Venus menghela napas dalam, sejenak menatap kursor yang berkedip tenang di layar laptopnya. Seolah memantapkan hati, gadis itu menyeringai lebar sebelum jemarinya menari lincah di atas keyboard.

 

Beautiful Stranger

Ok. Jadi harus mulai dari mana? Hehehe….

Ah, terserah aku aja dong. Jurnal pribadi, ditulis sendiri, dibaca sendiri (kalopun ada yang ikut baca, bolehlah). Ngapain ribet banget?

So, setelah sekian lama nggak naik kereta (gara-gara kantor sialan yang selalu ngasih tiket pesawat, plus omelan , “Kereta itu lama di perjalanan, Venus. Nggak efisien waktu. Kamu harus ngejar jadwal meeting dan segera kembali ke kantor, SECEPATNYA!”), well mentang-mentang mereka yang mbayarin.

Ok, ngelantur. Namanya juga Venus. Maklum aja lah.

Jadi… ini Beautiful Stranger keberapa? Lupa! Sejak kerja, list Beautiful Stranger-ku nyaris nggak bertambah. Gimana mau nambah kalo waktu buat ber-backpack aja nggak punya? Gimana mo nambah klo setiap kemana-mana naik pesawat yang cuma butuh waktu 1-2 jam? Gimana mau nambah klo setiap orang yang duduk di sebelahku (di pesawat) selalu nyolokin earphone di telinga? Seolah teriak lantang, “Don’t disturb me!” Nggak asyik. Antisosial.

Hmmm…

Oktober 2013, Kereta Api Ekonomi Pasundan.

Setelah nganterin para mas-mas dan mbak-mbak keliling Yogyakarta, sebagai tour guide gratisan (mentang-mentang aku punya Kak Rana di Yogya, dan aku udah sering bolak-balik ke Yogya, plus mereka bias nginep gratis di rumah Eyang Putri, huh…) akhirnya kami balik ke Bandung, kuliah sudah menanti.

Hufff… masih inget jelas gimana excited-nya saat mulai naik ke kereta. Pasti jalanku udah mulai cepet dan agak loncat-loncat ringan, sampai-sampai para mas dan mbak sampe salah sangka, “Duh, adek bungsu, mau balik kuliah lagi aja kok seneng banget sih?”

Hahaha…

Nope. Bukan kuliahnya, bukan Bandungnya, tapi… KYAA!!

Wuppss, untung aja. Allah menganugerahkan tampang cool pada seorang Venus. Walaupun dalamnya udah macam kembang api, tapi yang nampak di luar hanyalah senyum tipis yang ambigu.

Jadi, ini yang bikin aku antusias, rekan seperjalanan kami adalah segerombolan cowok dengan tampang kusut, khas backpacker sejati. Oh, OK, pengecualian, salah satu diantara mereka terlihat mirip… Luhan? Apalah ini, Venus??

 Sekali lagi, bukan masalah gantengnya. Yeah, jurnal ini emang khusus untuk mencatat semua Beautiful Stranger yang aku temui saat perjalanan, tapi bukan berarti mereka harus ganteng ato cantik, kan? Semua orang itu unik, semua orang… Beautiful! Yeah, if you know what I mean.

“Hmm…. Ini…?”

Aku pasti nyengir lebar saat itu, karena si cowok Luhan-Look-Alike langsung menatapku dengan alis terangkat.

“Kosong kok, mas,” sahutnya, mengalihkan pandangan pada mas Al yang menunjuk bingung pada cowok keriting yang tidur telentang dengan mulut terbuka di kursi yang seharusnya menjadi hak milik aku, mas Al dan satu orang lagi yang enggak tau siapa. Mungkin milik si keriting ini.

“Bro, bangun, bro!”

Ok, dari cara Luhan-Look-Alike mengguncang, bahkan tanpa peri kemanusiaan nyaris menyeret si keriting dari kursi, aku simpulkan mereka kumpulan cowok asyik yang akrab satu sama lain.

Mas Al tersenyum sungkan saat si keriting mengucak mata, menatap bingung aku dan mas Al. Sedetik kemudian cowok itu duduk tegak, menyeringai.

“Barusan naik, ya Mas?” tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur, yang kalau dalam fanfic-fanfic akan disebut, seksi. Hahaha….

Aku melirik Mas Al yang mengangguk, sigap mengambil alih tempat duduk paling dekat dengan jendela. Wow, gentlemen banget! Tambahkan sekarung sarkasme, tentunya! Dan… yeah, tentu aja Mbak Pita sudah dengan elegan duduk tepat berhadap-hadapan dengan Mas Al, yang artinya aku nggak kebagian jendela!! Huhuhu….

Menjepit duduk di antara Mas Al dan si keriting, itulah sisa pilihan. Dan ternyata, nomor tiketku memang pas dengan bagian itu. Perfect! Sekali lagi, tambahkan sarkasme!

Belum sedetik aku duduk, tiba-tiba aku sadar, “Mb Pit, berarti nanti keretanya jalan mundur ya?”

Tentu aja nggak aku nggak sempat nge-cek reaksi mereka satu persatu, tapi yang jelas Mbak Pita geleng-geleng. Entah dengan Mas Al, Luhan-Look-Alike ataupun si keriting.

“Keretanya maju, Ve. Kamu yang menghadap belakang,” sahut Mbak Pita kalem. Well, ibu satu anak ini memang kalem-kalem menghanyutkan. Dia bahkan memutuskan ikut (atau lebih tepatnya bareng) aku untuk naik kereta api ekonomi alih-alih pesawat seperti mbak-mbak dan mas-mas lainnya. Mungkin, itu alasasan kenapa aku klik banget dengan dia walopun beda umur kami nyaris 2 kali lipat.

Ok, pasti ekspresiku ajaib. Pertama karena sadar kalo pertanyaanku barusan, absurd. Kedua karena aku nggak suka menghadap belakang. Bukan mual, tapi nggak suka. Kenapa aku harus ngeliat apa yang sudah ditinggalkan alih-alih apa yang mau dilewati? If you know what I mean.

“Pindah duduk sini aja, sok atuh!”

Siapa lagi yang nawarin itu kalau bukan si Luhan-Look-Alike? Dia nepuk-nepuk kursi di sebelahnya, di antara pahanya dan paha Mbak Pita. Dan ngomong-ngomong soal paha, aku baru sadar klo dia pake celana pendek. Pendek banget cuma nutup setengah paha. Aurat bro! Tentu aku nggak teriak kenceng-kenceng. Setiap orang punya persepsi yang beda-beda soal aurat.

“Kalian naik dari mana?” Tanya Mbak Pita entah pada siapa, tepat saat aku akhirnya memutuskan lebih baik terjepit di antara Luhan-Look-Alike dan Mbak Pita yang langsing serta wangi daripada di antara si keriting yang mulai ngantuk-ngantuk lagi dan Mas Al yang… bongsor, hehehe…. Peace, Mas!

“Surabaya, Mbak,” sahut Luhan-Look-Alike dengan jelas. Terlalu jelas karena wajahnya nyaris nempel di telinga kananku. Well, kereta api ekonomi memang efisien dalam hal ruang. Tapi nggak perlu menempelkan seluruh badanmu ke badan teman dudukmu, kan? Tapi sekali lagi, setiap orang punya pandangan yang berbeda soal personal space. Di tempat umum, terutama kereta api ekonomi, berdesakan adalah lumrah. Bukan karena mereka, termasuk aku, suka menempelkan badanku pada badan orang lain. Tapi itu keadaannya, kenyataannya. Toh, setelah ini orang-orang itu belum tentu akan bisa bertemu lagi . Jadi, tidak akan ada apa-apa kalau kita memang tidak memikirkan apa-apa.

“Liburan?” Kali ini Mas Al yang angkat suara. Cowok keriting di sebelahnya menatap Mas Al, Mbak Pita dan temannya, Luhan-Look-Alike, berganti-ganti. Kurasa, si keriting ini mirip denganku. Bukannya tidak suka mengobrol, tapi jika bisa mendapat informasi hanya dengan memperhatikan, kenapa capek-capek membuka mulut?

Luhan-Look-Alike sedikit menggeser badan, menghadap Mas Al, dan itu berarti bahunya harus membentur bahuku. Duh…. Dan saat itu, yang terlintas di benakku justru Lang. Dia tidak akan suka melihat pemandangan ini. Tapi apa pula hubungannya?

“Sebenarnya dari Bali, Mas. Kami ikut Jamming Parkour,” sahut Luhan-Look-Alike. “Itu, olahraga yang loncat-loncat,” imbuhnya saat menangkap sorot bingung di mata Mas Al.

“Loncat-loncat dari gedung-gedung gitu?”

Luhan-Look-Alike kembali menggeser badan, menghadap Mbak Pita yang bertanya padanya. Kayaknya cowok ini emang nggak pernah merasa cukup untuk sekadar menoleh. Harus menghadap lurus pada orang yang diajak bicara. Hummm… menarik.

Dari sudut mata, aku ngeliat si Luhan-Look-Alike mengangguk riang, “Iya, Mbak. Yang loncat-loncat itu.”

“Coba loncat-loncat di sini gih, kan gerbongnya panjang,” tantang Mbak Pita. Udah pasti aku senyum geli ngedengernya. Dan entah kenapa, kali ini Luhan-Look-Alike menjawab sambil menghadap kearahku-yang berarti dia harus mencondongkan badan ke depan-memutar badan sedemikian rupa karena kami duduk bersebelahan, “Enggak lah, Mbak. Nanti heboh penumpang yang lain. Goyang-goyang lagi keretanya, ini aja udah goyang,” sahutnya riang, sedikit terlalu riang, plus kekehan renyah.

Dan persis saat itu aku baru sadar kalau jenis suaranya nggak klop dengan penampilannya. Suaranya rendah, dalem. Mungkin… seperti jenis suara Kris? Benar-benar suara nggak nyambung ama penampilannya yang cenderung imut dan manis. Dan eh? Kenapapula aku selalu ngebandingin dia ama anggota EXO?

“Satu regu?” Tanya Mas Al, kembali masuk dalam percakapan.

Luhan-Look-Alike mengalihkan pandangannya dari diriku (ok, aku mulai ke-geer-an). “Aku, Bang Fa (nunjuk si keriting), instruktur kami (menepuk paha cowok yang duduk di seberang lorong, mendapat pukulan di bahu sebagai balasan), sama dua lagi di belakang.”

Mau nggak mau aku mengikuti penjelasannya, menatap cowok yang dia sebut tutor (cowok ini berpakaian serba hitam, rambut lurus semi gondrong, manis, dan seperti Xiumin, imut-imut namun memancarkan aura dewasa dan terkontrol). Dua orang lagi (duduk di deret belakang) yang dia tunjuk mengangguk kearah kami. Berarti dugaanku semula benar seratus persen, mereka emang gerombolan. Wuppss, jangan salah sangka. Aku sama sekali tidak pernah mengasosiasikan kata ‘gerombolan’ dengan sesuatu yang negatif.

Hmm… kenapa jadi panjang begini deskripsi tentang para Beautiful Stranger ini? Apa gara-gara aku dah kelamaan nggak nulis ya? Tapi beneran, kayaknya dulu catatanku tentang Beautiful Stranger nggak pernah sepanjang dan sedetail ini. Sampai aku merasa antusias buat nuliskan dialog per dialog. Well, aku coba persingkat deh.

Intinya, Luhan-Look-Alike ini cowok yang rame. Cuek, loncat sana sini dalam arti kata sebenernya. Waktu kereta berhenti cukup lama di salah satu stasiun, dia bahkan keluar dari kereta dengan santainya. Ninggalin permainan kartu yang lagi dia mainin ama gerombolannya. Dan saat aku liat lagi, ternyata dia udah tidur telentang di peron stasiun. Cuek nge-rokok. Dan buru-buru masuk lagi sambil nyanyi-nyanyi nggak jelas dengan suara beratnya saat ada pemberitahuan kereta akan kembali melanjutkan perjalanan.

Aku bisa ngeliat dengan jelas rasa… semacam cemburu atau iri di mata Mas Al saat memperhatikan kecuekan si Luhan-Look-Alike ini. Hahaha… Mas Al emang udah nggak muda, bapak dengan 1 anak ini (nyaris 2) pasti akan berpikir 1000 kali sebelum melakukan hal konyol (dan jadi tontonan penumpang satu gerbong) sebagai hukuman karena kalah main kartu. Hal yang oleh Luhan-Look-Alike dilaksanakan dengan cuek dan senang hati. Gimana lagi? Emang nasib dia kalah mulu, hehehe….

Kupersingkat lagi, mengingat sebentar lagi aku ada kuliah. Mendekati stasiun Ciamis, Luhan-Look-Alike yang selalu ribut dengan snacking time (“Kita snacking time jam 5 ya, Bro! Eh, jangan, jam 4 aja! Jam setengah 5! Bro, Ok, Bro?”) ini kembali grasa-grusu. Menurunkan segala jenis benda dari rak barang. Dan sorry not sorry, aku sampe memutar bola mata ke arah Mbak Pita saat cowok itu mulai memakai topi koboi warna putihnya dengan sok gaya. Ridiculous. Itu dia satu kata yang tepat. Dengan baju barong, celana super pendek, tas ransel, 2 plastik kresek besar di tangan, bendera universitas di bahu dan sebuah topi koboi. Plus seringai nakal di bibir. Menggelikan tapi menarik.

“Lho? Anak xxx juga?” Sela Mbak Pita-menyebutkan nama kampus kami- di sela kesibukan Luhan-Look-Alike dengan segala bawaannya.

Cowok itu, yang sekarang duduk tepat di depanku, dengan lutut yang menempel di lututku, sekali lagi menjawab riang, “Iya, Mbak. Aku dari sastra. Anak sastra semua, eh, kecuali bang Fa. Dia anak geologi, nyasar,” kekehnya, menunjuk si Keriting yang asyik mbaca novel.

Menarik. Yeah, menarik saat anak sastra justru jumpalitan nggak jelas, sementara yang anak geologi justru kalem mbaca novel Paulo Coelho versi bahasa inggris.

“Mbak ama Mas dari xxx juga? S2 ya?”

Itu pertanyaan dia ke Mbak Pita. Yang saat Mbak Pita jawab dengan sebenar-benarnya, bahwa kami mahasiswa pascasarjana, si Luhan-Look-Alike justru ngeliat aku dengan tatapan curiga. Ok, aku emang pendek, tapi bukan berarti aku nggak pantes jadi anak S2. Dan bisa jadi aku lebih tua darinya, atau bisa juga seumuran sih…. Yeah, whatever! Udah biasa, bahkan tetangga kamar kost ngira kalau aku anak semester 1… S1. Sekali lagi, whatever!

 “Nggak ribet bawaan kamu, kayak emak-emak gitu?” sekali lagi Mbak Pita ngegodain. Enak ya, jadi mbak Pita. Dia bisa ngegodain mereka tanpa beban. Toh mereka tau jelas umur Mbak Pita jauh lebih tua. Mbak Pita ngegodain murni mau ngolok-ngolok doing, bukan flirting atau apalah. Coba klo aku yang ngegodain mereka, jangan-jangan mereka bakal mbales lebih kejam. Dan… Lang nggak akan suka. Dan sekali lagi, apa hubungannya dengan Lang??

“Tadinya sih mau bawa carrier, Mbak. Tapi kemarin abis karantina belum sempet ngebongkar lagi. Malah pulang aja kita nggak sempat , Mbak. Abis selesai karantina langsung cabut ke Bali.”

Saat Mbak Pita ngelutuk, “Udah jinak dong, ya? Kan udah dikarantina?” otomatis aku langsung ketawa, beneran ketawa. Bukan sekadar senyum seperti biasanya. Yang aneh, pertanyaan itu hilang begitu aja tanpa tanggapan Luhan-Look-Alike yang biasanya selalu nyelutuk apalah. Dan saat aku sadar dan penasaran, kemudian ngelirik Luhan-Look-Alike untuk ngeliat kenapa dia nggak ngebales, ternyata cowok itu sedang tersenyum kearahku dengan tatapan yang… begitulah. Hahaha… Venus selalu saja ke-geer-an!

Nggak lama setelah itu, Luhan-Look-Alike pamitan. Jabat tangan dengan Mas Al, cium tangan Mbak Pita (macam dengan Mama-nya aja! Playboy!), adu bahu dengan gerombolannya (sampai-sampai Mbak Pita kaget karena dia pikir Luhan-Look-Alike mau nyium pipi temen-temennya, hehehe…) dan entah kenapa dia nggak pamitan sama aku. Bahkan ngeliat atau ngelirikpun enggak. Aneh! Emang aku salah apa?

Sudahlah.

Perjalanannya setelah itu cukup tenang, karena ternyata gerombolan itu sama sekali nggak melakukan aktivitas konyol lagi. Entah karena mereka capek (Bali-Surabaya mereka nebeng truk bekas ngangkut beras, dan tiba-tiba aku sadar, bau mereka emang macam nggak mandi 24 jam lebih. Bukan berarti aku keberatan. Aku lebih suka nyium bau keringat dan debu jalanan daripada parfum yang wanginya berlebihan) atau karena biang ribut, si Luhan-Look-Alike sudah turun di stasiun yang baru saja kami lewati.

Saat kami sampai di stasiun terakhir. Semuanya berakhir dalam arti kata sebenernya. Tanpa tahu nama, tanpa niat untuk bisa bertemu lagi.

Itulah Beautiful Stranger. Orang-orang yang aku temui di perjalanan. Membekas di hati. Tapi cukup sampai di sini. Maksudku, selamanya mereka menjadi orang asing. Namun mereka adalah orang asing yang meninggalkan jejak-jejak indah. Entah itu berupa sebuah pelajaran, atau semangat baru.

Yang jelas, ada 2 hal yang bikin aku menyeringai. Katakanlah ini merupakan sebuah simpulan.

Pertama adalah komen Mas Al : “Gue suka anak model begitu. Cuek tapi sopan. Gampang dapet kerja tuh bocah. Boss-nya pasti seneng dapet anak buah macem dia.”

Kedua adalah ide Mbak Pita : “Abis ujian nanti kita backpacking ke Bromo, yuk. Pake kereta ekonomi lagi aja.”

Mbak Pita yang sudah mapan, Mbak Pita yang elegan, akhirnya menemukan betapa asyiknya perjalanan panjang dengan kereta api ekonomi.

See you on the next trip!

Venus menghela napas, tersenyum tipis. Tanpa membaca ulang tulisannya, gadis itu mempostingnya di blog. Semua sudah dituliskan. Beautiful Stranger, selamanya Beautiful Stranger. Seperti halnya para Beautiful Stranger yang lain, di waktu yang lain, tempat yang lain, perjalanan yang lain.