Sejurus kemudian keduanya sudah bergabung dengan beberapa reporter dari majalah dan stasiun TV yang akan meliput kegiatan Key di Seoul National University Children’s Hospital.

Pemuda itu memasang wajah segar penuh energi di depan gelombolan itu. Menyungging senyum tipis, sedikit menengok ke kiri saat reporter mulai mengambil gambarnya. Hei! Tentu saja dia profesional. Bukan hanya tampil prima di setiap kesempatan, tapi juga tahu benar dari sudut mana wajahnya terlihat ‘memukau’ di mata kamera.

“Selamat datang! Wah, sungguh beruntung sekali ada artis terkenal datang kemari. Anak-anak pasti senang sekali dikunjungi idolanya.” Seseorang berjas putih –bisa jadi dokter- menyalami Key penuh antusias. Seorang gadisbertubuh mungil yang juga berjas putih –tapi nampak masih terlalu muda untuk menjadi seorang dokter- tersenyum tanggung, menyalami Key acuh tak acuh.

Key membungkuk, memberi hormat.

“Jadi, bisa kita mulai acaranya sekarang?” Manager SHINee lagi-lagi tak sabaran. Semua orang mengangguk setuju, beriringan menuju bangsal perawatan.

“Key-hyung!!”

“Key-oppa!!”

Oppa!!”

“Whaahh??”

MWO?”

“Kyaa!!”

Berbagai teriakan bercampur dengan bermacam ekspresi saat Key memasuki salah satu bangsal. Beberapa anak usia 6 sampai 12 tahun menyambutnya riang, bengong, tak percaya, melompat-lompat di tempat tidur dan lain sebagainya.

Key melaksanakan ‘tugas’nya dengan baik. Tersenyum ramah, merangkul, menepuk bahu, menyapa, mengucapkan kata-kata semoga-cepat-sembuh dan basa-basi lainnya. Reporter tak henti-hentinya menjepretkan kamera, lampu blitz tak henti berkedip, menangkap momen manis-mengharukan antara artis dan fans-nya yang sedang sakit. Diam-diam di sudut ruangan, gadis berjas putih ber-puh pelan, tersenyum ramah saat beberapa anak –yang sedang tidak ‘kebagian’ Key- menyapanya.

Seseorang yang berjas putih tadi menepuk bahu Key pelan, mengingatkan saatnya-pindah-kebangsal-berikutnya. Key sekali lagi tersenyum manis pada semua anak, melambai ringan menuju bangsal berikutnya. Diam-diam ber-puh panjang, pipinya terasa kebas terus menerus tersenyum. Gadis berjas putih menautkan alis melihat kelakukan Key, memberengut sebal.

Memasuki bangsal selanjutnya, Key sedikit berjengit. Tak ada teriakan riang, sambutan hangat apalah. Penghuni bangsal ini muram, semuram kelambu yang menggelayut di tepi tempat tidur mereka. Key melirik sekilas pintu bangsal, ber-oh pelan. Intensif Care Unit.

Orang berjas putih itu berbisik pelan, mengabarkan bahwa anak-anak bermata polos ini menderita penyakit parah. Key mengangguk iba, menggenggam tangan mungil seorang anak berumur kurang lebih 5 tahun yang menderita hepatitis.

Rombongan keluar dari bangsal muram itu tanpa banyak bicara. Key mengangkat tangan, siap mengusap wajah, capek. Tapi ia tiba-tiba teringat sesuatu, menatap telapak tangannya beberapa detik. Steril nggak ya?

“Wastafel-nya disebelah sana.” Tunjuk si yeoja berjas putih ke ujung lorong, melempar seringai sinis pada Key.

Melihat ekspresi tak ramah itu, otomatis Key menaikkan alis, melirik nametag di dada kiri yeoja berjas putih itu. Cho Hyo Ra – Internship. Key balas tersenyum, sekuat hati tidak menyeringai sinis, tidak mau menghancurkan reputasi dan imej-nya. Sejurus kemudian Key sudah mengambil langkah lebar menuju wastafel.

“Ini hadiahnya,” Manajer SHINee menyodorkan Teddy Bear besar ke dalam pelukan Key. “Namanya Lee Minji. Lockets. Bersikaplah yang baik padanya.”

Key mengangguk paham. Inilah acara utama ia datang ke rumah sakit. Menemui gadis kecil berumur 12 tahun bernama Lee Minji. Fans berat Key yang menderita leukimia. Seminggu yang lalu, ayah Minji menulis sebuah surat terbuka di SHINee Official Site. Menceritakan hal yang menimpa Minji, memohon Key bersedia menjenguk. Berlebihan, mengatakan hal itu sebagai permintaan terakhir Minji.

Pihak manajemen SHINee memutuskan tak ada salahnya Key datang menjenguk. Justru akan menjadi ajang promosi yang bagus. Hei! Merayakan ulang tahun–tepatnya seminggu yang lalu–dengan mengunjungi seorang fans yang sedang sakit parah. Bukankah itu sesuatu yang sangat mulia, menyentuh hati? Lagipula, program ini sejalan benar dengan program Together for Africa yang didukung SHINee bukan? Sekali mendayung, banyak pulau terlampaui.

Oppa!!” Sebuah teriakan riang menyambut Key.

Key tersenyum lebar pada gadis kecil yang tengah memandangnya dengan mata bulat jernih dan sempurna bersinar polos. Wajah Minji yang pucat dan tirus tampak menyunggingkan senyum lebar.

“Apa ini benar-benar Key-oppa? Minji tidak salah lihat ‘kan? Kyaa!!” Minji berseru antusias dalam pelukan Key.

Hyo Ra yang sebenarnya sejak pertama kali melihat Key datang sudah sebal setengah mati mendengus pelan. Buru-buru memalingkan wajah saat Key menoleh padanya, memasang ekspresi bertanya, ada-apa-denganmu?

Minji mengikuti arah pandangan Key, tersenyum lucu, “Hyo Ra-eonni pasti sedang sebal sekali ya?” Terkekeh geli.

Hyo Ra tak sadar menyeringai jengah, menggaruk lengan kirinya dengan tangan kanan.

Key memutar mata, “Kenapa Hyo Ra-noona merasa sebal?” Tanyanya sembari menepuk pelan pipi Minji. Sukses membuat Hyo Ra kembali mendelik, setengah karena Key sok kenal dan sok ingin tahu, setengah karena Key memanggilnya dengan sebutan Noona.

“Karena Eonni tidak menyukai boyband,” sahut Minji santai, tanpa tendensi apapun.

Key hanya menyeringai tipis. “Selera orang memang beda-beda ‘kan? Biarkan saja!” pikirnya ringan.

“Kata Hyo Ra-eonni, boyband itu hanya modal tampang, menjual ketampanan saja. Selebihnya NOTHING….”

Wajah Key sontak memias mendengar celutukan Minji. Sementara di sudut ruang, Hyo Ra tersedak hebat.

Eonni selalu bilang, mereka itu berani-beraninya mengaku menjadi penyanyi, padahal tidak bisa lepas dari tutu-”

“Tutu?”

“Autotune, Minji-ya.”

Dua suara menyela bersamaan. Key yang bingun–sejak kapan ia memakai tutu—dan Hyo Ra yang membenarkan pengucapan Minji.

Gadis cilik itu hanya menyeringai, “Iya, aututu!” serunya antusias. Tanpa member jeda, gadis itu kembali asyik bercerita.

***

Catatan : ‘Hanya’ potongan adegan yang tidak jadi dimasukkan ke FF Real (or) Dream.

🙂