3 – STRÁŽE

“Knezna, duduklah di sini.”

“Knezna!”

Panggilan yang kedua itu mau tidak mau membuatku mengangkat kepala, memasang raut keberatan kepada si pemanggil, Jong, sang kakak tertua. Keberatan pangkat dua. Pertama, kenapa dia–dan semua orang di sini-memanggilku Knezna. Nama itu sama sekali tidak buruk, tapi aku lebih suka nama korea-ku, Kwon Nana. Keberatan kedua, tentu karena permintaannya yang berlebihan itu.

Ayolah! Ini ‘kan hanya makan malam, kenapa formal sekali? Bahkan tempat duduk pun  harus diatur-atur. Bukannya mendukung, Hanz yang duduk disebelahku malah menyenggol lenganku, berbisik pelan, “Sana. Kau pindah ke sana saja.”

Sekarang, sebalku menjadi berpangkat tiga.

Belum sempat aku membuka mulut untuk memprotes, Jong sudah kembali memanggil, “Ayolah… duduk di samping  kakak tertampanmu ini,” rajuknya sembari memasang wajah imut yang ramah. Membuatku tersenyum geli sekaligus terkejut. Geli melihat tampang Jong, terkejut karena mendengar Zee -yang duduk tepat dihadapan Jong- berdecak keras.

Sembari mengerling pada Zee yang menatap dingin padaku –entah apa masalahnya- aku beranjak menuju kursi yang terletak persis di antara Jong dan Chryz. Menghempaskan pantatku, cukup keras sepertinya, karena Marque langsung mengeryit aneh.

“Aiden dan Lay belum pulang?”

Kali ini Jong bertanya dengan wajah menghadap  Hanz. Ke dua kursi di sisi  Hanz masih kosong.

Orang yang ditanya hanya mengendikkan bahu, “Sebentar lagi,” sahutnya acuh tak acuh, asyik menainkan sumpit.

“Kau belum terlalu lapar ‘kan? Kami biasa menunggu semuanya lengkap sebelum memulai makan malam,” ucap Jong seraya menyentuh pelan lenganku.

“Eh? Tidak. Maksudku, aku belum terlalu lapar. Tidak apa-apa. Kita tunggu saja,” sahutku tergagap, melempar tatapan bersalah pada Jong karena telah refleks menarik tanganku. Untung saja  kakak tertua-ku itu tersenyum pengertian. Huffhh… lega rasanya. Ehm… tidak juga, karena sekarang mereka semua memandangku dengan sorot heran.

“Kau alergi pada Jong? Sini, kau duduk di depanku lagi saja. Jangan sampai kulitmu nanti memerah, apalagi kalau sampai bersin-bersin.”

Itu suara Marque. Pasti. Memangnya siapa lagi? Aku hanya melempar seringai terbaikku padanya. Tidak tahu harus mengatakan apa.

“Kau pikir aku ini apa?” geram Jong, melempar gumpalan serbet. Hebat! Serbet itu melayang horizontal melewatiku dan Chryz–yang sigap meghindar–mendarat telak di muka Marque. Membuatnya bersungut-sungut tak karuan, tampaknya bersiap membombardir Jong dengan sumpah serapah.

“Aaa…!”

Semua orang serentak menoleh, menatapku yang mendadak terlonjak berdiri, berseru tertahan. Kaget setengah mati melihat Aiden yang tiba-tiba muncul begitu saja di depanku, berlumuran darah!

O-o-opp….”  Bahkan, suaraku hilang entah kemana. Disaat-saat seperti ini, aku lupa untuk memanggil mereka tanpa embel-embel ‘oppa’.

Dan yang paling membuatku shock, Aiden justru menyeringai kecil, meninju bahu cowok berwajah kalem –pasti Lay – yang tadi muncul bersama dirinya.

Tidak! Ini mengerikan! Kenapa mereka berdua bisa muncul tiba-tiba dari udara kosong?

Ini tidak mungkin! Tidak mungkin mereka muncul begitu saja. Mungkin aku yang tadi tidak memerhatikan. Mungkin mereka masuk lewat pintu saat aku sibuk menahan tawa melihat serbet yang mendarat mulus di muka Marque. Yah, pasti begitu!

Tapi, tapi, tapi….

Aiden berdarah-darah! Dan ada bekas sayatan panjang di bajunya! Mengerikan!

Bukan! Ada yang lebih mengerikan dari itu! Mereka sama sekali tidak terkejut. Chryz balas menyeringai, Marque tertawa lepas, Zee bahkan menatapku dengan pandangan meremehkan! Untung masih ada Jong dan  Hanz yang memberi tatapan khawatir.

“Aiden, Lay! Bersihkan badan kalian! Mandi!” Suara Jong kali ini terdengar sangat kesal sekaligus tegas. Aiden dan Lay  berpandangan sekilas, sedetik kemudian mereka menghilang. Menghilang begitu saja, membuatku nyaris terduduk lemas jika saja Chryz  tidak sigap meraih pinggangku.

“Knezna. Tidak apa-apa. Kami akan menjelaskannya padamu, nanti. Tidak apa-apa. Aiden baik-baik saja.” Sembari mengucapkannya, Jong meletakkan kedua tangannya di atas bahuku. Tatapan matanya terasa teduh dan menenangkan. Tapi sekaligus menakutkan, karena tatapan Jong terasa menghanyutkan dan… membuatku merasa sedikit kehilangan kesadaran.

 “Kalian belum menjelaskan apapun padanya?” Suara Marque membuatku kembali terhempas ke alam nyata.

Jong dan   Hanz saling melempar pandangan, seperti berkompromi apalah.

“Nanti saja. Setelah makan malam selesai.”

Itu suara Chryz. Ia menatap Marque dengan pandangan setengah memperingatkan setengah mengancam. Entahlah.

Mendapat perlakukan seperti itu, Marque dengan cueknya mengangkat bahu. Entah kenapa, justru Zee yang tersenyum sinis ke arah Chryz, mengeluarkan dengus meremehkan.

Semula aku berharap Chryz akan melempari Zee dengan piring atau paling tidak, garpu. Ternyata perkiraanku salah, Chryz hanya menatapnya dengan pandangan dingin, eh, panas.

Euh, panas? Entahlah, aku juga baru kali ini melihat jenis tatapan seperti itu. Tapi sungguh, aku bahkan bisa merasakan hawa panas yang menguar dari tatapan Chryz.

“Wah… wah… hawanya panas ya, di sini?”

Eh? Cepat sekali dia mandi? Yah… itu Aiden. Nampak lebih tampan tanpa kemeja berdarah-darahnya. Kemunculannya juga sangat wajar. Berjalan santai dengan kedua tangan terbenam dalam saku celana. Iseng meniupkan udara melalui mulutnya, tepat mengarah ke tengkuk Chryz.

“Aku sedang tidak dalam posisi ingin bergurau denganmu,” ketus Chryz, mendelik tajam kearah Aiden.

Penglihatanku yang buram atau aku mengkhayal, tapi aku yakin udara yang keluar dari mulut Aiden tadi nampak berwarna putih seperti kabut.

“Sudahlah. Kita selesaikan makan malam kali ini dalam damai,” suara Jong terdengar mengendalikan.

“Lay, mulai malam ini kau duduk di samping Hanz,” imbuhnya saat melihat Lay memasuki ruang makan dengan wajah tertunduk. Mungkin, biasanya dialah yang duduk di kursi yang kutempati sekarang.

Aku mencoba melempar senyum minta maaf ke arah Lay. Sayang, dia tetap menunduk, menatap piring makannya. Jangankan menoleh, melirikku pun, tidak. Ah… kurasa itu karena dia sedang capek saja. Kalau dilihat dari raut wajahnya, sebenarnya Lay  adalah orang yang menyenangkan. Tapi malam ini ia memang terlihat sedikit pucat.

Sebentar… bukankah itu ganjil? Aiden yang tadi muncul bersimbah darah terlihat baik-baik saja, segar bugar. Kenapa justru Lay  yang lesi seperti orang kehabisan darah? Apa itu tadi darah Lay? Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?

“Knezna, kau mau ini? Aku sengaja memasaknya untukmu. Takut kau tidak akan suka makanan Ceko.”

Untuk kesekian kalinya Jong berhasil mengalihkan perhatianku. Kali ini dengan semangkuk besar jajangmyeon yang ia sodorkan, tepat di bawah hidungku.

Ya… jajangmyeon berwarna hitam kecoklatan dengan saus kedelainya yang beraroma sangat menggiurkan. Tapi… malam-malam begini? Terlebih setelah jetlag yang kualami. Betapa mengenaskannya nasibku….

“Hanya itu makanan korea yang bisa  kami untukmu. Kami sudah terbiasa dengan makanan Ceko.” Penjelasan  Hanz membuatku urung memasang ekspresi aneh.

“Tentu . Aku suka,” sahutku, mengambil alih piring dari tangan Jong, menyeringai lebar.

“Kau harus mulai membiasakan diri. Jangan merepotkan orang lain,” celutuk Marque. Semula aku tidak paham apa maksudnya, tapi kurasa dia mengatakan itu untukku, karena sekarang, ia memamerkan seringaiannya padaku.

Baiklah! Sepertinya Marque memang cari perkara denganku. Sadar tak sadar, aku membalas tatapannya dengan cara serupa. Tajam meremehkan.

“Dia berulah lagi,” celutuk Hanz tiba-tiba, berhasil mengalihkan perhatian semua orang.

Aku mengedarkan pandangan dengan bingung. Semula kupikir yang dimaksud ‘dia’ oleh Hanz adalah Marque. Tapi sepertinya bukan. Saat aku mencoba mencari penjelasan dengan menatap satu-persatu wajah kakak-kakakku, yang kudapat justru ekspresi tegang dan aneh. Jong memandang Hanz. Hanz justru bergantian menatap Chryz, Aiden dan Marque. Seolah ia sedang menilai mereka. Lay nampak menghela nafas panjang dan menghembuskannya sangat perlahan, bersandar pada kursi. Hanya Zee yang tak terpengaruh, tetap sibuk dengan makanannya.

“AKU SAJA!”

Jantungku rasanya nyaris copot mendengar teriakan Chryz barusan.

Astaga… sepertinya aku akan mati muda jika tinggal dengan ketujuh kakak sepupuku yang aneh ini!

Baiklah! Apa lagi sekarang?? Aku mendelik pada Chryz yang memasang wajah gusar.

“Bawa Knezna bersamamu.” Kali ini Zee yang angkat suara, menatap aku dan Chryz bergantian.

Refleks, aku menoleh. Ini pertama kalinya Zee angkat suara. Dan kalimat pertamanya sungguh aneh. Bawa aku? Kemana? Memangnya aku barang yang bisa dibawa kemana-mana?

“Ya. Tidak. Eum, maksudku, baiklah. Kau yang pergi. Tapi, Knezna, tidak. Ia belum siap.”

Jawaban Jong membuatku memutar bola mata. Apa maksudnya? Apa yang sedang mereka bicarakan?

“Justru itu. Biar dia melihatnya sendiri. Itu lebih baik dari pada sejuta kata penjelasan.” Zee nampak acuh tak acuh saat mengatakannya, tangannya sibuk dengan makanannya.

“Tidak masalah,” jawaban Chryz terdengar meyakinkan, menatap tajam pada Zee .

“Dia pergi bersamaku. Apa yang bisa kalian khawatirkan?” Imbuhnya saat Jong hendak membuka mulut, protes.

“Ayo!”

Tanpa basa-basi lagi, Chryz sudah meraih lenganku, mencengkramnya erat. Membawaku pergi dengan cara yang tak kusangka sama sekali. Kupikir, dia akan menyeretku seperti dalam drama-drama korea.

Tidak! Ini bukan drama! Ini cerita horor supernatural!

Karena… sekarang ini…

***