laloe, saat dia keliroe membawa mangkok soep bening. Bedanja, dia sekarang goegoep boekan karena itoe. Itje menghela nafas, beroesaha menegoehkan hati, meskipeon sedjak tadi dia tidak koenjoeng mampoe. Dia sedjak tadi josteroe berseroe lirih mentjari di mana Kang Djalilnya. Apakah Kang Djalil sekarang sedang bersiap? Memakai kedok hitam bersama pendekar lainnja? Di manakah Kang Djalil?

Nyonya Rose melotot, kenapa beloem keluar joega itoe menoe penoetoepnja, hah? Lihat, tamoe-tamoe moelai kehabisan makanan di atas medja, pertjakapan moelai terlaloe basi. Baboe jang dipelototi bergegas memberi kode berantai ke dapoer.

Itje menganggoek, menggigit bibir, baiklah. Dia mengangkat itoe nampan berisi gelas minoeman menoe penoetoep.

“Well, akhirnja penoeteop makan malam kita tiba.” Nyonya Rose berdiri, menjambut Itje jang melangkah masoek, “Meneer dan Mevrouw, ini anggoer terbaik pilihan koki, langsung dibawa dengan wadah tersegel dari Malaka.”

Tamoe oendangan berseroe antoesias.

“Kamoe urang mahu kertja atau tidak, hah?” Nyonya Rose berbisik galak kepada Itje jang lewat di depan koersinja membagikan gelas-gelas berisi anggoer.

Itje menelan loedah, tertoendoek.

”Bergegas sana.” Nyonya Rose soedah menoleh ke tamoe-tamoe, memasang senjoem paling anggoen, mengangkat gelasnja, ”Silahkan diambil, Meneer, Mevrouw.”

Itje hampir menjelesaikan membagikan seloeroeh gelas.

”Mari kita bersoelang, ontoek Ratu Isabella, makmoer dan pandjang oemoer.” Nyonya Rose mengangkat gelasnja.

Meneer Van Houten joega mengangkat gelasnja, ”Oentoek pemerintahan Hindia Belanda, semoga selaloe makmoer.”

J.P. Coen tertawa, ikoet mengangkat gelasnya pendek sadja, ”Oentoek toean roemah, semoga joega makmoer dan pandjang oemoer.”

Tamoe-tamoe bersulang.

Itje membeku di dekat medja besar. Hanja soal detik sadja sekarang. Hanja soal waktoe sadja. Ratjun jang sama, meski berbeda djenis anggoernja, joega sedang diminoem oleh serdadoe dan tjenteng di loear sana.

Itje mendesah, gentar menatap sekitar, Kang Djalil, di mana Akang sekarang?

***

Satoe menit tiga poeloeh detik sedjak minoeman beratjun itoe memasoeki peroet, satoe tamoe djamoean makan malam moelai bertoembangan.

Atjara jang sedjak tadi dipenoehi dengan tawa dan seroean kegembiraan dengan tjepat beroebah mendjadi katjau balau. Awalnja hanja bingoeng kenapa teman sebelah koersi mendadak terjekat memegangi leher dan peroet, berseroe-seroe minta tolong, kemoedian toeboehnja semapoet, djatuh dari koersi. Beloem sempat membantoe itoe rekan sedjawat, tiba-tiba kerongkongan sendiri ikoet panas membara, peroet seperti diadoek-adoek, gemetar, berseroe panik, tidak mengerti apa jang terdjadi, dan sebeloem menjadarinya, soedah ikoet melingsoet djatuh ke lantai.

Maka petjah soedah teriakan-teriakan panik di mana-mana, itoe Mevrouw-mevrouw jang berdandan rapi, koesoet masai ramboetnja, jatoeh bergelimpangan. Meneer-Meneer, hendak mentjaboet pistol atau pedang, terkulai lebih dahoeloe, itoe sendjata berkelontangan.

Itje membekoe menjaksikan semoea kedjadian.

Dan beloem habis tamoe oendangan terkaget-kaget dengan itoe kedjadian, pintoe roeangan makan malam berdebam terboeka, dua belas orang memakai kedok hitam lontjat masoek sambil menghoenoes golok besar.

”Semoea diam di tempat!” Pemimpin orang berkedok, membentak, hanja matanja jang terlihat. Teman-temannja segera mengepoeng roeangan.

Itje meremas djemarinja, akhirnja, itoe Kang Djalil.

Dia amat mengenal sorot mata tambatan hatinja.

Beberapa serdadoe pengawal J.P. Coen jang tidak ikoet bersoelang menjtaboet pistol, bedil-bedil terangkat, joega beberapa tjenteng pengawal toean tanah atau baroen jang ikoet serta ke dalam roeang djamoean.

”Djangan matjam-matjam.” Pemimpin orang berkedok membentak lagi, lebih kentjang, goloknja mengantjam boekan main-main, ”Semoea diam di tempat! Toeroenkan sendjata kalian.”

”Verdomme,” Itoe soeara Meneer Van Houten jang memotong, dengan kaki gemetar, bertopang bibir medja, Meneer menatap rombongan berkedok, ”Kalian tidak pernah puasnja meroesak atjara ini. Apa tidak tjukup tiga tahoen laloe, hah?” Meneer beroesaha mentjaboet pistolnja.

Pemimpin orang berkedok tertawa sinis, ”Tidak akan pernah tjukup hingga tanah air kami merdeka.”

”Inlander pemberontak! Kalian akan menjesal. Kalian—” Kalimat Meneer Van Houten tidak selesai, toeboehnya lebih doeloe toembang karena ratjun sebeloem mampoe menarik pelatoek, menyoesoel itoe istrinja jang soedah lebih doeloe tersoengkoer djatuh.

Itje mendjerit ngeri. Maoe bagaimanapoen, tiga tahoen dia tinggal di roemah Meneer dan Nyonya Rose. Hendak lontjat membantoe Meneer, tapi gerakan tangannja terhenti, seseorang lebih tjepat telah menangkap tangannja, menelikoengnja, dan sedetik lepas, montjong pistol soedah ada di pelipisnja.

”Letakkan sendjata kalian! Atau akoe petjahkan kepala baboe inlander ini.” J.P. Coen telah sempoerna memasang toeboeh Itje sebagai tameng sekaligoes tawanan.

Soeasana tegang semakin memoentjak.

Tawa pemimpin orang berkedok terpoetoes. Sorot matanja yang tadjam beroebah redoep. Astaga, bagaimana ini, djika itoe baboe boekan Itje, dia tidak pedoeli, itoe harga seboeah perdjoeangan, tetapi itoe kekasih hatinja, Itje.

”Letakkan sendjata kalian, hah!” J.P. Coen menekankan montjong pistol lebih keras ke pelipis Itje.

Pemimpin orang berkedok berhitoeng dengan sitoeasi. Rekan-rekannja menoenggoe.

Tidak. Itje tersengal, satoe tangannja dipelintir di belakang memang memboeatnja soesah bergerak, tapi Itje bisa menatap sorot mata Kang Djalil. Tidak, Itje semakin tersengal, dia bisa membatja ketjemasan Kang Djalil-nja. Itje mentjintai Kang Djalil lebih dari siapapoen sedjak Iboenya tewas tiga tahoen laloe, Itje akan melakoekan apa sadja demi rentjana Kang Djalil, Itje tidak akan mendjadi penghambat rentjana Kang Djalil, dia bersedia mati demi Kang Djalil.

”Letakkan sendjata kalian!” J.P.Coen tidak sabaran.

Pemimpin rombongan orang berkedok tetap mematoeng, ternyata tidak semoedah itoe memboeat kepoetoesan di tengah sitoeasi genting seperti ini.

Tapi tidak bagi Itje. Kepoetoesannja soedah boelat, sebeloem semoea orang menjadarinja, itoe gadis beroesia enam belas poenja satoe tangan lainnja jang bebas tjepat sekali soedah menjambar pisaoe makan di atas medja, lantas sepersekian detik berikutnja, soedah menoesoekkannja ke peroet J.P. Coen.

Sajangnja, Itje loepa dia sedang disandera oleh siapa, gerakan tangan J.P. Coen lebih tjepat, pistol itu meletup, tidak mengenai kepala Itje memang, tapi menembus dadanja, dan itoe lebih dari tjoekoep. Toeboeh gadis moeda itu tersoengkoer, pisaunya terjatoeh, darah membanjiri tjelemeknja. Pemimpin orang berkedok kontan berteriak parau, beroesaha menggapai toeboeh Itje.

Sitoeasi berbalik arah tjepat sekali.

J.P. Coen soedah melempaskan empat tembakan beroentoen ke arah pemberontak berkedok, disoesoel tembakan-tembakan lainnja, dan dari loear entah asalnja dari mana, masoek satoe pasoekan kompeni jang masih sehat walafiat. Orang-orang berkedok jang tadi oenggoel, sekarang joesteroe terkepoeng.

”Verdomme!” J.P. Coen menendang kasar pemimpin orang berkedok jang tersungkur terkena tembakan di peroet dalam pertempuran singkat djarak pendek baroesan, ”Kalian orang-orang priboemi pikir kompeni terlaloe bodoh oentoek di tipoe, hah? Kalian pikir kalian soedah pintar? Kalau bangsa kalian pintar, tidak akan pernah bisa dijajah siapapoen ratoesan tahoen.”

J.P. Coen menyaroengkan pistol di pinggang, menatap hina pemimpin orang berkedok jang merangkak beroesaha menggapai toeboeh Itje, ”Koewe orang haroes tahoe, sedjak kedjadian tiga tahoen laloe, akoe bersoempah tidak pernah benar-benar meminoem anggoer di djamoean manapoen. Joega serdadoe pengawal, mereka tidak diidjinkan menjentoeh minoeman itoe lagi.”

Doea belas orang berkedok soedah berhasil diloempoehkan. Golok besar mereka tergeletak di lantai.

”Boenoeh mereka semoea.” J.P. Coen meneriaki kapitennja, ”Besok pagi-pagi, gantoeng toeboeh mereka di depan markas kompeni, biar ditonton ramai inlander pemberontak lainnja.”

Kang Djalil soedah berhasil menjentuh djemari tangan Itje.

”Bantoe Meneer dan Mevrouw jang masih selamat, segera tjari obat penangkal ratjunnya djika masih sempat. Dan siapkan atjara pengoeboeran boeat Meneer Van Houten, Njonja Rose, dan jang lainnja, mereka berhak memperoleh penghormatan jang lajak. Oemoemkan VOC berkaboeng selama seminggoe.” J.P. Coen meneriaki kapitennja jang lain lagi, sambil melangkah meninggalkan roeangan jang rebah jimpah.

”Siapkan kereta koedakoe.” Poenggoeng J.P. Coen hilang dibalik pintu, menyoesoel derap kaki koeda meninggalkan halaman roemah. Sedjarah mentjatat, itoe oentoek kesekian kalinja governor kompeni lolos dari oesaha pemboenoehan.

”Maafkan Itje, Kang.” Itje jang sekarat berbisik pelan.

Pemimpin orang berkedok tersengal.

“Itje mentjintai Kang Djalil. Selaloe.” Itje menatap sorot mata jang terbungkus kedok hitam di depannja.

***tamat

Tere Lije