Mabukkk…

Astaga, beneran deh, mbaca 3 novel ber-genre postmodern secara marathon itu rasanya mabuk. Untung nggak sampe muntah, hehehe….

Kubahas satu persatu ya.

Dengarlah Nyanyian Angin – Haruki Murakami

Novel ini berkisah tentang tokoh aku, ‘pacar’-nya dan sahabatnya yang bernama Nezumi saat menghabiskan liburan musim panas di kota asal mereka.

Tokoh Aku ini suka mbaca karya sastra dunia dan nge-fans banget ama novelis yang mati bunuh diri. Dia ketemu pacarnya pertama kali di bar tempat dia dan Nezumi biasa minum-minum. Si Aku nemuin cewek itu dalam keadaan pingsan di toilet. Ternyata cewek itu kerja di toko piringan hitam. Dan, cewek itu kemudian menghilang beberapa saat dengan alasan bepergian, padahal ngugurin kandungan yang entah siapa ayahnya. Sementara, Nezumi itu anak orang kaya yang benci ama kekayaannya sendiri. Hmm… muak lebih tepatnya. Si Aku dan Nezumi ini hobby-nya mabuk-mabukan. Semacam, summer is summer kali ya? Mumpung liburan kuliah trus menggila gitu deh.

Jujur, aku gagal paham ama novel ini. Aku bisa ngerti beberapa bagian, tapi secara keseluruhan, aku dong-dong. Mungkin karena aku nggak ngerti ama setting ceritanya, Jepang di tahun 70-an gitu. Yang tertulis di sampul belakangnya sih : “Dengarlah Nyanyian Angin bercerita tentang anak-anak muda dalam arus perbenturan nilai-nilai tradisional dan modern di Jepang tahun 1960-1970-an.”

Dan, aku bener-bener gagal paham. Ada satu bagian yang bikin aku mikir, yaitu kebiasaan si Aku yang selalu nyemir sepatu ayahnya setiap malam. Itu emang udah tugas wajib dia. Hmm… gimana ya? Semacam itu agak paradoks aja ama kseharian si Aku yang tidur, makan, mabuk, pacaran, jalan-jalan, tapi begitu pulang langsung nyemir sepatu bokap.

Entahlah, sungguh aku gagal paham.

Kitchen – Banana Yoshimoto

Nah… yang ini menarik. Dari kalimat pertamanya aja udah langsung menyedot perhatian.

“Tempat yang paling kusukai di dunia ini adalah dapur.”

Asyik, ‘kan?

Novel ini berkisah tentang Mikage Sakurai, mahasiswi yang baru aja ditinggal mati neneknya. Berhubung dia ini yatim-piatu dan kakeknya juga udah lama meninggal, maka resmilah jadi sebatang kara. Lalu Mikage tinggal dengan Yuichi Tanabe, pemuda karyawan toko bunga di mana nenek Mikage jadi langganan. Jadilah mereka tinggal bertiga di apartemen keluarga Tanabe. Mikage, Yuichi dan Ibu, eh, Ayah Yuichi, Eriko. Upss… bingung ‘kan?

Jadi, Eriko ini sebenernya ayah kandung Yuichi. Tapi sejak istrinya (Ibu Yuichi) meninggal, dia memilih untuk jadi perempuan. Yeap, dia seorang transeksual.

Mikage nggak lama tinggal di apartemen keluarga Tanabe. Begitu dia dapet apartemen yang lebih kecil dan tentu juga lebih murah daripada apartemen tempat dia tinggal ama neneknya dulu, dia pindah dan tinggal sendiri.

Buat aku pribadi, konfliknya justru baru kerasa saat Eriko meninggal karena dibunuh secara sadis ama pria yang naksir ama dia.

Yuichi dan Mikage sekarang sama-sama sendirian. Tapi mereka juga nggak yakin bakal tetep sendiri-sendiri atau mau berdua. Gara-gara dulu Mikage nginep di rumah keluarga Tanabe (waktu Eriko masih hidup padahal), Yuichi diputusin ama pacarnya. Pas tau klo Eriko meninggal, Mikage juga sempet nginep lagi di rumah Yuichi. Kali ini, ada cewek yang ngelabrak dia di tempat kerja supaya ngejauhin Yuichi.

Haduh… kok aku bingung to nyeritainnya? Intinya sih, akhirnya keduanya sama-sama move on dan mulai dari awal.

Moonlight Shadow – Banana Yoshimoto

Ini novelet yang ada di novel Kitchen. Bercerita tentang tokoh Aku yang baru aja ditinggal mati pacarnya (Hitoshi) karena kecelakaan mobil. Pas pula, Yumiko, pacar Shu (adik Hitoshi) juga bareng dalam mobil yang sama.

Intinya, ini cerita bagaimana si Aku dan Shu ngelewatin masa-masa sedih mereka, dengan cara mereka sendiri-sendiri. Si Aku yang selalu lari pagi buta lalu ngelamun di jembatan tempat dia biasa pisah ama Hitoshi saat nganter dia pulang. Juga Shu yang ke sekolah pake seragam kelasi, seragam cewek, yap, seragam punya pacarnya dulu.

Agak aneh ya, pelampiasan Shu?

Tapi gitulah, setiap orang punya mekanisme pertahanan yang beda-beda untuk menghadapi masalah.

Manjali dan Cakrabirawa – Ayu Utami

Kisah perjalanan Marja Manjali dan Parang Jati. Sementara Sandi Yuda (pacar Marja latihan panjat tebing bareng militer, tapi bohong ke Parang Jati klo ada urusan kuliah), Marja dan Parang Jati ikut menggali candi yang baru ditemukan.

Maaf, tapi aku kok lagi males cerita ya? Hehehe….

Yang aku suka dari novel ini tu, sudut pandangnya yang membuka aku buat kembali berpikir dari berbagai sisi. Nih, aku tulis aja cuplikannya, silakan mikir sendiri #plak

“Jika Cakrabirawa tidak melakukan kudeta, maka tidak ada alasan bagi Angkatan Darat untuk menumpas komunisme. Jika Angkatan Darat tidak menumpasnya, PKI akan menang lewat pemilihan umum.”

Hmm… kebayang? Kebayang?

Aku sebagai orang yang suka penasaran ama konspirasi jadi mikir yang macem-macem. If you know what i mean.

Juga soal Calwananrang ( alias Calon Arang. Tahu ‘kan? Legenda ratu kejam ilmu hitam dari Bali itu?) yang siapa tahu nggak se-seram seperti apa yang dicitrakan selama ini. Siapa tau sebenernya cuma masalah perbedaan pandangan politik aja, antara Airlangga dan Calwanarang. Apa hubungan mereka berdua? Baca aja sendiri novelnya. Males cerita panjang-panjang, huehehehe… #plak

Banyak yang menarik sih dari novel ini. Termasuk cerita Banaspati yang suka ngejilatin darah haid. Serem! Tapi menarik.

Juga cerita segitiga Marja-Yuda-Jati yang dianalogikan dengan kisah Sinta-Rama-Rahwana. Dan, hei! Benerkah Rahwana itu raksasa jelek-serem? Atau cakep? Buahahaha… sekali lagi, baca aja sendiri.

Terakhir, entah kenapa, mbaca Manjali dan Cakrabirawa itu bikin aku mikir :

Belum bisa disebut dewasa, jika seseorang masih menganggap orang yang seleranya beda ama dia itu berarti berselera rendah. Yeap, aku tau ini nggak nyambung. Tapi gitulah.

Oke stop sampai di sini. Semakin kuterangkan, semakin aku jelasin contohnya, jangan-jangan tulisan kali ini bisa jadi polemik lagi. Cukup hormati selera dan pilihan orang.