“Kau sakit ya? Demam?” tuduh Junggi, memegang dahi Hyo Ra tanpa merasa perlu mengontrol tenaganya, membuat gadis itu nyaris terjengkang.

Ya! Yang benar saja! Kau hendak membunuhku?” sembur Hyo Ra seraya berusaha menyeimbangkan kembali tubuhnya. Untung saja refleksnya masih cukup baik sehingga tidak perlu merasakan kerasnya tepi meja. Gadis itu menatap Junggi tajam. Namun tak berselang lama kemudian ia kembali pada posenya semula, menatap keluar jendela sembari bertopang dagu.Tak banyak pemandangan yang bisa gadis itu lihat selain lampu-lampu dan bayang pepohonan yang menjulang di halaman sekolah. Bagaimanalagi, ini memang sudah lewat tengah malam. Beberapa teman sekelas Hyora bahkan sudah pulang. Sementara beberapa yang lain mengisi waktu belajar mandiri mereka dengan kegiatan yang lebih manusiawi dan menyenangkan. Semisal, Junggi, baginya, Yaja adalah saat yang tepat untuk mengusili teman-temannya.

Beberapa wajah menoleh cepat mendengar teriakan Hyo Ra. Tapi tak satupun bertindak lebih lanjut saat melihat siapa pelakunya. Semua orang di kelas itu—bahkan sekolah itu—sudah terlalu terbiasa dengan keributan yang bersumber dari Junggi, Hyo Ra dan gerombolan Happy-Happy-Hurray-Yey-Yey mereka. Gerombolan itu pun sama tak pedulinya, mereka meneruskan pembicaraan tanpa merasa perlu mengurangi volume suara. Toh sudah tak ada seorangpun dalam ruang itu yang benar-benar belajar. Sebagian besar tidur, sebagian lainnya mengganggu temannya yang sedang tidur. Beberapa teman sekelas Hyora bahkan bermain tenis meja di sudut kelas—mereka membalik 4 buah meja dan menggabungkannya. Hanya butuh sedikit kreatifitas untuk bisa menikmati hidup, itulah motto mereka.

“Seharian ini kau tak hentinya tersenyum sendiri,” ucap seorang gadis berkacamata yang duduk di sebelah Hyo Ra.

“Pipimu juga nyaris selalu semerah tomat,” timpal pemuda berlesung pipi. Ia bersandar di meja si kacamata, membenamkan tangan dalam saku celananya.

“Tidak pernah mendengarkan saat kami bicara padamu,” sahut yang lain lagi.

 Tak mau kalah, teman mereka yang berambut keriting sigap menyambung, “seperti orang yang bermimpi sambil berjalan.”

“Dan sepanjang setengah jam ini saja kau sudah menghela nafas sebanyak… 13 kali.”

Sahabat–sahabat Hyo Ra berhenti bergiliran mendaftar keanehannya akibat celutukan Junggi barusan.

Pemuda tinggi ramping itu memutar bola mata. “Apa? Itu benar! Aku menghitungnya dengan akurat, sangat valid,” protesnya tak terima melihat semua orang menatapnya dengan sorot astaga-kau-benar-benar-menyedihkan.

“Kurasa aku sudah tahu jawabannya.”

Pernyataan Hyo Ra berhasil membuatnya menjadi pusat perhatian seluruh anggota gerombolan.

“Apa? Kau menemukan jawaban dari pertanyaan Park-seonsaengnim tadi?” sela si lesung pipi, menggebrak meja. “Bagaimana mungkin? Sejak kapan kau lebih pintar dariku? Huh?”

“Sejak dulu Hyo Ra memang lebih pintar darimu. Kau saja yang terus menyangkalnya,” cela gadis kacamata, terkekeh geli.

“Tidak di bidang fisika!” sangkal si lesung pipi, menggelembung kesal.

Junggi dan si keriting siap membuka mulut, namun urung karena Hyo Ra berseru penuh semangat, “Mimpi itu berwarna! Aku yakin sekali! Berwarna!”

Hyo Ra menggigit bibir bawahnya dalam upaya menahan dirinya sendiri untuk tidak tertawa girang. Benaknya dipenuhi kilasan mimpinya semalam. Sebenarnya gadis itu tidak sepenuhnya yakin apakah warna-warni bunga dan air mancur itu benar-benar ia lihat atau hanya ingatannya saja. Satu hal yang pasti, Hyo Ra yakin saat itu Kevin memakai sweater warna merah hari dipadu jeans hitam. Sudah pasti warna merah itu benar-benar ia lihat dalam mimpi, mengingat Kevin yang bertemu dengannya di asrama kampus menggunakan mantel hitam. Sedangkan Kevin yang datang ke kamarnya hanya mengenakan kaus putih polos. Sudah pasti warna merah itu benar-benar ia lihat, bukan ia ingat.

Teman-temannya menatap Hyo Ra tanpa berkedip, seolah gadis itu merupakan makhluk galaksi lain yang tiba-tiba mendarat di kelas mereka. Setengah dari mereka nyaris menyemburkan tawa jika tidak melihat ekspresi Hyo Ra yang begitu ceria, macam baru mendapat lotere 1 trilyun won saja. Sungguh ekspresi yang membuat iba dan tak tega.

“Mimpi?”

“Kau sudah bisa bermimpi?”

“Ceritakan! Mimpi apa yang bisa membuatmu tersenyum tak karuan sepanjang hari!”

Hyo Ra tersenyum lebar, tak merasa perlu mengalihkan pandangannya dari pendar bola lampu taman untuk sekadar memastikan temannya yang mana yang bertanya.

“Atau… mimpi tentang siapa?”

Pertanyaan yang terakhir ini berhasil membuat pipi Hyo Ra memerah. Gadis itu tak bisa menahan dirinya untuk tidak membenamkan wajahnya diantara kedua lengannya sendiri, menyembunyikan seringai lebar yang muncul begitu saja tanpa bisa ditahan.

Darn! Kau bahkan tidak sesinting ini saat jadian dengan Key!” sentak Junggi, menendang kursi yang semula ia duduki hingga terpental ke dinding belakang.

“Junggie-Junggie! Kasihan kursinya!” sentak si rambut keriting yang segera mendapat persetujuan seluruh gerombolan–minus Hyo Ra yang masih tersesat di dunianya sendiri–dengan anggukan kepala dan sorot mencela pada Junggi.

Si lesung pipi mengembalikan kursi yang ditendang Junggi ke tempatnya semula dengan sikap gentlemen yang berlebihan, membuat Junggi memutar bola matanya dengan dramatis.

Tanpa mereka sadari, seorang pemuda masuk dan menghampiri mereka. Pemuda itu berjalan lurus ke arah Hyo Ra tanpa sedikitpun melirik. Cara berjalannya nampak sangat kaku, layaknya orang yang tidak mau berjalan namun dipaksa. Lebih tepatnya seperti sebuah boneka kayu yang digerakkan tali.

Merasa ada sesuatu yang janggal, seolah sedang dipandangi seseorang, Hyo Ra mengangkat kepala. Tersentak kaget mendapati wajah pucat seseorang yang mengenakan seragam kelas senior, tepat dihadapannya.

“Veneris, kau ditunggu pemilikmu di gerbang sekolah. Sekarang juga,” ucapnya pelan, namun cukup jelas terdengar di telinga Hyo Ra. Suaranya terdengar sangat datar, tanpa emosi ataupun intonasi, selaras dengan ekspresinya yang datar.

Hyo Ra mengedipkan matanya beberapa kali, kesulitan mencerna informasi yang barusan didapatnya. Tatapan mata seniornya yang kosong seolah mengarah pada Hyo Ra. Tapi gadis itu sama sekali tidak merasa sedang dilihat. Pemuda di depannya itu terlihat seperti sosok tanpa jiwa. Belum lagi sempat ia bertanya apalah, seniornya itu sudah berlalu pergi.

“Kalian kenal dengannya? Dia senior kita ‘kan?” tunjuk Hyo Ra dengan tangan yang sedikit bergetar, bertanya gugup, setengah berteriakpada teman-temannya yang masih sibuk mengasihani kemalangan si kursi.

Semua temannya sontak mengikuti arah tangan Hyo Ra menunjuk, melupakan Junggi dan kursi malangnya.

“Siapa?”

“Mana? Tidak ada siapa-siapa.”

Kelopak mata Hyo Ra sontak melebar mendengar tanggapan teman-temannya. Gadis itu sontak memutar leher, mencari sosok yang ia maksud. Gadis itu bergidik ngeri saat tidak menemukan apa yang dicarinya. Ruang kelas mereka memang tidak terlalu luas. Namun, tetap saja, menyeberanginya dalam waktu beberapa detik bukanlah hal yang wajar.

***

Kevin menghembuskan nafas panjang saat melihat sosok yang ditunggunya berlari kecil melintasi halaman sekolah. Pemuda jangkung itu meluruskan punggungnya, memejamkan mata beberapa saat, memastikan emosinya terkendali. Ia tidak mau kejadian semalam terulang lagi. Bukan menyesal, Kevin hanya merasa kesal sendiri  dengan perilakunya semalam, sangat absurd dan di luar kebiasaan. Baru pertama kalinya ia hilang kontrol atas perasaannya sendiri, dan itu sangat mengganggunya.

Raut Kevin yang dingin dan datar mau tak mau sedikit mengeruh saat mendapati selintas sorot kecewa di manik mata Hyo Ra saat akhirnya gadis berdiri di depannya. “Mengharapkan orang lain?” tuntutnya, sekuat tenaga mengontrol agar suaranya terdengar tak peduli.

“Tidak juga. Hanya kau dan Dragon yang cukup sinting hingga menganggap aku serupa barang yang bisa dimiliki,” cetus Hyo Ra tak peduli.

Rahang Kevin mengeras, bibirnya membentuk garis tipis-lurus. “Perlu kuulang berapa kali? Jangan menyebut namanya saat kau bersamaku,” desisnya pelan, menatap Hyora lurus-lurus.

Hyora memutar bola matanya, siap membantah, “memangnya kau siapa, mengatur-aturku seperti ini? Terserah aku mau menyebut nama siapa dan di mana!”Namun kalimat itu tersangkut ditenggorokannya. Alih-alih, Hyora justru menelan ludah gugup, menunduk untuk menghindari sorot mata Kevin yang serasa mampu membakar wajahnya. Ada sesuatu dalam tatapan Kevin yang membuat Hyora merasa bersalah. Cara Kevin menatapnya mengingatkannya pada sorot mata Dragon. Jika manik mata Dragon menyiratkan rasa sakit dan luka, sorot Kevin menyimpan nuansa gelap yang sunyi, sesuatu yang entah bagaimana membuat Hyora harus berusaha sekuat tenaga menahan keinginan untuk memeluk pemuda di hadapannya. Mata coklat lembut itu seolah menyembunyikan kesendirian yang panjang. Mata yang bukan hanya menenggelamkan orang yang menatapnya, namun juga membuatnya tersesat.

Perubahan raut muka Hyora membuat Kevin merasa tak nyaman. Pemuda itu bisa melihat jelas kilatan rasa bersalah sekaligus kasihan dalam manik mata Hyora. Kevin menghela nafas pelan, menahan keinginannya untuk mengungkapkan sejuta penjelasan dan perasaan yang ia pendam sendiri selama berpuluh tahun. Terutama, menahan buncah rasa yang sejak kemarin membuat jantungnya nyaris meledak. Pemuda itu menggeleng pelan, mengusir pikiran dan perasaan yang mulai berlebihan. Ia menunduk, berusaha membuat kontak mata sembari perlahan mengulurkan telapak tangan kanannya di hadapan Hyora.

Gadis itu menatap uluran tangan Kevin dengan bingung. Lebih bingung lagi saat ia mendongak dan mendapati bahwa Kevin menatapnya dengan sorot datar. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud pemuda di hadapannya itu.

Kevin berdehem kecil, mengerling kecil pada telapak tangannya yang terbuka lebar. Tatapannya seolah tak percaya dengan ketololan Hyora yang tidak paham apa yang ia maksudkan.

Hyora mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi, kelopak matanya yang dalam kondisi normal saja sudah cukup lebar untuk ukuran gadis korea itu semakin membulat. “Apa? Aku tidak paham. Tanganmu kenapa?” tanya Hyora akhirnya, menyerah dengan semua bahasa isyarat Kevin yang serba minimalis dan hanya melibatkan sedikit pergerakan alis itu.

Kevin memukul kepalanya sendiri keras-keras dengan telapak tangan. Tentu saja itu hanya terjadi dalam benaknya sendiri, karena nyatanya telapak tangannya belum bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, terulur lurus ke arah Hyora.  “Kemarikan tanganmu,” ujar Kevin, menggerakkan ujung jemarinya, mengendik pelan ke arah tangan kiri Hyora.

“Untuk apa?” Sekalipun Hyora bertanya, namun secara perlahan gadis itu mengulurkan tangan kanan kirinya, meletakkannya di atas telapak tangan kanan Kevin. Sedetik kemudian gadis itu mendapati jemari tangan mereka saling terkait dan menjuntai santai di antara tubuh mereka yang berdiri berdampingan. Senyum kecil terkembang begitu saja di sudut bibir Hyora. Gadis itu otomatis ikut melangkah saat Kevin mulai berjalan pelan, menggandengnya.

Kevin menoleh, melirik Hyora yang tengah tersenyum lebar dan berjalan riang terpaut selangkah di belakangnya. Pemuda itu mendengus pelan, dahinya berkerut tipis, seolah keriangan Hyora membuatnya terganggu. Keduanya terus berjalan pelan, menyusuri jalanan kota Daegu lepas tengah malam, sepi. Hyora sesekali melirik tangannya yang berada dalam genggaman Kevin.Mau tak mau ia teringat pada mimpinya semalam. Kejadian yang persis sama, hanya tempatnya saja yang berbeda. De Javu? Tentu saja mereka sedang tidak berada di taman Negeri Para Penerbang, melainkan jalan menuju rumahnya. Tetap saja, Hyora merasa sedikit janggal. Ia bahkan melirik ke salah satu atap gedung yang mereka lewati, merasa sedikit bodoh saat mengira akan melihat sosok Jenderal Key di sana.

“Tak perlu terlalu banyak berpikir. Aku melakukan ini karena aku bukanlah Dragon yang suka meninggalkanmu di belakang. Kau adalah Veneris-ku. Setelah ini kau harus melakukan banyak hal bersamaku. Jadi, buatlah dirimu senyaman mungkin. Mengerti?”

Hyora sontak menghentikan langkahnya, tersadar kalau Kevin tidak mungkin datang dalam kehidupannya sekadar untuk membuatnya bisa bermimpi ataupun mengalami de javu. Sejak pertama bertemu, pemuda itu dengan jelas sudah mengklaim-nya sebagai ‘Veneris-ku’.

“Tidak, aku tidak mengerti. Karena sejauh yang aku tahu dan aku ingat, aku adalah Veneris milik Dragon,” jawab Hyora, perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Kevin. Pemuda itu mengeryit tak suka. Bukan karena Hyora melepaskan genggamannya, namun lebih karena gadis itu mengakui Dragon sebagai pemiliknya.

“Tentu saja aku tidak suka dengan konsep memiliki itu. Tapi karena kau juga menggunakan kata yang sama, asumsiku, kalian sama saja!” cetus Hyora saat melihat Kevin ingin memprotes apalah.

“Dragon sudah membunuh Veneris-nya! Ia tidak lagi memiliki Veneris. Ia bukan lagi seorang Leader,” sela Kevin cepat, intonasinya terdengar sedikit kasar.

Hyora menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan menilai, sepertinya Kevin tahu banyak akan masa lalu Dragon. Qinglong, Dragon… bagaimana mungkin ada dua orang untuk satu peran? “Membunuh? Kalau yang kau maksud adalah Kinsei, ia masih hidup. Dan, ya, Kinsei bukan lagi seorang Veneris, karena sekarang, akulah Veneris. Dan apa maksudmu Dragon bukan lagi seorang Leader?”

Kevin membuang muka, mendengus keras. “Hanya karena Kinsei masih hidup, bukan berarti Dragon tidak membunuhnya. Dan tanpa seorang Veneris, ia tidak bisa menjadi Leader.”

“Tapi masih ada aku! Aku Veneris, bukan? Kau juga mengakui kalau aku Veneris,” tuntut Hyora, memutar bola matanya hanya untuk mendapati kenyataan kalau ia sudah ada di depan rumahnya. Bagaimana mungkin ia berjalan sejauh itu dari sekolah ke rumah dalam waktu demikian singkat dan tanpa merasa lelah? Berjalan? Yang benar saja?

Kevin mengangkat bahu, menolak untuk menjelaskan. “Kau Veneris-ku, milikku,” tandasnya tegas. Seolah pernyataannya adalah sebuah kenyataan yang tak terbantahkan.

Hyora mengerang frustasi, tiba-tiba saja merasa capek. Bayangan kasurnya yang empuk dan hangat di lantai 2 membuatnya merasa mengantuk. “Terserah kalian saja! Aku tidak tahu apa masalahmu dengan Dragon. Tapi, jika ini hanya soal bantuan, aku bersedia membantu kalian berdua. Walaupun, aku belum yakin tugas apa yang biasa kau tangani. Selamat malam!” salam Hyora tegas, membuka pintu rumah dengan kunci yang selalu ia bawa. Ia perlu tenaga lebih untuk menahan diri agar tidak membanting daun pintu di depan hidung Kevin. “Oh, bagaimanapun, terima kasih sudah mengantarku pulang,” ucapnya sebelum benar-benar menghilang di balik pintu.

Kevin menghela nafas panjang, mengucak rambutnya sendiri dengan frustasi. Kenapa sulit sekali menjelaskannya pada Hyora? Bukankah sudah jelas bahwa Hyora adalah Venerisnya? Veneris milik Dragon adalah Kinsei. Dan kalau sampai Dragon kehilangan Venerisnya, itu sempurna salah Dragon sendiri.

“Tidak bisa mengendalikannya? Huh?”

Kevin sontak menoleh, mencari sumber suara yang tiba-tiba menegurnya. Ia hapal mati milik siapa suara itu. Tetap saja, ia merasa terkejut, lebih tepatnya benci melihat sosoknya.

“Apa yang kau lalukan di sini?” tanya Kevin dingin, menatap sosok yang kini berdiri tepat di hadapannya itu.

“Tentu saja kau tak bisa mengendalikannya, Hyora bukan Veneris-mu,” ucap sosok itu, mengacuhkan pertanyaan Kevin.

Kevin mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, bahkan mengucapkan sepatah kata saja rasanya bisa membuatnya meledak. Jika saja tatapan mata bisa membunuh, Dragon, sosok yang berdiri tegak di hadapan Kevin itu pasti sudah tergeletak tak bernyawa.

“Kau tidak dan tidak akan pernah memiliki seorang Veneris. Terima kenyataan itu, Kevin,” ucap Dragon pelan, serupa bisikan. Intonasinya bahkan terdengar lembut penuh perhatian.

“Dan kenapa aku harus memercayaimu?” ketus Kevin, menepis tangan Dragon–yang terulur hendak menepuk bahunya—dengan perasaan jijik.

Dragon menatap Kevin dengan pandangan terluka, ia tersenyum tipis sembari berbisik pelan, “karena, bagaimanapun, aku adalah kakakmu. Kakak yang akan selalu menjagamu.” Pernyataan yang sia-sia. Kevin sudah menghilang pergi, bahkan sebelum Dragon sempat mengucapkan kata kakak.

***

Catatan :

Uwoo… aku bahkan udah lupa gimana cerita sebelumnya, apalagi karakter setiap tokohnya *tampar diri sendiri*

Udah lama banget nggak nulis. Gimana? Aneh? Ah… dari dulu juga emang aneh, ‘kan? He he he.

Lama… dan EXO belum comeback juga😦

Malah SHINee yang comeback (lagi). Eh, eh, ternyata asumsi-ku di “Jonghyun Vocal Cord” klo dia kenapa-napa maka bagiannya bakal di-cover ama Taemin terbukti bener. Warna suara mereka berdua ‘kan emang mirip. Yah… Jonghyun menang di teknik, memang. 

Tetep sih, aku nunggu EXO aja. Atau siapapun dari YG Family, comeback ataupun debut *nyengir*