Taruhan, kalian blum pernah denger tentang film yang satu ini, ‘kan? Bukan tema menarik dan pop seperti romance, fantacy atau sebangsanya. Film ini merupakan film dokumenter tentang lingkungan. Kalian bisa menontonnya lewat official youtube channel di :

Upsss… tapi sorry klo ternyata diantara kalian udah ada yang pernah nonton. Berarti aku aja yang ga gaul dan baru kenal film ini karena kewajiban tugas kuliah. Well, langsung aja. Ini bukan pertama kalinya aku sok menulis “review” sebuah film. Tapi ini pertama kalinya aku nulis review dalam bentuk paper formal. Jadi, jangan kaget. Tapi yang udah kenal gaya penulisan dan gaya bahasaku, pasti bisa ngerasain kesamaan gaya-ku baik saat nulis review jadi-jadian ataupun paper review. Jadi… inilah dia, paper review tentang film HOME :

***

REVIEW PAPER

HOME : WHAT ARE WE WAITING FOR? IT’S TOO LATE TO BE A PESSIMIST!

 

HOME adalah sebuah film dokumenter berdurasi 93 menit 18 detik yang diproduksi oleh Danis Carot bersama Luc Besson dengan disutradarai oleh Yann Arthus-Bertrand pada tahun 2009. Film ini menggambarkan keadaan planet Bumi sejak awal terbentuknya sebelum ada kehidupan hingga masa sekarang. Film ini menceritakan tentang iklim dan bagaimana manusia sebagai spesies paling dominan mengubah bumi, masa lalu, sekarang, dan di masa yang akan datang. Tema yang dibawakan adalah mengenai korelasi antara semua organisme dengan bumi yang terkait dalam hubungan yang rumit namun sangat penting untuk menjaga keseimbangan satu sama lain. Sehingga tidak mungkin ada satu pun organisme yang hidup berdiri sendiri.

Film dokumenter ini diawali dengan menampilkan landscape gunung-gunung vulkanis serta menjelaskan bahwa asal mula kehidupan itu berasal dari organime bersel satu dari mata air panas, yaitu Cyanobakteria, alga biru-hijau. Organisme bersel satu inilah yang memiliki peranan penting dalam proses evolusi fotosintesis. Kemudian kehidupan berkembang hingga pepohonan yang mewarisi sifat Cyanobakteria yang dapat memanfaatkan energi matahari secara langsung. Lalu film dokumenter ini menghadirkan kehidupan manusia yang lebih berorientasi pada lingkup kehidupan yang pada akhirnya memunculkan peradaban. Mulai dari revolusi pertanian, hingga akhirnya ditemukan minyak yang menjadikan peradaban manusia berubah lebih cepat. Adanya industri, kota, gedung-gedung pencakar langit, dan tentunya mengakibatkan kesenjangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kelaparan, kekurangan air bersih, dan yang lebih mengkhawatirkan adalah krisis energi, terlebih listrik.

Kehadiran manusia dan kegiatannya mengeksploitasi sumber daya alam telah mengganggu keseimbangan alam itu sendiri. Dalam film ditunjukkan bagaimana kasus bencana lingkungan adalah akibat langsung dari adanya perubahan-perubahan negatif yang dilakukan manusia terhadap alam. Bencana kekeringan di berbagai belahan bumi misalnya, merupakan akibat dari ketidakseimbangan daur hidrologi karena rusaknya hutan-hutan dan penggunaan sumber daya air yang berlebihan. Penggunaan pestisida yang pada awalnya bertujuan untuk memaksimalkan hasil pertanian dengan alasan pemenuhan kebutuhan pangan pada akhirnya justru merusak lingkungan, terakumulasi dalam tanah, air dan meracuni manusia.

Adanya ketidakseimbangan dalam pengelolaan energi, air, dan makanan ini akhirnya menimbulkan dampak yang lebih besar, yaitu global warming dan krisis karbon. Kota-kota megah yang mengkonsumsi energi dalam jumlah besar seperti New York, Los Angeles, Shenzhen, Shanghai, Tokyo, Dubai mendapat sorotan dalam film dokumenter ini. Film ini menyajikan fakta-fakta tentang perubahan tutupan lahan yang terjadi. Mulai dari berubahnya fungsi lahan basah sebagai pengatur tata air menjadi lahan pertanian dan peternakan, perubahan hutan Amazon menjadi lading kedelai, hutan Kalimantan menjadi perkebunan sawit. Perubahan tata guna lahan yang semula hutan alami menjadi pertanian ini erat kaitannya dengan isu pemenuhan pangan bagi manusia, baik secara langsung maupun tidak.

Kedelai yang dihasilkan dari pertanian di Amazon digunakan sebagai pakan ternak untuk memenuhi kebutuhan manusia akan protein hewani. Isu ini mungkin saja terkait dengan kampanye gaya hidup vegetarian. Namun pada kenyataannya, sesuai dengan hukum termodinamika kedua, energi yang diperlukan untuk memproduksi daging memang lebih banyak daripada makanan yang berasal dari tumbuhan. Dalam rantai makanan,energi dan materi mengalir dari  makhluk hidup yang dimakan ke makhluk hidup yang memakan. Energi yang pindah dari produsen pada konsumen pertama, konsumen kedua, dan konsumen ketiga tidak mungkin mencapai efisiensi 100%. Ada energi potensial yang hilang pada setiap pemindahan makanan. Setiap sambungan dalam rantai makanan mengurangi energi yang dapat digunakan kurang lebih satu orde besaran (kira-kira 10). Hal ini masih ditambah dengan kenyataan bahwa ternak merupakan salah satu sumber gas rumah kaca, yaitu metana.

Perubahan tata guna lahan dari hutan heterogen menjadi hutan produksi juga telah menghilangkan keanekaragaman hayati. Di film ini ditunjukkan bagaimana pohon-pohon ekaliptus yang bersifat alelopati menyebabkan tidak ada vegetasi yang bisa berkembang di bawah tegakannya. Selain itu, ekaliptus juga merupakan tumbuhan yang memerlukan air dalam jumlah banyak untuk proses transpirasinya.

Eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam telah membawa dampak buruk bagi lingkungan. Deforestasi terjadi di berbagai belahan dunia, seperti Karibia dan Haiti. Film ini juga memberikan pesan yang lugas melalui contoh Suku Rapanui di Pulau Paskah yang mengeksploitasi sumber daya alamnya secara berlebihan sehingga lingkungan menjadi kolaps. Erosi yang merupakan kerusakan lingkungan pada akhirnya menjadi akibat terjadinya kelaparan, masalah sosial serta pemberontakan yang membawa banyak korban jiwa.

Film ini juga menyoroti terjadinya pemanasan global yang dibuktikan dengan mencairnya lapisan es di kutub utara dan selatan. Sekalipun fenomena pemanasan global masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan, namun kenyataannya memang menunjukkan adanya peningkatan suhu di muka bumi. Sebagian ahli mengatakan bahwa proses ini merupakan hal alami sebagaimana saat bumi mengalami jaman es kemudian mulai menghangat hingga sekarang. Menurut mereka, pemanasan dan pendinginan suhu di permukaan bumi merupakan siklus alami yang tak terelakkan. Bagaimanapun, manusia tentu dapat memilih apakah berusaha memperlambat proses tersebut atau tidak peduli dan sadar tak sadar justru mempercepatnya dengan terus melepaskan gas rumah kaca ke atmosfer bumi.

Pemanasan global dan perubahan iklim telah membawa dampak yang luas bagi bumi. Bumi sebagai satu kesatuan ekosistem yang tidak terpisah merasakan efek yang diakibatkan kerusakan di salah satu bagiannya. Mencairnya es di Greenland telah menghilangkan 30% terumbu karang karena sangat sensitif terhadap perubahan suhu air. Kenaikan permukaan air laut juga mengancam daerah yang berada di permukaan yang rendah seperti Maldive dan Tokyo terancam tenggelam. Kenaikan permukaan air laut juga berimbas pada intrusi air laut.

Melalui data-data statistik, film ini menunjukkan bahwa bumi telah melampaui daya dukung lingkungannya. Kelaparan, tidak adanya akses pada air bersih, kepunahan satwa, menipisnya stok ikan di lautan, degradasi lahan, deforestasi, meningkatkan suhu global dan menipisnya lapisan es merupakan fenomena-fenomena yang terjadi akibat eksploitasi manusia terhadap sumber daya alam secara berlebihan. Manusia tidak lagi sekadar memanfaatkan alam sebagai sumber makanan dan penghidupan. Manusia telah menguras sumber daya dan energi demi memenuhi sifat rakus dan tamak untuk hidup nyaman, bahkan mewah. Kemewahan dan kenyamanan itu pada kenyataanya hanya dinikmati sebagian orang yang memiliki akses pada sumber daya alam. Sebagian yang lain justru hanya merasakan dampak negatif dari eksploitasi tersebut.

Film ini diakhiri dengan kata-kata, “It’s too late to be pessimist”. Banyak pihak yang telah menyadari betapa pentingnya mengelola sumberdaya alam secara berkelanjutan. Berbagai negara telah mulai mengembangkan sumber energi terbarukan memanfaatkan tenaga surya, angin, gelombang, geotermal dan lain-lain. Gerakan penghijauan hutan serta pembatasan ekstrasi kayu dari hutan juga telah dilakukan. Perubahan ini tentu bukan tanpa hambatan, sampai saat ini manusia masih mengandalkan sumber energi fosil sebagai sumber energi utama. Namun usaha-usaha perubahan terus dilakukan. Film ini pada akhirnya mengajak penontonnya untuk optimis, bahwa kita bisa melakukan perubahan menjadi lebih baik. Kita harus optimis dan tidak hanya memandang apa yang telah rusak dari alam, namun menjaga dan mengelola sumberdaya yang masih ada dengan bijak.

Sebagai manusia yang memiliki akal dan kebudayaan, kita bisa memilih masa depan seperti apa yang kita inginkan terhadap kehidupan kita di muka bumi. Terus melakukan eksploitasi terhadap sumberdaya alam yang terbukti telah mengakibatkan kerusakan atau hidup berdampingan dengan alam dan mengelola sumberdaya tersebut secara berkelanjutan. Pilihan ini tergantung dari persepsi kita terhadap diri sendiri, alam dan kehidupan. Alam dapat dipandang semata-mata sebagai sumberdaya yang harus dikuasai dan dieksploitasi, atau sebagai satu kesatuan ekosistem di mana manusia merupakan bagian di dalamnya. Pada tahapan inilah spiritualitas dan agama mengambil peranan. Persepsi seseorang terhadap alam dan lingkungan dipengaruhi oleh spiritualitas dan doktrin agama yang dipercayainya.

Dalam tradisi Yahudi, alam bukan suatu abstraksi ataupun ideal, melainkan lebih sebagai kawasan di mana manusia berinteraksi dengan Allah. Alam digambarkan sebagai ruang lingkup dimana Allah secara personal bertemu dgn manusia dan ia dipanggil untuk menjalankan tanggung-jawab. Jadi, pandangan manusia mengenai alam dan lingkungan didasarkan pada kewajiban-kewajiban dan kegiatan khusus hidup bangsa Yahudi, tugas dan perintah yg diberikan Allah kepada bangsa Yahudi. Taurat membatasi hak manusia untuk “menaklukkan” dan menggunakan alam; perintah ini bukanlah hak untuk berkuasa tanpa batas. “Dan Allah bersabda: Lihatlah, aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yg berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji, itu yang akan menjadi makananmu” (Kejadian 1:29). Dalam Yudaisme, dunia merupakan kepunyaan Allah. Yudaisme merupakan agama teosentris, Allah sendirilah, bukan hidup atau kesejahteraan manusia, yang menjadi seluruh sumber kewajiban moral dan religius. “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya” (Mazmur 24).

Dalam pandangan Kristen, Alkitab memperingatkan bahwa kerusakan alam selama ini adalah karena ulah dan kejahatan manusia. Mazmur (107:33-34), misalnya, menyatakan: Dibuat-Nya sungai-sungai menjadi padang gurun, dan pancaran-pancaran air menjadi tanah gersang, tanah yang subur menjadi padang asin, oleh sebab kejahatan orang-orang yang diam di dalamnya. Alkitab sebenarnya tidak pernah menyaksikan bahwa Tuhan memberikan hak kepada manusia untuk menguasai dan mengusahakan alam dan sumber dayanya secara eksploitatif dan seenaknya. Sebaliknya, manusia dituntut tanggung jawabnya untuk memelihara dan mengasihi segala ciptaan-Nya.

Di dalam Mahabaratha (Hindu) terdapat keterangan bahwa alam adalah pernberi segala keinginan dan alam adalah sapi perah yang selalu mengeluarkan susu (kenikmatan) bagi yang menginginkannya.Ungkapan ini mengandung arti bahwa bumi atau alam yang diibaratkan sebagai sapi perah harus dipelihara dengan baik sehingga banyak mengeluarkan kebutuhan yang diperlukan oleh manusia. Kalau sapi perah itu tidak dipelihara, apalagi dibantai, niscaya ia tidak akan mengeluarkan susu lagi untuk kehidupan manusia. Dengan kata lain, alam ini apabila dieksploitasi akan membuat manusia sengsara.

Dalam Karaniyametta Sutta (Budha) disebutkan, hendaklah ia berpikir semoga semua makhluk berbahagia. Makhluk hidup apapun juga, yang lemah dan yang kuat tanpa kecuali, yang panjang atau yang besar, yang sedang, pendek, kecil atau gemuk, yang tampak atau tak tampak, yang jauh ataupun yang dekat, yang terlahir atau yang akan lahir, semoga semua makhluk berbahagia. Hal ini mengandung arti bahwa agama Budha menolak terjadinya pencemaran dan perusakan alam dan segenap potensinya.

Dalam Islam, salah satu tanggung jawab yang harus dipikul manusia adalah tanggung jawab ekologis. Walaupun alam diciptakan untuk manusia, Islam melarang mengeksploitasi da merusak alam. Alam diciptakan untuk melayani manusia, tetapi Islam tidak menyebutkan bahwa pelayanannya semata-mata untuk manusia. Alam memiliki memiliki peran yang sangat kompleks, sebanyak fungsi yang terkandung dalam sistem alam. Karena kehidupan manusia dan spesies-spesies saling menggantungkan, eksistensi spesies dan alam menyokong eksistensi manusia. Sebaliknya, perhatian manusia menjamin keberlangsungan spesies dan alam. Manusia adalah makhluk yang berakal dan memiliki cita rasa moral, oleh karenanya ia adalah makhluk yang layak memikul tanggung jawab kehidupan bumi.

Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Hud (11):6, “Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan pemakmurnya.” Maknanya adalah manusia bertanggung jawab mempertahankan semua eksistensi di bumi, terlarang melakukan penghancuran dan merusak fungsi-fungsinya, bahkan manusia wajib melakukan intervensi ekologis untuk mempertahankan, melindungi dan menyelamatkan bumi. Perlindungan alam dalam Islam bersifat menyeluruh, mulai dari perlindungan air serta praktek-praktek konservasinya; pemeliharaan dan perlindungan tanah serta lahan; perlindungan udara; proteksi tumbuhan dan binatang; hingga etika terhadap makhluk hidup selain manusia.

Al-Qur’an memandang sumberdaya alam memiliki keterbatasan-keterbatasan di dalam penggunaannya. Bahkan Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa alam dan semua ciptaan tidak terlepas dari keterbatasan-keterbatasan ini. Kelestarian sumberdaya alam menjadi sangat tergantung bagaimana manusia menggunakannya. Manusia harus menyadari bahwa sumber daya alam ada dalam jumlah terbatas, khususnya yang tidak terbarukan, seperti energi fosil dan sumber-sumber mineral. Pemanfaatan terhadap sumber daya alam tidak boleh melampaui batas yang dapat disediakan oleh alam, atau melebihi kapasitasnya untuk memperbaharui diri.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa kunci utama untuk memelihara dan melanggengkan segala sesuatu adalah dengan bersikap efisien, serta menghindari penghamburan dan sikap berlebihan. Sebagimana ditunjukkan dalam film “HOME”, persoalan lingkungan dan sumber daya alam telah mengalami peningkatan secara serius sejajar dengan meningkatnya konsumerisme dan pola hidup bermewah-mewah. Islam dengan pesan hidup hemat bersahaja jelas sekali memandang bahwa sikap hemat ini berimplikasi pada keberlanjutan kehidupan. Penggunaan yang sesuai kadar kebutuhan akan menjamin ketersediaan sumber daya alam secara lestari. Gaya hidup bermewah-mewahan adalah sikap yang dicela dalam Islam karena sikap ini memicu eksploitasi dan pengurasan sumber daya alam secara berlebihan.

Al-Quran secara eksplisit menyebutkan bahwa kerusakan alam dan lingkungan adalah akibat ulah manusia. Interaksi dengan manusialah yang telah menciptakan degradasi alam. Musibah yang terjadi pada alam, kerusakan daratan dan lautan, wabah penyakit dan sebagainya, menurut perspektif Al-Qur’an adalah akibat perbuatan manusia sendiri. Karena alam sendiri asalnya seimbang, kegoncangan alam adalah hasil dari perubahan yang tidak alamiah oleh manusia. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan musibah apapun yang menimpa kamu, maka itu semua disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Dan Allah memaafkan sebagaian besar (kesalahan-kesalahanmu)” Q.S. Asy-Syura (42):30.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” Q.S. Ar-Rum (30):43.

Dalam film “HOME”, fakta bahwa kerusakan alam diakibatkan olah ulah manusia ini disajikan sebagai pembuka dengan narasi, “Dengarkan perkataan saya. Anda seperti saya, homo sapiens, manusia bijak. Hidup adalah sebuah keajaiban di Alam Semesta, muncul sekitar 4 miliar tahun yang lalu. Dan kita manusia ada sekitar 200.000 tahun yang lalu. Tapi kita telah mengganggu keseimbangan yang penting bagi kehidupan.”

Sebagai penutup film “HOME” disampaikan narasi, “Inilah waktunya bekerja sama. Hal yang penting bukanlah apa yang telah hilang, melainkan apa yang tersisa. Kita masih memiliki separuh dari hutan dunia, ribuan sungai, danau, gletser, dan ribuan spesies yang tumbuh subur. Kita tahu bahwa solusi ada di sana saat ini. Kita semua memiliki kekuatan untuk mengubah. Jadi apa yang kita tunggu? Tergantung kita untuk menulis apa yang terjadi selanjutnya.”

Benar bahwa kita telah mengetahui solusi permasalahan yang kita alami, yaitu kembali pada tugas kita sebagai pemakmur bumi. Sudah saatnya kita memanfaatkan dan mengelola sumberdaya alam dengan bijak dan hemat, tidak bermewah-mewah dan berlebihan. Hidup berdampingan dengan alam, karena segala sesuatu di bumi adalah saling berhubungan. What are we waiting for? It’s too late to be a pessimist!

***

Note :

Sorry, bener-bener sorry. Waktu buat nulis fiksi nyaris nggak ada. Aku punya setumpuk deadline nulis, sayangnya bukan nulis fiksi, tapi nulis paper. Dalam sehari terkadang aku harus nyelesain 2-3 paper sekaligus. Hectic, yeah!

Yang nggak suka dengan postingan semacam ini, sila diabaikan saja.