credit picture to @HuisuYoon

__________________________________________________________

“Kau berubah, aku nyaris tidak mengenalimu lagi.”

Kau menatap lawan bicaramu dengan alis bertaut. Berubah?

“Segala hal berubah, Lang. Hanya perubahan itu sendiri yang tidak berubah,” sahutmu kemudian, menghela nafas panjang. Berharap oksigen bisa sedikit mendinginkan otakmu.

Lang, sosok jangkung yang nyaris tak pernah menatapmu saat sedang berbincang itu nampak tersenyum sinis. Atau… miris? Entahlah.

“Semua berubah, menjadi lebih baik. Kau? Tidak,” ungkapnya dingin. Sorot matanya yang senantiasa teduh tak beriak nyaris membuatmu yakin kalau Lang hanya bercanda.

Kali ini kau memutar bola mata, menimpal ringan, “Begitu? Baik menurut apa, siapa? Apa standar yang kau gunakan dalam menilaiku?”

Alih-alih menjawab, Lang hanya menunjuk dada sebelah kanannya. “Setiap orang punya hati nurani sebagai penuntunnya,” ucapnya singkat.

Kau terkekeh pelan, campuran antara geli dan keinginan memperolok sahabatmu. “Aku tahu kau seorang situs inversus[ii]. Tapi sama sekali tidak tahu kalau hati dan jantungmu juga tertukar tempat.”

Lang menatapmu dengan pandangan mencela, “jangan berlagak naif. Kau tahu persis perbedaan heart, liver, jantung, hati beserta seluruh kesalahkaprahan yang terjadi diantara mereka!”

Kau menelan ludah gugup, cepat mengklarifikasi, “maaf, aku hanya bercanda.”

“Aku tidak sedang bercanda denganmu!”

Intonasi Lang yang terdengar kasar membuatmu berjengit. Di luar kelazimannya, pemuda itu menatapmu tajam.

“Kau berlebihan. Tidak, dengarkan aku dulu,” potong Lang cepat saat kau hendak membantah.

Kau menyipitkan mata, namun tak urung tetap mengunci mulut, menunggu kalimat selanjutnya terlontar dari bibir Lang.

“Sungguh ini bukan masalah uang. Aku tahu dua setengah juta bukan nilai yang besar untukmu. Ini masalah hati nurani. Apa yang kau pelajari selama ini dari teman-temanmu? Tak ada? Atau kau tahu tapi tak mau tahu? Tak mau ambil peduli?”

Pertanyaan itu sungguh terdengar laksana pernyataan di telingamu. Kau merasa sosok di hadapanmu tengah menghakimi.

“Kau benar. Besar kecil memang relatif. Dua setengah juta bagiku itu sama dengan satu bulan pengeluaran. Bagi siapalah, itu senilai dengan satu hari uang jajan. Dan bagi sebagian yang lain, itu berarti 4 bulan kehidupan. Bahkan, mungkin di luar sana ada yang menghargainya dengan satu nyawa. Kita tidak akan pernah tahu. Lalu apa, Lang?”

Lang mendengarkan pembelaanmu dengan sorot malas. Menimpali dingin, “masih bernilai sebulan untukmu? Bukankah sudah menjadi 4 jam? Mestikah kukatakan dengan lugas, dua setengah juta bagimu, senilai dengan euforia sesaat?”

“K-kau berprasangka, Lang?” gagapmu, tak percaya. “Aku ingin. Sungguh ingin. Tapi tidak semua yang kuinginkan berarti akan aku lakukan. Sekalipun aku mampu melakukannya,” imbuhmu gamang.

“Sungguh ingin?”

Kau tak akan semarah ini jika pertanyaan Lang barusan berhenti sebatas pertanyaan lalu diam. Sayangnya, tawa kering Lang memberi efek mengenaskan pada dua kata tersebut, membuat emosimu tersulut. “Kau memandang kami dari kaca berwarna, Lang. Kau melihat apa yang kau pikir kau lihat. Melabeli kami. Stereotip,” keluhmu tertahan.

“Kami siapa yang kau maksud? Jangan kau katakan kau telah menjadi bagian dari mereka!” sergah Lang cepat, seolah kata ‘kami’ telah membentangkan jarak di antara kalian.

Kau memejamkan mata sejenak, mencoba berpikir jernih. Berusaha memilah antara kebenaran dan pembenaran. Ternyata perkara ini tak sesederhana yang tampak di permukaannya.

“Berlebihan. Hedonis. Hanya bersenang-senang. Berfoya-foya. Menghamburkan uang yang bahkan bukan berasal dari keringat kami sendiri. Membebani orang tua dengan hal-hal tak berguna. Luar biasa keterlaluan dalam menilai penampilan luar, fisik.  Tak berpendirian. Tak dewasa. Ikut-ikutan. Tak punya jati diri. Tak memiliki pemahaman yang baik. Labil. Absurd. Tidak realistis. Pemimpi. Pengkhayal. Dan… entah apalagi atribut yang kami sandang. Tak sepenuhnya benar, kuakui tak seluruhnya salah.” Kau terkekeh kecil sebelum menambahkan dengan miris, “sampai sekarang aku bahkan belum yakin benar dengan jawaban yang kuberikan padamu atas pertanyaan itu.”

“Andai mereka hitam, rambut gimbal, kudisan, tongos, berjerawat, bopeng, bungkuk, kikuk atau apalah lainnya sebagaimana kau mendeskripsikan jelek, apa kau masih mengidolakan mereka,” lirih Lang. Suaranya seolah berasal dari tempat yang jauh. Pelan namun terus saja terngiang.

Kau mengangguk, kehilangan kata.

“Aku, kau, kita, mereka, bahkan mungkin semua orang di dunia ini, Lang. Ya, kita, saling memandang melalui kaca berwarna. Semua yang kau lihat tentangku adalah hitam, serupa dengan warna kaca yang kau pakai. Kau memandang buruk padaku. Salahkah jika aku menginginkan sesuatu? Salahkan jika aku berkorban untuk keinginanku itu? Tentu ini bukan hanya soal uang. Tapi bisakah kau bertoleransi sedikit saja? Tidak perlu menyerang atas nama moral, kemanusiaan atau apalah. Aku tahu dua setengah juta itu bisa berarti banyak bagi pengungsi Rohingya, korban kebakaran Cakung, warga antah berantah bernama Kampung Beting. Bahkan aku belum pernah bersedekah mencapai angka dua setengah juta. Tapi, Lang, aku juga melihat kau senantiasa merah, karena begitulah warna kaca milikku.”

Kau menghela nafas sebelum kembali melanjutkan, “kau yang memandang rendah selera kami. Kau yang menghina apa yang kami sukai. Kau yang sok suci. Berlagak macam dunia dan segala masalahnya adalah tanggung jawabmu. Kau yang selalu sibuk berkutat dengan segala perang. Perang ideologi, perang pemikiran, perang kebudayaan, perang nilai-nilai moral, dan entah perang apalagi. Kau yang….”

Kali ini kau sungguh kehilangan kata. Hanya diam yang tercipta. Lang, entah mengapa ia ikut terdiam. Kau sungguh tak tahu apa yang terlintas di otaknya. Adakah ia memahami perkataanmu? Ataukah Lang terlalu malas untuk menanggapi karena merasa sia-sia berbicara dengan orang yang tidak mau memahami?

“Hidup memang begini. Saat yang lain berdesakan demi sesuap nasi atau segelas air bersih, sekelompok orang mengantri panjang demi memanjakan mata dan telinga. Seperti katamu, ini semua relatif.” Lang nampak menghela nafas panjang, seolah menyerah.

“Aku hanya berharap, kau tak mengabaikan apa yang dikatakan hati nuranimu sendiri. Karena ia, selamanya,” ucapnya sembari memegang kembali dada kanannya, “ada di sini.” Sesaat kemudian ia beranjak meninggalkanmu.

Kau hanya bisa terdiam, menatap nanar punggung Lang yang semakin jauh.

“Bukankah pengalaman adalah guru terbaik, Lang? Pengalaman baik, pengalaman buruk, bukankah semua itu pembelajaran? Bahkan belajar pun perlu proses, Lang. Maka biarkan aku berproses, belajar dari pengalaman. Hanya saja, kali ini, pengalaman itu harus bernilai dua setengah juta,” bisikmu pelan, lebih pada diri sendiri.

footnote :

[i] Berpikir/ menilai sesuatu berdasarkan prasangka/ stereotip (Korean Proverb)

[ii] Suatu kondisi bawaan di mana seseorang memiliki letak organ dalam terbalik kanan kirinya (seperti dicerminkan)