2 – DRAF

 

Zara menghembuskan nafas panjang, setengah lega–prolognya sudah selesai, sekaligus setengah putus asa–belum ada ide untuk melanjutkan ceritanya. Gadis itu menggeliat pelan, meluruskan punggung. Mengetik selama 2 jam membuat pungungnya terasa kaku dan pegal. Sejurus kemudian ia nampak meraih cangkir kopi, menyesapnya perlahan, sudah dingin.

Saat ia berniat membaca ulang draf novel buatannya, tiba-tiba ponselnya berdering melantunkan lagu My Heaven milik boyband kesayangannya, BIG BANG. Zara mengeryit heran melihat nama yang terpampang di layar ponsel.

Lang Calling….

Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, Zara menekan tombol terima, menyapa malas, “what’s wrong, Kei?”

“EH? Darimana lo tau klo ini gue, bukan Lang? Dahsyat feeling lo. Emang jodoh kali ya… kita!” Sebuah suara nge-bass namun cempreng menyahut dari seberang sana.

Zara menghembuskan nafas malas bercampur sebal, “Kak Lang nggak sebejat elo kali, Kei. Cuma lo orang enggak waras yang tega banget nelponin cewek tengah malem gini,” sahutnya mengkal.

“Besok lo berangkat sekolah nggak?” tanya Kei cuek, mengabaikan omelan Zara.

Gadis itu mendengus sebal tanpa basa-basi, “emang elo! Mbolos mulu.”

“Yeee… gue ‘kan nanya. Sewot amat.” Dari seberang terdengar kekeh geli Kei, “gue jemput ya!”

“Terserah,” jawab Zara singkat, memutus sambungan telpon. Ia tak habis pikir, kenapa cowok suka sekali melakukan pekerjaan yang tidak penting? Asrama sekolah -tempat Kei tinggal- jelas-jelas hanya berjarak sepelemparan batu dari sekolah mereka, kenapa cowok itu masih saja kurang kerjaan, hendak menjemput kerumahnya yang berbilang belasan kilometer? Aneh. Yang lebih aneh lagi, kenapa Kei menelpon dengan menggunakan ponsel Lang? Kenapa harus Lang? Kenapa Lang? Kenapa…?

Malas memikirkan tindakan konyol Kei, gadis itu melirik lagi layar netbooknya, menggeleng kecil, menghembuskan nafas panjang. Ini pertama kalinya ia mencoba membuat sebuah novel tanpa konsep yang jelas, akan dibawa kemana ceritanya itu nanti. Entah kenapa, malam ini dia tiba-tiba ingin membuatnya. Dan ide yang pertama melintas di otaknya adalah dongeng Putih Salju dan 7 Kurcaci. Tentu dengan kisah yang luar biasa berbeda. Mungkin semacam gabungan antara fantasi dunia angel, elf, vampire, manusia serigala, siluman rubah betina, dewa-dewi Yunani, mitos hantu-hantu Jepang, atau bahkan, peradaban yang telah hilang. Memikirkan segala kemungkinan itu, Zara menyeringai antusias.

Di sisi lain kota, tepatnya di kamar kecil milik Lang , Kei juga menyeringai lebar, “Za manggil lu pake Kak, Lang. Kabar baik tuh!”

“Kagak usah cengar-cengir! Pulang sana!” usir Lang dengan kejam, merenggut ponselnya dari tangan Kei, mengabaikan perkataan Kei barusan.

Kei tersenyum aneh, “Tapi gue masih kangen ama elu, Lang,” candanya dengan nada sok manja.

“Najis!” gertak Lang garang, menendang pantat Kei. Tentu saja hanya main-main, tidak sungguhan. Tapi perlakukan main-main Lang tidak bertahan lama, sesaat kemudian ia benar-benar mendorong punggung Kei yang bermalas-malasan ke arah pintu, mengusir teman sekaligus tetangganya itu.

“Lang… gue tidur di tempat lo aja deh,” pinta Kei dengan nada sok memelas.

Lang menggeleng tegas, tetap berkacak pinggang di bawah bingkai pintu, menghalangi Kei yang kembali berusaha masuk. “Penakut banget sih. Pocong juga ogah nemuin elo.”

Kei memberengut kesal, “pocong emang enggak. Yuki-Hime, atau paling enggak, siluman rubah betina berekor sembilan. Mereka pasti ngebet banget  liat tampang gue yang cakepnya berlebihan ini!”

Lang berdecak kesal, bergumam tak jelas, “pantes aja Cla nggak ngakuin lo sebagai kakaknya.”

Tanpa basa basi lagi, Lang menutup pintu apartemennya dengan kasar, meninggalkan Kei yang masih bersungut-sungut. Sejurus kemudian akhirnya Kei beranjak menuju kamarnya -tentu saja setelah menyempatkan diri menendang pintu kamar Lang- yang terletak 2 lantai di atas kamar Lang. Mereka berdua memang tinggal di asrama yang disediakan sekolah. Belajar mandiri tentu saja menjadi topeng, kebebasan adalah yang utama.

***

Zara melenggang santai memasuki ruang kelasnya. Siswi SMA tahun kedua itu tersenyum pada beberapa teman yang menepuk bahunya ringan. Menyeringai malas sembari menunjuk headphone yang menempel di telinga, tanda sedang tidak ingin berbincang. Gadis itu, seperti biasa, memilih duduk di dekat jendela, kursi nomor 2 dari belakang. Setelah meletakkan ransel biru Eagle Women Series-nya, Zara memulai rutinitas lain, bertopang dagu menatap aktivitas di halaman dan koridor. Senior tahun terakhir yang tergopoh-gopoh mengejar kelas tambahan pagi, yang tentu saja sudah dimulai sejak tadi. Teman seangkatan yang tengah ditegur guru karena kemejanya berantakan tak jelas. Guru-guru yang mulai melangkah ke kelasnya masing-masing. Biasanya, disaat-saat seperti inilah ide bermunculan.

Perhatian Zara teralih saat tiba-tiba saja sebuah wajah kesal menyerobot masuk dalam pandangannya. Wajah itu memasang tampang siap meledak, menyerukan sesuatu yang tentu saja tidak bisa didengar Zara karena ia masih memakai headphone-nya.

“Apa?” tanya Zara malas, menegakkan punggung, memperlebar jarak antara wajahnya dan wajah si pengganggu.

Orang itu kembali menyerukan sesuatu, sebelum akhirnya berdecak keras, melepas headphone di telinga Zara.

“Gue ‘kan udah bilang, gue jemput. Kenapa elo malah berangkat sendiri?” Kali ini seruan protes si pengganggu terdengar jelas. Pengganggu itu, tak lain tak bukan, Kei.

Zara mengangkat bahu, “gue bilang ‘kan terserah. Terserah. Bukan iya. Iya gue mau lu jemput,” sahut gadis itu datar, mencoba meraih headphone-nya yang sekarang ada di tangan Kei.

Kei menjauhkan headphone tersebut dari jangkauan Zara, mendengus kesal. “Pulang nanti, lo tungguin gue! Jangan kabur lagi!” titahnya tanpa basa-basi, meletakkan headphone dengan sedikit kasar. Setelah menatap Zara lurus-lurus, memastikan gadis itu tahu kalau ia sangat serius dengan ucapannya, Kei menyeret kaki panjangnya keluar kelas. Beberapa teman sekelas Zara–perempuan tentunya–hanya bisa memasang wajah kesal karena senyumnya diabaikan Kei. Beberapa bahkan melempar pandangan iri pada Zara, gadis yang telah kembali asyik dengan headphone ditelinganya.

***

“Za!!”

Panggilan itu membuat Zara menoleh cepat, menghentikan langkahnya menuju perpustakaan.

Si pemanggil yang telah sampai dihadapannya ber-hosh pelan, mengatur nafas. “Pulang bareng yuk!” ajaknya kemudian.

“Kakak lo tercinta, menitahkan gue harus nungguin dia ampe selesai latihan basket,” sahut Zara malas, sarkastis. Sukses membuat gadis berpenampilan tomboy di depannya tergelak keras.

“Cla! Oh… bagus! Ketawain aja! Sahabat durhaka lo!” Zara memasang muka cemberut, berbalik memunggungi Claudia, sahabatnya, yang juga sekaligus adik Kei itu.

“Ya udah deh klo gitu. Gue duluan ya,” sahut Claudia ringan, menepuk pelan bahu sahabatnya.

Zara mengeryitkan dahi, sigap berbalik, berseru memanggil sosok Claudia yang ternyata sudah berlalu pergi, “hei! Gue pulang bareng lo aja, ya!”

Gadis itu menyahut tanpa berbalik, “ogah. Ntar gue yang diomelin Kei. Lo tanggung sendiri aja deh, gue nggak ikutan.”

Zara mendengus sebal. Pantang menyerah, ia berusaha menyusul  Claudia, membujuk, “klo gitu, lo pulangnya ntar aja. Bareng gue. Sekalian nungguin  Kak Lang.”

Mendengar kalimat terakhir Zara,  Claudia menoleh tanpa menghentikan langkah. Sembari menatap sahabatnya dengan pandangan menyelidik, ia bertanya penuh arti, “ Kak… Lang?”

Entah kenapa, Zara justru terlihat salah tingkah, “eh, iya. Maksud gue, Lang.”

 Claudia tak bisa menyembunyikan senyum gelinya, terkekeh kecil, “males ah. Nggak minat ama makhluk berjudul Lang. Sekalipun ada embel-embel Kak-nya.”

“Ah… Cla…. Nggak asik deh,” seru Zara setengah mengkal, setengah manja. “Klo sambil nge-review FF terbaru gue, gimana?” tawarnya lagi, gigih mencari teman. Lebih baik 2 orang iseng daripada 1 orang bengong. Iya ‘kan?

“Lo kirim ke email gue aja, ntar malem gue baca,” sahut  Claudia kalem.

Zara hanya bisa menggerutu pelan karena  Claudia sudah masuk ke dalam mobil jemputannya.

“Salam buat Kei ya, Za. Buat Lang nggak usah,” pamit  Claudia, melambai melalui celah jendela mobil.

Lagi-lagi, Zara hanya bisa menggerutu sendiri. Balik kanan, kembali berjalan ke tujuan semula, perpustakaan. Sebagai manager tim basket, sewajarnya Zara menunggu timnya berlatih dan duduk manis di tepi lapangan. Tapi hari ini gadis itu sungguh malas melihat bola memantul-mantul di lapangan. Ia lebih memilih melanjutkan pekerjaannya tadi malam, menulis.

Setibanya di gedung perpustakaan, gadis itu segera naik kelantai 2, melangkah pelan menuju meja favoritnya yang terletak tepat di samping jendela. Zara menyempatkan diri melempar pandangan keluar jendela. Lapangan basket yang berada tepat di samping perpustakaan terlihat jelas dari tempat Zara duduk. Gadis itu tersenyum kecil melihat tim formasi lengkap yang tengah berlatih. Bahkan Lang, yang menurut Zara  -seandainya mau sedikit berusaha- lebih mumpuni dari Kei dalam bidang apapun, juga nampak di tengah lapangan. Lang terlihat malas-malasan, mendribble bola serampangan, membuat Kei–sang kapten tim–berkali-kali mengacungkan kepalan tangan kearahnya.

Bosan mengamati tingkah konyol Lang yang sebenarnya tidak begitu suka ikut pertandingan dan hanya menjadikan basket sebagai hobi, juga mengkal melihat tampang Kei yang entah kenapa hari ini galak betul, jari-jari Zara kembali menari lincah di atas keyboard netbook birunya. Sesekali gadis itu berhenti, menatap kosong langit, sejurus kemudian kembali mengetikkan sesuatu. Tak berapa lama kemudian, ia sudah tenggelam dalam imajinasinya.

 

***