***

Hanya ada satu tempat

Dua adalah kemustahilan

Saat yang satu bertahan

Niscaya yang lain menghilang

MUSNAH!

 

Kala yang tersisa hanyalah PILIHAN

Yang termakna tak lagi putih-hitam

Kemanakah hembus sang angin?

Kesanalah api mengiring.

 

Namun,

Kegelapan sekejap menyergap

Bintang fajar terjerembap

Tertelan abu-abu hitam pemikiran

Sesat dalam kehampaan

 

Kemanakah akan melangkah?

 

MERAH!

BIRU!

Darah…

Tertumpah sudah!

***

 two dragon 2

 

The “Mysterious” Qinglong Duizhang

 

 “Maaf, maaf….”

Hyo Ra buru-buru membungkukkan badan, serabutan meraih puluhan origami burung yang bertebaran di lantai, memasukkannya kembali ke dalam kantong kertas coklat yang ia bawa.

Sejurus kemudian gadis itu meneguk ludah, campuran antara gugup dan heran. Sepasang sneaker hitam itu masih berada di depannya. Tak beranjak sedikitpun. Entah bagaimana, Hyo Ra yakin, tatapan pemilik sneaker itu tengah menghujam punggungnya. Rasanya dingin dan membuat bulu kuduknya meremang.

“Maaf, aku tidak sengaja menabrakmu. Apakah ada yang….”

Kalimat Hyo Ra seketika lenyap, seolah menguap begitu saja. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kebas, tak mampu mengeluarkan suara. Wajah gadis itu berubah pias.

“Hyo Ra?”

Hyo Ra mengedipkan matanya beberapa kali. Ia mengabaikan panggilan yang terdengar jauh dari balik punggungnya. Otaknya berontak ingin menoleh, mencari sosok pemanggilnya. Suara itu ia kenal dengan baik.

Namun entah mengapa, gadis itu merasa kaku. Ia hanya terdiam, membalas tatapan mata dingin pemilik sneaker dengan sorot kosong.

Pemuda itu ternyata jauh lebih jangkung dari perkiraan Hyo Ra. Ia bahkan harus mendongak.

Cukup lama keduanya saling menatap tanpa ekspresi, hingga Hyo Ra merasa mulai ada yang salah dengan dirinya. Dadanya terasa panas, ulu hatinya mendadak keram, seiring dengan keringat dingin yang mulai keluar dari seluruh pori-pori tubuhnya.

Gadis itu menggelengkan kepala perlahan, seolah berusaha melepas ikatan yang terjalin melalui kontak mata mereka berdua. Tidak mudah ternyata. Manik mata pemuda jangkung itu seolah mengikatnya erat, enggan melepaskan. Hyo Ra bergidik saat sudut mata pemuda itu berkedut pelan.

“Apa yang kau bawa? Kenapa berantakan begini?”

Suara familiar itu kembali terdengar, kali ini dari sisi kanan Hyora. Suara yang berhasil membuat Hyo Ra tersadar. Perlahan, ia menoleh. Entah mengapa, tapi perasaannya tiba-tiba merasa lega saat mendapati Key telah berdiri di sebelahnya.

“Key,” panggilnya lirih. Suaranya terdengar sedikit bergetar.

Orang yang dipanggil hanya menatap Hyo Ra lurus-lurus, mengeryitkan dahi. Ia bisa menangkap jejak-jejak pias di wajah gadisnya itu.

Key berdehem pelan, tatapannya dengan cepat berpindah pada sosok jangkung yang masih memperhatikan Hyo Ra.

“Kevin!” sapa Key, sedikit lebih keras dan tegas dari yang sebenarnya ia maksudkan.

Tatapan pemuda jangkung itu perlahan bergeser pada Key, senyum tipis terkembang di sudut bibirnya.

Annyeong, Sunbaenim,” ucap Kevin dengan suaranya yang dalam, mengangguk tipis pada Key. Tampaknya ia tidak memaksudkannya sebagai sapaan, karena tepat setelah Kevin menyelesaikan kalimatnya, pemuda itu berbalik. Berjalan meninggalkan Hyo Ra dan Key tanpa mengucapkan apapun.

“Siapa?” tanya Hyo Ra pada Key, namun sorot matanya masih mengikuti punggung Kevin yang telah mencapai pintu keluar.

Selama sepersekian detik Hyo Ra mengira Kevin menoleh dan menatapnya dingin tanpa ekspresi. Namun sedetik kemudian ia yakin hal itu hanya terjadi dalam khayalannya saja. Kevin berjalan lurus tanpa menoleh sedikitpun.

“Kevin Li. Salah satu, hoobae-ku,” sahut Key datar. Tatapannya juga masih tertuju pada pintu keluar Muak Dormitory of Yonsei University , punggung Kevin baru saja lenyap di balik dinding.

Hoobae-mu? Seram sekali,” ucap Hyo Ra pelan, terdengar seperti sebuah keluhan. Bayangan mata Kevin yang dingin kembali  melintas di otaknya. Tak terelakkan, ia merasa baru saja bertemu dengan persilangan antara Dragon di Sozotopia dan tokoh pangeran vampire yang biasa ia lihat di film. Bedanya pangeran ini berwajah oriental dengan kulit putih porselen alih-alih pucat kemerahan.

Key menghela nafas panjang dan dalam, perhatiannya sempurna terarah pada Hyo Ra.

“Apa yang kau -dengan semua burungmu- lakukan di sini?” tanya Key sembari melirik beberapa burung kertas yang masih terserak di sekeliling kaki Hyo Ra.

Hyo Ra menyeringai, sigap memungut burung-burung kertas itu. Meniup-niup beberapa diantaranya, membersihkan mereka dari debu yang terbawa dari lantai.

“Jangan bilang kau membuat semua ini untukku,” celutuk Key, setengah tak percaya, setengah berharap, sepenuhnya geli. Pemuda tampan itu ikut membungkuk, meraih satu-satunya burung kertas yang tersisa di lantai.

“Berikan padaku,” tuntut Hyo Ra saat Key justru memainkan burung kertas ditangannya.

“Key…” rajuk gadis itu saat Key justru menyeringai lebar, menjauhkan burung-nya dari jangkauan tangan Hyo Ra.

Key terkekeh, tangannya yang bebas mengacak rambut Hyo Ra dengan lembut. “Sini, berikan padaku. Kau sungguh pacar yang manis, sempat-sempatnya membuatkan semua ini untukku. Seperti orang kurang kerjaan saja,” cetusnya senang, berusaha mengambil alih kantong kertas dari pelukan Hyo Ra.

Thanks, anyway,” imbuh Key salah tingkah saat melihat wajah Hyo Ra yang memberengut galak.

Key mendengus sebal. Alih-alih tersenyum atau  apalah, Hyo Ra justru meninggalkannya begitu saja.

“Kenapa? Aku melakukan kesalahan?” tanya Key saat berhasil mennyusul Hyo Ra. Gadis itu tetap memberengut, matanya menatap lurus angka-angka di samping pintu lift yang terus berkedip.

“Hei…. Ayolah. Jangan merajuk tanpa sebab musabab seperti ini. Kau membuatku bingung,” keluh Key sembari mengulurkan burung kertasnya pada Hyo Ra.

Tawa Hyo Ra tersembur seketika. “Kau terkadang mirip Kyu Oppa, tiba-tiba panik tanpa sebab,” serunya di sela-sela tawanya yang semakin keras.

Key menelan ludah, mendelik sebal. “Kau ini! Mempermainkanku? Kau cari mati ya? Berani-beraninya main-main dengan seorang Key!”

Hyo Ra menghindari kedua tangan Key yang tiba-tiba terulur padanya, entah hendak meraih atau melakukan apa. Sejurus kemudian keduanya terlibat pergelutan yang seru di depan pintu lift. Key yang keki setengah mati terus berusaha mengunci Hyo Ra dengan pelukannya. Tentu saja gadis itu meliuk kesana-kemari, sibuk menghindar.

“Apa yang kalian lakukan di sini? Berbuat mesum? Huh?”

Sontak, baik Key maupun Hyo Ra membeku di tempatnya. Yongkyu, lengkap dengan tatapan murkanya muncul begitu saja dari dalam lift yang sesaat lalu berdenting terbuka.

Key -yang di saat-saat terakhir tadi akhirnya berhasil memeluk Hyo Ra dari belakang- refleks mempererat pelukannya. Ekspresinya nampak terkejut sekaligus antisipatif, layaknya pangeran yang hendak menyelamatkan putrinya dari amukan monster. Dalam konteks ini, tentu monster itu adalah –tak lain tak bukan- seorang Cho Yongkyu.

“Bukankah aku sudah bilang, jangan masuk ke sini. Tunggu saja di luar gedung. Aku yang akan menemuimu!” sergah Yongkyu, menarik lengan adiknya dari pelukan Key.

Hyo Ra menyeringai, separuh kesakitan, separuh geli melihat tingkah kakaknya yang berlebihan. “OPPA!! Jangan menarikku, sakit…” keluhnya, tangannya yang tidak memeluk kantong kertas berpegangan kuat pada lengan Key yang masih memeluknya.

Hyung, lepaskan.”

YA! Berani-beranimya kau  menyuruhku melepaskan adikku sendiri! Kau yang lepas, Key! LEPAS!” Sembur Yongkyu galak, wajahnya mulai memerah. Tangannya semakin kencang menarik paksa adiknya.

Kaget mendengar teriakan Yongkyu, Key dan Hyo Ra serempak melepas pegangan mereka. Sepersekian detik kemudian, Hyo Ra berdebam menabrak dada kakaknya. Kantong yang dibawanya terjepit di antara mereka berdua.

Yongkyu sigap menegakkan badan adiknya, merenggut kantong kertas dari tangan Hyo Ra, menatapnya nanar. “YA!! Kau merusaknya, Hyo Ra!”

“Salah Oppa sendiri! Siapa suruh kau menarik tanganku? Huh?” Seru Hyo Ra, tak kalah keras.

“Ini tidak akan terjadi kalau kau tidak berpelukan di muka umum dengan bocah ini!” Yongkyu mengarahkan telunjuknya ke dada Key, mendorongnya pelan.

“Dan bukankah aku sudah bilang, tidak usah memberi tahu Key kalau kau  mau kemari? Atau, kau hanya menjadikanku alasan saja? Sebenarnya, kau hanya mau bertemu dengan Key. Iya ‘kan?” Tanya Yongkyu dengan nada dramatis, menatap adiknya dengan pandangan terluka.

Sejurus kemudian pemuda itu berbalik, kembali masuk ke dalam  lift. Sebelum pintu lift berdenting menutup, Yongkyu menyempatkan diri untuk sekali lagi melemparkan tatapan terluka ke arah adiknya.

Hyo Ra hanya menatap nanar kelakuan aneh kakaknya, mendengus pelan. “Astaga! Ada apa dengannya? Dasar labil.”

“Jadi, kau membuat semua burung itu untuk Yongkyu hyung?”

“Eh, uh, apa?”

Perhatian gadis itu kini teralih pada Key yang menatapnya dengan pandangan terluka.

“Aishh… kalian ini, kenapa sensitif sekali? Itu ‘kan hanya burung-burungan kertas?” Serunya mengkal, menatap balik Key dengan sorot gemas.

“Kau membuatnya untuk namja lain,” rajuk Key, masih menampilkan raut yang mengenaskan.

“Bukan aku yang membuatnya, Key!” sergah Hyo Ra mengkal. “Itu titipan dari seseorang untuk Kyu oppa. Aku hanya mengantarkannya saja!” imbuhnya, nyaris meledak.

Key menyeringai lebar, menarik lengan Hyo Ra, kembali membenamkan kepala gadis mungil itu dalam pelukannya. “Aku tahu,” dengusnya pendek. “Kau ini mirip kakakmu, tiba-tiba panik tanpa sebab,” cetusnya, mengembalikan perkataan Hyo Ra padanya.

Hyo Ra menggerung kesal dalam pelukan Key, “lepaskan, aku tidak bisa bernafas.”

“Perlu nafas bantuan? Dengan senang hati,” jawab Key tanpa melonggarkan pelukannya.

“Lepas, Key. Aku tidak main-main! Atau kupukul bagian manapun tubuhmu yang bisa aku raih!” Teriak Hyo Ra, terenggah, benar-benar kehabisan nafas.

Perlahan–seolah  hal yang dilakukannya membuat hatinya tersakiti–Key melepas Hyo Ra. “Kau benar-benar mirip Yongkyu hyung. Gemar mengancam.”

“Sepertinya aku telah melakukan dosa besar di kehidupanku yang lampau. Sampai-sampai dihukum berat dengan mempunyai kakak dan pacar seperti kalian,” keluh Hyo Ra pelan, lebih pada dirinya sendiri.

“Kalau begitu, aku rela dihukum seumur hidup. Bahkan selama tujuh kali kehidupanpun tidak apa-apa. Asalkan hukumannya adalah  menjadi pacarmu, buatku tak masalah,” potong Key, mengacak rambut gadis dihadapannya.

Hyo Ra mendengus jengah, memukul pelan dada Key. “Gombal.”

Walaupun mulut Key mengaduh sakit -memasang ekspresi menderita karena pukulan Hyo Ra- dalam hatinya Key senang bukan kepalang melihat wajah gadisnya yang memerah malu.

***

Hyo Ra menyeret kakinya, melangkah meninggalkan Muak Dormitory—tempat tinggal para mahasiswa Universitas Yonsei yang berasal dari luar kota Seoul . Gadis itu berjalan dengan kepala tertunduk, menyembunyikan senyum yang sesekali masih terkembang tanpa bisa ia tahan.

“Tersenyum dan tertawalah sepuasmu, Nona.”

Gadis itu menghentikan langkahnya, menelan ludah gugup saat mendapati Kevin tengah berjalan ke arahnya dengan santai. Tubuhnya yang jangkung, dengan bahu bidang yang tegak, ditambah dengan pilihan warna dan model pakaiannya, membuat kesan angkuh pemuda itu terasa sangat kuat.

“Asal kau tahu saja, aku berbeda dengan Dragon,” ucap Kevin, tepat saat ia mencapai tempat Hyo Ra yang hanya berdiri terpaku.

Kevin mengulurkan tangannya, menyentuh pelan anak rambut Hyo Ra yang terlepas dari ikatannya. Pemuda itu memperkecil jarak antara wajahnya dengan wajah Hyo Ra yang mulai memucat. Berbisik pelan di telinga Hyo Ra, “Aku tidak akan membiarkan Venerisku tersenyum pada pria manapun. Apalagi tertawa sembari berpelukan seperti tadi. Aku akan marah besar.”

Hyo Ra bergidik saat Kevin menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Sentuhan tangan Kevin seolah membekukannya.

“Si-siapa kau?” cicit Hyo Ra saat tersadar bahwa baru saja Kevin membawa-bawa Dragon dan Veneris dalam ucapannya.

Pemuda jangkung itu menegakkan punggungnya, “Qinglong Duizhang,” jawabnya datar, nyaris tanpa tekanan dan ekspresi.

Suasana malam itu terasa aneh mencekam. Jalanan di depan asrama universitas sudah sepi, hanya satu dua mobil yang terkadang melintas.

Hyo Ra masih terpaku, matanya yang sejak tadi menatap Kevin lurus-lurus sontak membelalak. Bahasa Mandarinnya sangatlah terbatas, tapi kosakata yang baru saja diucapkan Kevin sangatlah dekat dengan kehidupannya. Qinglong Duizhang, atau lebih akrab disebut… Dragon Leader.

“Kau bercanda, hanya ada satu Dragon di semesta dan seluruh paralelnya. Dan dia sama sekali bukan kau,” cetus gadis itu dengan suara bergetar.

Kevin terkekeh kecil. “Sepertinya Dragon berhasil membohongimu,” tebaknya sembari melangkah melewati Hyo Ra, menepuk pelan puncak kepala gadis itu.

“Hei! Tunggu! Kita belum selesai bicara!” panggil gadis itu, tergesa memutar tubuh, mencari sosok Kevin yang baru saja melewatinya. Nihil, pemuda misterius itu lenyap tanpa jejak.

Hyo Ra memutar pandangan,  masih berusaha mencari. Sejurus kemudian Hyo Ra menghela nafas panjang, tersadar jika tidak bersegera, ia bisa ketinggalan bus terakhir yang akan membawanya pulang ke Daegu. Gadis itu mempererat mantelnya, bergegas melangkah. Benaknya sibuk mencerna seluruh potongan informasi yang diperoleh dari percakapan singkatnya dengan Kevin. Menyusun info tersebut menjadi sebuah pemikiran utuh, Kevin pasti berkaitan dengan Sozotopia. Kenapa pemuda itu ada di bumi dan mempunyai identitas, itu yang belum ia ketahui.

***

Hyo Ra menggeliat pelan, merasa sangat malas membuka mata. Gadis itu yakin 100% ini masih tengah malam, namun entah mengapa dia tiba-tiba terbangun. “Mungkin karena dingin,” keluhnya dalam hati, meraba-raba, mencari di mana letak selimutnya dengan mata tetap tertutup.

Tepat saat ia merasa menemukan selimutnya, gadis membuka matanya dengan perasaan terkejut yang sangat tidak nyaman karena jantungnya tiba-tiba berdetak dengan kecepatan di luar batas normal.

“YA! Siapa kau? Apa yang kau lakukan di kamarku?”

Jeritan Hyo Ra segera saja memenuhi langit-langit kamar bercat biru muda itu. Sementara kedua tangannya sigap menarik selimutnya menutupi dada, kaki gadis itu menjejak kuat, mendorong tubuhnya sendiri hingga berhasil duduk tegak dalam sekali sentak.

Sosok siluet yang duduk ditepi tempat tidurnya terlihat mengangkat bahu ringan. “Apa? Aku hanya menontonmu.”

Keterkejutan Hyo Ra sedikit berkurang saat mengenali si pemilik suara berat. Namun tidak dengan amarahnya yang justru semakin memuncak. “M-menonton? Kau pikir aku ini film? Keluar dari kamarku sekarang juga! Penyusup!” bentak Hyo Ra, menendang entah apa dari bagian tubuh sosok didepannya, ia tak peduli.

Sosok itu justru terkekeh kecil, beringsut mendekat. Sedetik kemudian ia menjatuhkan diri, berbaring nyaman di samping Hyo Ra yang hanya bisa melotot terkejut dengan tingkahnya.

“Umma! Appa! Ada pemerkosa menerobos kamarku!” teriak Hyo Ra sembari meloncat dari tempat tidur, mengambil langkah seribu menyerbu pintu kamar.

“Sttt… diamlah,” desis sosok itu, merubah posisi tidurnya menjadi menyamping dan bisa melihat semua tingkah Hyo Ra.

Bersamaan dengan desisannya, Hyo Ra sontak menghentikan langkah, merasa lututnya sangat lemah. Gadis itu terhujung, nyaris mencium lantai dingin jika sepasang lengan kukuh tak sigap meraih pinggangnya. Sosok itu, entah sejak kapan telah berdiri di sampingnya dan tersenyum miring.

“Kevin, apa maumu?” bisik Hyo Ra lemah, merasa kalah. Tak ada kemungkinan baginya untuk melawan makhluk jadi-jadian di hadapannya. Gadis itu bahkan yakin tak seorangpun mendengar teriakannya barusan. Naga yang satu ini sungguh mengerikan.

Kevin membimbing Hyo Ra kembali ke tempat tidurnya dengan sikap lembut yang sedikit berlebihan. Pemuda jangkung itu membantu Hyo Ra berbaring dengan tetap memegang bahu dan menyangga punggung gadis itu.

“Maaf mengagetkanmu. Aku hanya ingin bilang, besok sore, sepulang kau sekolah, aku akan mengajakmu jalan-jalan. Kosongkan jadwalmu,” bisik Kevin tetap di telinga Hyo Ra, membuat gadis itu bergidik pelan. Pemuda itu mendengus geli merasakan reaksi Hyo Ra. Ia mengegakkan punggung, menatap Hyo Ra dengan sorot lelah, mengusap pelan pipi gadis itu dengan ibu jarinya.

Di tengah kepanikannya akibat perlakuan Kevin, gadis itu meneriakkan nama Dragon sekuat tenaga dalam hati dan otaknya, meminta pertolongan. Tak ada salahnya berusaha, walaupun ia pesimis akan berhasil. Selama ia ada di bumi, ia tak pernah berhasil membuat Dragon menemuinya. Orang aneh itu datang dan pergi sesuka hatinya untuk menemui Hyo Ra, namun tidak pernah datang saat Hyo Ra memanggilnya. Entah Dragon tidak bisa mendengarnya, atau dia hanya tidak mau datang.

“Kau menyakiti hatiku,” keluh Kevin seraya meremas dada kirinya sendiri. “Jangan menyebut, apalagi memanggil nama orang lain saat aku bersamamu.”

Hyo Ra mengedipkan matanya dua kali, berharap salah dengar dan salah lihat. Nada suara Kevin terdengar benar-benar seperti orang yang kesakitan, begitu pula sorot matanya yang begitu suram.

“Tidurlah, aku akan pergi setelah kau kembali tidur,” potong Kevin sebelum Hyo Ra sempat membuka mulutnya. Pemuda itu menyingkirkan anak rambut yang jatuh di dahi Hyo Ra dengan jari kelingkingnya. Hyo Ra refleks menutup matanya saat pemuda itu membungkuk, menghilangkan jarak di antara mereka.

“Have a nice dream, my Veneris,” bisik Kevin lirih, dengan bibir menyapu pelan dahi si gadis. Ciuman Kevin adalah hal yang terakhir yang bisa dirasakan indra Hyo Ra malam itu.

Pagi harinya, Hyo Ra terbangun tanpa menyisakan secuilpun rasa kesal atau takut pada Kevin. Bagaimana tidak? Ini pertama kalinya ia bisa bermimpi. Mimpi yang sedikit absurd memang, dan sedikit memalukan. Mengingatnya saja masih membuat pipi Hyo Ra bersemu merah. Absurd, karena sebenarnya dalam mimpi itu Kevin hanya menggandengnya, membawanya berjalan melintasi sebuah  taman—yang Hyo Ra kenali sebagai taman di tengah kota Negeri Para Penerbang. Memalukan, karena saat itu Key—bukan Key yang pacarnya, tapi Key si Jenderal—menatap mereka dengan senyum khasnya dari tepian kolam Seribu Pelangi. Adegan itu membuat Hyo Ra merasa sangat malu. Seolah ia tertangkap basah sedang berselingkuh. Entahlah, mimpi yang absurd.

Walau demikian, seperti hal-hal pertama lainnya, mimpi pertama Hyo Ra tetaplah terasa menyenangkan sekaligus menengangkan. Mimpi pertama, mimpi yang muncul begitu saja hanya karena Kevin membisikkan kalimat saktinya.

Have a nice dream, my Veneris.

My Veneris.

***