6 – DRAF

 

“Euh, Putri Salju? Kurcaci tampan?”  Claudia tersenyum-senyum kecil saat membaca email dari Zara.

“Dasar Zara! Cinderella Wannabe,” kekeh gadis itu geli, mengangkat laptopnya dari meja belajar, berguling di atas kasur empuknya.

Sebentuk kerutan membentuk di dahi gadis berponi itu, “kayaknya gue lebih suka klo Knezna itu cowok deh,” menghela nafas panjang, “ini mah tipikal dongeng banget. Satu cewek dikelilingi banyak cowok cakep. Pasaran!” gerutu  Claudia panjang pendek.

Belum sempat gadis itu mengetik email balasan berisi seribu satu celaan atas tulisan Zara, sebuah email baru masuk dalam inboxnya.  Claudia membukanya, menaikkan alis saat membacanya.

“Cepet amat ni anak nulisnya,” gumamnya pelan, kembali menekuni lanjutan cerita yang baru saja masuk keinbox emailnya.

Sejurus kemudian  Claudia nampak menggaruk alisnya, “kok mood-nya beda banget ama yang sebelumnya? Za lagi labil ‘kah?”

Gadis itu menghela nafas panjang. Saat mencapai bagian akhir cerita, ia menyeringai tipis.

“Mati? Astaga…. vampire immortal, mati  saat kemunculan pertamanya, Mengenaskan,” gumam  Claudia pada dirinya sendiri.

Layar laptop Toshiba hitam milik  Claudia telah menampilkan kolom email baru saat sebuah suara merdu, keibuan, tegas dan hampir galak menyuarakan namanya.

“ Claudia! Ada telpon dari Om Dante nih!”

Itu suara Mama.  Claudia sigap melompat turun dari tempat tidur, melangkah cepat membuka pintu.

“Om Dante? Emang Za, eh, Kak Zara kenapa, Mam?”

Mamanya hanya mengedikkan bahu, menyodorkan telepon wireless ke dalam genggaman  Claudia.

Gadis itu menatap bingung punggung mamanya yang berjalan menuruni tangga, sedikit tersentak, lupa kalau Om Dante, ayah Zara, menunggunya.

“Ya, Om. Ada apa?” serunya buru-buru, sedikit tergagap.

Dari ujung seberang, sebuah suara berat menjawab, “nggak kok, Cla. Om cuma mau nanya, Zara nginep di rumah kamu lagi ya?”

 Claudia mengeryitkan alis, “eh? Nginep di sini? Enggak tuh, Om. Tadi sore sih, Kak Zara nungguin Kak Kei latihan basket. Emang mereka belum pulang?” tanyanya heran, melirik pergelangan tangan, jarum pendek jam tangannya mengarah tepat pada angka delapan.

“Oh… bareng Kei? Ya sudah, mungkin mereka mampir makan malam dulu. Kalau Zara atau Kei nelpon kamu, tolong hubungin Om, ya?”

Tak sadar,  Claudia mengangguk pelan, “iya, Om.”

 Claudia masih menatap pesawat telepon ditangannya dengan pandangan kosong. Sejurus kemudian adik Kei itu berderap menuruni anak tangga, berteriak memanggil, “Mam…. Kak Kei kayaknya nyulik Kak Zara deh. Jangan-jangan mereka kawin lari!”

Di bawah, Mama dan Papanya menyambut dengan ekspresi yang berlawanan. Mama melotot sok galak, sedangkan Papa hanya menyeringai geli melihat tingkah anak gadisnya yang mengerem laju larinya dengan sengaja menabrak sofa.

 Claudia yang berlagak tengah mencapai garis finish setelah maraton 5 km dengan kecepatan seorang sprinter membalas tatapan kedua orang tuanya dengan ekspresi serba tanggung. Bingung mau memasang wajah minta maaf pada Mama atau seringai terbaik pada Papa.

“Zara kenapa, Cla?” Mama bertanya tak sabaran.

 Claudia memasang wajah dramatis, “Za, eh, maksudnya Kak Za, belum pulang sampai sekarang, Mam. Setau Cla, dia tadi nungguin Kak Kei latihan basket. Asumsinya, Kak Zara dan Kak Kei sampai malem gini, masih ada entah dimanalah, berbuat apalah,” cerocosnya tak jelas ujung pangkal, lebih fokus pada masalah ‘harus memanggil Zara dan Kei dengan sebutan kakak’ daripada menjelaskan duduk perkara sebenarnya.

“Sudah coba telpon Zara atau kakakmu?” Kali ini Papa yang bertanya. Mama sudah panik, merebut pesawat telpon dari genggaman  Claudia, sigap men-dial nomor anak lelakinya, Kei.

 Claudia menggeleng pelan, merogoh saku celana-nya, mencoba menghubungi Zara melalui ponselnya.

“Kei, kamu di mana?” Mama tanpa basa-basi sudah menginterogasi anak sulungnya itu.

 Claudia masih menunggu nada sambung. Sedetik kemudian ia menggeleng pada Papa-nya, “nggak aktif, Pap.”

“Di asrama? Zara juga di sana?”

 Claudia dan Papa serentak menoleh pada Mamanya yang tengah melotot galak.

“Enggak? Lalu Zara di mana, Kei? Dia belum pulang ke rumah. Adikmu bilang, Zara tadi bersamamu!”

 Claudia bertukar pandang dengan Papa-nya, sama-sama mengangkat bahu.

“Sudah kamu antar pulang? Sampai di depan gerbang rumahnya?” Nada suara Mama naik satu oktaf, siap meledak.

“Astaga… berapa kali Mama bilang? Kamu harus mengantar semua teman wanitamu sampai kedalam rumah! Minta maaf pada orang tuanya kalau kalian terlambat pulang! Kau ini lelaki atau bukan?”

 Claudia mati-matian menyamarkan semburan tawanya menjadi batuk-batuk hebat.

Papa mendengus geli, buru-buru mengulurkan tangan pada Mama, “sini, biar aku saja yang bicara,” ucapnya kalem. Mama menyerahkan telponnya dengan merengut galak.

“DING DONG! DING DONG!”

 Claudia menoleh ke arah pintu depan dengan malas bercampur mengkal. Siapa juga yang bertamu disaat-saat genting seperti ini?

Gadis itu menggebungkan mulutnya besar-besar saat Mama memberinya isyarat –sana-buka-pintunya!

Sambil berkali-kali melirik ingin tahu pada Papa yang tengah bicara serius dengan nada rendah pada Kei,  Claudia akhirnya menyeret langkahnya menuju pintu depan.

“ZARA!!”

***

 

“Ayah bukannya melarangmu menginap di sini, Za.” Om Dante menatap lurus-lurus anak gadis semata wayangnya, menghela nafas panjang.

“Ayah cuma minta, lain kali, kemanapun kamu pergi, tolong beritahu Ayah,” imbuh lelaki setengah baya itu. Tak ada nada kesal ataupun marah dalam suaranya. Hanya perasaan lelah dan khawatir yang terdengar.

Zara tak membalas atau membantah satupun perkataan Ayahnya. Gadis itu sejak tadi hanya menunduk dalam, menatap slipper kepala panda milik Claudia yang dipakainya, seolah benda itu tiba-tiba menjadi sangat menarik.

Mama terbatuk kecil, mengalihkan perhatian semua orang yang ada di ruang keluarga.

“Ini sudah malam, Dante,” ucap Mama pelan namun tegas.

“Cla, ajak Zara naik ke kamar. Tidurlah. Besok pagi kalian masih harus berangkat sekolah,” imbuhnya Mama kemudian, mengedip pada Claudia yang sejak tadi berdiri gelisah di ujung tangga.

Menangkap isyarat Mama padanya, segera saja gadis itu meraih lengan Zara, setengah menariknya menaiki tangga.

Om Dante memandang keduanya dengan pandangan lelah.

“Anak gadis itu berbeda dengan anak lelaki, Dante. Kau harus menghadapinya dengan ekstra sabar.”

“Kurang sabar bagaimana lagi, Ray?”

Perdebatan antara kedua pria dewasa itu diinterupsi mama. “Sstt… pelankan suara kalian!”

 Kedua gadis yang masih sempat mendengar perdebatan itu saling melempar seringai. Buru-buru menutup pintu kamar sebelum Mama menuduh mereka menguping pembicaraan orang tua.

“Lo yang kabur dari rumah, tapi Om Dante yang diceramahi Papa. Tega lo, Za,” cetus Claudia, menyenggol Zara dengan bahunya.

Zara tidak membalas apalah. Ia hanya menatap sahabatnya yang sekarang tengah berkutat dengan selimut tebal yang baru ia keluarkan dari dalam lemari.

“Lo mau kemana?” tanya Zara, menautkan alis melihat Claudia yang tampak hendak keluar lagi.

“Tidur,” sahut Claudia singkat, hendak membuka pintu saat Zara tiba-tiba menarik tangannya.

“Tidur di sini aja, temenin gue,” cegah Zara cepat.

Claudia menggembungkan pipinya. “Lo tau sendiri gue paling nggak bisa tidur klo ada orang lain di tempat tidur gue.”

Zara memasang wajah memelas, “temenin, please. Gue perlu curhat.”

“Tidur, Za. Liat tampang lo itu! Yang lo butuhin saat ini adalah istirahat, tidur. Besok pagi, gue dengerin apapun yang mau lo ceritain. Sekarang, tidur!” tolak Claudia tegas.

Melihat Zara yang hanya memberengut tanpa membantah apalah, Claudia kembali angkat suara. “Satu lagi, netbook lo malem ini gue sita. Dan jangan berani-beraninya lo ngidupin alat elektronik apapun di kamar ini. Terutama PC gue. Lupain dulu tulisan-tulisan lo.”

Zara menyeringai masam pada Claudia. Dalam hatinya, gadis itu mengkal setengah mati melihat lagak Claudia yang notabene 2 tahun lebih muda darinya itu.

“Cerewet lo!” gerutu Zara.

Mengabaikan tampang masam Zara, Claudia beranjak keluar kamar, menutup pintu dari luar.

“Apa lagi?” sentak Zara saat sedetik kemudian wajah Claudia kembali muncul dari celah pintu.

“Cuma mau bilang, seragam lo belom kering. Jadi, lo pake aja seragam gue. Ada di lemari sebelah kiri,” sahut Claudia singkat, menunjuk lemari pakaiannya dengan telunjuk.

No, thanks. Gue nggak ada niat buat berangkat sekolah.”

Mendengar jawaban Zara, Claudia sigap kembali masuk ke dalam kamar, melotot garang.

“Apa lo bilang?”

Zara mendengus malas. “Kadang gue pengen banget nge-jitak elo, Cla. Apalagi klo inget gue ini lebih tua dari lo!”

“Jangan ngalihin topik. Gue tau lo lebih tua dari gue. So what? Gue nggak peduli! Ngomong apa lo barusan? Berniat mbolos? Huh?” gertak Claudia, berkacak pinggang.

Alih-alih menjelaskan, Zara hanya menatap kalender yang tergantung di dinding dengan tatapan nanar, berkali-kali menghela nafas panjang. Mata Claudia mengikuti arah pandang Zara, bingung dengan kelakuan aneh sahabatnya.

“Oh… maaf. Ya udah, besok gue temenin ke sana,” desis Claudia saat paham apa yang sebenarnya dipikirkan Zara.

“Hmm… tidur, Za. Besok, sambil jalan, kita ngobrol lagi,” imbuh Claudia, menepuk pelan bahu sahabatnya.

Setelah Zara mengangguk kecil, tersenyum samar pada Claudia, baru gadis itu beranjak keluar, menutup pintu dengan pelan. Sesaat matanya masih menatap daun pintu kamarnya sendiri, menghela nafas pelan. Perlahan, Claudia menyeret kakinya menuju kamar Kei, tidur di sana.

Sampai gadis itu jatuh tertidur, pembicaraan di lantai bawah masih terus berlanjut, bahkan semakin memanas.

***

 

Pagi itu suasana sekolah nampak tidak sesibuk biasanya. Bukan karena apa, tapi gerimis kecil yang belum berhenti sejak semalam membuat semua orang nampak malas berada di luar. Mereka lebih senang berjalan cepat –setengah berlari- melintas halaman begitu turun dari kendaraan masing-masing. Entah itu bus, angkot, bajai, ojek ataupun mobil pribadi. Beberapa motor dan sepeda bahkan dengan tergesa –nyaris tak sopan- melaju cepat melewati gerbang sekolah, tanpa sekalipun menurunkan kecepatan.

Dua orang gadis, nampak keluar dari pintu belakang sebuah mobil hitam.

“Kita ganti baju di stasiun aja,” ucap gadis yang berambut pendek. Ekor matanya masih mengikuti mobil hitam pengantar mereka yang kemudian menghilang di belokan jalan.

Gadis yang berambut panjang dan sedikit lebih tinggi hanya mengangguk, mengikuti langkah temannya menuju pohon beringin besar di pinggir jalan, berlindung dari rinai hujan.

“Nih, makan! Gue males banget klo harus ngurusin lo yang pingsan di jalan,” seru si rambut pendek, mengulurkan kotak bekal berisi roti pada temannya.

“Gue nggak lapar, Cla,” tolak si gadis berambut panjang.

Claudia melirik tajam pada Zara, “nggak lapar bukan berarti lo nggak perlu makan.”

Malas berdebat, Zara mengambil alih kotak bekal dari tangan Claudia. Perlahan ia membukanya, mengambil sepotong roti mengunyahnya malas-malasan.

“Haishh… kenapa juga lo nggak ndengerin omongan gue? Udah disuruh tidur juga, malah ngetik lagi. Liat muka lo itu, pucet kayak vampir. Sekali lagi lo muntah, perjalanan kita batal! Gue seret lo ke rumah sakit! Lo pikir gue nggak berani? Nggak tega? Huh?” Claudia mengeluh panjang pendek. Matanya menyipit, berusaha menangkap sosok bus yang mereka tunggu. Bus kota yang akan membawa mereka ke stasiun kereta. Sesekali gadis tomboy itu melirik temannya, sekadar memastikan kalau Zara memakan rotinya. Mata gadis itu menyipit saat menangkap raut kaget di wajah Zara yang tatapannya tertuju pada titik di atas kepalanya.

Belum sempat Claudia bertanya kenapa Zara bertingkah aneh, sebuah suara berat terdengar dari balik punggungnya, membuat gadis itu nyaris terlonjak.

“Kalian, mau ke mana?”

Refleks, Claudia memutar badan, mencari sumber suara. “Astaga! Gue pikir hantu beringin! Sialan lo!”

Lang–orang yang menyapa–hanya menaikkan alis, mengabaikan Claudia yang masih terus menggerutu.

“Janjian mbolos? Huh?” tuntutnya, kali ini melempar tatapan minta penjelasan pada Zara.

“Bukan bolos! Kami mo ke ma–” Claudia tiba-tiba menghentikan ucapannya, nampak seperti orang kelepasan bicara.

“Uh, eh,ada urusan penting, Lang. Gue dah bilang ke wali kelasnya klo Zara sakit dan nggak masuk,” kilah Claudia cepat sembari memperbaiki letak ransel di punggungnya-berusaha menyembunyikan salah tingkahnya.

“Dan gue nggak bohong, Zaemang sakit. Liat aja muka pucetnya itu,” imbuhnya. Kali ini sembari memainkan kancing hoodie-nya.

Pandangan mata Lang beralih pada Claudia, sudut bibirnya sedikit terangkat. “Dan lo sendiri, Cla? Apa alasan siswi jenius kita ini? Huh?”

Claudia menelan ludah, menyeringai gugup. “G-gue… euh, sekali-kali bolos kayaknya nggak masalah deh.”

Lang mengangguk samar, “Tentu. Siswi teladan kesayangan guru, mbolos sekali-kali juga nggak bakal dimarahin, huh? Mana ada guru yang bakal marahin pemenang olimpiade kimia tingkat nasional,” ucapnya santai, sarkastis.

“Lang! Nggak usah bawa-bawa olimpiade bisa nggak?” seru Claudia kesal, tersinggung.

Zara terkekeh kecil melihat kelakuan kedua temannya. Dua orang di hadapannya itu memang tidak pernah akur. Selalu saja bertengkar dan berdepat di setiap kesempatan. Arch-enemy, itulah mereka, Claudia dan Lang.

“Oh… terus gue mesti bawa siapa? Bawa-bawa klo lo selalu masuk kelas akselerasi? Masuk SMA dengan menyandang rekor ‘termuda’ dalam sejarah? Huh? Anak kecil?” tantang Lang, manik mata pemuda itu berkilat jahil. Seolah melihat wajah Claudia yang menggembung mengkal adalah hal yang menyenangkan baginya.

“Udah…. Bisa nggak, sehari aja berhenti bertengkar? Pusing gue ndengernya,” potong Zara sebelum Claudia sempat balas berteriak apalah pada Lang.

Claudia mendengus, membuang muka. Ekor matanya menangkap sosok bus yang ditunggunya.

“Ayo, Za. Bus-nya udah dateng tuh!” serunya, tangan kanannya menarik lengan Zara. Namun, langkah gadis itu terhenti, seseorang menahan lengan kirinya.

“Gue anter.”

“Nggak usah Lang, makasih. Kami bisa berangkat sendiri kok,” jawab Zara kalem. Senyumnya otomatis terkembang melihat wajah Claudia yang merah padam menyadari jari-jemari Lang yang panjang dan besar tengah mencengkeram lengannya dengan kuat.

“Jangan ngeyel, Cla. Gue anter!” Sergah Lang, mengabaikan ucapan Zara padanya. Mata pemuda itu menyorot tajam wajah Claudia yang sekarang nampak siap meledak marah.

“Lepas, Lang! Lo nggak denger apa kata Za? Kami bisa berangkat sendiri!” Seru Claudia, kedua tangannya berkutat dengan tangan Lang, berusaha melepaskan diri.

Lang mengangkat sudut bibirnya, “Za emang bisa berangkat sendiri, gue percaya. Tapi gue nggak percaya sama lo, Cla. Bisa-bisa si Zara elo bawa nyasar entah kemana.”

Sementara Zara tergelak, Claudia justru mengedipkan mata–bingung.

“Itu, mobil lo ‘kan, Lang? Ayo kita berangkat. Ntar keburu siang,” putus Zara, melangkah menuju Suzuki Forsa GLX yang terparkir tak jauh dari mereka.

“ZA! Gue ogah dianter makhluk macem gini!” protes Claudia tak terima, menatap garang tangan Lang yang sekarang menyeretnya, menyusul Zara yag sudah duduk manis di jok belakang.

“Kalau gitu, lo boleh tinggal,” sahut Lang kalem, melepas cengkeramannya di lengan Claudia.

Kaget karena tiba-tiba dilepaskan, Claudia sedikit terhuyung. Gadis itu mendengus  saat melihat Zara dan Lang saling bertukar senyum jahil.

“Haisshh… mentang-mentang udah mo jadi keluarga, kompak banget ngerjain gue,” gerutu Claudia, cukup pelan hingga Zara tidak bisa mendengarnya.

“Duduk di depan, Cla! Lo pikir gue supir, huh?” bentak Lang, tepat di telinga Claudia saat gadis itu membuka pintu belakang.

“Dan berakhir dengan mati ringsek saat mobil butut lo ini nabrak pohon toge? Ogah!” sergah Claudia tak terima. Keduanya kembali berkutat, saling tarik menarik.

Guys… please?”

Suara Zara membuat Lang dan Claudia memisahkan diri. Dengan bersungut-sungut keduanya menempati tempat duduknya masing-masing. Lang di belakang setir dan Claudia di sebelah Zara yang memejamkan mata dengan raut lelah.

“Mampir ke toko bunga dulu, Lang,” pinta Zara pelan.

Permintaan yang membuat Lang yakin, tebakannya tadi sepenuhnya benar. Kedua gadis nekat ini memang membolos untuk pergi ke tempat ‘itu’.

Lang menjawab permintaan Zara dengan anggukan tipis. Tak lama kemudian, mobil tuanya sudah membelah kesibukan jalan ibukota. Rintik hujan masih turun di luar jendela. Seolah mengiri perjalanan ‘sendu-muram’ Zara bersama kedua temannya. Teman yang sudah dianggapnya sebagai saudara. Dan mungkin saja, mereka bertiga benar-benar akan menjadi ‘saudara’. Bukankah masa depan selalu penuh dengan ketidakpastian?

***