“Kau sudah gila, ya?” tuduh Lang, sepasang alis hitam legamnya menukik tajam.
Aku hanya menyeringai malas. Terus menggesekkan ujung telunjuk mengikuti alur bibir gelas.
Lang mendengus, setengah sebal setengah geli. “Kau gesek berapa lama pun tidak akan berbunyi. Ini bukan gelas kristal,” keluhnya, merenggut paksa gelas dari genggamanku.

“Kembalikan!” tuntutku masam, mendelik pada Lang yang dengan santainya menenggak minumanku.
“Ayah punya gelas seperti ini di rumah, dan gelas itu selalu mengeluarkan nada setiap aku menggeseknya,” ungkapku pelan.
Lang menatapku lurus-lurus, tersenyum tipis sembari mengangsurkan gelasku yang sempurna kosong.
“Kangen Ayah?” tuduhnya, menyeringai.
Tersedak. Ya, tersedak adalah jawabanku terhadap pertanyaan Lang barusan.
Lang sigap mengangsurkan cangkir kopinya. Tentu saja kutolak. Hanya orang gila yang minum kopi saat tersedak. Iya, ‘kan?
Lang menaikkan kedua alisnya, kali ini menjejalkan cangkirnya dalam genggaman tanganku.
Mau bagaimana lagi? Dengan terpaksa, masih diiringi batuk yang semakin menjadi, aku perlahan menyesap kopi itu. Pahit, sudah pasti. Mana ada sejarahnya Lang minum sesuatu yang manis?
“Setelah batukmu reda, telpon Ayah. Jangan memaksa gelas kaca menjadi kristal,” ungkap Lang ringan, bahkan tanpa melihat kearahku. Pemuda itu justru sibuk melambaikan tangan, meminta pelayan mengisi kembali gelasku.