Ada yang tahu apa artinya ‘ojo gumunan’? Klo berdasarkan terjemahan bebas ala Yen, artinya : jangan mudah terkagum-kagum. Terjemahan tepatnya (mungkin) adalah : jangan mudah takjub.

Kenapa tiba-tiba aku ngomong gini? Hmm… kemarin atau kemarinnya (lupa tepatnya) aku sempet melihat sesuatu melintas di TL twitter yang intinya : seseorang merasa bangga banget karena MENGIRA spoiler yang ada di album SHINee : Misconception of You adalah lagu pertama yang bisa memuat judul-judul lagu keseluruhan album. Seseorang ini lantas merasa Jonghyun itu jenius banget.

Oh, guys! Nggak ada yang baru di bawah matahari! Ok, bukan salah seseorang itu klo dia nggak tahu lagu Intro di album GD&TOP Vol.1 punya konsep yang nyaris sama dengan Spoiler SHINee ini. Kurasa, mungkin, jauh sebelum GD&TOP juga sudah ada musisi lain yang melakukannya.

Bukan karena aku VIP apalagi antis SHINee lantas aku nulis postingan ini. Tweet itu hanya memancing pemikiran saja. Masih banyak contoh lainnya. Intinya adalah : Ojo gumunan. Hanya karena kau tidak tahu tentang sesuatu, tak lantas sesuatu itu tidak ada.

Kenapa ‘ojo gumunan’? Karena mudah terkagum-kagum itu dekat dengan berlebihan. Yup, aku paham, ngerti kok gimana rasanya kagum sama idola. Apa aja yang dia lakukan pasti terlihat istimewa dan keren banget. Tapi please, jangan berlebihan. Klo kita mau noleh atau sekadar melirik sedikit saja ke arah lain, ada kok orang lain yang melakukan hal sama atau bahkan lebih dari sang idola itu. Lalu kenapa kalau orang lain yang melakukannya, hal itu tidak lagi tampak istimewa dan keren? Karena kita berlebihan, dan berlebihan itu dekat dengan picik.

Ingat kembali alasan kenapa kita menyukai si idola ini.

Karena suaranya bagus? Bukannya masih ada yang lebih bagus dari dia?

Karena bakatnya? Tidak adakah yang mengungguli bakatnya?

Karena kerja kerasnya? Benarkah kalau kerja kerasnya mengalahkan kerja keras setiap orang yang kita temui di jalanan setiap harinya?

Karena keunikannya?  Setahuku, setiap orang itu unik🙂

Karena perangainya yang patut diteladani?  Yakinkah kau akan hal ini? Bukan, bukan soal kau bahkan tidak mengenalnya secara langsung, bukan. Tapi sungguh, yakinkah kau kalau ia pantas menjadi teladan?

JANGAN-JANGAN, KITA HANYA BERLEBIHAN? GUMUNAN?

Hidup itu proses, memang. Dan salah satu dari proses itu adalah mencari jati diri. Kagum pada sesuatu/seseorang, meneladani/mengidolakan seseorang, bisa jadi termasuk dalam salah satu proses itu. Tapi (lagi-lagi tapi), tolong jangan berlebihan. Agar–kalaupun ternyata kita sedang tersesat dalam proses itu–semoga kita tidak tersesat secara berlebihan juga.