1 – STRÁŽE

Salju….

Hmm… aku selalu suka salju. Bahkan dalam situasi menyebalkan pangkat tiga seperti sekarang ini, butiran salju tetap terasa menyenangkan. Kristal lembut yang ringan, melayang. Menari ringan bersama angin yang bersenandung pelan. Riang menyapa kelopak-kelopak bunga, membelai helai-helai daun. Mengusap pipiku lembut, ah… bahkan noktah salju juga selalu berani menyentuh bibirku! Sebuah… ciuman? Memangnya bisa dianggap begitu? Tidak, ‘kan?

Hurry up!”

Mau tak mau aku menggembungkan pipi, ini sudah ketiga kalinya pemuda atletis yang memakai setelah hitam itu mendesis kesal mengucapkan kata yang sama. Tak sabaran menarik pergelangan tanganku dengan tangan kanannya. Tangan kirinya menarik koper besar milikku dengan mudahnya, seolah benda itu ringan saja baginya. Hebat!

Yes, Sir. Whatever,” gerutuku pelan. Sejurus kemudian aku hanya menyeringai. Tidak enak juga mengumpat seperti tadi.

“Barusan kau bilang apa?” tanyanya sembari menatapku intens, membuatku gugup. Bagaimanapun, dia cukup tampan. Lumayanlah.

Dia, eh, maksudku pemuda itu masih menatapku, menunggu jawaban. Kalau dilihat dari ekspresinya, dia tidak akan berhenti menatapku kalau aku tidak segera menjawab pertanyaannya dengan manis.

“Tidak ada, Aiden Oppa. Aku hanya… ehm… gugup akan bertemu kalian semua,” sahutku dengan nada terkontrol, memasang wajah adik bungsu yang polos tanpa dosa.

Pemuda itu tersenyum maklum, “kau harus mulai membiasakan diri memanggil kami cukup dengan nama saja,” ucapnya ringan sembari kembali menarik pergelangan tanganku.

Aku menyeringai kaku. Ya, tentu saja aku tahu kalau ini bukanlah di Korea Selatan. Bukan, dan bukan. Sekarang ini aku sedang berada di salah satu sudut kota Praha, Ceko. Mungkin lebih tepatnya, berada di sebuah rumah yang terletak di sudut manalah kota Praha. Itupun, kalau bangunan di hadapanku ini masih bisa disebut rumah.

Bangunan tinggi besar, terhampar di atas tanah berpuluh-puluh hektar, yang jarak antara pintu gerbang dan rumahnya -asumsinya, aku berjalan kaki- bisa membuatku kehabisan nafas. Bangunan mirip kastil yang bernuansa… seram? Entahlah. Mungkin kata misterius lebih tepat.

“Selamat datang adik kecil yang manis….”

Seraut wajah ramah menyambut saat pintu kastil itu terbuka, tersenyum lebar. Aku bukan orang yang menilai seseorang dari wajahnya saja. Tapi, tak bisa kupungkiri, sorot lelaki yang satu ini sangatlah hangat dan ramah. Mau tak mau, aku merasa dia akan menjadi favoritku. Entahlah.

“Nah, kebetulan ada kau. Hanz, kau antarkan Knezna berkeliling rumah, dan kenalkan ia pada yang lain,” sahut penjemputku, sembari melepas pegangannya di pergelangan tanganku.

 Hanz mengangguk mantap, mengacungkan ibu jarinya. Aku mendengus kecil. Sejak bertemu dengan Jong di panti asuhan tempo hari, aku sudah merasa kalau semua ini akan terjadi. Tujuh orang kakak lelaki yang suka melemparku ke sana-sini. Jong bahkan tidak mau bersabar menungguku berkemas dan pergi ke Praha bersama. Ia dengan santainya berkata kalau ia harus pergi saat itu juga, setelah semua perkara administrasi selesai. Ia hanya memberiku segepok dokumen dan menyuruhku segera menyusulnya. Dan itu berarti perjalananku melintasi benua untuk pertama kalinya harus kulakukan seorang diri. Untung saja aku tidak tersesat!

“Aiden! Memangnya kau mau ke mana lagi?” seru Hanz memanggil, seolah tiba-tiba teringat sesuatu.

“Aiden Oppa, euh, maksudku, Aiden tadi bilang, ia ada meeting penting dengan klien,” jawabku terbata, masih belum terbiasa harus memanggil seseorang yang jauh lebih tua tanpa sebutan oppa.

Hanz hanya mengangkat bahu tak peduli.“Ayo, kuantar kau ke kamarmu,”ucapnya ringan.

Aku melirik koper besar yang tadi di seret Aiden masih beronggok pasrah di samping pintu.

Seolah bisa membaca pikiranku, Hanz tersenyum kecil, “biarkan saja. Nanti akan ada yang mengurusnya.”

Aku mengangguk kecil, percaya. Tentu saja, rumah sebesar ini, sudah sewajarnya  punya banyak pembantu.

“Ah-ya, tak ada salahnya kita berkeliling dulu. Kau belum mengenal kami ‘kan?” tanya Hanz sembari melirik padaku. Aku hanya tersenyum. Untuk apa menjawab pertanyaan retoris? Hanz segera menarik lenganku, alih-alih menuju kamar, dia membawaku ke ruangan penuh sofa-sofa besar yang nampaknya sangat nyaman.

“Zee! Mau kemana kau? Kemari! Kenalan dulu dengan adik barumu!” seru Hanz pada seorang pemuda yang sedang menaiki tangga. Pemuda itu menoleh, melihatku tanpa ekspresi. Sejurus kemudian ia kembali menaiki tangga, tak mengacuhkanku. Aku menelan ludah, menyeringai. Julukan yang Hanz berikan padaku –adik baru- entah mengapa terdengar pas sekali menggambarkan situasiku saat ini.

Hanz berdecak kesal, “Aissss… dasar bocah. Tenang saja, dia hanya cemburu padamu, karena posisinya sebagai adik bungsu baru saja tergusur.”

Aku mengedipkan mata, masih sedikit tak percaya kalau pemuda bermata pada itu lebih muda dari Hanz. Kupikir, Hanz adalah kakak termudaku.

Hanz kembali menggandengku, menaiki tangga kemudian berbelok ke arah kiri, mengikuti Zee yang terus berjalan malas-malasan. Ia menghilang di balik pintu di ujung lorong. Ada 2 pintu di sisi kiri tangga, 3 pintu lain di sisi kanan tangga.

“Itu kamar Zee, nah… yang ini, kamar Marque,” jelas Hanz sembari berhenti di depan pintu yang terletak tepat di sebelah kamar Zee , mengetuk keras. “Marque, aku tahu kau ada di dalam. Buka pintunya!”

Tak lama kemudian, seraut wajah pucat menyembul. Ekspresinya saat melihat Hanz nyaris sama dengan ekspresi Zee, dingin dan tak peduli. Tapi sorot matanya langsung bersinar jahil saat menangkap sosokku yang sedikit tersembunyi di balik punggung Hanz.

“Ini dia adik kita itu? Tidak secantik yang kubayangkan. Tapi… lumayan juga,” celutuknya sembari memutar mengelilingiku. Sorot matanya mengingatkanku pada burung hantu, tajam menyelidik.

Tentu saja aku mendelik tak suka mendengar komentar anehnya. “Kau juga tidak setampan itu,” gerutuku pelan, mengerucutkan bibir.

Marque tersenyum sinis mendengar ucapanku, nyaris membuka mulut kalau Hanz tidak segera mendorongnya ke dalam kamarnya kembali, “kalau kau ingin mengajak Knezna bertengkar, tunggu sampai Jong pulang. Aku malas menjadi penengah.”

“Ada apa?”

Aku, Hanz dan Marque serempak menoleh ke arah sumber suara. Pintu yang terletak di kanan tangga terbuka lebar, sosok jangkung seorang pemuda melangkah keluar dengan tampang mengantuk. Entah kenapa, raut Marque semakin terlipat saat melihat kedatangan lelaki dengan sorot mata yang sangat tajam itu. Tanpa mengatakan apapun, Marque menutup pintu kamarnya dengan kasar, nyaris membantingnya.

“Sekali lagi kau bersikap tidak sopan dihadapanku, kupanggang kau hidup-hidup, Marque!” teriak lelaki itu, siap menerjang pintu kamar Marque.

“Chryz, sudahlah, jangan diladeni. Marque ‘kan memang begitu. Bagaimanapun, dia itu kakakmu.” Hanz sigap menahan lengan lelaki itu.

“Ini Knezna. Kau sudah tak sabar ingin bertemu dengannya ‘kan?” imbuh Hanz saat menyadari arah pandangan Chryz.

Aku tersenyum, mengangguk ke arah Chryz, kakakku yang lain.

“Bagaimana penerbangan Seoul-Praha? Capek?” tanyanya padaku. Raut kesal Chryz telah menguap sempurna dari wajahnya, berganti dengan senyuman ramah.

Jawabanku tersendat di tenggorokan, dari dalam kamar Marque terdengar suara mirip benda pecah, atau meledak. Entahlah, aku tidak yakin.

Chryz memukul kasar pintu kamar Marque, membentak keras, “kau perlu bantuanku, Marque? Aku bisa menghancurkan kamarmu dalam satu detik!”

Hanz menggandengku, setengah menarikku menuju pintu yang terletak di ujung lorong satunya, terpisah satu pintu dari kamar Chryz. “Ini kamarmu,” ucapnya sembari meraih handel pintu, membukanya lebar-lebar. “Jong dan Lay belum pulang. Sekarang kau istirahat saja dulu. Kau capek ‘kan?”

Aku tak memperhatikan lagi apa yang dikatakan Hanz. Sekilas aku mengedarkan pandangan pada ruang kamarku. Kantuk tiba-tiba saja menyerang saat aku melihat kasur besar bertabur bantal gemuk. Seolah otomatis, aku perlahan melepas sepatu, merangkak naik ke tempat tidur. Rasanya nyaman sekali. Rasanya capek sekali, bahkan untuk mandi dan berganti baju saja, aku malas.

“Semua bajumu sudah tersusun rapi dalam lemari. Kami punya pelayan yang mengurus semua keperluan di rumah ini. Tapi mereka tipe yang bekerja diam-diam tanpa diketahui tuannya.” Ucapan Hanz seolah berasal dari tempat yang jauh, aku mengantuk.

Hanz duduk di tepi tempat tidurku. “Kamar Aiden persis di sebelah kamarmu. Kamarku, Jong dan Lay ada di lantai bawah,” imbuhnya lembut, membantuku membenarkan letak selimut.

“Tapi, kami baru akan kembali ke rumah malam nanti. Jadi, kalau ada apa-apa, kau bisa mengandalkan Chryz. Gedor saja pintunya. Dia seharian ini tidak kemana-mana.”

Aku mengangguk pelan, menatap Hanz yang mengusap rambutku, tersenyum menenangkan. Sepertinya ia bisa membaca ekspresi khawatirku saat mendengar bahwa ia baru akan kembali malam nanti, meninggalkanku bersama kakak-kakak aneh yang sibuk bertengkar sendiri.

Tak berselang lama, aku sudah tertidur. Tak memperhatikan Hanz yang berjingkat pelan menutup pintu. Tak peduli dengan teriakan Chryz dan Marque yang sesekali kembali terdengar. Tak lagi sempat merasa khawatir dengan nasibku yang ‘terpaksa’ tinggal di kastil aneh bersama tujuh orang kakak lelaki yang tak kalah aneh. Bahkan sedikit lupa kenapa aku sampai terdampar di tempat ini.

Yah. Sebenarnya, bagaimana aku bisa terdampar di sini?

Entahlah, aku juga tidak yakin. Sampai kemarin aku masih berstatus penghuni panti asuhan kecil di Daejeon, kota kecil yang berjarak 100 mil di selatan Seoul. Aku nyaris kehilangan harapan untuk diadopsi hingga tiba-tiba saja pemuda bernama Jong datang dan mengaku sebagai kakak sepupuku. Dengan wajah tenang dan suara yang sempurna terkendali, ia minta maaf karena tidak berhasil menemukanku lebih cepat, membuatku harus menghabiskan 17 tahun di panti asuhan. Sesungguhnya, Jong tidak banyak bercerita. Intinya, ia ingin aku tinggal bersamanya dan saudara-saudara sepupunya yang lain, di Praha.

Omong-omong soal sepupu. Aku juga tidak yakin.

Mungkin saja mereka benar-benar sepupuku, tapi mungkin juga bukan. Semua orang yang mengetahui masa laluku selalu berkata tegas bahwa aku sama sekali tidak punya keluarga. Seluruh anggota keluargaku meninggal dalam sebuah kebakaran misterius. Semua, tak bersisa. Sudahlah. Aku tidak peduli mereka benar-benar sepupuku atau bukan. Selama tidak merugikanku, aku tidak akan peduli.

Yang jelas dan yang paling penting bagiku, aku bisa berkuliah! Aku memang sangat ingin berkuliah, tak peduli di mana. Satu-satunya cara agar aku bisa berkuliah adalah dengan ikut tinggal bersama sepupuku. Jong berjanji akan membiayai kuliahku. Hal yang tidak mungkin aku dapat dari pihak panti asuhan ataupun pemerintah.

Lagipula, Praha adalah kota terindah di benua Eropa, tempat di mana Charles University berada. Ya benar, Univerzita Kalova v Praze, atau lebih dikenal sebagai Charles University in Prague, salah satu universitas tertua di dunia yang masih ada dan beroperasi hingga sekarang. Bahkan, universitas yang berdiri tahun 1348 ini adalah universitas tertua di Eropa tengah. Universitas inilah satu-satunya yang kupedulikan.

Sekalipun aku tidak yakin mereka benar-benar sepupuku, sekalipun aku tidak punya bayangan akan kota Praha, sekalipun aku tidak yakin aku akan selamat, aku harus kuliah! Aku tidak akan pernah tahu jika aku tidak mencobanya, bukan? Tak peduli kalau itu harus membuatku tinggal dengan 7 kurcaci aneh yang mengaku sebagai kakak sepupuku. Biarlah! Anggap saja aku sedang bermain peran dalam dongeng Putih Salju dan 7 Kurcaci.

Putih Salju? Snow White?

Entahlah, aku tidak yakin. Jangan-jangan aku malah menjadi Putri Salju alias Snow Princess alias Yuki-Hime, siluman wanita salju dari Jepang yang bergaun perak dan membunuh setiap pemuda yang tertarik padanya. Tapi, tenang saja, para kakak sepupuku itu, tidak mungkin tertarik padaku ‘kan? Jadi aku tidak perlu repot-repot membunuh mereka. Namun, entahlah. Sekali lagi, entahlah! Hidup itu tak pernah tertebak.

***