10 – DRAF

“Lo tahu persis batas kemampuan fisik lo, Cla! Gue nggak ngelarang lo buat… ngelakuin apalah yang lo suka! Tapi lo harus sayang sama diri lo sendiri! Dan… lo sadar nggak sih, gimana perasaan Mama, Papa dan gue setiap kali ngeliat lo kolaps? Lo… gue… hassh!”

Kei mendengus kesal untuk kesekian kalinya. Pemuda itu menatap adiknya dengan pandangan geram.

“Gue cuma mimisan, Kei! Itupun dikit, nggak sebanyak biasanya. Nggak usah lebay!” seru Claudia, membalas tatapan kakaknya dengan sorot yang persis sama, galak berapi-api.

Kei berjengit kecil saat mendengar Claudia mengucapkan kata ‘biasanya’ dengan sangat enteng. Ia mengucak rambutnya sendiri, frustasi. Mulutnya sejenak membuka, namun sedetik kemudian menutup kembali tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Sebagai pelampiasan, Kei kembali mendengus keras.

Lang yang berdiri bersandar di dinding—tepat di sebelah kepala Claudia—menepuk bahu Kei pelan. “Biarin Cla istirahat dulu, Kei. Nggak ada gu-” Perkataan Lang terhenti saat dilihatnya rahang Kei mengeras, pemuda itu bahkan mengepalkan tangan, seolah siap meninjunya kapan saja diperlukan. Menelan ludah, Lang mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, bergumam pelan, “Ok. Ok. Sorry.”

“Kak Kei… Cla nggak papa kok, Kak. Cuma capek. Beneran. Tidur bentar juga baek lagi.”

Sekujur tubuh Kei seketika terasa lemas, seolah seluruh tulangnya tiba-tiba lenyap. Mulutnya mendadak kering. Manik matanya bergetar, berusaha mencari iris coklat bening milik adiknya. Sementara itu, sosok yang dikhawatirkan justru menyeringai lebar, menatapnya tanpa rasa berdosa. Sepasang kelereng coklat bening milik Claudia bersinar jahil. Tentu saja dia hapal di luar kepala soft spot kakak lelaki semata wayangnya. Lang dan Zara menatap sepasang kakak beradik itu dengan perasaan bingung bercampur serba salah.

Kei menghela nafas panjang, kedua lengannya terulur, membetulkan letak selimut adiknya yang agak berantakan. “Tidur, Cla. Klo lo perlu apa-apa, teriak aja. Gue di luar,” ujarnya singkat sembari menyelipkan ujung selimut di bawah dagu adiknya. Pemuda itu selintas menyentil pelan hidung Claudia, menyeringai lebar sebelum akhirnya berdiri dari tepi tempat tidur dan berlalu keluar kamar dari adiknya.

Baru satu kaki Kei yang berada di luar kamar, Claudia tiba-tiba berseru nyaring, “Kak Kei!”

Kei sontak berbalik, nyaris membuat lehernya terkilir saking cepatnya ia menoleh.

“Kak Kei… belum, ehm, enggak akan nelpon, eh, maksud aku, nggak bilang ke Mama ato Papa klo gue mimisan lagi, ‘kan? Enggak ‘kan?”

Kei mendengus pelan melihat seringai bersalah di wajah adiknya.

“Kak… Cla… maaf,” Claudia menundukkan kepala, menolak bersitatap dengan kakak lelakinya. “Tapi Cla beneran nggak papa kok, bahkan nggak sampai pingsan. Cuma nggak pengen Mama ama Papa khawatir, itu aja. Mereka ‘kan lagi honey-moon untuk kesekian puluh kalinya, masak diganggu ama berita nggak penting soal mimisan.”

Alis mata Kei menukik tajam mendengar pernyatan terakhir adiknya. Senyum tipis yang semula sempat terlihat di sudut bibirnya saat mendengar istilah yang digunakan Claudia untuk menerangkan perjalanan bisnis kedua orang tua mereka keluar negeri—Papa ada meeting apalah dengan siapalah, dan tentu saja Mama mendampinginya—lenyap seketika saat kalimat Claudia mencapai ujungnya.

“Nggak penting? Jadi, menurutmu, kesehatanmu bukan suatu yang penting?” sentaknya geram, mengambil langkah lebar—hendak mendekati adiknya—namun sepasang tangah kukuh menahan kedua bahunya dari depan.

“Wupss, sorry, Bro. Refleks,” kilah Lang, buru-buru melepas bahu Kei, menelan ludah gugup. Bukan karena sorot tak suka bercampur heran yang diberikan Kei padanya, namun lebih karena melihat wajah Claudia memucat—kalau saja itu mungkin, karena sejak tadi, wajah gadis itu sudah pucat.

“Kei, maksud Claudia bukan kayak gitu.” Akhirnya Zara merasa perlu untuk angkat pendapat, menengahi. Gadis itu menghampiri Kei, menarik lembut lengan pemuda itu, menariknya menjauh dari Claudia.

Kei tidak menepis tangan Zara, namun juga menolak untuk beranjak. Pemuda itu masih menatap nanar gundukan selimut yang sempurna menutupi seluruh tubuh adiknya, termasuk wajah. Claudia memilih menjadi kepompong ketimbang harus menghadapi kekesalan kakaknya.

Zara menarik lengan Kei sedikit lebih kuat. “Please, Kei. Claudia, ehm, kita semua perlu istirahat.”

Kei menghela nafas panjang, kali ini membiarkan lengannya ditarik oleh Zara. Pemuda itu melangkah perlahan dan kepala tertunduk. Ia khawatir. Sayangnya, orang yang dikhawatirkan justru seolah tak peduli dengan kekhawatirannya. Kei terlalu sibuk dengan pikirannya, hingga ia lupa bahwa Lang masih berada dalam kamar Claudia. Lang dan Claudia, hanya berdua. Hal yang tidak mungkin Kei ijinkan di saat-saat normal.

Mendengar suara pintu menutup, Claudia menghela nafas lega. Wajahnya muncul dari balik selimut, hanya untuk terkejut dan mengeluarkan seruan tertahan saat melihat wajah Lang tepat di depannya.

“Lo beneran nggak papa, ‘kan? Cla?” Tanya Lang, tak mempedulikan ekspresi tergeragap gadis di depannya.

Alih-alih menjawab, Claudia justru beringsut mundur, menjauh dari wajah Lang yang masih saja membungkuk di sebelahnya.

Menyadari ketidaknyamanan Claudia, pemuda menegakkan punggung, mundur satu langkah dengan sangat enggan. Tatapannya tak lepas dari wajah Claudia, lebih tepatnya bagian bawah hidung Claudia. Entah mengapa, pemuda itu merasa seolah-olah masih ada aliran darah segar di sana. Bayangan yang membuat kepalanya tiba-tiba serasa berputar, telinga berdenging sakit. Bukan, Lang bukannya takut dengan darah. Ia bahkan bisa dibilang cukup berpengalaman dengan darah, baik darah orang lain maupun darahnya sendiri. Namun saat melihat darah segar mengalir dari hidung Claudia tadi siang, entah mengapa membuatnya kembali merasakan sensasi aneh itu.

Claudia berdeham pelan, memalingkan muka, pura-pura melirik jam di dinding kamarnya. Sebenarnya, gadis itu hanya risih mendapat tatapan sedemikian rupa dari sahabat kakaknya.

“Lang?” panggil Claudia, kali ini lebih keras karena Lang sama sekali tak merespon.

“Ehm… sampe ketemu besok pagi, di sekolah?” imbuh gadis itu, berusaha sebaik mungkin agar kalimatnya terdengar seperti pertanyaan.

Lang memejamkan mata sejenak, sadar maksud tersembunyi perkataan Claudia. Tersenyum tipis, pemuda itu mengangguk kecil, perlahan melangkah keluar kamar. Lebih perlahan lagi saat membuka dan menutup pintu kamar. Mau tak mau, hatinya terasa sedikit sakit. Claudia, jelas-jelas telah mengusirnya secara halus. Sejenak, Lang menyandarkan punggungnya di pintu kamar Claudia, sebelum akhirnya melangkah menuruni tangga dengan kedua belah tanga terbenam dalam saku celana.

“Lang, tolong lo anter Zara balik ke rumahnya.” Sambut suara Kei saat Lang tiba di ujung tangga. Mengalihkan pandangan dari wajah buram Kei ke wajah letih calon adiknya, Lang menggangguk.

“Dan elo enggak perlu balik ke sini lagi, langsung pulang aja.”

Mendengar pernyataan Kei barusan, Lang mendengus pelan. Dia bukannya tidak tahu, sejak dulu Kei memang tidak pernah suka melihatnya terlalu dekat dengan Claudia. Overprotective, batin Lang dalam hati.

Tanpa mengucapkan apa-apa, Lang menyambar kunci mobil di meja dan melangkah keluar rumah begitu saja. Tepat sebelum melewati pintu, pemuda itu berhenti, berujar pelan tanpa menoleh, “Sorry, Kei. Lain kali, gue janji nggak akan ngebiarin Cla… sakit….” Seolah bingung dengan perkataannya sendiri, Lang menelan ludah, mengucapkan maaf sekali lagi sebelum akhirnya benar-benar keluar rumah.

Kei menatap punggung sahabatnya dengan sorot kosong. Pemuda itu bahkan tidak sadar kalau Zara memberinya secangkir kopi hangat, sebuah pelukan kilat dan membisikkan apalah sebelum gadis itu berlari kecil menyusul Lang.

Menatap kepulan uap tipis dari cangkirnya, Kei mengerutkan alis. Pemuda itu menghela nafas panjang sebelum menyeret kaki panjangnya, menuju kamarnya yang terletak persis di sebelah kamar Claudia.

 ***

 “Tu anak udah biasa mimisan?” Celutuk Lang tiba-tiba, memecahkan keheningan yang mengambang di atmosfer mobil tuanya. Ia dan Zara dalam perjalanan menuju rumah Zara, persis seperti perintah Kei, mengantar Zara pulang.

Orang yang ditanya hanya menghela nafas panjang, menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.

“Cla… nggak sakit kanker atau apalah, ‘kan?” Tanya Lang lagi, ragu-ragu.

Mau tak mau Zara menyeringai kecil mendengar pertanyaan tersebut. Gadis itu berdehem pelan, menjawab pelan, “bukan tanpa alasan Cla diantar-jemput ke sekolah setiap hari, Cla punya banyak alergi, plus daya tahan tubuhnya yang sering nge-drop tiba-tiba. Tapi enggak, dia nggak sakit kanker.”

Lang perlahan menghembuskan napas yang entah ia tahan sejak kapan. Pemuda itu mengangguk pelan, pikirannya kembali melayang pada aliran darah dari hidung Claudia. Menggelengkan kepala kuat-kuat, pemuda itu berusaha mengusir jauh-jauh pemandangan yang kembali membawa sensasi aneh di kepalanya itu.

“Gue bener-bener nggak nyangka klo anak tomboy macem Cla ternyata daya tahan tubuhnya lemah banget gitu,” ungkap Lang lemah, mirip keluhan pada dirinya sendiri.

“Dari mana Kak Lang bisa nyimpulin klo dia tomboy?” Zara terkekeh kecil, menambahkan, “cara ngomongnya emang blak-blakan bahkan terkadang cenderung kasar. Tapi kebalikan Kei yang aktif secara fisik, Cla cenderung ngabisin energinya dengan aktivitas otak. Tu anak bukannya jenius dan kelewat pinter tanpa alesan. Kei bener banget, Cla paham betul sampai mana batas kemampuan fisiknya sendiri. Sayangnya, terkadang Cla terlalu keras kepala buat ngakuin kelemahannya.”

Lang mengernyit mendengar tanggapan Zara, jari-jari panjangnya mengetuk-etuk setir mobil dengan irama teratur.

“Nggak udah masuk, Kak. Sampe sini aja,” cegah Zara saat Lang mulai memutar setir, berbelok hendak memasuki gerbang rumahnya.

Lang menggeleng, “ada yang perlu gue omongin sama Om Dante dan elo,” tegasnya lurus.

Tanpa perlu bertanya, Zara paham betul apa yang ingin dibicarakan pemuda itu, apalagi kalau bukan masalah pernikahan kedua orang tua mereka. Menggigit bibir bawahnya, Zara memejamkan mata sejenak. Membicarakan apa lagi, bukankah semuanya sudah jelas? Mereka akan menikah 2 minggu lagi. Makan malam keluarga di malam kematian Bunda, dan seolah itu belum cukup, mereka memutuskan menikah tepat di hari ulang tahun Bunda. Terkadang, Zara benar-benar kesulitan memahami logika Ayahnya. Untuk kali ini, gadis itu benar-benar tidak mengerti. Kenapa? Mengapa?