Sekali lagi aku per-puh pelan. Menatap nelangsa Ducati putih yang basah kuyup, tersiram air hujan yang mengalir deras dari atap teritis warung tempatku berteduh. Oh, kuralat, terpaksa setengah berteduh. Terpaksa, karena warung ini satu-satunya tempat yang menyediakan sedikit ruang kosong di antara jajaran panjang tembok-tembok tinggi pabrik di tengah kawasan industri. Setengah, karena walaupun judulnya berteduh, tetap saja hujan memercik ke pantofel  dan ujung celana panjangku. Membuat noktah-noktah coklat tanah terpola elok di sana.

Kalau saja tadi pagi aku tidak memutuskan mengendarai motor hanya agar terlihat lebih keren, dan tetap konservatif dengan memilih Nissan Terrano, semua ini tidak akan terjadi. Aku tidak perlu duduk di kursi plastik, dikungkung bau sambal murahan dan rebusan kuah bakso yang sama sekali tak sedap. Taruhan, daging sapi asli tidak akan mengeluarkan aroma seperti ini saat direbus. Entah bagaimana dengan daging sapi palsu.
“Masuk ke dalam aja, Mas. Hujan begini bakalan lama banget lho. Ato mau pesen bakso? Lumayan, buat nyambung perut!”
Untuk kesekalian kalinya aku menoleh ke dalam warung, berusaha tersenyum menanggapi tawaran bapak pemilik warung itu. Untung saja di sini tidak ada cermin, jadi aku tidak perlu melihat sendiri kalau senyuman terpaksa itu tampak seperti seringai orang sakit perut.

“Udah bener- bener parah ya, si global worning ini. Hujan dah nggak pake jadwal lagi,” gerutu seorang pemuda tanggung sembari menggigit butir baksonya dengan ganas. Diam-diam aku menggigit bibir, menahan tawa yang nyaris tersembur saat mendengar engrish si pemuda tanggung. Bapak-bapak berkumis lebat yang duduk di sebelahnya mengangguk mantap, “bener itu, Dek. Mestinya jadi tanggung jawab gubernur Jakarta yang baru nih!”

Kali ini aku terbatuk kecil, mual menyadari ada sesuatu–entah bagian apa dari mie ayam–menyembur keluar bersamaan dengan tanggapan penuh semangat dari bapak berkumis.
Malas mengikuti pembicaraan khas warung, aku memutar pandangan, menemukan segelas teh–yang kupesan hanya karena sungkan–sudah tidak lagi mengepulkan uap.
Benar-benar sial, seharusnya aku ingat untuk membawa mantel hujan. Sekalipun resiko masuk angin tetap ada, setidaknya aku punya pilihan.
“Ahh… shit,” umpatku pelan, menatap sesosok mahkluk berkerudung mantel hujan yang mendadak menghentikan sepeda di depanku.  Ia meloncat turun dengan serampangan, membuat air dari mantelnya menciprat ke mana-mana. Sebagian besar mendarat di kemeja putihku.
Sosok mirip monster itu hanya menoleh sesaat, sigap melepas mantel, menyampirkannya begitu saja di tiang warung dan berlalu masuk.
“Wah… tumben jam segini dah pulang? Udah merdeka dari penjajahan Jepang ya, Ve?”
Aku melirik sekilas, mendapati bapak pemilik warung yang tengah tersenyum lebar menyambut si monster yang ternyata gadis berjilbab itu. Sementara si gadis malah mengangguk-angguk pada pemuda tanggung yang tadi menyapanya.
Gadis? Tak sadar aku menyeringai kecil. Kebiasaan saja, rasanya tidak enak memanggil perempuan berjilbab dengan sebutan cewek.
“Jepangnya lagi mudik, Bang,” sahut seseorang –yang aku yakin, pasti si gadis monster berjilbab yang berdiri memunggungiku itu–dengan nada geli.
“Bakso 3 ya, Pak! Di bungkus!” seru suara yang sama, kali ini terkesan buru-buru.
“Siap, Neng! Yang satu nggak pake mie, banyakin taugenya. Iya ‘kan?”
Tidak ada jawaban. Sepertinya gadis itu menjawabnya dengan anggukan. Tentu saja anggukan, karena jika ia menggeleng, pasti bapak pemilik warung akan kembali bertanya.
Aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri, tak sadar, kembali ber-puh pelan. Sudah jam 5 sore, alih-alih berhenti, hujan justru semakin deras. Menilik betapa gelap dan ratanya mendung yang menggelayut, hujan tidak akan berhenti sampai beberapa jam ke depan. Menatap jaket kulit yang teronggok pasrah di atas meja, tepat di sebelah gelas tehku, aku mulai berpikir untuk nekat menerobos hujan, sedikit lupa kalau jarak Tangerang-Cibubur terhitung lumayan jauh untuk dilalui dalam hujan deras.
Belum sempat pikiran itu menjadi keputusan, aku tiba-tiba merasa perlu menoleh ke dalam warung. Merasa sedikit menyesal saat aku benar-benar melakukannya, hanya untuk mendapati gadis monster berjilbab itu tengah menyeringai lebar ke arahku. Tidak merasa kenal, walaupun sebenarnya merasa pernah melihatnya sebelum ini, aku hanya mengangkat alis dan segera membuang pandangan. Lagi-lagi merasa sedikit menyesal karena mendapati genangan air mulai menyentuh ujung sepatuku.
“Pake mantel saya aja, Pak.”
Aku tergerapap. Bukan karena tawaran itu, juga bukan karena ada sebuah mantel hujan terjulur tepat di bawah hidungku. Tapi karena saat mendongak, mencari sumber suara, hendak memastikan apa dia memang berbicara padaku, aku mendapati seringai khas itu tepat di depan mata.
Gadis ini…?
“Nggak papa lagi, Pak. Rumah saya ‘kan deket. Besok bisa Bapak kembalikan.”
Otakku terus berputar, antara mengingat siapa gadis monster sok akrab ini dan mempertanyakan kewarasanku sendiri.
Kewarasan? Yah, kewarasan. Karena entah siapa yang menyuruh, tanganku begitu saja terjulur, mengambil alih mantel dari tangan si gadis.
Hingga sosok si gadis –beserta sepeda dan plastik hitam terayun di stang–hilang di tengah rinai hujan, aku belum mendapat jawaban apapun atas pertanyaan itu.
Baru setelah bapak pemilik warung menepuk bahuku dengan tenaga berlebih sembari berseru, “satu pabrik dengan Neng Venus ya, Mas? Kenapa nggak bilang dari tadi?” aku tersadar.

Venus? Venus yang itu?
Venus yang selama 6 bulan ini jadi obyek pembicaraan –hampir–seluruh penghuni pabrik? Venus yang, katanya, berhasil diterima bekerja tanpa melalui tes apapun selain wawancara by phone? Venus si anak emas factory manager, Mr. Varu? Venus yang belum genap 20 tahun sudah menyandang gelar sarjana sains, dari universitas terkemuka pula? Venus yang belum punya hak cuti tapi sudah berani membolos tanpa alasan yang jelas? Venus yang… baiklah ini menyebalkan, disebut-sebut sebagai jodohku hanya karena dia bernama Venus? Ok, nama kami memang berjodoh. Tapi tidak diri kami. Aku dan Venus. Venus dan aku. Tidak mungkin!

Sejak melihatnya pertama kali–saat Mr. Varu membawanya dari satu ruangan ke ruangan lain, seolah gadis itu orang penting yang harus dikenal oleh semua orang di pabrik–lengkap dengan jilbab instan, kaos merah hati, jeans hitam kusam, sandal gunung, dan seringai jeleknya, aku sudah bertekat tidak akan berurusan dengan orang itu. Penampilannya sungguh tidak profesional! Ya, kami memang bukan PNS berseragam, atau karyawan kantor yang harus rapi jali, dan saat itu juga hari jum’at –para buruh bahkan berpakaian bebas. Tapi, SANDAL GUNUNG? Tidak termaafkan. Terlebih, dia bukan buruh! Dia STAF Departemen Research and Development! SANDAL GUNUNG?
Aku menggeleng cepat, menatap mantel di tanganku dengan galak. Aku benci sandal gunung berkeliaran di depanku saat aku bekerja! Dan sekarang, aku mulai benci hujan.
Hujan yang membuatku terlibat sesuatu dengan si sandal gunung yang selalu menyeringai.
Aku benci terlibat dengan orang yang disebut-sebut sebagai jodohku, hanya karena dia bernama Venus. Dan namaku… Mars.
Venus dan Mars.
Mars dan Venus.
Jodoh dari sisi mananya? Kami bagai langit dan bumi. Bagai sandal gunung dan pantofel.