7 – STRÁŽE

“Na… Knezna… apa kau sudah bangun? Boleh aku masuk?”

Aku menggeliat malas, beranjak duduk di tepi tempat tidur. Kepalaku rasanya berdenyut. “Masuk saja, Lay.”

Seraut wajah kalem berlesung pipi menyembul dari celah pintu.

“Masih pusing?” tanya pemuda itu, menutup pelan pintu di belakangnya.

Aku hanya mendengus malas, beranjak turun. Lay duduk di tepi tempat tidurku. Matanya terus mengikutiku yang berjalan pelan menuju kamar mandi untuk sekadar mencuci muka dan gosok gigi, terlalu malas untuk mandi. Juga terlalu lelah sebenarnya.

Saat keluar dari kamar mandi, Lay berdiri membelakangiku. Pemuda itu tengah menatap keluar jendela.

“Sepertinya aku tidak ikut turun sarapan,” ucapku pelan, kembali merangkak ke atas tempat tidur. Kepalaku benar-benar sakit.

Lay berbalik, menghela nafas pelan saat melihatku kembali bergelung dalam selimut. Perlahan ia duduk di tepi tempat tidur, memegang dahiku. Telapak tangannya terasa sejuk dan nyaman. Aku tidak yakin dengan apa yang dilakukannya. Tapi, saat Lay akhirnya mengalihkan tangannya dari dahiku, kepalaku tak lagi berdenyut.

Diluar kemauanku, aku tersenyum tipis. “Chryz terbang dan melontarkan api. Dan kau, sepertinya kau bisa menyembuhkan orang.”

Lay membalas senyumanku. “Kalau sudah baikan, turunlah ke bawah. Kami semua menunggumu.”

Aku hanya mengangguk kecil saat Lay sekali lagi tersenyum sebelum menutup pintu kamar.

Perlahan aku keluar dari dalam selimut, setengah menyeret kaki menuju walk-in closet yang terletak di sebelah kamar mandi. Mendapati isinya ternyata lebih banyak dari yang kuduga, aku sedikit terkejut. Aku bahkan perlu beberapa waktu sampai akhirnya bisa menemukan bajuku sendiri. Hampir seluruh isi tempat ini adalah barang baru yang belum pernah kulihat sebelumnya. Baju dan barang-barang yang kubawa dari rumah hampir tak terlihat saking sedikitnya dibanding baju baru itu.

Setelah berputar beberapa kali membolak-balik beberapa baju–yang sepertinya cukup nyaman–akhirnya aku memilih sebuah kaos berukuran ekstra besar dan sebuah skinny jeans. Saat melihat bayangan sendiri di cermin besar, aku tersenyum geli. Siapapun yang meletakkan kaos jumbo ini, pasti selera fashion-nya agak menyimpang. Kaos yang kupakai ini benar-benar terlalu besar. Ujung bawahnya nyaris mencapai lutut. Mau tak mau, itu juga berarti bahuku sedikit terbuka karena kaos itu selalu saja melorot. Tapi… aku suka kaos ini. Nyaman.

Setelah memastikan dandananku cukup sopan untuk turun sarapan bersama 7 orang pria, aku melangkah keluar kamar. Saat menuruni tangga, terbersit pikiran aneh dalam otakku. Seandainya aku punya kemampuan teleportasi seperti mereka, aku tidak perlu repot-repot menuruni tangga dalam keadaan lemas begini. Namun, mengingat Lay yang tadi juga repot-repot berjalan dan mengetuk pintu alih-alih muncul mendadak dari udara kosong, tiba-tiba membuatku merasa geli.  Ketujuh kurcaci aneh itu nampaknya berusaha bersikap senormal mungkin. Setidaknya, di depanku.

***

“Sudah kubilang, ‘kan? Dia pasti menyukai kaos pilihanku,” sambut Jong antusias saat melihatku.

Marque tersenyum sinis, “Yeah, whatever.”

“Sudah baikan?” tanya Aiden, sekadar berbasa-basi. Aku menjawabnya dengan senyuman tipis. Semuanya sudah berkumpul, lengkap 8 orang-–termasuk aku sendiri.

Nampaknya susunan duduk tadi malam tidak berlaku lagi, kursi kosong yang tersisa hanyalah kursi di depan Marque. Dan di situlah aku duduk sekarang ini.

“Masih terlihat pucat. Apa kau belum melakukannya apapun padanya, Lay?” tuntut Chryz, menatap tajam ke arah Lay.

“Sudah, Chryz. Lay sudah mengobatiku. Sudah jauh lebih baik,” sahutku cepat, melempar pandangan terima kasih pada Lay.

Chryz menelisik wajahku dengan cermat. Nampak sekali kalau ia tidak puas.

“Lay juga masih lelah karena harus mengobati Aiden tadi malam. Jangan menekannya.”

Pembelaan Zee membuatku merasa bersalah. Jadi, semalam Lay terlihat pucat dan letih karena sebelumnya mengobati Aiden? Jadi benar, Aiden memang terluka parah. Lay harus memforsir energi untuk mengobati lukanya. Dan pagi ini, Lay harus menguras kembali energinya hanya karena aku sakit kepala?

“Maaf, Lay… aku…” pintaku tersendat. Bukan karena meminta maaf terasa menyulitkan bagiku. Hanya saja, aku belum siap jika harus membicarakan kejadian semalam. Setidaknya tidak saat ini.

“Oh, berhentilah ber-melodrama! Kau hanya perlu tidur 10 jam seperti Chryz untuk kembali sehat. Betul ‘kan, Lay?” celutuk Marque dengan intonasi khasnya, menyindir.

Lay tergelak, mengangkat tangannya, mengajak Marque ber-highfive.

“Kapan aku pernah tidur 10 jam?” sergah Chryz tak terima.

Marque mengangkat bahunya, mengabaikan tangan Lay yang masih teracung di udara. “Setiap hari, seingatku,” jawabnya kalem sembari melirik Lay yang pura-pura mengambil apel dalam rangka mengalihkan tangannya yang tidak ditanggapi oleh Marque.

Saat pandangan Marque bertemu dengan mataku, aku mengangguk tipis padanya, melempar senyum samar. Sekalipun pemuda itu nampak tak punya hati dan bermulut tajam–aku yakin, jauh di dalam hatinya–ia adalah pemuda yang baik. Bukankah ia sengaja memancing masalah untuk mengalihkan pembicaraan dari topik yang membuatku tidak nyaman? Sekalipun aku tidak mengucapkan terima kasih secara langsung, dari sudut bibir Marque yang sedikit terangkat saat melihatku, aku yakin ia paham apa maksud anggukanku tadi.

“Jadi, kita mau sarapan sekarang, atau menunggu ada yang membeku, meledak, hangus atau apalah terlebih dahulu? Ah… mungkin Marque yang melompat seperti Kangguru bisa jadi pertunjukan pembuka,” celutuk Jong. Seringaian pemuda berkepala besar ini ternyata jauh lebih mengerikan jika dibanding seringaian Marque.

“Jangan coba-coba, Jong! Atau, aku tidak akan sungkan-sungkan menerbangkan ke atap rumah!” ancam Marque, nada suaranya terdengar panik.

Guys… ada yang kelaparan di sini. Bisakah kita mulai saja?” potong Hanz malas-malasan. Aku terkikik geli saat melihat telunjuk Hanz terarah pada Chryz yang tengah mengendus piringnya. Piring itu berisi sesuatu yang nampak seperti sirloin dan krim saus.

“Berhentilah membaca pikiranku, Hanz! Kau menyebalkan!” sembur Chryz, melempar serbet ke arah Hanz.

“Ini namanya Svíčková na smetaně, sirloin dengan cream sauce,” celutuk Aiden, menyodorkan piringnya ke arahku.

Sedetik kemudian ia sudah menyambar piring milik Marque, menyodorkannya padaku. “Atau kau mau Bramboráký? Ini pancake kentang yang dicampur dengan bawang dan keju. Bagaimana?”

“Eh? Tidak, terima kasih. Ini ‘kan punya Marque,” tolakku halus, takut-takut melirik Marque.

“Tukar dengan Gulash milikmu, aku tidak keberatan. Ah, kau juga bisa mengambil semua sayurnya. Cukup sisakan dagingnya saja,” sahut Marque kalem, menunjuk piring yang sejak tadi tersedia di hadapanku.

Sejenak aku menelisik isi piringku itu. Pantas saja Marque tidak keberatan. Gulash adalah campuran kuah kental dengan merica dan sayuran yang disiram di atas daging. Sedangkan Bramboráký miliknya jelas-jelas tidak mengandung daging, makanan vegetarian. Tampang seperti Marque –taruhan- pasti sejenis karnivora yang alergi sayuran.

“Tak masalah kalian bertukar menu. Tapi tidak ada tukar-menukar sayur dengan daging! Marque, kau harus memakan sayurmu!” sentak Jong, galak.

Marque menyeringai malas, “Oh, Jong. Berhentilah memerintah ini-itu padaku. Aku bukan anak kecil. Kenapa kau tidak menyuruh Zee saja? Dia ‘kan masih bocah.”

Tatapanku mengikuti ujung garpu Marque yang mengarah pada Zee. Saat pemuda itu balik menatapku, aku tersenyum tipis. Sedikit terkejut saat ia membalas senyumanku. Sepanjang yang kuingat, seharian kemarin Zee sama sekali tidak tersenyum padaku. Jangankan tersenyum, melirik saja tidak.

“Sepertinya milikmu enak. Apa itu, Zee?” tanyaku, mencoba mengajaknya mengobrol.

Kali ini aku tidak lagi terkejut saat Zee menyodorkan piringnya padaku, melewati Aiden dan Hanz. “Mau tukar dengan Kure plnene nadivkou?” tawarnya ramah, senyum masih terkembang di bibirnya.

“Apa itu?”

“Ayam isi,” sahut Marque cepat. “Itu tidak enak, kau tukar denganku saja!” imbuhnya, sigap merebut piring jatahku.

“MARQUE!”

Pemuda pucat dihadapanku itu hanya menyeringai mendengar namanya diteriakkan oleh Jong.

“Diamlah, Jong. Nana saja tidak keberatan,” kilah Marque, kalem. Tangannya mulai sibuk menyuap.

Aku mengangkat bahu, “Tak apa, Jong. Ehm, Zee, masih mau tukar denganku?” Tanyaku sembari menunjuk Bramboráký.

Tanpa menguccapkan apapun, Zee sudah menukarkan piringnya dengan milikku.

“Oh… such a sweet family,” celutuk Lay tiba-tiba, tersenyum memamerkan lesung pipitnya.

Just shut up, Lay!” sergah Chryz.

Walaupun berawal dengan keributan, tapi sisa waktu sarapan itu terasa menyenangkan. Tentu masih dengan beberapa insiden pencurian daging oleh Marque. Setidaknya, aku merasa mulai nyaman dengan ketujuh kurcaci, eh maksudku, ketujuh kakak sepupuku.

***

Sepanjang sisa hari itu–setelah sarapan bersama–bisa dikatakan membosankan. Semua orang pergi entah kemanalah, sibuk dengan kegiatan masing-masing. Bahkan Zee yang notabene sedang libur kuliah juga pergi keluar rumah. Menyisakan aku seorang diri di kastil besar ini. Benar-benar seorang diri, mengingat kenyataaan bahwa sudah 1 jam aku berkeliling dan tak bertemu seorang pun.

Awalnya aku sempat berharap akan berpapasan dengan para pengurus rumah, lengkap dengan seragam hitam dan apron putih berenda seperti yang kulihat di film-film klasik. Benar-benar harapan yang sia-sia.

Aku memang belum siap untuk membahas kejadian tadi malam. Masih banyak yang harus aku pikirkan sebelum berani bertanya pada mereka. Siapa mereka sebenarnya? Apa mereka benar-benar sepupuku? Kenapa mereka terlibat dengan monster-monster itu? Sekalipun aku memang perlu waktu untuk berpikir, tapi bukan lantas  semua orang membiarkan aku sendirian ‘kan?

Sebelum berangkat kemanalah, Aiden menyempatkan diri mengajakku ke perpustakaan yang ada di rumah ini. Aiden bilang, tidak ada salahnya aku membaca koleksi buku yang ada. Selain sebagai bekal kuliahku nanti, juga bisa sedikit memperbaiki bahasa Ceko-ku yang memprihatinkan. Sayangnya, aku bukan tipe yang suka berdiam diri terlalu lama. Lagipula, untuk apa belajar bahasa Ceko? Aku mengambil jurusan yang menggunakan bahasa Inggris sebagai  bahasa pengantarnya. Selain itu, bahasa Jerman-ku juga sudah cukup untuk sekadar bercakap-cakap dengan penduduk lokal. Toh, bahasa Jerman adalah bahasa kedua di Republik Ceko ini.

Jadi, inilah yang kemudian aku lalukan, berjalan mengelilingi mansion—begitu para kakakku menyebut kastil ini. Membuka semua pintu yang tidak terkunci, menelisik setiap ruangan yang kutemui, melongok setiap jendela yang kutemukan. Apa saja yang bisa kulakukan untuk merintang waktu.

“Terlihat seperti pahatan 3 dimensi ‘kan?”

Aku sontak menoleh, mengelus dada saat melihat sosok Lay yang tengah mendongak menatap langit-langit ruangan.

Sepertinya pemuda berlesung pipi itu mendengar dengusan nafasku. Bibirnya Nampak melengkung seolah menahan geli. Atau seringai kemenangan karena telah berhasil mengagetkanku? Yang jelas, mengingat para lelaki itu suka sekali muncul tiba-tiba, seharusnya aku selalu siap mental dan menjaga jantungku sebaik mungkin kalau tidak ingin mati muda.

“Sebenarnya aku juga tidak begitu paham soal arsitektur, tapi Marque pernah bilang kalau mansion kita ini bergaya Neo-Baroque,” celutuk Lay tanpa merasa perlu menatapku.

Baroque…” desisku pelan, berusaha mengingat-ingat di mana dan kapan aku pernah mendengar istilah itu.

“Dan ini,” tunjuk Lay ke langit-langit, “disebut fresco. Lukisan ini sebenarnya 2 dimensi, namun terlihat seperti pahatan 3 dimensi karena efek trompe l’oelil,” terang Lay.

Aku menatapnya dengan sorot kosong, masih berusaha mengingat-ingat sesuatu.

“Basilica Saint Peter,” celutukku pelan, menyeringai tipis saat Lay menatapku dengan alis bertaut.

Detik berikutnya Lay mengangguk, “Ya. Itu salah satu bangunan terkenal yang bergaya baroque. Kau pernah ke sana?”

Sebenarnya aku nyaris tertawa hambar, untung saja otakku masih cukup waras untuk tidak melakukannya. Bukan salah mereka kalau aku tidak pernah kemanapun dan hanya berkutat di korea ‘kan?

“Belum. Aku pernah melihatnya di… internet,” sahutku pelan, sekuat tenaga menghilangkan nada sinis dari ucapanku.

Lay tersenyum tipis sembari mengangguk. “Kapan-kapan kita bisa ke sana,” sahutnya ringan.

Aku menelan ludah mendengar jawabnnya. Sekaya itukah para sepupuku ini? Mudah sekali bagi mereka bepergian ke tempat-tempat menyenangkan tanpa perlu banyak pertimbangan.

“Dengan teleportasi?” celutukku sesaat kemudian, teringat kalau bagi mereka kemudahan bepergian sama sekali tidak ada hubungannya dengan uang atau kekayaan.

Lay terkekeh kecil, “itu juga bisa. Tapi aku lebih suka naik pesawat. Terasa sedikit lebih normal.”

“Normal…” desisku pelan. Entahlah, aku hanya ingin mengulang kata itu, tak ada pretensi apapun.

Lay menatapku dengan pandangan yang tidak bisa aku artikan. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Seolah ia hanya menjadikan wajahku sebagai media tatapan namumn pikirannya melayang entah ke mana.

Jengah ditatap seperti itu, aku memutar pandangan, berusaha mencari pengalihan.

“Aku tidak melihat adanya kaca patri di sini,” ucapku dengan suara yang terdengar serak.

Lay mengedipkan matanya, mengikuti arah pandangku. “Tentu saja, kaca patri itu ciri khas bangunan bergaya gotik,” jawabnya tenang, tak terlihat seperti orang yang baru saja melamun.

Lay memutar pandangan, “nah, ini salah satu ciri khas gaya baroque, Putti. Kau lihat ini?” tanyannya antusias, menunjuk patung bocah gemuk yang bersayap. “Menurutmu, dia mirip siapa?” tanyanya dengan ekspresi jahil.

Aku hanya bisa tersenyum tanggung, bingung hendak menjawab apa. Sepertinya bukan hanya Zee yang suasana hatinya tidak dapat kutebak, pemuda berlesung pipi di hadapanku ini juga tak beda jauh. Ah… kalau diingat-ingat lagi, Chryz dan yang lainnya juga sama, sulit ditebak.

“Menurutku, dia ini mirip Hanz. Yang itu,” Lay menunjuk atas, ke arah penyangga lilin berbentuk putti, “mirip Chryz.”

Aku menatap ornament itu lekat-lekat. “Tidak mirip,” sangkalku kemudian. Bagaimana bisa disebut mirip? Putti itu terlihat sangat lucu menggemaskan, beda sekali dengan wajah Chryz yang selalu tegas menjurus ke galak.

“Justru terlihat seperti Marque,” imbuhku ragu-ragu.

Tawa Lay menyembur tak terkendali mendengar pendapatku barusan, “benar, seperti Marque. Putih pucat dengan ekspresi serba tanggung,” cetusnya di sela-sela tawanya yang semakin menjadi.

Sebenarnya aku merasa tidak ada yang lucu, namun tawa renyah Lay seolah menular. Sesaat tawaku dan Lay yang saling bersahutan, memantul pada dinding kastil yang bercat kuning keemasan.

“KNEZNA!!”

Teriakan bernada panik itu membuat tawaku dan Lay serempak terbungkam. Aku hanya bisa membelalak kaget saat Marque muncul dan meraih pergelangan tanganku dengan kasar.

Belum sempat aku membuka mulut untuk protes, sebuah gelombang aneh menerpaku. Rasanya janggal sekali. Seperti tertiup angin kencang sekaligus tersedot oleh gelombang. Refleks aku meraih lengan Marque, satu-satunya objek yang masih bisa kulihat dengan jelas.

Sesaat aku bingung dengan perubahan dihadapanku. Hanz yang berlutut dan mencengkeram erat kepalanya. Kedua matanya terpejam erat. Ia bahkan mengigit bibir bawahnya kuat-kuat, seolah menahan sakit yang teramat sangat. Sepelemparan batu dari Hanz, tampak seorang gadis cilik berbaju putih berdiri diam. Kutaksir, umurnya tidak lebih dari 5 tahun. Sepintas, gadis cilik itu terlihat sedikit menakutkan. Rambut hitamnya terurai panjang melewati bahu. Sebelah tangannya memegang telinga boneka kelinci, sebelahnya lagi teracung lemah ke arah Hanz. Raut bocah itu sempurna kosong. Matanya bulat hitamnya menatap Hanz lamat-lamat.

Aku mengerjap-erjapkan mata, berusaha memproses semua informasi. Baiklah… sepertinya Marque baru saja membawaku ber-teleportasi. Dibandingkan Chryz, teleportasi Marque sangat payah dan membuat mual.

“Ayo, kita lakukan!”

Seruan Marque bagaikan berasal dari tempurung kepalaku sendiri, membuat mualku semakin menjadi. Di mana sosok kakakku yang pucat itu?

Tiba-tiba tanganku terulur dengan sendirinya, tanpa bisa kukendalikan.

Tapi… tunggu…. Ini bukan tanganku! A-apa yang sebenarnya terjadi? Tangan siapa ini? Kenapa tanganku menjadi sedemikian berotot dan….

Ini… tangan Marque!

Apa yang terjadi?!

“Lakukan, Knezna. Cepat! Atau bocah sialan itu akan mencelakai Hanz!” Suara Marque kembali bergema dalam otakku, bertumpang tindih dengan segala kebingungan yang bergaung di sana.

“A-apa?” cicitku takut, berusaha memejamkan mata. Tak ada gunanya, sosok gadis cilik itu tetap terlihat jelas. Begitu juga sosok Hanz yang sekarang tidak hanya terlihat sakit, namun juga bersimbah darah. Ya, darah itu mengucur dari kedua sudut mata, liang telinga dan hidung. Ada apa ini?

“Bantu aku! Aku tidak bisa melakukannya seorang diri! Cepat!”

Suara Marque lagi, kali ini ia membentak begitu keras. Puncak kepalaku rasanya berdenyut.

Pandanganku beralih-alih antara ekspresi kesakitan Hanz dan raut kosong si gadis kecil. Tak yakin dengan apa yang harus kulakukan, perlahan tapi pasti, aku berusaha menghela sesuatu. Menarik sesuatu dari dalam tubuh gadis cilik itu dengan tangan Marque yang terulur. Itu memang tangan Marque, namun aku yang mengendalikannya sekarang.

Sedetik kemudian gadis itu menoleh cepat padaku, menatapku dengan bola mata yang terbelalak sempurna. Boneka kelinci terlepas dari tangannya. Sesaat sebelum jatuh ke tanah, gadis itu mengeluarkan suara aneh yang menakutkan dari mulutnya yang sedikit terbuka.

***