8 – DRAF

Dua orang gadis nampak berjalan pelan menyusuri jalan setapak yang sedikit menanjak. Salah satunya memeluk sebuah buket bunga. Tak jauh di belakang mereka, seorang pemuda jangkung menyusul. Sesekali pemuda itu mengedarkan pandangan. Dari ekspresi wajahnya terlihat jelas bahwa ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di kawasan pemakaman elit. Kompleks pemakaman seluas 500 hektar itu terletak di sebuah bukit dan dilengkapi dengan taman yang asri, pepohonan yang rimbun, padang rumput yang hijau, air mancur, bunga-bunga, patung-patung artistik yang indah, arsitektur dan interior elegan. Lang, si pemuda jangkung, bahkan nyaris tak mampu menahan keinginan untuk segera meluncur menuju lapangan basket yang terlihat jelas dari tempatnya berdiri sekarang.

Alis mata Lang seketika berkerut saat salah seorang dari gadis itu berbalik dan berjalan ke arah yang berlawanan.

“Kita tunggu di situ aja,” ajak gadis itu sembari menarik lengan jaketnya, setengah menyeretnya menuju sebuah bangku panjang di sudut taman kecil yang berjarak sepelemparan batu dari mereka.

Lang melirik gadis lainnya yang terus berjalan lurus, buket bunga itu masih dipeluknya erat. “Lo nggak nemenin Zara sampe makam?” tanyanya, heran.

Claudia–gadis yang menarik lengan Lang–menggeleng tipis. “Dia lebih suka sendirian,” kilahnya.

“Atau lo aja yang nggak suka ngeliat dia nangis?” tuduh Lang telak, membuat Claudia memberengut galak. Gadis itu duduk menghempaskan diri di bangku, sengaja memunggungi Zara yang berlutut di hadapan sebuah makam. Makam itu berada di ketinggian kaki bukit, sedikit terpisah dari makam-makam lainnya.

“Kenapa nggak lo aja yang nemenin dia?” ketus Claudia.

Lang menyeringai. “Punya hak apa gue? Cowoknya aja nggak pernah dia ajak ke sini ‘kan?”

Keheningan sejenak mengambang di antara mereka. Sesekali Claudia menoleh ke belakang, sekadar mengecek keberadaan dan keadaaan sahabatnya.

“Darimana lo tau klo kami mau ke sini?” celutuk Claudia, kembali melempar pandangan curiga pada Lang yang telah duduk berselonjor di atas rumput. Pemuda itu justru memejamkan mata, menyandarkan punggungnya pada bangku yang diduduki Claudia.

Kesal dengan tingkah Lang, Claudia menyenggol sisi kepala Lang yang terletak persis di sebelah lutut kanannya.

“Tadi malem Om Dante cerita klo Zara selalu ke sini saat hari peringatan kematian Bundanya,” sahut Lang dengan intonasi malas.

Claudia mengangguk-angguk. “Tapi nggak biasanya sampe mbolos segala. Kalaupun hari peringatan kematian Tante Muti jatuh pas hari sekolah, Zara biasanya ke sini hari minggu. Dan lebih nggak biasa lagi, dia pake kabur dari rumah,” ucap Claudia pelan, setengah berbicara pada dirinya sendiri. Lang bergeming, pemuda itu tetap memejamkan mata, tak menggubris perkataan lawan bicaranya.

Tiba-tiba gadis itu menepuk dahi, seolah teringat sesuatu. “Tadi malem? Lo ketemu Om Dante di mana? Nggak mungkin ‘kan Om Dante ke asrama atau ke rumah lo buat nyariin Zara?”

Lang menekuk lutut kanannya, sedikit mendongak menatap Claudia. “Semalem Om Dante ngundang Ibu dan gue buat makan malam di rumah mereka.”

Claudia mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, “makan malam?” desahnya pelan, menepuk dahi. “Ah… pantes dia kabur ke rumah gue.”

Lang mendengus berat, kembali meluruskan pandangan ke depan. “Ya, kabur. Dan itu lo bilang, pantes?”

“Bukan kaburnya, tapi alasannya, maksud gue,” sambar Claudia, setengah merasa bersalah.

“Apa sih beratnya makan malem ama calon keluarganya sendiri?” ucap Lang tak kalah cepat.

“Kenapa dia ngotot banget nolak rencana pernikahan Ibu dan Om Dante?” imbuh Lang cepat sebelum Claudia sempat menyela.

Claudia kembali menoleh, menatap punggung Zara di kejauhan. Sejenak gadis itu setengah berharap penglihatannya salah atau bagaimana. Sayangnya, matanya masih normal, juga sangat jujur. Punggung sahabatnya memang nampak bergetar, menangis tergugu.

Sembari menghela nafas berat, Claudia kembali menghadap ke depan. Terlonjak kaget saat menemukan wajah Lang tepat di depannya. Pemuda itu, entah kapan sudah beranjak dari duduknya dan berdiri mencondongkan badan ke arah Claudia.

Gadis itu menjerit tertahan, panik menarik punggung, mengambil jarak dari Lang. “Anjrit lo! Ngagetin aja!”

Lang bergeming, sorot matanya tajam menghujam manik mata Claudia, seolah menuntut jawaban.

Wait, wait! Lo salah alamat ko nanya ke gue. Seinget gue, Zara nggak pernah bilang klo dia nggak setuju ataupun setuju ama rencana pernikahan Tante Mei ama Om Dante. Dia nggak pernah bilang apa-apa!” seru Claudia sembari mendorong bahu Lang. Upaya yang sia-sia, tenaga Claudia tidak cukup kuat.

“Tapi sikapnya jelas-jelas nunjukin klo dia nolak.” Lang justru semakin memperkecil jarak di antara mereka.

Claudia mengirimkan tatapan menjauh-atau-kau-akan-mati-sekarang-juga!

Pemuda itu menghembuskan nafas dengan kasar, menghempaskan diri ke tanah, kembali pada posisinya semula.

“Emang Ibu gue punya tampang kayak ibu tirinya Upik Abu ya?” tanya Lang pelan, terdengar seperti keluhan.

Claudia membungkam tawa yang nyaris tersembur dari mulutnya dengan susah payah. Tidak hanya Zara yang terobsesi pada dongeng, calon kakaknya tak beda jauh. Gadis itu buru-buru menelan ludah saat Lang mendongak, menatapnya lurus-lurus dengan sorot yang sama persis dengan yang baru saja ia berikan pada Lang–tatapan siap membunuh.

“Zara cuma belum… apa ya, istilahnya? Hmm… belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri, mungkin,” sahut Claudia buru-buru, namun ragu-ragu.

Lang mengedipkan matanya dua kali, membuat Claudia sigap mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, “jangan tanya apa maksud omongan gue barusan! Gue juga nggak ngerti.”

Lang menatap Claudia tanpa berkedip. Sejurus kemudian pemuda itu mengangkat bahu, tersenyum miring.

“Apa?” sentak Claudia, sedikit, oh bukan. Bukan sedikit, tapi banyak. Ya, banyak tersinggung karena senyum miring itu. Sedikit banyak ia mulai paham arti setiap senyuman Lang. Pemuda itu punya banyak jenis senyuman. Dan senyum yang sekarang ia sajikan tidak termasuk dalam kelompok senyum positif.

“Gue nggak pernah bisa ngerti logika para cewek,” sahut Lang pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Mata Claudia otomatis membelalak lebar mendengar pernyataan pemuda di hadapannya. Sesaat, gadis itu tampak siap meledak. Namun sedetik kemudian ia hanya menyeringai–seolah teringat sesuatu—dan mengangkat bahu ringan. “Gue yang sesama cewek aja kadang suka nggak ngerti ama logika mereka kok,” ucapnya dengan nada datar, tanpa intonasi.

“Tapi… nggak ngerti, dan nggak mau ngerti itu beda, Lang,” imbuh Claudia, memasang wajah cemberut.

Lang mengangkat tubuhnya dari bumi, duduk menghempas diri di samping Claudia. Sorot matanya fokus menghujam  manik mata gadis itu. “Gue pernah ngajak Zara ngomong, baik-baik dan serius. Gue coba nanya apa masalah dia, kenapa dia bersikap dingin ama rencana pernikahan Ibu dan Om Dante. Dan gue bukannya nggak mau ngerti, tapi beneran nggak ngerti, karena bukannya ngomong, Zara malah nangis. Bukan nangis histeris memang, tapi air matanya alir terus, Cla. Dan gue…”

Claudia sigap menyela, “bingung mesti gimana ato ngomong apa.”

“Itu kenapa gue nggak suka ngeliat orang nangis, apalagi klo orang itu gue kenal,” imbuh Claudia setelah beberapa saat menunggu Lang yang tetap tak merespon ucapannya.

Keheningan sesaat mengambang. Claudia mengerling pemuda di sampingnya dengan sudut mata. Lang justru sibuk menendang-nendang rumput di bawah kakinya. Sesekali alisnya yang tebal nampak bertaut, tenggelam dalam abu-abu gelap otaknya sendiri. Menahan hasrat untuk menoleh ke arah Zara, gadis itu memilih mengamati keadaan sekitar. Alih-alih menguarkan nuansa angker, kompleks pemakaman tempat mereka berada itu terlihat sangat indah, mewah. Terlalu mewah bahkan. Namun entah mengapa, Claudia justru merasa suasana pemakaman itu sangatlah janggal. Semacam mengandung ironi yang kental. Menurut logikanya, seindah apapun pemakaman, ia tetaplah pemakaman. Tempat bersemayamnya tubuh-tubuh dingin yang membusuk perlahan. Memikirkannya saja sudah cukup membuat Claudia bergidik.

“Lo sendiri, kenapa langsung setuju waktu Om Dante ngelamar Tante Mei, ibu lo? Nggak khawatir kalau Tante Mei bakal tersakiti lagi? Ehm… maksud gue….” Pertanyaan yang Claudia lontarkan tanpa berpikir—lebih untuk menghindar perasaan merinding  janggal yang tiba-tiba menyergap—gagal ia selesaikan. Gadis itu menyesal, setengah berharap ia tidak pernah mempertanyakan urusan yang sama sekali bukan urusannya.

“S-sorry, Lang. Anggep aja gue nggak pernah nanya,” gagap Claudia, benar-benar menyesal.

Lang hanya menatapnya dengan raut kosong, menanggapi datar, “emang Kei nggak pernah cerita?”

Claudia hanya menaikkan alis. Penasaran, namun terlalu takut untuk kembali angkat suara. Rasa penasaran gadis itu terkadang terlalu besar, nyaris tak terkontrol. Dan gadis itu sepenuhnya sadar, rasa penasaran terkadang bisa sangat mematikan. Mematikan, baik secara kiasan maupun harfiah.

“Nggak segampang itu sampai akhrinya gue setuju dengan pernikahan Ibu dan Om Dante. Enggak, sampe gue yakin kalau Om Dante bukanlah Bapak dalam wujud yang lain,” sambung Lang saat ekspresi Claudia memberitahunya kalau Kei memang tidak mengatakan apapun pada adik semata wayangnya.

“Gue bahkan sampai ngomong, mengancam lebih tepatnya, kalau Om Dante sampe nyakitin ibu, dalam bentuk apapun, gue nggak akan segan ngulangin apa yang dulu udah gue lakuin ke Bapak.”

Claudia bergidik ngeri mendengar perkataan Lang. Bukan karena isi pernyataannya, juga bukan intonasinya—Lang mengucapkannya dengan datar tanpa emosi. Namun karena gadis itu yakin, bahwa pemuda jangkung di sebelahnya itu tidak main-main dengan ucapannya. Ada saat-saat di mana Lang sangatlah tidak serius, tapi ada juga waktu di mana dia sama sekali tidak bercanda. Claudia tidak cukup bodoh hingga tidak dapat membedakannya.

“Sinting lo!” seru Claudia, meninju bahu Lang sekuat tenaga. Tetap saja, tenaga Claudia tidak berefek besar pada pemuda itu.

Lang terkekeh pelan. “Gue becanda, Cla. Mana mungkin gue ngelakuin hal itu ke Om Dante? Dia ‘kan bukan Bapak. Lagian gue takut ama pembalasan dendam yang bakal lo lakuin ke gue karena udah ngebunuh om favorit sekaligus papa sahabat lo.”

Lang mengakhiri bantahannya dengan tertawa keras, mengacak rambut Claudia serampangan.

“Sinting…” desis Claudia, menepis kasar tangan Lang dari puncak kepalanya.

Tawa Lang justru semakin menjadi, sampai ia harus membungkuk memegangi perutnya sendiri.

***

Selama perjalanan pulang, wajah Claudia terlihat nelangsa. Sesekali gadis itu menangkupkan telapak tangan di sekitar lehernya yang terlihat memerah. Mata bulat jernihnya memandang lurus melalui kaca depan mobil yang dikemudikan Lang, namun pikirannya terfokus pada rasa pedih-gatal-panas di sekujur leher. Gadis itu sesekali meringis, rasa panas itu mulai menjalar ke bahu, punggung, lengan dan bagian tubuh lainnya.

“Udah mendingan blom?” tanya Lang, intonasinya terdengar khawatir, namun ekspresinya seperti orang menahan geli, lengkap dengan senyum miring di sudut bibir.

Claudia mendelik sebal, “Diem lo! Kagak usah sok perhatian!” semburnya galak, diiringi gerutuan tak jelas yang terdengar seperti cerewet, menyebalkan, kepo dan umpatan-umpatan sejenisnya.

“Gue nggak nyangka aja, cewek bengis macam lo punya alergi konyol kayak gini,” kekeh Lang, melirik geli pada Claudia yang duduk di sebelahnya.

“Pandangan ke depan! Gue udah cukup menderita, nggak perlu ditambahin ama mati konyol, di mobil konyol, bareng orang konyol macam elo!” sembur Claudia, semakin ganas.

Lang terbahak hebat, membuat Zara yang tengah tertidur di kursi belakang membuka mata, mengernyit terganggu.

“Sorry, Za. Gue dan sahabat tercinta lo ini,” Lang menunjuk Claudia dengan ujung dagunya, “lagi berusaha memutuskan mana yang lebih konyol antara alerginya atau mati bareng.” Pemuda jangkung itu melakukan multi-tasking yang super hebat dengan menyetir, tertawa, menunjuk seseorang, melirik orang lain lagi dengan ujung mata dan mengobrol sekaligus. Ah… ditambah satu lagi, menghindari kepalan tangan Claudia yang menyasar lengan kirinya.

“Alergi lo kumat Cla?” selidik Zara dengan suara serak khas orang bangun tidur, iris coklat gadis itu nampak menelisik leher sahabatnya. “Udah minum obat?” imbuhnya lagi karena Claudia hanya bergumam tak jelas.

“Kayaknya sih udah mendingan, udah nggak semerah tadi,” cetus Lang yang telah berhasil mengendalikan tawanya.

“Sorry, gue lupa klo musim pancaroba gini kulit lo jadi kelewat sensitif. Harusnya gue nggak usah ngajak elo, Cla. Sorry.”

Claudia yang sudah siap membuka mulut, hendak mencecar Lang kembali mengunci bibirnya, menggeleng pelan. “Bukan salah lo, nggak usah minta maaf,” jawabnya singkat, tersenyum tulus pada Zara.

Lang mengangguk kuat-kuat, menimpali ringan, “bener, Za. Ini bukan salah elo. Ini salah musim yang nggak jelas mo hujan apa mo panas, salah debu-debu jalanan dan salah mobil gue yang AC-nya udah soak hingga kita terpaksa mbuka jendela lebar-lebar.”

“Gue udah punya firasat buruk sejak lo bilang mo nganterin tadi pagi,” gerutu Claudia, melirik Zara dengan tatapan apa-gue-bilang-tadi.

Lang menyipitkan matanya ke arah Claudia, mencela, “lebih buruk mana ama nggak boleh masuk ke dalam kompleks pemakaman gara-gara elo belum punya KTP? Huh?”

“Zara udah punya KTP! Jadi tanpa elo sekalipun, kami tetep bisa masuk ke sana! Nggak usah sok jadi pahlawan! Lo pikir gue sebodoh itu?” sembur Claudia tak terima. Gadis itu kembali teringat dengan peraturan konyol pengelola kompleks pemakaman elit yang mengharuskan anak berumur di bawah 17 tahun didampingi orang dewasa. Dan kedewasaan itu dinilai dari secarik kertas kecil berjudul KTP. Absurd. Sungguh absurd.

Lang menyeringai lebar. “Dan sekadar informasi, ehm, sekadar mengingatkan, bahwa ternyata Zara lupa ngebawa KTP-nya,” ucapnya penuh kemenangan.

“Apa masih perlu gue garis bawahi lagi?” tanya pemuda itu, menyentil pelan kepala Claudia. Gadis itu mendengus kasar, kalah telak.

“Sekalian aja lo perbesar font-nya, di-bold. Trus di-print deh,” gerutu Claudia, tidak cukup keras tapi masih terdengar oleh Lang.

“Pandangan ke depan!” seru Claudia galak saat Lang menoleh, melempar pandangan jemawa, tersenyum miring.

Zara terkekeh pelan. “Gimanapun, Kak Lang bener lo, Cla. Terima kasih, ya,  Kak. Udah mau nganterin kami.”

Saat mendengar Zara memanggilnya dengan sebutan ‘Kak’ segala ekspresi menghilang dari wajah Lang. Tapi hal ini hanya terjadi selama sepersekian detik, senyum kemenangan segera saja menghiasi bibirnya saat mendengar Claudia berdecak kesal.

“Sama-sama adek manis,” jawab Lang sembari menoleh sekilas ke kursi belakang, kali ini dengan senyum tulus di bibir. Pemuda itu tiba-tiba teringat perkataan Kei. Ternyata sahabatnya itu tidak main-main. Sepertinya Zara mulai bisa menerimanya sebagai orang dalam lingkaran keluarga, kakak.

“Oh yeah, Kak Lang, adik manis. Whatever….” desis Claudia. Nada suaranya terdengar sedemikian rupa sehingga memberi kesan sangat sebal sekaligus putus asa.

“Sorry? Maksud lo apa?” Intonasi Lang tiba-tiba saja terdengar serius. Pemuda itu menatap lurus ke arah Claudia, laju mobilnya bahkan sedikit melambat kemudian perlahan mulai menepi.

Orang yang ditatap mendadak menciut, gugup. “Enggak, nggak maksud apa-apa. Euh, eh, ya… kaget aja. Berarti kalian udah… resmi bersedia jadi kakak-adik?” sahutnya ragu-ragu, bingung. Gadis itu semakin gugup saat mendapati Zara juga menatapnya dengan sorot datar.

“Sorry, sorry, gue….”

Lang menyela cepat ucapan Claudia. “Zara, keberatan kalau gue ngomong serius soal ini, dengan elo? Gue rasa udah waktunya.”

Claudia kembali menelan ludah, tak sadar menahan nafas. Pandangan gadis itu beralih-alih antara wajah Lang dan Zara. Merasa atmosfer dalam mobil tiba-tiba memanas, gadis itu beringsut pelan, mendesis, “gue keluar dulu ya, cari angin.”

“Ok. Sekalian, gue juga udah laper, Kak. Kita ngobrol sambil makan.”

Jawaban Zara membuat Claudia menghentikan tangannya yang sudah separuh mendorong pintu mobil. Ternganga melihat rumah makan yang tepat ada di depannya, entah sejak kapan.

“Gue juga laper.”

Suara Lang menyadarkan Claudia, bahwa hanya dia sendiri yang tidak sadar kalau Lang memang sengaja berhenti di depan rumah makan itu. Gadis itu menepuk dahi saat dilihatnya kedua ‘calon’ kakak-adik itu telah berjalan beriringan, masuk ke dalam rumah makan.

“Ok. Silakan jadi kakak-adik yang rukun bahagia dan lupakan aja gue,” gerutunya. “Nggak masalah, paling-paling gue mati kelaparan. Atau lebih dramatis melankolis lagi, mati jantungan gara-gara kelakuan kalian yang absurd,” imbuhnya sembari menghempaskan diri ke kursi mobil.

Beberapa saat berlalu hingga akhirnya Claudia nampak beringsut pelan, keluar dari mobil. “Anjrit, gue laper.”

Bibir Claudia maju beberapa sentimeter saat mendapati kedua temannya tengah asyik mengobrol, sepertinya mereka sedang menunggu pesanan.

“Ngapain duduk di situ? Pindah! Sini!”

Seruan Lang membuat Claudia mengurungkan langkah kakinya yang hendak menuju sebuah meja yang kosong, tak jauh dari meja Zara dan Lang.

“Sini, Cla. Gitu aja ngambek sih?” timpal Zara, melambaikan tangan.

Claudia menggeser pelan kursi di sebelah Zara—tepat diseberang kursi yang ditempati Lang. “Gue kapok jalan bareng kalian. Stress gue,” keluhnya pelan, masih dengan bibir yang meruncing ke depan.

Zara tertawa kecil, menggumamkan permintaan maaf. Lang justru mengangguk, mencelutuk ringan, “laen kali, lo jalan ama gue aja, berdua. Lebih normal.”

Claudia mendelik, siap tempur. “Makasih, Kak. Nggak usah repot-repot.”

“Gue tadi nanya ke Claudia, kenapa elo seolah nggak bisa nerima Ibu,” ucap Lang, tak meladeni tantangan Claudia. Gadis yang disebut namanya segera saja memasang wajah jangan-bawa-bawa-gue!

“Dia bilang, lo cuma belom bisa berdamai dengan diri lo sendiri.” Pemuda itu menyadari ekspresi Claudia, menghela nafas panjang, melanjutkan, “kedengaran absurd, tapi gue yakin dia nggak ngomong gitu tanpa dasar. Jadi, apa yang belom bisa lo terima dari Ibu?”

Kini giliran Zara yang menghela nafas panjang, berusaha menyusun kalimat. Ia beberapa kali melempar pandangan Claudia, seolah meminta bantuan. Orang yang dimaksud justru sibuk menelisik sendok-garpu, tisu dan segala benda yang ada di atas meja dengan antusiame yang keterlaluan, seolah-olah benda-benda itu baru saja jatuh dari planet lain.

“Gue nanya gini dengan asumsi, lo udah bisa nerima gue. Buktinya lo dah manggil gue dengan sebutan kakak. Dan gue yakin, panggilan lo, tulus. Masalahnya ada antara lo dan Ibu,” sambung Lang sembari menyilangkan kedua lengannya di depan dada, menunggu Zara siap menjawab.

Claudia kembali menghindari tatapan Zara—yang entah kenapa suka sekali menjadikannya obyek pengalih kecanggungan. Claudia memilih memusatkan perhatiannya pada pelayan yang mengantarkan menu yang di pesan Zara dan Lang, bersemangat menyebutkan pesanannya sendiri. Kemudian merasa sedikit ditinggalkan saat pelayan itu beranjak menjauh.

“Aku… aku nggak yakin, Kak. Eum… ada semacam rasa khawatir dengan perubahan. Hal-hal yang biasanya ada dalam hidup kami, juga yang biasanya nggak ada. Kami, aku dan Ayah, terbiasa berdua. Semula, kukira itu cukup buat kami. Setidaknya itu yang kuyakini, hingga Ayah memutuskan menikah lagi. Tanpa terlebih dulu membicarakannya denganku. Bukan, bukan dalam artian meminta ijin. Keputusan menikah lagi sepenuhnya hak Ayah, tidak perlu meminta ijin padaku. Tapi… aku hanya…. Entahlah, bahkan Kei saja mengetahuinya sebelum aku. Ini agak….” Berkali-kali Zara memberi jeda pada penjelasannya. Merasa tidak mampu menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan dan pemikirannya.

“Kei tahu tanpa sengaja. Papa dan Mama yang sebenarnya tahu semua dari awal, sangat awal bahkan. Sebelum semuanya benar-benar diputuskan. Dan gimana pula caranya Kei bisa ikut campur dalam urusan orang-orang dewasa itu?” keluh Claudia dalam hati. Sekalipun kepalanya tertunduk dalam, ia tetap tidak bisa pura-pura tidak mendengar pembicaraan Zara dan Lang.

“Kukira Ayah menganggapku lebih, tidak sekadar sebagai anaknya, mengingat kami hanya berdua. Aku hanya punya Ayah, begitupula sebaliknya. Setidaknya, kupikir begitu. Sayangnya, sepertinya tidak. Aku mulai merasa kehilangan sosok Ayah yang selama ini kukenal. Dan… Ayah akan membawa masuk dua orang baru dalam hidup kami.”

Lang mengeryitkan dahi, “tapi kau bisa menerimaku. Kenapa tidak dengan Ibu?”

Keheningan mendadak tercipta saat Zara bergeming, membungkam. Claudia yang sibuk dengan membenak sendiri menahan senyum tipis. Gadis itu tersadar bahwa dua orang di depannya mulai bercakap dengan bahasa yang lebih formal. Kebiasaan Zara saat berada dalam situasi yang ia anggap serius. Kebiasaan yang sebenarnya merupakan kebiasaan Kei itu ternyata tidak hanya menular pada Zara, namun juga Lang.

Claudia mendadak merasa ada yang tengah memperhatikannya. Gadis itu terkejut saat mengangkat wajah dan mendapati kedua temannya tengah menatapnya dengan sorot yang berlawanan. Zara seolah meminta tolong, sementara Lang jelas menuntut jawaban. Gadis itu menghela-hembus nafas beberapa kali sebelum akhirnya berkata penuh keyakinan dan tegas, “sederhananya, Zara mengkhawatirkan nasibnya yang akan kehilangan ayah gara-gara direbut oleh istri baru.”

Namun sedetik kemudian wajah gadis itu memias. “Kok nggak kedengeran sederhananya ya? Malah kasar banget gitu kesannya,” keluhnya sendiri, memukul kepalanya sendiri.

“Gini, gini. Aish… kalian tu nyusahin orang aja!” gerutu Claudia, sibuk menggaruk leher sebagai pelampiasan rasa grogi. Gadis itu menyeringai saat tangan Zara sigap menangkap lengannya, menyelamatkan lehernya yang sudah merah teriritasi dari kerusakan total akibat garukan.

“Beda dengan cowok yang lebih memikirkan keselamatan, maksudku, kebahagiaan orang tuanya, ibu dalam konteks ini, cewek lebih memikirkan keselamatan diri sendiri. Ketakutan Zara akan kehilangan perlindungan dari ayahnya, sama dengan ketakutan Lang karena ingin melindungi ibunya. Naluri dasar cewek yang pengen dilindungi versus naluri cowok yang pengen melindungi.” Claudia menarik nafas, melempar tatapan minta persetujuaan pada Zara dan mengharap waktu pada Lang. “Masalahnya, Zara belum dapet garansi bahwa Ayah tetep ada buat dia, ngelindungi dia kalau nanti pernikahan itu benar-benar terjadi. Sementara Lang udah bisa ngeyakinin dirinya sendiri, bahwa dia tetep bisa ngelindungi ibunya sekalipun Ibu dah nikah ama Ayah.”

“Oh… astaga, ngomong apa gue barusan?” keluh Claudia tepat saat ia menyelesaikan uraiannya yang panjang. Ia segera membenamkan wajahnya di antara kedua lengannya yang ditumpukan di atas meja.

Zara menggigit bibir bawahnya, tidak mengira Claudia bisa begitu lancar mengungkapkan semuanya. Padahal ia tidak pernah benar-benar bicara tentang hal ini dengan sahabatnya itu. Sejak dulu, gadis yang lebih muda darinya itu memang tidak pernah biasa-biasa saja.

“Ibu nggak akan ngambil Ayah. Justru akan ada 3 orang yang ngelindungi elo, Za.” Suara Lang terdengar memecah kesunyian, walaupun belum berhasil membuat Claudia kembali menampilkan wajahnya.

“Ada Ayah, Ibu dan gue. Keluarga kita.”

Ucapan Lang berhasil membuat Zara menahan nafas. Hal itu bukannya tidak pernah terpikirkan. Logikanya juga selalu mengatakan hal itu, namun perasaannya mengatakan yang lain. Ia hanya belum berhasil keluar dari pertarungan antara logika dan perasaan itu. Hal itu diperparah dengan ketidakmampuannya mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi dalam dirinya.

Diam-diam Zara bersyukur saat pelayan datang mengantarkan pesanan Claudia. Lebih bersyukur lagi karena Claudia enggan mengangkat kepala sehingga ia bisa menyibukkan diri dengan berbasa-basi dengan sang pelayan.

“Dan ada Claudia juga, kalau elo nggak keberatan ngitung anak absurd macam dia,” intonasi Lang terdengar lebih ringan dan lepas, sesaat setelah pelayan meninggalkan meja mereka.

Claudia yang merasa tak nyaman karena Zara sama sekali tidak menanggapi upaya perdamaian Lang, memberanikan diri angkat bicara—walaupun tanpa mengangkat wajah, bergumam dari sela-sela lengannya. “Juga ada Kei. Lo boleh ambil dia, Za. Gratis. Gue kasih bonus klo perlu.”

Lang dan Zara tak bisa menahan senyumnya mendengar tawaran Claudia barusan. Teman termuda mereka itu selalu bisa mencairkan suasana dengan celutukan-celutukan anehnya.

“Nggak mudah nerima orang baru dalam hidup lo, gue tau itu. Maaf karena gue, Ibu dan juga Ayah nggak pernah mencoba melihat masalah ini dari sudut pandang lo,” pinta Lang, masih berusaha meyakinkan Zara.

Zara berjengit kecil, tak menyangka Lang akan meminta maaf padanya. Gadis itu benar-benar bingung harus bagaimana. Ini bukan salah siapa-siapa. Semua orang punya kekhawatirannya masing-masing terhadap perubahan. Itu wajar, dan merupakan bagian dari pertahanan hidup paling dasar. Zara bukannya gemar memperumit masalah. Hanya saja ia belum bisa melihat masalah ini dengan sudut pandang yang sederhana. Bukannya tak mau, sungguh ia hanya belum bisa.

Di saat udara di sekeliling mereka dipenuhi rasa canggung dan janggal, Claudia tiba-tiba mengangkat kepalanya, menggerung, “gue laper….”

“Claudia!”

Orang yang dipanggil hanya mengedipkan mata, tak mengerti. Tapi jika ada dua orang menyebut namanya dengan berteriak—padahal jarak mereka tak sampai selengan—pastilah bukan pertanda yang baik.