4 – DRAF

 

Perhatian Zara terpecah, ponselnya berdering nyaring. Gadis itu menekan tombol penerima dengan malas.

“Lo di mana, Za? Kenapa lo nggak nungguin kita-kita latihan? Neil bilang, lo nggak enak badan ya? Elo nggak papa ‘kan? Sakit? Tapi lo belum pulang ‘kan? Awas klo kabur lagi.” Suara Kei terdengar tak sabaran, langsung memberondong, tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.

“Arah jam 4. Ehm, 45 derajat. Dari tempat lo,” sahut Zara sembari melirik keluar jendela. Kei nampak mengedarkan pandangan ke sekeliling lapangan basket. Lang dan teman-temannya yang lain sudah tidak nampak batang hidungnya. Sepertinya latihan mereka telah usai beberapa saat yang lalu.

“Empat-lima derajat, gue di atas,” imbuh Zara, tak bisa menahan senyuman geli melihat Kei yang menuatkan alis sembari menatap gerumbul bunga Lily di taman perpustakaan, tepat di bawah tempat Zara berada.

Kei mengangkat wajahnya perlahan, menemukan sosok Zara yang terbingkai jendela, melambai, “Gue yang ke atas, ato lo kebawah?”

“Gue aja yang turun,” sahut Zara sembari memutus sambungan telpon. Sedikit tergesa mengirim tulisannya yang belum diedit sama sekali. Kemana lagi jika bukan ke alamat email  Claudia?

Tak lama kemudian, gadis itu nampak berjalan menuju Kei yang masih menunggu di tengah lapangan basket. Gerimis yang mulai turun membuat Zara mempercepat langkahnya, nyaris berlari. Tepat saat ia mencapai Kei, cowok itu justru meraih pergelangan tangannya. Mengajaknya berlari lebih kencang menuju pohon besar yang terletak di tepi lapangan.

Keduanya tertawa serentak begitu sadar perbuatan mereka percuma saja. Hujan turun terlalu deras, mereka tetap ketirisan. Air menciprat, menerobos rimbunnya dedaunan, membasahi keduanya. Zara mendekap erat-erat ranselnya. Setengah menahan dingin, setengah agar netbook-nya tidak basah.

Kei melepas jaket yang dipakainya, menyelebungkannya di atas kepala Zara.

Thanks. Bau keringet sih, tapi lumayan,” celutuk Zara, melirik Kei yang langsung mendelik, tersinggung.

“Eh!” Seru Zara, menahan tangan Kei yang hendak menarik jaket dari kepalanya.

Kei menyeringai lebar, tak lama. Karena sedetik kemudian ia sudah melirik tangan Zara yang masih memegang tangannya dengan ekspresi luar biasa jahil.

Tentu saja Zara langsung melepas pegangannya, membuang muka, jengah. Kei hanya tersenyum simpul. Dia paham benar, hujan selalu mampu suasana hati Zara menjadi lebih baik. Tapi sebaiknya jangan digoda lebih lanjut, bisa lebih runyam dari semula.

“Lo, sengaja ngehindarin gue. Iya ‘kan?” tanya Kei, langsung ke pokok sasaran.

Zara menghela nafas panjang, menatap langit yang semakin hitam. Hujan bagai ditumpahkan begitu saja, sangat lebat.

“Kenapa gue, Za? Bukan Lang, bukan Cla. Kenapa cuma gue?” Pertanyaan Kei lebih mirip keluhan, lirih dan lemah.

Zara menelan ludah, tidak tau harus mengungkapkan alasan apa. Ia juga tidak tahu. Kenapa Kei?

“Pernikahan ini, masalah antara keluarga lo dan keluarga Lang. Kena-”

“Karena dari awal lo udah tau, tapi nggak ngomong ke gue!” potong Zara, setengah berteriak. Sepertinya gadis itu mulai paham, kenapa ia merasa marah pada Kei. Sangat marah. Suasana mendadak hening.

Sementara Zara menghitung mundur dari 10 –berusaha menenangkan diri, Kei memutar otak untuk mencari kata-kata yang sekiranya tidak membuat gadis itu bertambah marah.

“Za, maaf. Bener, gue nggak ada maksud nge-bohongin elo,” ucap Kei pelan, memecah keheningan. Pemuda itu nampak menghela nafas panjang, menatap lurus-lurus gadis didepannya.

Zara bergeming, justru asyik membolak-balik telapak tangan, memainkan titik-titik air yang terus meluncur deras dari langit.

Kei berdehem kecil, salah tingkah karena diabaikan. “Aku pikir, akan lebih baik kalau kau mengetahuinya langsung dari Ayahmu.”

Zara spontan menoleh mendengar perubahan gaya bahasa Kei yang mendadak formal, menggunakan aku-kau.

“Tetep aja, aku yang paling terakhir tahu. Bahkan dibanding Cla,” sunggut Zara pelan, menggembungkan pipi.

Menyadari kalau Zara tertular penyakit ‘sopan’-nya, Kei menyeringai tipis.

“Malah nyengir! Seharusnya kamu bilang dari dulu, jadi aku bisa antisipasi. Sekarang? Semuanya udah jadi kayak gini, Kei. Aku bisa apa? Biarpun aku nggak mau, nggak setuju, nggak terima, aku bisa apa?” sembur Zara, menyalak galak tanpa basa-basi.

Seringai di wajah Kei seketika padam, berganti sorot tak enak dan bingung hendak berkata apa.

“Nggak seburuk yang kau bayangkan, Za. Cobalah melihatnya dari sisi Ayahmu,” ungkap Kei setelah berpikir beberapa saat, menimbang-nimbang.

Raut Zara semakin mengeras mendengar ucapan Kei, “tidak! Kalau Ayah saja tidak pernah meminta pendapatku, tidak mau melihatnya dari sisiku, kenapa aku harus melakukannya?”

Kei menghela nafas berat, percuma bicara dengan Zara jika ia sedang dalam kondisi labil. Justru membuat semuanya lebih runyam dan rungsing.

“Sudah sore, kita pulang?”

Zara melempar pandangan tak suka mendengar pertanyaan Kei yang jelas-jelas ingin menghindar dari permasalahan itu.

“Udah sore, Za. Bajumu sudah basah semua, kau bisa masuk angin. Dan aku bisa kemasukan setan melihatmu,” keluh Kei dengan intonasi janggal, wajahnya memerah.

Zara mengeryit bingung, menatap baju seragam putihnya yang memang sudah basah kuyup. Saat mendapati Kei tengah menatapnya nanar kemudian buru-buru memalingkan muka saat dilirik, Zara baru paham, menggerutu pelan, “dasar cowok!”

“Gue normal tau! Justru klo gue nggak ngerasa apa-apa, lo harusnya khawatir!” seru Kei jengah, sigap menyambar jaket dari atas kepala Zara, menyelubungkannya ke bahu gadis itu.

“Ayo! Gue anter pulang,” serunya keras sembari kembali menarik lengan Zara, mengajaknya berlari menembus hujan.

***

 

Zara merapatkan jaket Kei kebadannya, menggigil kedinginan. Secangkir caffelatte mengepul dihadapannya, menguarkan aroma lembut yang khas. Sebenarnya, itu adalah cangkir yang ketiga. Mengabaikan kopinya, gadis itu memilih asyik berkutat dengan dunia khayal. Sejenak melupakan masalah dunia nyata dan membiarkan imajinasinya melayang di dunia fantasi, tenggelam dalam kode biner yang berubah menjadi serangkaian huruf di layar netbook birunya.

***