9 – STRÁŽE

“Kau tidak perlu menungguiku seperti ini,” gerutu Hanz pelan, tatapannya beralih-alih dari jendela, dinding kamar, meja nakas, lampu kristal atau apalah itu. Intinya, kemana saja, selain melihat langsung ke mataku.

Aku hanya mendengus kecil, mengabaikan ketidaknyamanan Hanz yang terlihat sangat jelas. Setelah peristiwa yang melibatkan Marque, Hanz dan gadis kecil itu, mengurung diri di kamarku sendiri akan terlihat kekanakan. Jadi inilah satu-satunya pembenaran yang bisa aku buat, menemani Hanz yang sakit. Jauh lebih nyaman daripada harus melihat sosok Marque, yang entah kenapa seharian ini terlihat di mana-mana.

“Aku baik-baik saja, kau bisa… melakukan apapun selain melamun di kamarku,” imbuh Hanz, masih tidak mau menatap langsung kearahku.

“Maaf membuatmu tidak nyaman, Hanz. Tapi aku sedang malas melihat yang lain,” sungutku pelan, memainkan ujung selimut Hanz.

Hanz mengalihkan pandangannya dari jendela, kali ini menatapku tepat di mata, membuat pipiku memanas tanpa bisa kukendalikan. Kedapatan melamun, apa itu tidak cukup memalukan? Yakin kalau memalingkan wajah akan percuma—dan justru membuatku terlihat sangat konyol–karena bagaimanapun Hanz sudah telanjur melihat pipiku yang memerah, aku hanya menatapnya balik, sebaik mungkin mengontrol agar ekspresiku tetap nampak datar. Hal yang kemudian kusadari tak ada gunanya. Toh Hanz bisa membaca pikiranku, buat apa berpura-pura di hadapannya?

“Dan kau juga tidak benar-benar melihatku,” celutuknya dengan intonasi setengah mengolok-olok, setengah menuduh.

Aku hanya memberengut, membuat bibirku maju sekian sentimeter.

“Kau ingin membicarakan kejadian tadi siang, tapi terlalu malas untuk mengeluarkan suara. Itulah alasan kenapa kau ada di sini,” imbuh Hanz, tersenyum penuh pemahaman.

Kali ini aku memutar bola mata. Enak sekali punya kemampuan membaca pikiran orang lain. Ehm, tapi memiliki teman yang bisa membaca pikiran kurasa lebih menyenangkan lagi. Buktinya sekarang, Hanz tahu benar apa yang ada dalam pikirannku, tanpa aku repot-repot mengatakannya.

“Aku benci kalian!” sentakku kasar. Rasanya lega bisa mengatakannya sekeras ini. Dan lebih lega lagi karena aku tidak perlu merasa khawatir lawan bicaraku akan terkejut mendengarnya. Kalau saja yang dihadapanku saat ini adalah Chryz, pemuda jangkung itu pasti membakarku hidup-hidup. Jong mungkin akan mengguncang bahuku, mengira aku gila. Aiden atau Lay mungkin akan terluka. Zee… entahlah, mungkin dia justru senang, atau tidak peduli sama sekali. Tapi Hanz, dia hanya tersenyum tipis. Matanya jelas sekali berkata ya-aku-tahu.

“Aku juga tidak bisa mengatakan kalau aku menyukai diri kami yang seperti ini,” sahutnya. Aku sigap berdiri melihatnya beranjak dari tempat tidur, hendak membantunya berdiri. Urung, Hanz mengangkat tangan kirinya, menolak. Pemuda ramping yang ternyata cukup tinggi itu melangkah pelan menuju jendela. Yah, ternyata dia cukup tinggi, asalkan tidak berdiri berdampingan dengan Marque, Zee apalagi Chryz yang sepertinya tumbuh melebihi batas normal.

“Kenapa kalian membunuh mereka? Apa salah mereka? Shenz memang menghisap darah orang lain. Tapi, gadis cilik itu? Dia tidak terlihat berbahaya,” tuntutku, kembali memainkan ujung selimut. Perhatianku sempurna tertuju pada selimut berwarna biru-pucat polos tanpa motif itu.

“Bukan kami yang membunuh mereka. Kau, kau yang melakukannya.”

Jawaban Hanz membuat darahku berhenti mengalir. Seluruh tubuhku mendadak kaku. Oksigen di kamar Hanz tiba-tiba saja menipis, membuatku harus berusaha keras hanya agar bisa bernapas dengan normal. Kenyataan itu membelah jantungku menjadi 2 bagian. Benar, akulah yang membunuh mereka.

“Dan aku senang kau membunuh gadis cilik yang menurutmu tak bersalah itu. Sekadar informasi, siapa tahu kau tidak bisa melihatnya dengan jelas, dia hampir membuatku kehilangan nyawa.”

Katup di tenggorokanku sontak menutup. Ada atau tidaknya oksigen tidak lagi berpengaruh. Aku tidak bisa bernapas.

“AKU BENCI KALIAN!”

Enam sosok muncul dari udara kosong, memenuhi kamar Hanz bertepatan dengan teriakan histeris yang meluncur deras dari mulutku. Teriakan yang menghabiskan sisa oksigen yang masih tersedia di paru-paruku.

Lay yang muncul tepat di sampingku mulai mengusap pelan punggungku dengan sebelah tangannya, berujar lirih, “bernapas. Knezna, ambil napas.”

Aku tidak peduli. Aku tidak mau bernapas. Aku tidak mau menghirup udara yang sama dengan udara yang dihirup oleh makhluk sadis yang mengaku-aku sebagai saudaraku namun memaksaku, memanfaatkanku sebagai alat pembunuh. Ya! Mereka memaksaku! Mereka memanfaatkanku! Aku benci dipaksa! Benci dimanfaatkan! Aku benci. Benci….

“Bernapas!” Teriakan Jong terdengar seperti sebuah ultimatum tak terbantahkan di telingaku. Entah karena intonasinya, atau… hah, kurasa itu kemampuannya. Tanpa bisa berpikir atau menolak, seluruh organ dalam tubuhku bereaksi mendengar perintah Jong. Rasanya sakit sekali saat oksigen mengalir melalui tenggorokan, perlahan memenuhi paru-paru. Aku tidak pernah mengira, bernapas bisa sesakit ini.

“Aku sudah pernah bilang kalau dia ini sulit ‘kan? Sulit dan menyulitkan.”

Aku mencari si pemilik suara, tak sadar mengepalkan tangan kuat-kuat saat mendapati Zee tengah memandangku dengan sorot bosan. Rasa tidak suka padanya yang  mulai luntur saat peristiwa tukar-menukar menu sarapan kembali menggelegak.

“Diam, Zee! Kau tidak pernah membunuh. Kau tidak tahu bagaimana rasanya!”

Tanpa perlu menoleh, aku tahu benar siapa pemilik suara tenor itu, Aiden.

Zee menyeringai lebar, menyanggah dengan intonasi geli, “memangnya kau pernah? Kau tidak bisa membunuh tanpa bantuan Knezna. Secara teknis, Knezna-lah yang membunuh, bukan kalian.”

Aiden menyipitkan mata, menatap Zee dengan sorot dingin—yang jika saja ditujukan padaku, aku pasti sudah membeku.

Seolah tak terima dengan reaksi Aiden, Zee siap kembali buka mulut.

“Zephyr….” Namun, belum sempat sepatah katapun keluar, desisan Chryz lebih dulu membungkamnya. Pelan, sama sekali tidak mengandung intonasi. Chryz seolah hanya membaca sebuah nama yang tercetak di kartu nama, datar tanpa emosi,  namun sukses membuat Zee mengatupkan rahangnya rapat-rapat.

Untuk beberapa saat keheningan mengambang di langit-langit kamar Hanz. Masih berdiri kaku di samping tempat tidur Hanz, aku mulai bisa merasakan napasku kembali normal. Seiring dengan keluar-masuknya oksigen dan karbon dioksida dari paru-paruku, aku mulai merasakan kantuk yang janggal. Otakku yang semula menolak berhenti berputar–terus saja mereka ulang peristiwa bersama Chryz dan Marque—seolah diselubungi kabut tipis yang perlahan menebal. Ujung jemari kaki dan tanganku mulai terasa hangat.

“Hentikan, Jong! Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak lagi mengendalikan pikiran Knezna!”

Tepat aku mulai merasa melayang, bentakan Hanz menyentakku kembali ke alam sadar. Rasanya sedikit pusing, persis sama saat aku tiba-tiba terbangun dari tidur karena dikagetkan oleh sesuatu.

“Dia belum siap menghadapi ini semua,” sergah Jong, menggeram kesal.

Aku mengalihkan pandangan dari Jong–yang menatapku—ke arah punggung Hanz yang ternyata masih melihat keluar jendela.

“Knezna sudah membunuh dua orang Pelintas. Dia sudah lebih dari sekadar siap. Membuatnya tertidur tidak akan menyelesaikan masalah. Dia terlalu bingung dengan segala yang terjadi, sudah saatnya kau memberinya penjelasan.”

Sekalipun aku tidak bisa melihat wajahnya, aku curiga Hanz sama sekali tidak menggerakkan mulutnya saat membalas pernyataan Jong.  Percakapan antara Hanz dan Jong terdengar jelas, langsung ke dalam sel-sel otakku. Yah, otak, bukan telinga.

“Aku? Kenapa tidak kau saja yang menjelaskan padanya, Tuan Aku-Mengerti-Segalanya!” Suara Jong kembali terdengar jelas, sejelas indra penglihatanku yang tidak menangkap sedikitpun gerakan di bibirnya. Terang benderang sudah, kedua pemuda itu memang bercakap melalui semacam telepati.

Perlahan Hanz berbalik badan, melangkah pelan menuju tempat tidurnya tanpa merasa perlu melirik Jong. Pemuda itu tersenyum tipis padaku, duduk di tepi tempat tidur dan mulai mengedarkan pandangan, menatap saudaranya satu persatu—kecuali Jong. Perhatian semua orang dalam kamar itu tertuju pada Hanz. Serempak, ke-6 pemuda itu mengangguk kecil, beranjak mencari posisi yang lebih nyaman. Entah mengapa aku merasa kehilangan saat telapak tangan Lay yang dingin meninggalkan punggungku.

Hanz mengangguk tipis ke arahku sembari menepuk tempat di sebelahnya, memintaku duduk di sana.

Perlu beberapa detik bagiku sampai akhirnya memutuskan untuk memenuhi keinginan Hanz.

“Sebenarnya kami bukan saudara sepupumu,” ucap Hanz setelah sebelumnya berdehem keras.

“Kita, termasuk kau, adalah Straze, Penjaga. Aku tidak tahu dan tidak begitu peduli apakah kita termasuk golongan manusia, malaikat, setan, peri, atau apalah,” imbuh Hanz, mengabaikan reaksi yang bermunculan dari para pendengarnya. Aku dan Chryz memasang ekspresi datar, Zee dengan gaya favoritnya yang terlihat tak peduli, Marque yang seperti orang ingin muntah,  Jong yang melihatnya dengan tatapan apa-yang-kau-katakan-orang-bodoh. Hanya Lay dan Aiden yang sepertinya benar-benar antusias mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Hanz.

“Kitalah adalah Straze yang memiliki kemampuan lebih, dan sebagai konsekuensinya, kita harus menjaga manusia dari semua makhluk asing yang tidak berhak tinggal di Bumi. Sayangnya, menjaga satu pihak, terkadang berarti kau harus menghabisi pihak lainnya,” papar Hanz dalam satu tarikan napas.

“Ada 8 Straze di Bumi, kau salah satunya. Tujuh lainnya ada di depanmu. Aiden, Marque dan Chryz bertugas sebagai eksekutor, dengan bantuanmu. Tanpamu, mereka hanya bisa membuat para Pelintas sekarat untuk sementara, sebelum akhirnya pulih dan mengacau kembali. Dan kami terlalu lelah jika harus terus berhadapan dengan makhluk yang sama berkali-kali. Membunuh selalu menjadi pilihan efektif,” sambungnya setelah menghela-hempus napas beberapa kali.

“Efektif, namun tidak pernah menyenangkan. Tidak pernah,” potong Aiden cepat. Wajahnya yang biasa terlihat teduh terlihat suram. Chryz dan Marque bertukar pandang selama sepersekian detik sebelum kembali saling memalingkan muka. Aku merasa perlu mengecek sorot mata Marque beberapa saat hingga akhirnya yakin kalau tidak salah mengira. Ada kilasan ganjil di manik mata Marque. Kilasan buncah rasa yang membuat hatiku tiba-tiba mencelus. Semoga aku salah tafsir saat melihat ketakutan di mata Marque. Marque yang terlihat takut adalah hal paling menakutkan yang bisa terjadi saat ini.

Hanz menghembuskan nafas berat, menatap Aiden dengan penuh simpati. “Aku selalu merasa bersalah setiap kali kau mengatakan hal itu, Aiden.”

“Tidak, Hanz. Kau, dengan kemampuan mind reading dan telepati-mu selalu membantu. Kau sakit sehari saja, kami semua terpecah belah dan kehilangan kontak. Kau tahu betapa menyebalkannya saat aku tidak mengetahui kondisi kalian semua.” Kali ini Jong yang mengambil alih percakapan. Raut sebalnya pada Hanz belum sempurna hilang, namun perkataannnya terdengar tulus.

Hanz mengangguk tipis, kembali mengarahkan pandangannya padaku. “Di mata mereka, aku ini semacam merpati pos,” cetusnya ringan, terlihat benar sedang berusaha memecah ketegangan yang telah menggantung sekian lama.

“Kalau begitu, aku ini semacam rumah sakit,” sahut Lay—lengkap dengan senyum lesung pipinya. Tawa kaku serentak mengisi kamar Hanz. Bahkan Chryz pun terlihat tidak mampu menahan senyum yang terbentuk di sudut-sudut bibir.

Lay tiba-tiba saja duduk menghempaskan diri di sebelahku, membuat aku terjepit di antara Hanz dan dirinya. Masih dengan senyum lebar, pemuda itu berujar santai, “kau tahu kekuatan milik siapa yang paling kutakuti, oh, lebih tepatnya kubenci disini?”

Menanggapi pertanyaannnya yang datang begitu saja, aku menggeleng pelan, tidak yakin harus menjawab apa.

“Dia,” tunjuk Lay ke arah Jong. “Orang yang sering mengaku-aku menjadi Pemimpin para Straze ini seorang mind-controller. Dia sering kali tidak bisa membedakan antara memimpin dan mengatur.”

Jong memutar bola matanya dengan dramatis, menggerutu, “kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya harus mengendalikan 6 laki-laki berkekuatan super dan hormon mereka yang berlebihan!”

Tawa yang terdengar kali ini lebih renyah dan lepas. Aku memejamkan mata sesaat, membiarkan sebuah senyum mengembang di wajahku. Suara tawa selalu membuat perasaanku lebih baik, sekalipun tawa itu tidak keluar dari mulutku sendiri. Entah mengapa, tawa dan senyum adalah sesuatu yang gampang sekali menular padaku.

Lay, Hanz, dan Jong mulai saling melempar ejekan khas lelaki. Tak jelas apa yang mereka perdebatkan. Sesekali aku mendengar suara Aiden, Chryz, bahkan Zee ikut ambil bagian.

Berusaha mencerna informasi padat yang disodorkan secara brutal kehadapanku, aku memilih menundukkan kepala dalam-dalam. Menjaga manusia, harus membunuh, tak ada pilihan lain. Tak terelakkan, bayangan berbagai peristiwa melintas dalam benakku, saling serobot dan bertumpang tindih satu sama lain. Chryz yang terbang dan melontarkan api. Perjalanan pertamaku dengan pesawat ke benua Eropa. Lay yang memegang dahiku dengan tangannya yang dingin namun menyenangkan. Belasan tahun masa hidupku kala di panti asuhan yang tidak bisa di bilang menyenangkan. Aiden yang… menghembuskan kabut dari mulutnya. Ingatanku yang sangat terbatas akan masa kecilku. Hanz yang bisa membaca pikiran orang dan bertelepati. Teman-temanku semasa sekolah, yang entah mengapa tak seorangpun di antara mereka yang benar-benar bisa kuanggap sebagai sahabat. Jong yang sepertinya bisa mengendalikan orang lain. Kenyataan bahwa aku tidak pernah merasa terikat secara emosi dengan siapapun, seolah semua orang dalam hidupku hanyalah siklus yang bergulir antara datang dan pergi. Tangan besar Marque yang terulur menarik apalah dari dalam tubuh si gadis kecil. Bnagunan dingin bernama panti asuhan, dan… kastil megah tempatku berada sekarang.

Kedua bayangan terakhir membuatku tersentak, membuka mata. Obyek pertama yang tertangkap retinaku adalah wajah Zee. Pemuda yang ternyata bernama Zephyr itu menatapku datar. Entah mengapa, melihatnya membuatku semakin tersadar. siapapun mereka, apapun yang mereka lalukan, sebenci apapun aku pada mereka, nyatanya aku tak punya pilihan lain kecuali tetap bersama mereka.

Aku tidak mungkin kembali ke panti asuhan. Tidak, mengingat bagaimana wajah-wajah pengurus panti terlihat sangat bahagia dan lega saat melepasku pergi–setelah belasan tahun tak ada orang yang bersedia mengadobsiku. Tidak, karena pada kenyataanya aku tidak pernah benar-benar merasa nyaman di sana. Kalau ada tempat yang bisa membuatku tertidur pulas tanpa mencemaskan apapun, tempat itu adalah kastil ini. Kalau ada orang yang membuatku merasa tenang hanya dengan mendengar suara tawa mereka, ketujuh mahkluk inilah jawabannya. Ganjil memang. Perasaan yang menguat begitu saja saat aku membuka mata hanya untuk menyadari bahwa ketujuh pemuda di depanku tengah menatapku. Aku hampir lupa, beberapa saat yang lalu, aku benar-benar membenci mereka.

“Tidak ada cara lain selain membunuh? Kenapa… kau tadi menyebutnya apa? Pelintas? Kenapa Pelintas tidak bisa hidup berdampingan dengan manusia? ”

Ketegangan di wajah mereka sudah jauh berkurang, namun satu-dua tetap menatapku dengan sorot serius.

Sebenarnya aku masih ingin melontarkan pertanyaan lain, namun urung saat mendengar Marque menggeram marah. Parasnya yang senantiasa pucat nampak memerah. Sontak, aku menelan ludah panik. Pemuda ini terlihat sepuluh kali lebih menyeramkan dari pada saat ia tiba-tiba menjemputku untuk membunuh tadi siang. Kurasa ia benar-benar marah, uhm, entahlah, sorot matanya sangat aneh.

“Setiap dongeng punya aturan. Aturan yang harus kau lakukan tanpa pernah mempertanyakannya!”

Pemuda itu mengangkat telapak tangan kirinya, menggerakkannya sedemikian rupa kearahku. Napasku kembali terhenti. Dari jarak yang lebh dekat, aku mulai memahami makna sorot mata Marque. Sungguh, aku belum pernah setakut ini. Tidak, aku tidak takut pada Marque. Jauh di dalam hatiku, aku tahu dia tidak akan mencelakaiku. Tidak sedikitpun. Hal yang aku takuti adalah ketakutan dalam sorot mata Marque yang terlihat sangat jelas. Ketakutan itu, entah bagaimana bercampur sempurna dengan kemarahan. Melebur menjadi sesuatu yang… aku tidak bisa mendapatkan kata yang lebih mewakili selain kata frustasi. Frustasi yang membuatnya meledak tak terkendali. Ekspresinya memang terlihat datar, begitu juga intonasinya saat berbicara tadi. Namun manik matanya yang menatap tepat pada manik mataku terlihat bergetar. Bergetar hebat.

A stráže měly příkaz zabít, para penjaga mendapat perintah untuk membunuh. Itulah aturan dalam dongeng kita.”

“MARQUE!!”

Beberapa suara terdengar serentak. Semuanya dengan nada yang sama, memperingatkan sekaligus terkejut. Sedetik kemudian aku tersadar, aku tak lagi duduk di antara Hanz dan Lay. Alih-alih berada di atas kasur Hanz yang empuk, saat ini aku melayang di tengah ruangan. Udara berpusar ringan di sekitar kaki dan lenganku.

“Kalian membuat semua ini terdengar seperti lelucon!” Jerit Marque, nyaris bersamaan dengan jeritanku. Gerakan tangan Marque yang serabutan membuatku terayun kesana kemari.

“Hentikan Marque!” Suara Jong terdengar dari kejauhan. Beberapa detik yang terjadi sesudahnya terasa berjalan dengan sangat lambat. Seolah ada yang menghentikan waktu. Marque yang sontak berdiri kaku dengan kedua lengan menggantung lemah di kedua sisi badannya. Tatapannya yang masih mengikatku, membuatku tak mampu mengalihkan pandangan selain ke dalam manik matanya yang perlahan kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Kekosongan itu perlahan memenuhi mata Marque. Kekosongan yang ternyata jauh lebih menakutkan dari sorot ganjil yang tadi terlihat. Kekosongan yang tiba-tiba saja membuatku merasa ingin menangis.

Waktu kembali berjalan normal saat Chryz melayang, menyambar tubuhku yang nyaris menghujam lantai marmer saat terlepas dari kontrol Marque. Sementara Lay bergegas menghampiri Marque, Chryz berlahan membawaku mendarat. Untuk sekali ini, Lay dan Chryz kompak mengirim tatapan tak setuju ke arah Jong yang masih menatap Marque dengan alis bertaut.

“Ayo, kita jalan-jalan melihat Praha,” cetus Chryz sembari merangkul pinggangku, menghilangkan jarak di antara tubuh kami berdua. Tanpa merasa perlu menunggu jawaban atau sekadar anggukan setuju dariku, pemuda itu telah melayang melewati jendela kamar Hanz yang sejak tadi terbuka lebar. Hanya perlu beberapa detik sampai Chryz membawaku melayang sejajar dengan pucuk pepohonan di halaman kastil. Aku menoleh ke arah jendela yang baru saja kami lewati, hanya untuk mendapati Lay yang tengah memapah Marque keluar dari kamar, dan Zee yang menatap lurus-lurus kearahku dan Chryz. Ambang jendela kamar Hanz itu perlahan memudar seiring dengan percepatan terbang Chryz menjauhi kastil, tersubstitusi oleh pemandangan lanskap kota Praha. Kota yang terlihat paling indah, justru di saat tergelapnya.