Sesosok gadis nampak berjalan perlahan melalui lorong sempit di sela-sela tembok yang menjulang tinggi. Sesekali siluet ramping itu menoleh ke belakang. Sungguh, dia malas benar melewati lorong itu. Tapi bagaimana lagi, itu adalah jalan pintas tercepat dari kampus menuju ke tempat kost-nya. Sembari menunduk, gadis itu merutuk pelan. Seharusnya ia menolak ajakan teman-temannya untuk berkaraoke ria sepulang kuliah tadi. Atau paling tidak, menolak ajakan mereka untuk makan malam setelahnya. Lihat saja akibatnya, sekarang sudah nyaris tengah malam dan ia masih harus berada di lorong sepi ini sendirian. Oh, atau akan lebih baik lagi kalau ia semenjak awal menolak berteman dengan para “gentlemen” yang sekarang membiarkannya berjalan seorang diri itu.

Belum sempat gadis itu menghela nafas lega karena telah melewati belokan terakhir, nafasnya justru terhenti di kerongkongan. Manik matanya menyapu panik pemandangan di sekitarnya. Seharusnya, ya seharusnya, setelah melewati belokan terakhir tadi, ia akan segera menemukan bangunan kostnya menjulang tepat di depannya. Namun, alih-alih melihat jendela kamarnya yang ada di lantai 2, gadis itu justru memandang sebuah taman kecil yang dipenuhi semak bunga mawar dan bougenvil.

Gadis itu mengerjabkan mata berkali-kali, percaya betul bahwa ia hanya salah lihat. Mungkin karena terlalu lelah, atau akibat kantuk telah menggelayuti kelopak matanya. Nihil, sia-sia, taman itu tetap tercetak persis sepelemparan batu darinya. Mengernyitkan dahi, ia mulai mundur beberapa langkah, mengecek bahwa jalan yang dilaluinya tadi adalah jalur yang biasa ia lewati. Semuanya nampak normal. Dinding kedua bangunan yang mengapitnya masih bangunan yang sama dengan yang ada di depan kost-nya selama ini. Bahkan pohon pinus yang tepat berada di depan jendela kamarnya juga masih menjulang tinggi di sana. Hanya saja… di mana bangunan kost-nya? Bagaimana mungkin bangunan 2 lantai yang terdiri dari 8 kamar itu bisa lenyap begitu saja? Belum habis keheranannya, gerakan sesosok siluet di bawah pohon pinus telah menyita perhatian gadis itu. Entah kekuatan apa yang menariknya, gadis itu justru melangkah mendekati sosok tersebut.

“Kau, siapa?” Tanya si gadis pelan, nyaris seperti berbisik. Sosok jangkung di hadapannya berbalik, memutar tubuhnya hingga bertatap muka langsung dengan si gadis. Sosok itu tinggi, jauh lebih tinggi dari si gadis. Kalau saja mereka berdiri lebih dekat lagi, bisa dipastikan puncak kepala si gadis bahkan tidak mencapai ujung dagu sosok jangkung itu.

“Bukan siapa-siapa,” sahut sosok jangkung tersebut dengan nada rendah. Dari jenis suaranya, sudah jelas bahwa sosok itu adalah seorang lelaki.

Si gadis mengerjabkan matanya beberapa kali, bingung hendak berujar apa. “Kalau aku bertanya kemana hilangnya bangunan kost-ku, apa mungkin sosok ini mengetahuinya?” benaknya setengah linglung. “Kau boleh saja terus menerus membuat pembenaran demi pembenaran. Namun, selamanya pembenaran itu tak akan pernah menjadi kebenaran.” Usai menyelesaikan perkataannya, sosok jangkung itu tiba-tiba saja sudah melayang, mengepakkan sayap hitamnya yang lebar dengan sangat ringan. Saking ringannya, si gadis bahkan hanya merasakan desiran kecil angin menerpa wajahnya dengan lembut. Walaupun hembusan angin yang berasal dari kepakan sayap hitam itu sama sekali tidak menyakiti ataupun mengganggunya, entah mengapa gadis itu memejamkan matanya begitu saja.

Beberapa detik kemudian si gadis merasa seberkas sinar menimpa wajahnya. Merasa terganggu, ia membuka kelopak matanya dengan perlahan. Pupilnya segera saja menyempit saat cahaya terang memasuki retinanya. Sedetik kemudian gendang telinganya mulai menangkap getaran gelombang yang berasal dari kicauan burung yang bertengger di dahan pinus. Saat itulah si gadis tersadar, ia berada di atas tempat tidurnya yang empuk dan hangat karena tertimpa cahaya mentari pagi. Seperti pagi-pagi yang lain, ia terbangun karena cahaya yang menerobos melalui jendela kamarnya yang terletak di lantai dua. Hari ini dimulai senormal hari lainnya.