Kalian suka hujan? Ayolah, yang benar saja. Hujan memang menyenangkan, tapi ini hanya berlaku untuk orang-orang yang sedang berada di dalam rumah dan tidak perlu keluar. Tentu saja menyenangkan, karena bisa bergelung hangat dalam selimut dan ditemani  secangkir coklat panas.

Sekarang, tempatkan diri kalian pada posisiku. Yah, aku yang sekarang ini membawa setumpuk kertas—lebih tepatnya berkas  skripsi—di bawah tempias hujan, di tengah desakan manusia yang menyemut di stasiun kereta. Sekarang ini sudah jam 06.10 WIB, berarti kereta sialan itu sudah terlambat 3 menit. Ah… masih cukup waktu, tentu saja. Janjiku dengan dosen pembimbing masih 2 jam lagi. Sangat cukup bahkan, jika saja tidak ada suara ting-tong-ting-tong khas stasiun yang dilanjutkan dengan pengumuman bahwa kereta akan terlambat beberapa saat karena ada gangguan sistem listrik. Hujan dan listrik, memang semacam musuh abadi ‘kan? Ah… hujan!

Seolah bawaan yang berat, hujan dan kereta yang terlambat belum genap, aku mendapat telepon dari yang tercinta Pembimbing Skripsi. Beliau dengan murah hati memajukan jadwal pertemuan kami, menjadi… sekarang! Sekarang? Ya, sekarang juga! Alasannya, beliau harus segera meluncur ke bandara sebelum akses ke sana tertutup banjir!

 “Kak, ini, kertasnya jatuh.”

Suara itu berhasil membuyarkan sumpah serapahku pada hujan. Tiba-tiba saja aku merasa seribu, oh bukan, sejuta kecebong berenang dengan gaya bebas dalam rongga perutku. Gadis ini, gadis yang mengulurkan selembar kertas–yang entah bagaimana terbang dari tumpukan berkasku–adalah Si Gadis Oriental yang selama 3 bulan belakangan menjadi pemandangan pagi yang indah di Stasiun Bogor. Gadis yang… jangankan menyapanya, menghampirinya saja aku tidak bernyali.

“Berkas skripsi ya, Kak? Sayang kalau sampai basah,” ucapnya lagi, sembari beringsut ke sebelahku, membagi payungnya. Rasanya kecebong dalam perutku terlalu cepat bermetamorfosis, sekarang mereka telah menjadi katak yang berlompatan. Ah… hujan!