Ara vs Jonghyun — Perfect (yet) Dull Big Brother

“Hmm… sepertinya tidak,” sahut Ara malas-malasan. Gadis itu memandang lime squash-nya dengan prihatin. Sibuk membenak sendiri. Taruhan, sampai aku kembung menghabiskan 4 gelas minuman, sesi curhat bersama ‘pacar oppa’ ini tidak akan selesai, pikirnya.

Ji Hye menenggelamkan wajahnya di antara kedua lengannya yang bertumpu pada meja. Mengeluh panjang, “Jjong-oppa benar-benar berubah. Aku tidak mengenalnya lagi.”

Ara mendengus sebal, namun buru-buru menyeringai lebar saat Ji Hye menatapnya dengan pandangan bertanya.

Oppa hanya sedang sibuk saja, Eonni. Namanya juga skripsi,” kilahnya Ara, setengah mati menahan sebal saat harus memanggil Ji Hye dengan sebutan Eonni. Gadis itu memang paling malas dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan senioritas umur.

“Tapi biasanya tidak seperti ini, Ra. Sesibuk apapun dia, Jong-oppa selalu punya waktu untukku. Dulu ia selalu menjemputku, menelpon juga mengirim pesan sekadar bertanya aku sedang apa, sudah makan atau belum. Juga selalu ada waktu saat aku memintanya menemaniku kemanalah. Selalu ada waktu,” papar Ji Hye dengan nada memelas.

Suara gadis cantik itu terdengar serak saat menambahkan, “Sekarang, menelponku saja tidak.”

Ara menggigit bagian dalam bibir bawahnya dalam upaya menahan teriakan sisi jahatnya yang nyaris terlontar. “Baguslah! Berarti  Oppa sudah sembuh dari kegilaannya!”

Eonni sudah berusaha menghubungi Oppa? Kalau dia tidak menelponmu, kenapa bukan kau saja yang menelponnya?” Tanya Ara hati-hati. Ji Hye –kakak kelas yang sekaligus kekasih oppa-nya itu- nampak mulai menahan tangis.

Ji Hye benar-benar menangis. Di sela-sela isakannya, ia menjawab pertanyaan Ara. “Sudah. Oppa hanya mengatakan ia sedang tidak ingin diganggu.”

Ara membulatkan mata. Setengah tidak percaya kalau Jonghyun bisa sedingin itu pada Ji Hye.

“Apa salahku, Ra?”

Ara hanya bisa mengedipkan matanya beberapa kali, bingung hendak menjawab apa. Setahun lebih ia pacaran dengan Minho, mereka tidak pernah mengalami hal seperti ini. Dia juga tidak bisa membandingkan Minho dan Jonghyun. Lagipula, sekalipun Jonghyun adalah kakak kandungnya, Ara merasa tidak benar-benar mengenalnya. Jonghyun bukan tipe yang mudah ditebak apabila sudah berkaitan dengan perasaan dan seleranya pada wanita.

***

Oppa!”

“Jong-oppa!”

“Jonghyun-oppa!”

Ya! Kim Jonghyun!”

Jonghyun mendelik ke arah sumber suara. “Hmm?” gumamnya dingin, walaupun tentu saja tak sedingin tatapannya pada sosok gadis yang tengah berkacak pinggang di depannya.

“Aku bosan meladeni ‘kekasihmu’ itu. Jadi, telpon dia sekarang juga dan selesaikan urusan kalian!”

“Kekasih apa? Yang mana?”

“Haisshh…. Dewasalah sedikit! Kalian ‘kan jadian baik-baik! Sekalipun mau putus, ya putus dengan baik-baik juga!”

“Aku , euh, kami baik-baik saja. Hanya sedang bosan.”

“Bosan?”

“Kau kenal baik siapa Ji Hye. Dia itu terlalu baik, terlalu sempurna. Hubungan kami terlalu sempurna. Dia selalu ada, selalu mengerti, selalu percaya. Membosankan. Aku juga ingin sesekali merasakan apa itu cemburu, dicemburui, marah, kangen.”

Ara vs Key — Fuckin’ Bestfriend

“Kau tidak mengenalnya, Key. Jadi jangan menghakimi Kai dengan asumsi yang belum tentu benar. Dia… pemuda yang baik.”

“Pemuda baik-baik tidak akan mabuk seperti itu!”

Ara terkekeh kecil, menggeleng pelan. “Seperti kau tidak pernah mabuk saja.”

“Aku bukan pemuda baik, Ra!” Seru Key kesal. Pemuda itu tak sadar kalau kedua tangannya mulai mengepal keras.

“Begitu? Lalu kenapa kau tidak melarang aku berteman denganmu?”

“Karena… karena… kita hanya berteman, Ra. Tidak lebih. Dan tidak akan kubiarkan lebih dari itu,” gumam Key lemah.

“Aku juga hanya berteman dengan Kai,” sanggah Ara.

Key menggeleng frustasi, “Kau memang hanya berteman dengan Kai, setidaknya hingga sekarang ini. Tapi dia? Tidak, Ra. Dia menganggapmu lebih dari sekadar teman.”

“Jangan membantah! Aku juga laki-laki, Ra! Aku tahu dari caranya menatapmu! Dari nada bicaranya padamu! Dari caranya memperlakukanmu! Aku tidak buta,” potong Key cepat, membungkam Ara yang siap memprotes apalah.

“Dengar, Ra! Aku tidak peduli kau mau berhubungan dengan siapa, hanya saja…” Key nampak berusaha mengatur nafasnya yang terengah karena emosi sebelum akhirnya menambahkan pelan, “kau tidak boleh terluka karenanya.”

Ara menatap Key dengan sorot kosong. “Kenapa?”

Key mengusap wajah dengan  telapak tangan. “Karena… aku tidak suka melihatmu menangis.”

“Kenapa?”

Key menggerung pelan melihat Ara yang terus mendesaknya.

“Kenapa, Key? Aku tidak akan minta es krim padamu sekalipun aku menangis. Jadi kau tidak perlu takut.”

“Coz i’m your fucking bestfriend!”

Ara vs Minho — Annoying (Ex)Boyfriend

“Berhenti mengaturku, Ho! Aku bukan pacarmu lagi!”

Minho mengeryit tak percaya. Pemuda itu merasa dadanya tiba-tiba terasa sakit, seolah ada batu besar yang menghantam.

“Aku tahu, tidak perlu kau teriakkan seperti itu.”

“Maaf, aku….”

“Sudahlah. Lagipula, kalau diingat-ingat lagi, kita memang tidak pernah secara resmi berpacaran.”

“Eh?”

“Seingatku, saat itu aku memintamu menjadi calon istriku, bukan menjadi pacarku. Dan itu masih berlaku sampai sekarang ‘kan?”

“Eh?”

“Aku memang bukan pacarmu lagi, tapi tetap calon suamimu.”

“Euh….”

Ara vs Kai — Damn Cute Bad Boy

Ara : “ARGH!! Menyebalkan!”

Kai : “Hei, aku tidak keberatan menjadi sansak kalau kau merasa ingin memukul sesuatu.”

Ara : “Oh?! Thanks!”

Kai : “Kuanggap itu penolakan. Tapi, berhubung aku sangat baik hati, kuberi satu penawaran lagi.”

Ara : “Hmm?”

Kai : “Aku tidak keberatan jadi boneka jika kau ingin memeluk sesuatu.”

Ara : “YOU… PERVERT!”

Kai : “Wow! Aku tidak mengira kau meminta hal seperti ini. Tapi… yeah, aku tidak keberatan menjadi apapun. Anything for you, Babe.”

Ara : “Menjijikkan!”

Kai : “Ah… ini permintaan yang sulit. Memiliki pesona yang tertahankan sepertiku, menjadi menjijikkan itu hampir mustahil.”