Mimpi-Mimpi Sampek Engtay (Berjuta Rasanya 2)

by Darwis Tere Liye on Sunday, 29 July 2012 at 18:27 ·

MIMPI-MIMPI SAMPEK-ENGTAY

 

“Kaukah yang di sana Sampek?” Suara Engtay berat-berwibawa, sempurna seperti suara seorang lelaki. Kakinya melangkah perlahan, penuh perhitungan. Pakaiannya persis seperti murid biara laki-laki lainnya.

Terdengar dehem pelan, sedikit mengerang, menjawab dari balik patung Budha, di halaman Pagoda Hukuman.

”Sampek, kaukah itu?” Engtay berbisik pelan, cemas.

”Iya, ini aku.” Suara mengerang itu menjawab memastikan.

Engtay bergegas melangkah ke balik patung yang remang, ”Maafkan aku datang terlambat,” suara Engtay mendadak berubah merdu, suara gadis yang senang melihat pujaan hatinya, meski sekarang menatap iba.

Sampek terlihat bersandar di kaki patung, wajah dan tubuhnya terlihat sekali lebam biru, seperti habis melewati pertarungan sulit.

”Kau baik-baik saja, Sampek?” Tangan Engtay gemetar mengeluarkan kain dan obat-obatan dari keranjang kecil yang dibawanya.

”Aku baik-baik saja.” Sampek berusaha tersenyum, menahan sakit saat Engtay mulai membasuh lukanya, ”Lantai lima sialan itu ternyata tidak mudah dilewati.”

Engtay menatap prihatin, masih cekatan membasuh luka Sampek, mengeluarkan ramuan dari botol.

”Kau jangan terlalu dekat denganku.” Sampek tiba-tiba berseru pelan.

”Eh?” Engtay tidak mengerti.

”Nanti aku ketularan penyakit kulit kau.” Sampek meringis, tertawa kecil.

Mereka bersitatap satu sama lain. Engtay ikut tertawa. Malu-malu menundukkan kepala. Bersemu merah.

Malam itu purnama yang indah menghias angkasa. Sejuta bintang menaburi langit. Cemerlang. Secemerlang hati Sampek-Engtay saat ini. Sudah larut. Biara Shaolin lengang. Seribu muridnya tertidur nyenyak. Hanya menyisakan satu-dua rahib suci yang masih mendengungkan puji-puja bagi penguasa bumi.

“Kau terlihat lucu.” Sampek berkata pelan lagi.

“Apanya yang lucu?” Engtay melotot, pura-pura merajuk.

“Kepalamu. Botak.” Sampek mendekap mulutnya.

Engtay melotot. Tersipu malu.

“Aku dulu benar-benar tidak tahu kalau kau seorang perempuan, lihatlah, meski botak, malam ini kau terlihat cantik sekali.” Sampek menatap lamat-lamat wajah sepotong-hatinya. Tersenyum malu-malu memuji.

Engtay semakin tersipu mendengar pujian itu. Memerah. Sempurna sudah mukanya menyemburat seperti gadis remaja yang dimabuk cinta. Hilang sudah penyamarannya yang sempurna selama ini. Penyamaran?

Ya! Karena Engtay sesungguhnya adalah seorang perempuan. Gadis cantik berpendidikan dari Peking, ibu kota kerajaan. Ia sejak kecil menginginkan sekolah, ia gadis pemberontak, tidak mau menghabiskan hari hanya menjadi seorang puteri. Lelah keluarganya membujuk mengurungkan niat tersebut. Tak lazim jaman itu anak-gadis berangkat jauh-jauh ke gunung hanya untuk menimba ilmu.

Tetapi Engtay memaksa. Orang-tuanya yang terdesak berjanji akan merestui jika Engtay mampu membuktikan ia mahir menyamar, menjaga diri sendiri. Ternyata itu bukan perkara sulit baginya. Engtay sempurna sudah merubah penampilannya menjadi lazimnya gaya lelaki kebanyakan saat itu. Bahkan Ibunya sendiri tidak mampu mengenalinya lagi.

Dengan berat hati dan dengan menyembunyikan banyak hal ke kerabat di Istana Terlarang ibukota, Engtay diijinkan pergi ke Biara Shaolin. Menimba banyak ilmu. Tidak sekadar kungfu yang masyhur itu, tetapi juga pengetahuan tentang sebab-akibat alam, puisi, tutur-kata, kebijaksanaan kehidupan, dan berbagai lainnya. Engtay tiba di kaki Gunung Lu bersamaan dengan Sampek yang datang dari perfekture selatan. Takdir. Mereka malah tinggal satu kamar.

Awalnya benar-benar menggelikan kebersamaan mereka. Sampek yang merasa Engtay sempurna lelaki, bertingkah sebagaimana-mestinya dua lelaki tinggal satu kamar. Cuek, berganti pakaian di depan Engtay. Tidur dengan sepotong celana. Menepuk-nepuk bahu, bahkan terkadang memeluk layaknya dua teman lelaki karib. Engtay yang bingung karena mereka harus tidur seranjang, beruntung tidak hilang akal, ia membual soal penyakit kulit yang dideritanya. Maka sejak malam pertama, mereka tidak pernah tidur seranjang. Sampek mengalah tidur di tikar pandan. Menyisakan satu-satunya ranjang kayu yang ada di kamar untuk Engtay.

Dua tahun berlalu, Sampek tak sekalipun menyadari Engtay seorang perempuan. Kalau teman sekamarnya saja tidak tahu apalagi ratusan murid Biara Shaolin lainnya. Juga rahib-rahib suci yang memimpin biara. Rahasia ganjil itu sempurna tersembunyi. Hingga dua hari lalu.

Sekitar patung Budha di ruang depan Pagoda Hukuman lengang, menyisakan Engtay yang sekarang membalut luka-luka di sekujur tubuh Sampek.

”Maafkan aku telah membuatmu melewati Pagoda Lima Tingkat.” Engtay menatap wajah Sampek. Mata yang menatap penuh penghargaan.

Sampek menggeleng, tersenyum riang, “Aku sudah terbiasa dihukum sejak tiba di sini, Engtay. Berbeda denganmu yang pintar dan penurut.”

“Seharusnya kau tidak mengambil Liontin Permaisuri di Ruang Pusaka.”

“Sstt, jangan keras-keras, nanti ada yang mendengarkan kau menyebut-nyebut soal liontin itu—“ Sampek menempelkan jari telunjuknya ke bibir. Menoleh kesana-kemari.

Mereka berdiam diri lagi sejenak.

“Malam ini indah sekali—“ Sampek mendongak. Dari halaman Pagoda, mereka bisa melihat langit  dari balik patung Budha.

Engtay mengangguk. Tersenyum setuju.

Ini hanya malam indah ke sekian di kaki Gunung Lu, tapi bagi mereka berdua, bagi Sampek lebam habis-habisan dihukum, maka itu tetap terasa lebih indah. Apalagi bagi Engtay yang sepanjang hari mencemaskan nasib Sampek. Angin malam menelisik rumpun bambu. Gemerisik teratur. Seperti nyanyian cinta.

 

***

 

Sampek terlahir sebagai pemuda miskin tapi berbakat dari selatan. Dikirim ke Perguruan Shaolin karena memenangkan kontes ketangkasan memainkan toya se-perfekture. Semuda itu bakat kungfunya luar biasa, meski Sampek sama sekali tidak berminat pelajaran puisi, sebab-akibat alam, kebijaksanaan, dan sebagainya. Sampek pemuda yang polos. Suka membantu. Malah ringan tangan menggantikan murid lainnya menjalani hukuman. Itulah yang membuat Engtay sejak awal jatuh-hati. Kepolosan Sampek yang tidak menuntut.

“Apakah kau memakai liontin itu sekarang?” Sampek berbisik.

Engtay mengangguk. Merekahkan kerah baju yang melilit lehernya. Liontin itu berkemilauan indah diterpa cahaya bulan.

“Liontin ini amat beruntung dipakai gadis secantikmu!”

Engtay tersipu sekali lagi. Liontin itu pulalah yang membuat Sampek harus melalui hukuman Pagoda Lima Lantai.

Pagi itu dua hari yang lalu, Engtay yang diam-diam semakin menggumpal perasaan cintanya kepada Sampek mengajaknya bermain ke taman bunga di Danau Lu, kaki gunung. Sampek belum tahu Engtay perempuan, maka dia justeru bingung sambil berkata, “Kita lelaki, Engtay? Bagaimana mungkin kau mengajakku ke sana? Melihat taman bunga?” Sampek melipat dahinya.

Engtay hanya mengangkat bahu, “Ya, kau tahu, kita disuruh menjelaskan sebab-akibat siklus air, bukan? Kita bisa mengamatinya langsung di Danau Lu.“

Sampek yang tidak mengerti apa maksudnya, mengalah. Memutuskan menemani Engtay pergi. Sejak dulu Sampek tidak bisa membantah Engtay, teman dekat sekaligus teman satu kamar selama di biara. Belakangan dia merasa semakin ganjil dengan tabiat Engtay. Engtay terlalu sering ketahuan mencuri-curi pandang kepadanya. Bahkan dalam banyak kesempatan, sejak Engtay semakin menyukainya, Sampek merasa risih dengan kelakuan tersebut. Bagaimana mungkin teman sekamarnya yang lelaki menatapnya berbeda?

Mereka menuju Danau Lu yang indah.

Sementara Sampek duduk-bosan melihat taman bunga, Engtay yang tak bisa mengendalikan kegembiraannya melihat ribuan kupu-kupu berteriak riang. Suaranya yang berat berubah menjadi merdu layaknya seorang gadis di taman bunga. “Engtay, ada apa dengan suaramu?” Sampek menoleh, bertanya bingung. Engtay buru-buru berdehem, kembali merubahnya menjadi suara laki-laki, pura-pura mengamati Danau Lu. Pura-pura mencatat.

Celakanya saat Sampek sibuk mengejar-ngejar seekor rusa yang terlihat di sela-sela pohon, Engtay yang tak-tahan melihat beningnya air danau memutuskan mandi. Jadi bagai dipakukan ke tanah, Sampek membeku seketika ketika kembali dengan menggendong rusa itu dan menyaksikan Engtay yang sedang berendam di hamparan beningnya air.

“Kau…. Kau seorang perempuan?”

Muka Engtay mendadak memerah. Berendam lebih dalam. Berusaha bersembunyi. Percuma. Maka terkuaklah rahasia besar Engtay.

Sore itu, mereka bergegas pulang sebelum gelap datang menjelang. Sepanjang sisa hari, setelah Engtay buru-buru memakai samarannya kembali, mereka saling membisu di sela-sela bunga. Hening menatap beningnya danau. Sampek tidak bisa berkata-kata, dia benar-benar tidak tahu. Dia benar-benar terkejut.

“Apakah kau akan menolak berteman lagi denganku setelah tahu semua ini?” Engtay berkata pelan. Memecah senyap.

Sampek menoleh, menatap lamat-lamat wajah Engtay. Sungguh lepas dari segala keterkejutan, ini untuk pertama kalinya dia melihat seorang gadis yang memesona hatinya. Seorang gadis yang cantik. Dan, hei! Seorang gadis yang selama ini justru tinggal satu kamar dengannya. Seseorang yang bertahun-tahun menjadi teman baiknya melewati banyak hukuman di Biara Shaolin.

Jika cinta pertama itu ada, maka Sampek hari itu benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama.

”Kau tidak akan membenciku, bukan?” Engtay bertanya, takut-takut dan ragu-ragu.

Sampek menggeleng.

”Kita tetap akan tinggal sekamar, bukan?”

Sampek mengangguk, ”Iya, aku akan tetap tidur di lantai, kau di atas tempat tidur. Tidak ada yang mau ketularan penyakit kulit kau.”

Engtay akhirnya tertawa, malu-malu.

Senja tiba. Hamparan air danau yang tenang terlihat me-merah. Kupu-kupu beranjak kembali ke sarang. Seekor belibis liar terbang membuat kecipak air. Engtay yang tak-tahan dengan kesunyian itu, mengaku tentang perasaannya. Lama mereka bersitatap satu-sama lain. Tersipu. Tertunduk malu. Menggurat rumput dengan ujung jari. Jelas sudah. Mereka saling menyukai.

Mereka tiba di pintu biara persis saat sepanjang hutan kaki Gunung Lu mulai dipenuhi ribuan larik kunang-kunang. Berjalan beriringan. Malam itu ada janji yang terucap, meski mulut tak membuka sepatah kata pun.

Rahib Penjaga Gerbang mengomel panjang-lebar melihat mereka pulang amat terlambat. Sampek malam itu dihukum membersihkan Ruang Pusaka. Sementara Engtay yang kembali dengan samaran lelakinya hanya dilarang keluar biara selama seminggu. Semua rahib suci Biara Shaolin menyukai Engtay, ia murid yang pintar menulis dan membaca puisi, sebab-akibat alam, kebijaksanaan hidup, meski tak pandai dalam kungfu.

Sampek yang hatinya sedang riang tidak sengaja melihat liontin indah itu di Ruang Pusaka. Hatinya yang dimabuk cinta berpikiran pendek. Liontin itu akan indah sekali di leher Engtay. Sampek mencurinya! Liontin itu bukan senjata pamungkas. Hanya sebuah liontin. Hadiah Pemaisuri Dinasti Chin puluhan tahun silam. Satu-satunya dinasti penguasa yang dekat dengan Shaolin. Sampek ringan-tangan mengambilnya.

Perbuatan lancang yang akhirnya diketahui itu ternyata harus dihukum dengan Pagoda Lima Tingkat, hari ini. “Semoga kau bisa melewatinya, Sampek! Hanya lima tingkat, kali ini,” Rahib Penjaga Pagoda tertawa. “Sekali lagi kau ketahuan mencuri di Ruang Pusaka, aku akan memberikan lantai ke sembilan sebagai hukuman. Lantai yang hanya bisa dilewati hidup-hidup jika kau memiliki kungfu Sembilan Naga Surga. Haha, bahkan Rahib Ketua tidak pernah tahu apakah kungfu hebat itu masih ada atau tidak.”

Murid-murid perguran shaolin yang menyaksikan hukuman itu berjengit. Sejauh ini tidak ada di antara mereka yang harus menjalani hukuman pagoda suci hingga lima lantai. Sampek menggigit bibir. Memanggul toya dipundak, lantas melangkah bergetar. Engtay yang berdiri di belakang bersama murid lainnya, menangkupkan kedua belah telapak tangan. Memohon keselamatan kekasih hatinya. Baru dua hari mereka saling tahu perasaan masing-masing, Sampek sudah harus menjalani hukuman seperti ini. Bagaimana jika sebulan? Setahun? Apakah Budha Suci terlanjur menakdirkan buruk percintaan mereka?

Tetapi Sampek meski susah-payah, meski tubuh berdarah-darah, berhasil keluar dari lantai lima pagoda suci dua belas jam kemudian. Berhasil mengatasi rintangan dan jebakan setiap lantai. Sampek jatuh pingsan saat kakinya menjejak tanah. Engtay menjerit (suara lelaki). Murid-murid lain yang selama ini amat menghormati Sampek serabutan mendekat. Tabib biara berteriak menyuruh mereka minggir. ”Tidak ada yang boleh mendekati pelanggar aturan ini. Biarkan malam ini dia sendirian di halaman Pagoda, merenungkan kesalahannya di depan patung Budha. Tidak ada yang boleh mengobati lukanya.” Sementara Rahib Penjaga Pagoda mendesis dalam hati, “Anak ini sungguh berbakat! Benar-benar berbakat.”

Tetapi hukuman ini berharga. Lihatlah, Liontin Permaisuri begitu indah di leher Engtay. Engtay yang sekarang tersenyum bahagia. Malam ini Sampek sempurna seperti melihat dua purnama bersinar terang.

Wajah Engtay dan wajah sepotong bulan di atas sana.

“Saatnya kau kembali ke kamar.” Sampek berbisik.

“Tunggulah sebentar lagi! Aku masih ingin menemanimu!” Engtay keberatan.

“Kau tidak mau kita tertangkap Rahib Penjaga Gerbang, dan aku boleh jadi akhirnya harus dihukum melewati lantai sembilan, bukan?” Sampek meringis, menirukan wajah galak rahib suci tersebut. Engtay tertawa pelan.

“Ayo. Kau harus pergi. Aku akan baik-baik saja.“ Sampek memastikan, ”Obatmu membantu banyak.”

”Kau sungguh baik-baik saja?” Engtay bertanya cemas.

Sampek mengangguk, ”Aku bahkan sudah jauh lebih baik saat mendengar suaramu memanggil beberapa saat lalu.”

 

***

 

Celaka. Sampek benar-benar keliru membayangkan kalau Engtay hanya gadis biasa yang menyamar menjadi laki-laki demi belajar di Biara Shaloin.

Dulu, saat tiba di biara, Engtay memang bilang ia berasal dari Peking, ibukota kerajaan. Dan Sampek hanya menatap terpesona, berpikir sudah lama sekali dia ingin pergi ke ibukota, amat beruntung ternyata Engtay berasal dari sana. Sampek benar-benar tidak bisa membayangkan kalau Engtay ternyata putri salah seorang petinggi kerajaan. Ayah Engtay saudara dekat Raja Tang, dinasti yang sedang berkuasa.

Dan lebih celaka lagi, Engtay adalah jodoh Putra Mahkota sejak kecil—yang membuat Engtay memberontak ingin pergi belajar ke Biara Shaolin. Maka urusan pelik itu benar-benar menyesakkan. Selama ini Engtay tidak pernah menceritakan bagian itu.

Nun jauh di Peking sana, keluarga Engtay berkata ke setiap orang yang bertanya, bahwa anak putri mereka sedang pergi ke selatan, belajar membaca puisi dan menulis kisah. “Wahai, jika demikian gadis itu akan sempurna menjadi permaisuri Dinasti Tang. Sopan dan pandai ber-adab.” Raja Tang berseru riang mendengar kabar itu. Keluarga Engtay berusaha keras menutupi kepergian anaknya, juga karena tidak lazim di jaman itu petinggi dan keluarga kerajaan mengirim anaknya ke Biara Shaolin, bahkan walaupun dia seorang lelaki.

Sejak dulu, Biara Shaolin selalu berseberangan dengan Istana Terlarang, tidak peduli siapapun yang sedang berkuasa. Biara Shaolin yang dipenuhi rahib-rahib suci selalu berada di belakang rakyat jelata. Celakanya, hampir setiap dinasti yang berkuasa cenderung korup dan lalim terhadap rakyat banyak, itu otomatis berseberangan dengan Biara Shaolin. Celakalah, tabiat buruk itu juga terjadi pada Dinasti Tang.

Baru sebulan Sampek-Engtay saling tahu perasaan mereka di dalam tembok biara, terbetik berita pemberontakan besar-besaran di perfekture selatan pecah. Rakyat akhirnya menentang pajak dan tindakan semena-mena prajurit istana. Kota Peking dan seluruh kerajaan tiba-tiba bergejolak.

Tokoh-tokoh penting yang selama ini jengah dengan kebijakan raja mulai mengambil sikap. Sisa-sisa Dinasti Chin, dinasti yang disingkirkan Raja Tang sebelumnya, mulai bergabung dengan pemberontak di selatan. Pendekar dan jago kungfu di seluruh daratan mulai terbelah. Belum pernah Dinasti Tang menghadapi masalah seserius itu. Dan Raja Tang dengan dingin memutuskan menumpas habis semua yang berusaha melawannya.

“Aku harus kembali ke Peking, Sampek. Orang-tuaku mengirimkan surat. Ibuku sakit keras. Di tengah situasi genting seperti ini mereka hanya punya aku.” Engtay berbisik lemah. Sehelai daun bambu kering jatuh di kepalanya.

”Berapa lama?” Sampek bertanya cemas.

”Aku tidak tahu. Mungkin hingga Ibu sembuh.” Engtay sama cemasnya.

Mereka tidak punya pilihan, surat dari keluarga Engtay begitu serius. Ibunya sakit keras.

“Baiklah. Setelah semua urusan di biara selesai, setelah keributan ini selesai aku akan menyusulmu, Engtay.” Sampek berbisik lirih, mengambil lembut daun bambu kering itu.

“Berjanjilah apapun yang terjadi kau akan selalu mencintaiku.” Engtay berbisik.

“Aku berjanji akan selalu mencintaimu, Engtay. Aku bersumpah atas nama Budha Suci akan datang menjemputmu di ibukota.” Sampek mengangguk.

Esok pagi, Engtay menggebah kuda kembali ke ibukota yang sedang berkecamuk. Tanpa disadarinya, kecamuk yang lebih hebat justru sedang menantinya. Kabar ibunya sakit keras itu dusta. Putra Mahkota menginginkan perjodohan mereka dipercepat setelah melihat situasi. Memaksa keluarga Engtay memanggil pulang Engtay yang sedang belajar puisi. Dan keluarga Engtay yang terdesak, akhirnya menggunakan cara itu agar Engtay bersedia pulang.

Situasi memang berubah cepat sekali. Pemberontakan semakin membara. Biara Shaolin dengan segera menjadi tempat perlindungan rakyat. Sejauh ini Rahib Ketua masih menolak melibatkan diri. Hanya membantu yang terluka, teraniaya dan membutuhkan perlindungan. Tetapi hanya tinggal waktu, suka atau tidak, Biara Shaolin akan terlibat dalam peperangan.

Sampek-Engtay rajin berkirim surat setiap purnama. Berita-berita yang dikirimkan penuh kecemasan, meski di sana-sini kalimat rindu dan sayang memenuhi sudut kertas. Dan betapa terkejutnya Sampek tiga bulan kemudian, saat Engtay mengabarkan perjodohan itu. Tanpa menyebut nama Putra Mahkota saja perjodohan tersebut meruntuhkan hatinya, apalagi melihat nama itu tertulis jelas-jelas di atas kertas yang penuh bercak air-mata. Air-mata Engtay.

“Pernikahan kami sudah ditentukan, Sampek. Hari ke-tujuh, bulan ke-tujuh. Aku tak bisa membayangkan mengenakan gaun panjang putih berenda bukan untukmu. Mengenakan cindai pewarna di tangan bukan untukmu. Mengenakan cadar merah pengantin bukan untukmu. Datanglah menjemputku Sampek. Aku mohon.”

Dan itulah yang dilakukan Sampek esok paginya. Tanpa berpikir panjang. Tanpa mengerti apa yang akan dia hadapi. Sampek berpamitan dengan Rahib Ketua. Menyusul Engtay ke ibukota. Tetapi demi Budha Suci, apalah daya Sampek? Siapa dia? Urusan ini benar-benar bagai setetes air yang hendak menghancurkan tembok batu raksasa. Sampek memang dengan gagah-berani mendatangi kediaman Engtay. Tetapi saat itulah Sampek menyadari kalimat di surat itu tidak bohong.

Nama Putra Mahkota tidak salah tulis.

Sampek yang tidak akan pernah mengerti tembok setinggi apa yang sedang dihadapinya, menemukan dua ribu prajurit dan selusin pendekar ternama di gerbang Istana Terlarang. Sampek, pemuda kampung, dengan kepala botak, polosnya bertanya tentang Engtay. Hanya tertawaan yang dia dapat. Hanya tatapan merendahkan yang dia terima. Siapa pula pemuda gembel ini? Celaka, saat Sampek dengan polosnya berkata dia berasal dari Biara Shaolin, itu sama saja mengundang seribu bala.

Selusin prajurit sontak mengurungnya. Mengacungkan pedang dengan marah. Sudah terbetik kabar, Biara Shaolin akhirnya memutuskan mendukung pemberontak. Perkelahian di gerbang Istana Terlarang seketika terjadi. Mudah saja bagi Sampek melumpuhkan selusin prajurit tersebut. Juga puluhan prajurit lainnya. Tetapi saat dua ribu prajurit dan belasan pendekar hebat itu serempak menyerang, tubuh Sampek segera bermandikan darah. Lima sabetan pedang mengiris dadanya. Dua anak panah menembus paha. Satu pukulan bertenaga dalam menghantam perutnya, membuatnya muntah darah.

Tubuh Sampek terguling tak-berdaya.

Malam itu langit mendung. Ibukota senyap. Jam malam. Lolongan anjing liar di kejauhan terdengar memekakkan telinga. Membuat hati bergetar mendengarnya. Tapi tidak se-bergetar tubuh Sampek sekarang yang meringkuk penuh luka. Dia bisa bertahan sejauh itu atas nama cinta. Dia tetap bisa melawan selama itu karena ingin bertemu Engtay.

Salah satu pendekar paling tesohor di daratan China, Ketua Partai Bulan-Anggrek bersiap mengirimkan pukulan pamungkas terakhirnya, Sejuta Cahaya Rembulan, yang konon katanya bisa meruntuhkan sebuah gunung. Ketika Sampek membisikkan lemah nama Engtay bersiap menjemput kematian, saat itulah tiba-tiba pintu gerbang Istana Terlarang berdebam terbuka.

Engtay berlari, berseru tertahan, “Aku mohooon. Hentikan!”

Gerakan tangan Ketua Partai Bulan-Anggrek terhenti. Cahaya jingga maut yang tadi bersinar memedihkan mata dari tangannya meredup. Para prajurit penjaga gerbang menatap tidak mengerti. Apa yang hendak dilakukan calon mempelai Putra Mahkota? Bagaimana mungkin calon permaisuri mengenali pemuda gembel ini? Engtay yang memakai pakaian kebesaran putri-putri Dinasti Tang sudah memeluk tubuh penuh luka Sampek. Menangis tersedu.

“Maafkan aku, Engtay. Aku tidak bisa membawamu pergi!” Sampek berkata lirih dengan sisa-sisa tenaga, mukanya sembab oleh gumpal darah.

Engtay berseru sendu. Memeluk Sampek lebih erat.

“Aku seharusnya tidak pernah memintamu datang. Aku seharusnya tidak pernah. Lihatlah! Ini semua benar-benar di luar kuasa kita. Ini semua sungguh di luar kuasa kita.” Engtay tersungkur menangis.  Berusaha mengelap gelimang darah di wajah Sampek.

Sampek tersenyum amat getir, “Kau tahu, kau hari ini terlihat cantik sekali. Meski aku lebih suka melihat kepalamu dulu yang botak.” Tangan Sampek gemetar berusaha membelai rambut kekasih hatinya yang sudah tumbuh sekian jengkal.

Sayang, tubuhnya yang lemah terlanjur terkulai.

Memutus pertemuan yang menyedihkan tersebut.

Demi melihat mata Sampek terpejam, Engtay berseru tertahan. Mengguncang-guncang tubuh membeku itu. Lantas merintih ke kelamnya langit, “Apakah kami tak diberi kesempatan, Budha Suci? Apakah kami tak pernah diberi kesempatan.”

Lolongan anjing di kejauhan yang memotong kalimat itu membuat pemandangan semakin memilukan. Orang-tua Engtay kasar-berusaha menarik tubuh anaknya dari Sampek.

Malam itu, keluarga Engtay yang akhirnya mengetahui kisah-cinta Engtay di Biara Shaolin segera menyembunyikan tubuh Sampek. Celaka dua belas kalau Putra Mahkota tahu Engtay pernah menimba ilmu di sana, apalagi sampai tahu Engtay menyukai pemuda lain. Malam itu juga, demi melancarkan perjodohan di tengah kecamuk pemberontakan, keluarga Engtay mengatakan kepada Engtay kalau Sampek sudah meninggal.

Demi mendengar kabar itu Engtay berteriak histeris. Meratap penuh duka, “Seharusnya aku tidak pernah memintanya datang. Dia sungguh tidak tahu setinggi apa tembok yang menghalangi kami.”

 

***

 

Sampek belum meninggal. Sama sekali tidak.

Salah-satu kerabat Engtay yang membenci Dinasti Tang membawa tubuh Sampek yang sekarat pergi menjauhi ibukota. Membawanya kembali ke Biara Shaolin.

Rahib Ketua amat prihatin, menatap tubuh terluka Sampek. Tetapi ada lebih banyak hal yang lebih patut dicemaskan belakangan. Rakyat yang memberontak semakin terdesak. Janji kekayaan dan kekuasaan memang merubah banyak hal. Banyak sekali pendekar hebat yang selama ini setidaknya netral dalam pertikaian tersebut mendadak berubah haluan berada di pihak Istana. Dengan mereka di belakang, kekuatan kerajaan menjadi tidak-terbilang.

Rahib Ketua amat risau, hanya tinggal menunggu waktu perfekture selatan remuk-binasa oleh prajurit Istana. Dan itu artinya hanya dalam hitungan hari, Biara Shaolin juga akan jatuh di tangan pendekar-pendekar bayaran tersebut.

Dua bulan berlalu semakin genting.

Rahib Ketua akhirnya mengambil keputusan yang tidak pernah dilakukan leluhurnya. Memutuskan mengirimkan selusin rahib suci menuju Pegunungan Kwa Loon. Meminta pertolongan. Sampek yang sudah pulih ditugaskan ikut.

Secara fisik Sampek sempurna sembuh, hanya menyisakan bekas luka di sekujur tubuh. Yang masih menganga luka di hatinya. Dan benar-benar menyedihkan melihat pemuda itu. Setiap hari dua bulan terakhir hanya termenung, menangis tanpa sebab, berteriak tertahan tanpa alasan. Rahib Ketua berpikir, setidaknya melakukan perjalanan penting bersama rahib-rahib suci akan membuat suasana hati Sampek lebih baik.

Maka amat ganjillah perjalanan menuju Pegunungan Kwa Loon itu. Sampek yang tidak tahu apa tujuan perjalanan bagai patung pualam tanpa semangat hanya ikut melangkahkan kaki. Dia menangis tanpa suara setiap mereka berhenti. Meratap pilu saat menyiapkan tempat bermalam. Tersedu panjang tanpa air mata saat membantu menuntun kuda melewati sungai. Dan lebih banyak lagi menangis dalam diam saat rombongan dihadang oleh prajurit kerajaan dan pendekar bayaran.

Rahib-rahib suci itu satu-dua hari perjalanan hanya bersitatap satu-sama lain. Tidak mengerti. Bagaimana mungkin murid mereka yang paling berbakat dalam kungfu berubah menjadi amat menyedihkan seperti ini. Hanya diam saat ditanya. Menggeleng pelan saat disuruh bercerita.

Tapi bagaimanalah Sampek akan bercerita persoalan yang membuatnya sedih berkepanjangan. Tidak mungkin dia akan menceritakan kisah-cintanya? Engtay adalah calon istri Putra Mahkota. Tidak akan ada yang percaya pemuda miskin seperti dirinya pernah mempunyai kisah-cinta yang hebat dengan calon Permaisuri Dinasti Tang.

Bosan bertanya tanpa mendapatkan jawaban, selusin rahib suci akhirnya membiarkan saja kelakuan Sampek yang ganjil. Lagipula ada banyak permasalahan yang harus diurus. Perjalanan itu semakin berat. Hadangan prajurit dan pendekar bayaran semakin banyak. Terakhir, semalam sebelum tiba di tujuan, seratus prajurit istana dan belasan pendekar kungfu Dinasti Tang menghadang. Beruntung kemasyhuran kungfu Biara Shaolin bukan omong-kosong. Meski lima rahib suci terluka, mereka berhasil memukul mundur para penghadang.

Mereka akhirnya tiba di kaki Gunung Kwa Loon.

Bahkan bagi Sampek yang sebenarnya tidak peduli dengan perjalanan tersebut merasa ganjil sekali saat tiba di tempat tujuan. Mereka ternyata hanya diperintahkan Kepala Biara menjemput seorang tua-renta di kaki Gunung Kwa Loon. Benar-benar renta. Untuk membawanya kembali ke Biara Shaolin, Sampek-lah yang harus menggendongnya. Jadi semakin ganjil saja rombongan itu. Selusin rahib suci Biara Shaolin bersama seorang pemuda yang selalu measang wajah menangis tanpa suara, menggendong seorang kakek tua-renta.

Malam itu adalah malam ketujuh, bulan ketujuh.

Malam pernikahan Engtay. Rombongan itu baru dua hari perjalanan kembali ke Biara Shaolin. Mereka sedang melewati padang rumput luas. Malam itu Sampek mengeluh lebih kencang, menangis dalam diam membayangkan wajah Engtay yang bercahaya bagai purnama di malam pernikahannya. Celaka, ketika mereka tiba di tengah-tengah padang rumput, saat beberapa rahib mulai jengkel dengan keluhan Sampek yang mengeras, saat itulah seribu pasukan kerajaan yang diperintahkan mengejar menghadang mereka. Bermunculan dari balik rumput dan ilalang setinggi pinggang.

“Sampek, kau bawa kakek-renta itu bersembunyi! Bergegas!!” Rahib Penjaga Pagoda membentak Sampek untuk segera menyingkir, memimpin rahib lainnya mempertahankan diri.

Sampek tertatih dengan tangis tanpa suaranya menuju bongkahan batu raksasa di dekat mereka. Duduk bersembunyi.

“Malam ini, kita akan menghadiahi pernikahan Putra Mahkota dengan menghabisi rombongan rahib suci Biara Shaolin.” Panglima Perang kerajaan berteriak. Tertawa lebar.

Seribu prajurit itu berseru-seru. Membuat hingar-bingar suasana malam di padang rumput. Puluhan pendekar bayaran yang menyertai menyeringai satu sama lain. Kalau mereka berhasil menghabisi rombongan ini, itu berarti pundi-pundi emas mereka akan bertambah banyak.

Maka tanpa banyak cakap, terjadilah pertempuran hebat. Selusin rahib suci melawan kekuatan tak-terperikan. Ribuan anak panah melesat, ratusan pedang terhunus, cahaya biru, hijau, merah, kuning menghajar ke sana, kemari. Berdentum. Selusin rahib suci mengerahkan segala jurus pamungkas Biara Shaolin untuk menahan serbuan prajurit dan pendekar bayaran yang bagai air bah. Sementar Sampek dan orang tua renta yang dijemput berlindung dibalik sebuah batu besar.

“Kenapa kau menangis.“ Kakek renta yang digendong Sampek untuk pertama-kalinya sejak dua hari lalu dari Gunung Kwa Loon mengeluarkan suara.

Suara yang terdengar bagai desau angin.

Sampek mengangkat mukanya yang sejak tadi mengeluh. Menatap kosong wajah renta itu. Tertunduk lagi. Tidak memedulikan. Malam ini biarlah di tengah pesta pernikahan Engtay di ibukota, di tengah ribuan lampion indah yang pasti dipasang menghias ibukota, biarlah hatinya menangis sendiri. Peduli apa kakek-renta ini dengan sedih di hatinya. Peduli apa bumi, langit dan seluruh isinya. Peduli apa Budha Suci atas takdir percintaannya yang menyakitkan.

“Kenapa kau menangis?“ Kakek renta itu bertanya lagi.

Sampek masih diam. Dua rahib suci sudah terkapar tak berdaya di depan mereka. Di pihak lawan, ratusan prajurit terpanggang pukulan pamungkas biara Shaolin, beberapa pendekar tertatih mencoba meneruskan pertempuran.

“Malam ini indah sekali. Kau lihat, bulan sabit. Bintang-gemintang. Hanya pemuda amat malanglah yang menangis dengan pemandangan sehebat ini.” Kakek renta itu menatap lamat-lamat Sampek. Amat tenang dengan segala kecamuk di sekitar mereka. Bahkan terlihat tidak cemas dengan nasibnya.

Belasan prajurit lolos dari hadangan rahib suci. Berhasil mencapai batu persembunyian, buas menebaskan pedangnya ke arah kakek-renta itu. Sampek meskipun sedang sedih berkepanjangan tetaplah pendekar kungfu yang baik, sekali pukul membuat mental dua penyerang.

Kakek renta itu mendadak tertawa, “Kau berkelahi persis seperti seorang wanita!”

Sampek hanya mendengus, tidak memedulikan. Lebih banyak lagi prajurit yang lolos dari hadangan selusin rahib suci. Sampek semakin sibuk menahan mereka mendekat.

“Anak muda, kau belum menjawab pertanyaanku mengapa kau menangis?” Kakek renta itu kembali bertanya santai, di tengah Sampek mati-matian menahan serangan.

Sampek menggerung kesal, tidak memedulikan pertanyaan itu. Matanya awas memperhatikan setiap gerakan prajurit lawan. Celaka. Selusin rahib suci sekarang hanya menyisakan Penjaga Pagoda dan Penjaga Gerbang yang masih berdiri gagah melawan. Sisanya terkapar tak berdaya. Ribuan prajurit merangsek semakin ganas mendekati batu persembunyian Sampek.

Sampek berseru panik. Prajurit itu datang bagai air bah. Dia undur, merapat ke bongkahan batu besar. Berusaha mati-matian melindungi kakek-renta tersebut. Sampek sungguh tidak tahu mengapa semua prajurit ini beringas menyerang kakek-renta tidak berdaya di sebelahnya. Dia juga tidak tahu mengapa Rahib Ketua menyuruh mereka menjemputnya dan harus melewati berkali-kali hadangan prajurit kerajaan.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, anak-muda!” Kakek renta itu bertanya sekali lagi, santai.

“Apa perlunya kau tahu, hah?” Sampek berteriak jengkel. Satu untuk pertanyaan yang diulang-ulang itu, dua untuk semakin banyaknya prajurit yang kalap menyerang, tiga demi melihat betapa tenangnya kakek renta tersebut.

Lihatlah, kakek-renta itu malah terkekeh sekarang.

“Setidaknya sebelum kau mati oleh pedang prajurit kau akan lega telah menceritakan apa yang membuatmu menangis, bukan. Merasa lepas dari segala beban.”

“Baiklah!!! Kau ingin tahu kenapa aku menangis? Karena malam ini gaids yang kucintai akan menikah dengan putra mahkota Dinasti Tang! Apa kau puas mendengarnya, hah?” Sampek berteriak, kecamuk pedang dan teriakan prajurit membuat pekak telinga.

“Bukan main.” Kakek renta itu menggelengkan kepala.

“Aku tidak berbohong!” Sampek benar-benar jengkel sekarang, apa-gunanya kakek-renta ini bertanya kalau hanya untuk mentertawakan jawabannya.

“Kau tahu,” Sampek mendesis dengan mata yang akhirnya basah-terluka, kesedihan mendadak menelikung hatinya lagi, kali ini amat dalam, amat menikam.

“Kau tahu, malam ini kalau kematian akhirnya datang menjemputku, maka biarlah itu terjadi. Biarlah itu menjadi takdir Budha Suci. Aku akan mati membawa seribu luka janji setia. Aku akan mati setidaknya setelah aku berusaha menjemputnya di ibukota. Aku akan mati dengan tersenyum.” Sampek menyeka ujung matanya.

“Aku tidak akan pernah mengkhianati cintaku.” Sampek gemetar mengayunkan pedang ke depan. Menyambut serbuan prajurit dan para pendekar yang tak kunjung habis.

Situasi mereka genting sudah.

Di dekat mereka Rahib Penjaga Gerbang sudah terkapar terkena selarik cahaya biru.  Menyisakan Rahib Penjaga Pagoda yang tubuhnya penuh luka dan gumpal darah. Bertahan mati-matian dari air-bah serbuan lawan. Rombongan rahib suci malam ini sepertinya benar-benar akan binasa.

“Aku akan selalu mencintaimu, Engtay.” Sampek mendesis lemah dengan sisa-sisa tenaganya. Dua belas anak panah meluncur ke arahnya. Sembilan larik cahaya biru pukulan dari sembilan pendekar bayaran Dinasti Tang melesat bersiap menghantam dadanya.

Maut bersiap menjemput Sampek.

Biarlah. Dia tidak akan marah atas segala takdir ini. Sampek tersenyum lemah. Wajah Engtay yang tersenyum di bawah rumpun bambu terlihat jelas di pelupuk. Aku akan pergi, Engtay. Satu pedang menebas bahunya. Anak panah itu semakin dekat. Sembilan larik cahaya biru lebih dekat lagi.

Saat itulah!

Saat itulah terjadi hal menakjubkan yang pernah ada. Yang akan selalu diingat siapapun yang pernah melihatnya. Mendadak kelamnya malam dibuncah oleh suara seruling penuh kesedihan. Hiruk-pikuk pertempuran dihentikan oleh serunai panjang yang mengiris-iris hati. Mendengking membuat bibir kelu, kaki gemetar, dan mata berkaca-kaca. Nyanyian kesedihan terhebat yang pernah ada.

Langit sempurna terang-benderang. Entah dari mana cahaya itu, kemilau putih tiada tara mengungkung padang-rumput. Seperti ada yang jahil melontarkan seribu kembang api di angkasa. Lagu kesedihan itu semakin kencang. Belasan anak panah yang melesat mengarah ke Sampek luruh seketika. Sembilan larik cahaya biru pukulan tenaga dalam yang bersiap merekahkan kepala Sampek musnah. Dan sekejap, mendadak langit dipenuhi raungan panjang memilukan.

Raungan kesedihan tiada tara.

“Sembilan Naga Surga!” Sampek yang kehabisan tenaga jatuh terduduk. Mulutnya lirih mendesiskan nama jurus legenda terhebat yang pernah ada di dunia persilatan.

“Kau salah, anakku.” Kakek renta yang tadi bersandar di bongkahan batu, kakek-renta yang selama ini digendong, mengambang begitu anggun di atas kepala Sampek. Tersenyum begitu getir. Menatap begitu sendu. Kosong.

“Kau salah, anakku. Ini bukan Sembilan Naga Surga. Ini adalah Delapan Belas Naga Surga.”

Dan mendadak selepas raungan kesedihan panjang tadi, selepas kalimat kakek-renta itu, sempurna merekah dari langit delapan belas kemilau cahaya putih. Melesat dahsyat turun ke bumi. Delapan belas cahaya yang membentuk siluet naga. Begitu besar. Begitu menggetarkan. Begitu hebat!

Naga-naga itu mengaum. Raungan yang pilu. Sahut-menyahut dengan bunyi serunai yang semakin menyesakkan. Rahib Penjaga Pagoda jatuh terduduk, demi Budha Suci, dia tidak pernah tahu legenda jurus itu ada. Bukan sembilan, delapan belas malah. Puluhan pendekar bayaran mencicit ketakutan. Belasan ribu prajurit yang tersisa diam tak bergerak.

Dan dalam sekejap pertunjukan itu selesai. Delapan belas naga itu melesat bagai kilat menerabas prajurit-prajurit yang membeku. Menyapu bersih pendekar-pendekar yang gemetar. Sedetik berlalu. Tubuh-tubuh itu luruh ke bumi. Tanpa nyawa.

Malam itu tidak ada yang bisa menceritakan kembali betapa mengerikan jurus Naga Surga. Hanya Sampek yang sekarang terlihat gemetar berusaha berdiri. Hanya Rahib Penjaga Pagoda yang merangkak bergetar dengan luka di sekujur tubuh.

 

***

 

“Kau berjodoh denganku, anakku.” Kakek renta itu menatap wajah pucat Sampek.

Pagi datang menjelang. Semburat merah menyiram hamparan padang rumput. Sungguh menyedihkan melihat padang rumput nan luas yang sebenarnya indah sekarang dipenuhi tubuh-tubuh bergelimpangan.

Rahib Penjada Pagoda duduk bersandar di sebelah Sampek. Tubuhnya sudah bersih dari gumpalan darah. Semalam Sampek dengan sisa-sisa tenaga membantu mengobatinya. Mukanya tidak kalah pucat dibandingkan Sampek. Dia pikir ketika Rahib Ketua menyuruhnya menjemput kakek-renta ini ke Gunung Kwa Loon itu hanya usaha sia-sia. Ternyata tidak. Menyaksikan jurus itu semalam membinasakan dua ribu pasukan hanya dalam satu tepukan memberikan harapan Biara Shaolin akan tertolong.

“Kau berjodoh denganku, anakku.” Kakek renta itu mengulang kalimatnya, “Kau tahu, hanya kesedihan paling mendalam yang bisa memanggil Naga Surga. Hanya hati yang tercabik-cabik-lah yang bisa memanggil Seruling Surga.”

Terdiam sejenak.

“Ah, aku tidak pernah menyangka kau memiliki kisah hidup yang begitu menyakitkan. Aku pikir saat aku berhasil menguasai jurus itu, mendatangkan dua kali lipat lebih banyak dari leluhur sebelumnya, aku pikir jalan hidupku sudah teramat menyakitkan. Tidak, kau ternyata lebih menyakitkan!” Kakek renta itu menghela nafas.

Sepanjang mengobati Rahib Penjaga Pagoda semalam, Sampek terbata menceritakan potongan masa lalunya. Wajah Engtay yang tersenyum bahagia. Wajah Engtay yang pura-pura merajuk. Wajah Engtay yang pura-pura marah.

“Di dunia persilatan, kekuatan terbesar datang dari hati, anakku. Dan sayang sekali, hanya hati yang pilu yang bisa mengumpulkan tenaga begitu besar. Kau menggumpalkan selaksa rasa sakit, kecewa, marah, sedih menjadi satu. Semakin tercabik-cabik hatimu, maka semakin banyak Naga Surga yang bisa kau panggil. Semakin tajam sembilu itu mengiris, maka semakin benderang cahaya Naga Surga.”

“Kau tahu kenapa hanya orang-orang yang sakit-hatilah yang bisa menguasai jurus tersebut? Karena orang-orang sakit hati lazimnya tidak lagi mencintai kehidupan dunia ini. Ia tidak menginginkan singgasana. Ia tidak menginginkan tumpukan emas. Ia hanya ingin sendiri dengan seluruh luka di hati…. Kau tahu, anakku, celaka kalau jurus itu dikuasai orang-orang yang masih menginginkan kekuasaan, menginginkan dunia dan seisinya.”

“Lihatlah, Budha Suci mendapatkan ilham hebatnya setelah menjalani kehidupan sederhana yang menyakitkan. Membuang jauh seluruh kecintaan akan dunia. Kesedihan yang terkendali sungguh bisa menjadi kekuatan tiada tara. Kesedihan yang terkendali bisa membuat hati bersih, hati yang siap menerima kabar baik langit, termasuk kekuatan langit.”

Angin padang berhembus pelan. Bunga rumput berwarna putih berterbangan. Satu-dua menerpa wajah Sampek yang diam tertunduk. Puluhan burung pipit terbang berkelompok.

“Kau pulanglah ke Biara Shaolin. Aku memutuskan tidak akan membantu!” Kakek-renta menatap Rahib Penjaga Pagoda.

“Tapi…. Bagaimana mungkin…. Kau harus membantu kami!” Rahib Penjaga Pagoda terbata, tidak percaya apa yang dia denga. Jelas-jelas Kepala Biara menyuruhnya pulang dengan membawa kakek tua renta ini.

“Bukan aku, tapi pemuda ini. Dialah yang akan memperbaiki banyak hal. Aku sudah terlalu tua untuk mencampuri urusan dunia. Lagipula aku lebih suka menyepi, sendiri dengan kesedihan masa-laluku. Satu purnama dari sekarang, pemuda ini akan siap memimpin pasukan pemberontak. Berdoalah Budha Suci merestuinya. Kau tahu anakku, Naga Surga hanya bisa dipanggil oleh seseorang yang memiliki hati yang baik. Hati yang apa daya tersakiti oleh sesuatu. Tetapi hati itu tidak pernah membenci atas takdir menyakitkan tersebut. Tidak pernah.”

 

***

 

Satu purnama sempurna berlalu.

Dari selatan melesatlah kabar mencengangkan tersebut. Jauh lebih mencengangkan Istana Terlarang saat sebulan lalu mereka mendengar laporan seribu pasukan mereka mati terbantai begitu saja oleh selusin rahib suci Biara Shaolin.

Kabar mencengangkan itu adalah: dua ratus ribu pasukan rakyat terlatih bagai puting-beliung begerak mendekati ibu-kota. Puluhan rahib suci Biara Shaolin berbaris memimpin. Dan seorang pemuda gagah, dengan wajah sendu memegang tali kekang kuda paling depan. Pemuda yang konon bisa menurunkan naga dari langit. Kabar itu benar-benar menggemparkan, meski sejauh ini tidak ada satu pun yang pernah menyaksikan bagaimana naga-naga itu turun.

Tidak ada yang tahu apakah Sampek menguasai jurus hebat tersebut. Rahib Penjaga Pagoda yang menjadi panglima kedua pasukan pemberontak juga tidak tahu. Sampek memang terlihat berpuluh-puluh kali lebih hebat ketika kembali sebulan kemudian dari Padang Rumput Kwa Loon. Karena itulah dia dipilih Rahib Ketua memimpin pasukan. Selebih dari itu, tidak ada yang tahu selentingan ganjil tersebut.

Tetapi terlepas dari naga-naga, serbuan kaum pemberontak dengan pemimpin barunya membuat jalan cerita peperangan berubah drastis 180 derajat, sekarang Istana Terlarang semakin terdesak. Enam bulan berlalu, perkemahan dua ratus ribu pasukan pemberontak tinggal seminggu perjalanan dari ibukota. Putra Mahkota dan Raja Tang mulai terjepit. Mereka menarik mundur dan mengerahkan seluruh pasukan di gerbang ibukota. Bertahan. Menjanjikan lebih banyak bayaran kepada pendekar-pendekar ternama.

Engtay? Engtay yang tidak pernah tahu kabar Sampek, meyakini Sampek telah mati saat berusaha menjemputnya, setiap malam hanya menangis di sangkar emasnya. Menangisi kematian Sampek. Menangisi nasibnya yang kejam. Dan ia semakin tersungkur sedih saat kabar burung tentang pemuda pemimpin pasukan pemberontakan itu didengarnya. Pemuda tanpa nama dengan wajah sendu. Duhai, sama benar nasib pemuda itu dengan jalan hidupnya.

Malam itu, saat perang terakhir siap berkecamuk, saat perkemahan pasukan pemberontak tinggal sepelemparan batu dari gerbang ibukota, Sampek memutuskan pergi sendiri menuju Istana Terlarang. Akan ada banyak darah yang tumpah, ada banyak rakyat dikorbankan jika pertempuran penghabisan terjadi. Sampek memutuskan menemui Raja Tang.

Menawarkan kesepakatan.

Bagi Sampek, masa-lalu menyedihkan itu sudah tertinggal jauh di belakang bersama tebasan pedang. Masa-masa indah bersama Engtay sudah lenyap tak bersisa bersama kepulan debu pasukannya. Setahun lebih memimpin pasukan pemberontak, malam ini kembalinya dia ke Istana Terlarang hanya untuk menyelamatkan nasib kerajaan. Kakek-renta itu mengajarinya tentang makna kata berdamai dengan masa lalu. Tidak men-dendam apapun. Menerima apa-adanya.

Pemuda gagah berwajah sendu berjalan gagah bersama selusin rahib suci Biara Shaolin menuju gerbang ibukota. Kabar tentang kedatangan Sampek yang hendak menawarkan kesepakatan menerabas cepat tembok Istana Terlarang.

Seratus ribu pasukan terlatih penjaga Istana Terlarang memenuhi halaman. Raja Tang dan Putra Mahkota duduk di singgasana. Bersama puluhan petinggi dan kerabat kerajaan. Bersama pendekar-pendekar ternama yang berada di pihak mereka. Menunggu dengan tegang. Malam itu langit sempurna gelap dikungkung awan-hitam.

Sampek penuh wibawa melangkah melewati halaman luas Istana Terlarang. Menyibak seratus ribu prajurit yang siap siaga menghunuskan pedang. Sampek melangkah ringan, bagai terbang menuju Aula Singgasana raja. Dia terlihat amat mengesankan. Lupakan Sampek yang dulu sering menangis, mukanya memang tetap sendu, tapi penampilannya sempurna sudah seperti raja hebat yang pernah dimiliki kerajaan daratan China.

“Aku hanya berkata sekali. Kau dengarkan atau tidak, itu akan menentukan nasib kerajaan ini.” Sampek menatap dingin Raja Tang. Tanpa sekali pun merasa perlu melirik Putra Mahkota yang duduk di sebelahnya.

“Malam ini, dua ratus ribu pasukan kami membuat tenda di dekat dinding ibukota. Ratusan ribu lagi, rakyat yang berada di kota ini mendukung kami. Jika kau menolak kesepakatan yang kuberikan, mereka akan menghabisi seluruh kota. Pertumpahan darah tidak terhindarkan…. Raja Tang, ambillah keputusan yang bijaksana! Malam ini kau akan mengembalikan tahta ke rakyat jelata, biarkan mereka memilih raja baru yang lebih baik—“

“Omong kosong!” Putra Mahkota memotong kasar, berteriak.

“Aku tidak bicara padamu!” Mata Sampek menatap tajam.

Demi Budha Suci, Rahib Penjaga Pagoda mendesis, sekilas dia melihat siluet naga putih dari mata Sampek.

Putra Mahkota terduduk di kursinya.

“Aku…. Aku tidak bisa memutuskannya malam ini!” Raja Tang yang resah dengan perkembangan menjawab gugup.

“Kita tidak akan pernah menyerah ke pemberontak hina ini, Ayah!” Putra Mahkota bangkit dan berteriak lagi.

“Aku tidak bicara padamu!” Mata Sampek semakin tajam.

Rahib Penjaga Pagoda yang berdiri di sebelah Sampek semakin gentar, dia sungguh bisa melihat siluet naga putih dari mata pemuda yang dulu dididiknya belajar kungfu.

Tetapi ada yang tiba-tiba berseru lebih kencang di Aula Singgasana. Engtay! Engtay yang hamil tua. Tadi baru saja dayang-dayang menyampaikan kabar pemimpin pemberontak sedang bertemu langsung dengan Raja Tang. Mendengarkan detail wajah yang diceritakan dayang-dayang, tiba-tiba dada Engtay berdetak kencang. Sampek. Apakah itu Sampek? Bukankah Sampek sudah mati?

Bergetar Engtay menyebut nama itu. Gemetar tangannya meraih kotak perhiasan di bawah tempat tidur yang selama ini disembunyikannya. Sampek.

Kau-kah itu….

Engtay melangkah tertatih dengan perut buncitnya. Menuju Aula Singgasana. Bergegas.

“Sampek! Kaukah itu….” Engtay berseru sekali lagi. Kali ini dengan suara yang lebih lirih. Tertahan. Gemetar kakinya melangkah mendekat.

Mata-mata tertoleh. Aula Singgasana senyap.

Sampek sempurna tidak menoleh.

Engtay melangkah ke depan. Melupakan adab Istana Terlarang. Berusaha memeluk Sampek.

“Apa yang kau lakukan, istriku!” Putra Mahkota berteriak galak, mencengkeram baju Engtay.

“Lepaskan aku!” Engtay meronta, mendorong Putra Mahkota, terus melangkah maju.

“Sampek… Kaukah itu? Oh, demi Budha Suci. Ternyata kau masih hidup…. Kau masih hidup!” Engtay gemetar menyentuh wajah Sampek.

“Kau salah orang, Nyonya.“ Sampek berkata dingin.

“Aku tidak salah orang…. Aku tidak salah orang!” Engtay mendesis berkali-kali. Wajahnya antara hendak menangis, tidak-percaya, bahagia, dan entahlah.

“Kau salah orang, Nyonya.“ Suara Sampek bergetar.

Engtay mencengkeram baju kebesaran Sampek.

“Kau lihat ini! Lihat ini!” Engtay melepas kerah yang menutupi lehernya, menunjukkan kemilau liontin yang baru saja dikenakannya. Liontin Permaisuri Dinasti Chin.

Maka terjadilah kerusuhan itu. Benar-benar celaka. Semua orang tahu Dinasti Chin adalah dinasti yang ditaklukkan Dinasti Tang puluhan tahun silam. Orang-orang selatan yang memberontak juga pendukung dinasti masyhur tersebut. Putra Mahkota mendadak beringas saat mengenali liontin itu. Apalagi saat melihat mendadak Engtay berusaha memeluk kaki pemimpin pemberontak di hadapan mereka.

“Apa yang kau lakukan, perempuan hina!” Putra Mahkota menarik tubuh Engtay. Kasar sekali.

Engtay terjerambab jatuh. Ia mengaduh, tapi yang keluar dari mulutnya hanya desis nama Sampek.

“Kenapa kau memakai liontin terkutuk ini? Apa kau bagian dari pemberontak? JAWAB!” Putra Mahkota berteriak kalap. Mengguncang tubuh Engtay.

Engtay malah berusaha merangkak kembali memeluk kaki Sampek. Putra Mahkota yang marah dan tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi mendadak menghunus pedangnya. Tanpa berpikir panjang menusuk tubuh Engtay begitu saja. Darah mengalir di depan singgasana raja.

Darah mengalir….

Sampek yang sejak tadi berusaha tidak menatap wajah Engtay terkesiap. Sampek yang sejak awal berusaha mengabaikan Engtay terperangah. Wajah Engtay yang bergelung di dekat kakinya terlihat amat kesakitan. Meringis. Pedang itu sempurna menembus perutnya.

Sampek berseru tertahan.

“Bunuh mereka!” Putra Mahkota berteriak kalap.

Maka dalam sekejap pendekar bayaran yang berbaris di depan Raja Tang merangsek menyerbu. Juga ribuan prajurit lainnya. Aula Singgasana berubah kacau-balau. Rahib Penjaga Pagoda dan belasan rahib suci lainnya buru-buru membentuk lingkaran melindungi Sampek yang gemetar berusaha memeluk tubuh Engtay.

Pertempuran dahsyat itu terjadi. Salah seorang rahib suci menembakkan kembang-api ke angkasa. Dua ratus ribu pasukan pemberontak yang bersiap di gerbang ibukota menunggu hasil perundingan tahu apa yang telah terjadi di Istana Terlarang demi melihat letupan kembang api tersebut. Mereka serentak menyerbu. Kacau-balaulah ibukota malam itu. Penduduk kota yang mendukung pemberontakan ikut melawan. Membakar barak-barak prajurit, rumah-rumah petinggi dan keluarga kerajaan. Ibukota memerah!

Semerah hati Sampek saat ini.

 

”Kaukah itu Sampek?” Engtay, berbisik lirih, menahan rasa sakit, darah membanjiri pakaian puterinya.

“Iya, ini aku, Engtay. Ini aku..” Sampek mendesis tertahan, berusaha membantu Engtay duduk.

Luka lama itu sempurna menganga kembali.

“Aku tahu. Kau pasti akan kembali, Sampek…. Aku tahu kau pasti akan menjemputku.” Mulut Engtay bergetar. Mencoba tersenyum. Mata Engtay berbilur air dan darah. Perutnya bersimbah darah. Tersengal. Satu-dua.

Dua rahib suci terpental terkena pukulan Sejuta Cahaya Rembulan. Lingkaran yang dipimpin Rahib Penjaga Pagoda untuk melindungi Sampek semakin terdesak. Pendekar paling ternama saat itu di daratan China, Ketua Partai Bulan-Anggrek yang amat membenci Biara Shaolin tanpa ampun mengeluarkan jurus mautnya. Mendesis menyebar kematian. Dia bukan lawan bagi rahib Biara Shaolin, bahkan Kepala Biara belum tentu bisa mengalahkannya.

“Aku mohon. Jangan pergi! Ini aku Engtay, ini Sampek.” Sampek berseru tertahan.

“Aku akan pergi, Sampek. Aku akan pergi dengan bahagia. Aku akan pergi dalam pelukanmu. Seperti yang kuinginkan sejak pertama kali mengenalmu. Seperti yang kuinginkan sejak pertama kali mengenal kata cinta. Maafkan aku yang tidak kuasa menentang perjodohan itu. Maafkan aku…. Aku akan selalu mencintaimu….” Engtay berkata lirih, dan sempurna di ujung kalimat itu tubuhnya terkulai lemah.

Sampek berseru tertahan memanggil Engtay.

Sampek berseru panik….

Tetapi semuanya sudah terlambat. Hati Sampek tercabik sudah. Wajah Engtay yang bersemu malu saat ketahuan berendam di Danau Lu, wajah Engtay yang tersipu-sipu saat dia memakaikan Liontin Permaisuri Dinasti Chin, wajah Engtay yang memeluk tubuhnya bergelimang darah di depan gerbang Istana Terlarang. Wajah-wajah itu terukir kembali di pelupuk matanya.

Dulu dia hanya setetes air. Istana ini bagai tembok batu raksasa. Dulu tangannya lemah tak-kuasa menjemput pujaan hatinya. Sekarang! Sampek melenguh tertahan.

Meraung penuh kesedihan.

Sempurna saat Sampek berseru, saat pukulan Sejuta Cahaya Rembulan Ketua Partai Bulang-Anggrek yang konon bisa menghancurkan sebuah gunung menderu deras ke arahnya, saat itulah mendadak langit malam berubah terang-benderang. Seperti ada yang jahil sekali melemparkan seribu kembang api di angkasa.

Saat itulah serunai kesedihan yang memilukan hati, membekukan seluruh perasaan mengungkung ibukota. Benar-benar nyanyian yang mengiris-iris perasaan. Membuat kaki gemetar. Membuat kerongkongan kering. Melenguh tak terkatakan. Pukulan Sejuta Cahaya Rembulan yang sejengkal lagi menerpa Sampek musnah seketika.

“Delapan Belas Naga Surga.” Rahib Penjaga Pagoda yang masih bertahan mendesah gentar. Lututnya gemetar demi menyaksikan kehebohan yang sempurna menghentikan seluruh gerakan.

Keliru! Penjaga Pagoda sungguh keliru. Malam itu, Sampek bukan hanya memanggil delapan belas, tapi seratus Naga Surga. Seratus Naga Surga yang melesat turun dari langit. Seratus cahaya putih yang membentuk siluet naga berkemilauan tiada tara. Begitu besar. Begitu menggetarkan. Begitu hebat. Hati Sampek sempurna tercabik seratus bagian, menyisakan kepingan kesedihan tak-terkatakan.

Lihatlah! Sampek mengambang dengan wajah pilu di atas singgasana raja. Memeluk tubuh membeku Engtay. Tubuh kekasih hatinya yang bersimbah darah. Tubuh sepotong-jiwanya yang sedang hamil tua.

Dan hanya sekejap pertunjukan hebat itu berlangsung. Seratus Naga Surga dengan buas melesat ke bumi. Menerabas hati siapa saja yang kelam malam itu. Menerabas hati siapa saja yang mencintai kejahatan dan kebencian. Sedetik berlalu. Seratus ribu pasukan kerajaan di halaman Istana Terlarang jatuh bagai pohon lapuk. Tidak bernyawa. Ratusan pendekar di aula singgasana luruh. Ketua Partai Bulan-Anggrek. Raja Tang. Putra Mahkota. Ribuan prajurit kerajaan di gerbang ibukota. Semuanya musnah dalam sekejap.

Malam itu, legenda Naga Surga akan dikenang sepanjang masa. Malam itu, Sampek yang menatap kosong membawa pergi tubuh dingin Engtay ke Padang Rumput Kwa Loon. Menyepi hingga maut menjemputnya. Dan orang-orang mulai melupakan betapa legenda itu pernah ada.

Legenda Sampek-Engtay

 

***

 

*ditulis ulang dengan versi yg amat berbeda dari cerita Sampek-Engtay

**kalau naskah ini dibuat film, kayaknya seru membayangkan pemeran Rahib Penjaga Pagoda oleh Jet Li, terus Pendekar Anggrek-Bulan yg jahat, Chow Yun Fat, nah si Sampek oleh Rain, si Engtay, pasangan Rain di full house itu :p