5 – STRÁŽE

Aku nyaris berteriak histeris jika saja Chryz tidak sigap membungkam mulutku dengan telapak tangannya yang lebar.

“Jangan berisik dan lihat saja,” bisiknya pelan, terkendali.

Tak usah diperintahpun aku sudah melotot melihat adegan seram di balik kaca itu. Adegan yang hanya sering kulihat di film-film horor kesukaanku. Seorang pemuda tampan berwajah pucat tengah menghisap leher seorang lelaki bertampang kumal macam gelandangan. Dari sudut bibir pemuda itu terlihat setitik darah segar menetes. Taringnya yang putih mengilap nampak menghujam leher si lelaki. Kalau ini adalah film, aku bisa saja ringan berkomentar bahwa semua orang akan rela menjadi korban, jika vampire-nya setampan itu! Tapi ini NYATA! HOROR!

Aku bahkan sampai lupa memikirkan bagaimana cara Chryz membawaku kemari. Bukankah aku tadi masih di rumah? Sedang makan Jajangmyeon dengan setengah hati. Sekarang aku sudah berada di sini, begitu saja, sekejap mata.

“Apa-”

Pertanyaanku tersumpal, Chryz menggeleng, menatapku dengan sorot mengancam, “Diam. Nanti kujelaskan. Sekarang, kau lihat saja dan jangan mengucapkan apapun. Tetap diam ditempatmu. Kau mengerti?”

Aku hanya bisa menelan ludah, setengah gugup setengah antusias. Ya, antusias. Aku juga tidak tahu bagaimana mungkin aku justru merasa antusias dengan apa yang terjadi. Yah, aku memang tidak takut dengan hantu dan segala omong kosong itu. Tapi, bukankah sosok penghisap darah yang tengah berlutut di depan korbannya itu adalah nyata?

Senyata Chryz yang entah bagaimana, tiba-tiba sudah berada di belakang mereka. Menyandar pada tiang besar sembari melipat kedua tangan di depan dada. Santai sekali menunggu pemuda itu menyelesaikan ‘makan malamnya’. Tega sekali meninggalkan aku sendirian di balik kaca besar.

Entah mengapa, aku segera saja merasa bosan melihat pemandangan penghisapan darah itu. Saat mengedarkan pandangan, tiba-tiba aku merasa mengenali tempat ini. Ini adalah salah satu bagian dari Charles University, lebih tepatnya, aku berada dalam ruang kelas dan mereka berada di lorong.

Aku mengenalinya dari kaca besar berteralis yang tepat ada di depan mataku. Juga dari bagian atas lorong yang berbentuk lengkung. Aku melihatnya di internet, saat melakukan riset kecil-kecilan terhadap calon kampusku itu.

“Kau lebih sopan dari pada Aiden. Setidaknya kau tidak menganggu acara makan malamku.”

Aku kembali menatap pemuda pucat itu. Sepertinya ia sudah menyelesaikan aktifitas memangsanya. Pemuda itu sekarang berdiri berhadap-hadapan dengan Chryz yang belum mengubah pose-nya.

“Apa tidak keterlaluan, Shenz? Dua mangsa dalam satu hari?” sahut Chryz, melirik malas kearah lelaki kumal yang kini tergelatak kaku di lantai.

Pemuda pucat itu hanya tergelak kecil, “Salahkan Aiden. Saljunya membuatku kedinginan dan cepat merasa lapar.”

Aku tak berkedip menatap keduanya. Sedikit-sedikit aku mulai bisa meraba, pemuda bernama Shenz ini ada hubungannya dengan Aiden yang bersimbah darah tadi. Mungkin Aiden membuat marah Shenz yang sedang makan. Bisa jadi, darah di baju Aiden adalah darah mangsa pemuda pucat ini. Entahlah.

“Benar. Seharusnya Aiden tidak mengganggu acara makanmu.” Chryz tersenyum sinis, “seharusnya Aiden langsung membunuhmu saja. Kakakku yang satu itu terkadang terlalu berlembut hati.”

Tawa Shenz yang melengking dingin terdengar membahana. “kakakmu? Hahaha…. Dan apa bedanya kau dengan Aiden? Heh?” tanyanya sinis.

Chryz menegakkan punggung, memasukkan tangannya ke dalam saku celana, “Aku tidak suka menganggu kesenangan orang lain. Juga suka tidak suka basa-basi.”

Aku yang salah lihat, atau raut pucat Shenz menjadi lebih pucat dari sebelumnya? Yang jelas, pemuda penghisap darah itu menelan ludah, terlihat jelas dari jakunnya yang naik turun tak beraturan. Taruhan, dia pasti gugup sekali. Atau… takut?

“Kau sudah siap?”

Pertanyaan Chryz kali ini membuat Shenz melangkah mundur, seolah menjaga jarak.

Chryz melangkah perlahan, mengintimidasi, “takut, Shenz? Aku dan kau sama-sama tidak punya pilihan bukan? Aku tidak membencimu, kita hanya terjebak dalam takdir kita masing-masing.”

“Kau terdengar seperti Jong,” kekeh Shenz, jelas terlihat berusaha menutupi ketakutannya.

Chryz tersenyum lebar, “Kau bahkan mengenal kami dengan cukup baik. Kita memang sudah akrab, heuh?”

Shenz nampak mendengus keras, “Cukup kenal, Chryz. Dan sudah cukup bosan berurusan dengan kalian.”

“BRAKK!”

 “WHUZZ!”

Aku hampir saja menjerit, sigap menyumpal mulutku dengan kepalan tangan. Pintu di dekatku menjeblak lebar, membuatku nyaris terjengkang sakit kagetnya. Sebuah kursi melayang deras keluar lewat pintu, menyasar Chryz.

Sia-sia aku mengkhawatirkan Chryz. Ia dengan malas-malasan mengibaskan tangannya, membuat kursi itu terbakar hebat, hanya sepersekian detik sebelum berhasil menghantamnya. Kursi itu bahkan lebur menjadi abu sebelum sempat mencapai tanah.

“Benar, aku juga sudah bosan. Mari kita akhiri sekarang juga, Shenz,” ajak Chryz seraya mengulurkan tangannya ke depan. Dari sudutku, pose Chryz lebih mirip ajakan dansa daripada mengajak berjabat tangan.

Kedua tangan Shenz terentang lebar. Kali ini sebuah lemari besar meluncur cepat ke arah Chryz. Sukses membuatku tersadar, pintu yang terbuka sendiri, dan semua benda terbang itu, Shenz-lah yang mengendalikannya.

Kedua lengan Chryz ikut merentang lebar, dari telapak tangannya menyembur api biru yang dengan kecepatan luar biasa menyambar lemari tersebut.

Suasana malam itu benar-benar mencekam. Hanya derak kayu terbakar yang terdengar. Lemari besar itu melayang pada ketinggian di antara Chryz dan Shenz.

Tiba-tiba Shenz menggerakkan tangannya, dari balik mantel hitamnya meluncur dua buah pisau, menyasar jantung dan leher Chryz.

Aku nyaris menerobos pintu, urung karena Chryz menghilang dan muncul hanya satu langkah dari tempatnya semula. Tindakan tepat karena kedua pisau itu nyaris menancap di tubuhnya.

Tanpa memberi peringatan, Chryz mengarahkan semburan api dari tanganya tepat ke dada Shenz. Ternyata Shenz memiliki refleks tak kalah hebat dari Chryz. Pemuda ramping itu telah terbang menjauh dari lorong, memperlihatkan kedua sayap hitamnya yang terbentang lebar.

Hentakan angin yang ditimbulkannya membuat Chryz terhuyung ke belakang, apinya padam seketika.

Kali ini aku benar-benar menerobos keluar, berlari terengah menghampiri Chryz yang –parahnya- justru terbang menyusul Shenz tanpa dua hal. Pertama tanpa sayap keren seperti milik Shenz, dan yang kedua TANPAKU!

Lagi-lagi, Chryz dengan teganya melupakanku. Merasa tak punya pilihan lain, aku mulai berlari mengejar sembari terus mendongak, mengikuti jejak sayap hitam Shenz yang sulit dibedakan dari latar langit yang sama hitamnya. Beberapa lamanya aku terus mencari, berlari tak tentu arah. Berusaha menajamkan pendengaran, mengikuti desau angin yang mungkin saja berasal dari kepak sayap Shenz. Menatap penuh harap setiap cahaya yang bahkan aku tidak yakin itu berasal dari api milik Chryz atau kilat yang menyambar.

Aku hampir putus asa saat sebuah lengkingan kesakitan merobek keheningan malam. Tak jauh dari tempatku berdiri, diketinggian ujung-ujung atap kastil, api biru Chryz tampak menyembur membelah kegelapan. Shenz histeris melolong dan mengerang, sayap hitamnya membara, terbakar hebat.

“BUMM!”

Tubuh Shenz berdebam menghantam tanah, berbilang 5 meter dari tempatku terpaku membeku.

Dia…

Apa kata yang tepat? Dia, nampak begitu… menyedihkan?

“Knezna!”

Terlambat. Chryz yang meneriakkan namaku dengan intonasi cemas –nyaris histeris- seolah berasal dari tempat yang sangat jauh.

Antara sadar dan tidak, aku serasa melayang mendekati tubuh Shenz yang telentang di tanah. Waktu terasa begitu ambigu bagiku. Sangat cepat sekaligus sangat lambat. Dalam sekejap aku sudah berlutut, menelisik sosok tampan yang terbaring mengenaskan itu. Kedua sayapnya terbakar, hangus. Wajah rupawannya penuh goresan. Bau hangus yang memuakkan menguar kuat dari tubuhnya. Ditambah dengan darah pekat yang mengalir dari hidungnya, ketampanannya nyaris tak terlihat lagi. Mengamati kondisi mengenaskan pemuda pucat yang barusan tadi masih terbang dengan sayap hebatnya, membuatku merasa waktu seolah berhenti. Menyakitkan.

“Apakah sangat sakit?”

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku, seolah bukan berasal dari pikiranku sendiri.

Mata Shenz menatapku sendu. Ia mengerang lemah. Tangan kanannya terulur, seolah meminta tolong padaku. Dalam upayanya menyentuhku, ia menyeringai kesakitan. Seringai yang entah kenapa, bagiku nampak seperti sebuah senyum perpisahan yang menyakitkan.

“Chryz, tak adakah yang bisa kita lakukan untuknya?” Lagi-lagi, pertanyaan itu bukan berasal dari pikiranku.

Chryz, yang entah sejak kapan telah duduk berlutut di sebelahku, menatapku tanpa ekspresi.

Apa yang terjadi selanjutnya tidak benar-benar aku sadari. Hal terakhir yang kuingat adalah aku meraih telapak tangan Chryz. Jemariku yang bergetar bertaut, menyatu dengan jemari Chryz yang besar dah hangat. Sesaat kemudian, samar-samar aku mendengar lolong panjang kesakitan yang sungguh pilu. Setelah itu kosong, benar-benar kosong.

Saat aku kembali sadar, aku telah duduk menjeplak di tanah lapang, entah dimanalah. Ini bukan tempat Shenz terjatuh tadi. Sosoknya juga tak nampak. Hanya ada siluet mirip Chryz yang berdiri membelakangiku. Di depannya tampak sesuatu yang mirip api unggun besar seolah menari mengikuti hembusan angin. Derak kayu ditingkahi desis halus api membuat suasana menjadi terasa begitu menyedihkan.

“Chryz….” panggilku gamang.

Siluet itu berbalik, berjalan perlahan menghampiriku, berjongkok kemudian memegang bahuku. Benar, ia memang Chryz.

Air mataku jatuh begitu saja, tanpa alasan yang jelas. Aku menangis dalam diam, tertunduk tak mengerti.

“Apa aku melakukan sesuatu pada Shenz?” tanyaku penuh keraguan.

Aku hanya mendengar helaan nafas Chryz yang berat dan dalam sebagai jawabannya.

“Aku membunuhnya ‘kan?” Kali ini aku mendongak, menatap mata Chryz, mencari jawaban yang lebih pasti.

Cengkraman tangan Chryz dibahuku menguat. Aku bahkan merasa seolah ia akan menarikku dalam pelukannya, namun urung.

“Ia sudah lebih baik sekarang.”

Jawaban Chryz membuatku yakin, aku memang sudah membunuh Shenz. Entah dengan cara seperti apa.

“Shenz… seorang vampire immortal, bukan? Bagaimana bisa, dia mati karenaku,” tanganku terangkat, mengusap air mata yang masih saja membandel, tak mau berhenti mengalir dari kelenjar mataku.

“Chryz,  siapa aku sebenarnya?”

Kali ini Chryz benar-benar menarikku dalam pelukannya. Pelukan yang hangat. Hangat namun terasa menyakitkan. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah memejamkan mata, berusaha tidur. Berharap semua ini hanya mimpi buruk yang akan berakhir saat aku terbangun di pagi hari.

Aku menolak membuka mata saat Chryz menyelusupkan tangannya di belakang leher dan lututku. Aku tetap memejamkan mata saat ia mengangkat kemudian membaringkanku di tempat empuk dan hangat yang kukenali sebagai kasurku sendiri.

Aku bahkan pura-pura tertidur, mengatur nafas sedemikian rupa saat sebuah tangan menyisipkan ujung selimut di bawah daguku.

Saat beberapa suara terdengar bergantian, aku nyaris jatuh tertidur sungguhan. Namun, kali ini aku mampu mengingat semuanya.

“Dia baik-baik saja ‘kan?” Itu suara Jong.

“Ini terlalu cepat untuknya.” Suara Hanz.

“Kalian sudah melakukannya? Bagaimana? Seperti apa?” Itu suara Marque yang menyebalkan.

“Lebih cepat dari yang kuduga.” Kali ini suara dingin Zee .

“Biarkan mereka istirahat. Kita bisa membahasnya besok pagi.” Suara yang belum pernah aku dengar. Lay ‘kah itu?

“Lay benar. Istirahatlah Chryz, biar aku yang menjaga Knezna malam ini.” Tepat saat suara Aiden terdengar, aku jatuh tertidur. Dengan harapan yang sama. Semoga semua ini hanya mimpi. Semoga aku besok pagi terbangun di kamar kecilku yang ada di sudut kota Daejeon. Bukan di kamar besar dan mewah di sudut manalah kota Praha yang mengerikan. Semoga saat aku membuka mata, yang kulihat pertama kali adalah wajah galak suster panti asuhan. Bukan wajah ketujuh kurcaci tampan yang mengaku-aku sebagai kakak sepupu.

***