Sorry, Key. Gue nggak bisa nepatin janji kita,” desahmu pelan di sela-sela isak tangis.

Dia hanya mematung. “Gue… gue nggak tau mesti gimana, Ve,” sahutnya tak kalah lemas, serak.

Kau menggigit bibir kuat-kuat sebelum berhasil mengukir sebuah senyum getir.

“Lo tetep harus berangkat, Key,” ucapmu tegas. Kau buru-buru mengangkat tangan kiri pertanda keberatan saat Keyla akan memotong perkataanmu. “Kita udah nunggu momen ini selama 5 tahun, sejak mereka debut! Ingat apa yang udah kita lakuin buat nabung dan beli tiketnya! Lo tetep harus nonton konser ini! Demi gue!” imbuhmu cepat.

Key menggeleng pelan, matanya tampak berkaca-kaca. “Enggak tanpa lo!” serunya marah, keberatan atas permintaanmu.

Kau meremas tangannya, memohon, “Keyla, please dengerin gue. Lo harus nonton, harus ngebuktiin sendiri bagaimana hebatnya live perform boyband idola kita itu. Lo harus buktiin klo mereka punya kualitas. Lo harus buktiin ke orang-orang yang memandang K-Pop dengan sebelah mata.” Sejenak kau berhenti, menarik nafas dan kemudian melanjutkan, “gue pengen lo mewakili gue untuk ngebuktiin gimana cakepnya bias gue di kehidupan nyata, dengan mata kepala lo sendiri.”

Keyla menggerung tertahan sebelum akhirnya memelukmu erat, membanjiri bahumu dengan tangisnya. Di sela-sela isak tangis yang tak mampu kaubendung, sebuah senyum kembali terukir. Kali ini senyum itu berasal dari hatimu.

***

Kau menatap nanar lampu merah di bagian atas pintu ruang operasi. Tiga jam berlalu sejak para dokter mendorong masuk ayahmu ke dalam ruang itu. Operasi bypass jantung, peristiwa besar yang tak mungkin kau lewatkan, bahkan untuk konser boyband kesayanganmu sekalipun.

 Sebuah video call dari nomor Keyla mengalihkan perhatianmu. Tepat saat kau menekan tombol terima,  suara merdu terdengar mengalun. Kau menatap layar smartphone-mu dengan tatapan tak percaya. Saat ini, kau sedang melihat penampilan boyband kesayanganmu secara real time. Mereka menampilkan lagu kesukaanmu dan Keyla, lagu yang selalu berhasil membuat kalian kembali bersemangat. Lirih kau berbisik, “thanks, Key.”