“Alkisah pada jaman dahulu kala”.

glassware1

Rasanya cerita ini tidak pantas dimulai dengan kalimat pembuka sedahsyat itu. Berhubung cerita ini hanyalah tentang 12 gelas kaca, jadi mari kita mulai dengan cara yang lebih sederhana.

Aku adalah sebuah gelas kaca biasa. Jenis gelas yang dapat kalian temui di warung tegal pengkolan belok kanan. Delapan belas bulan yang lalu, takhir Illahi membawaku bertemu dengan 11 gelas kaca lainnya. Sudah tentu 11 gelas kaca ini sangat luar biasa, tak disembarang tempat kalian dapat menjumpainya. Hurricane yang seksi dan cantik, Shooter yang kuat dan tahan banting, Coffee yang hangat, Cordial yang manis namun elegan, Collins yang selalu bisa diandalkan, Martini yang ceria dan menyenangkan, Sherry yang spesial, Cosmopolitan yang unik, Margarita yang peduli akan detail, Champagne yang pandai menjaga dan tidak membosankan, serta Brandy Snifter yang terpercaya. Dibandingkan mereka semua, sudah jelas aku bukan apa-apa.

Namun bukan itu yang mau aku ceritakan. Kisah ini murni tentang jalinan pertemanan antar 12 gelas kaca. Bukan berarti hanya ada kami berdua belas, karena masih ada sendok, garpu, piring, mangkok dan segala macam perkakas lain yang terlibat. Tanpa mengurangi rasa hormatku pada mereka, sekali ini ijinkan aku berkisah tentang 12 gelas kaca saja. Jika aku menceritakan yang lainnya, bisa jadi judul tulisan ini akan menjadi: “Sekodi Perkakas Dapur”. Sama sekali bukan judul yang keren, bukan?

Delapan belas bulan yang lalu, aku bertemu dengan mereka untuk pertama kalinya. Minder, tentu saja. Tapi aku tidak diproduksi untuk tujuan-tujuan tidak penting seperti merasa minder, terlebih galau. Ingat? Aku adalah gelas serba biasa yang harus serba bisa.

Buatku itu adalah pertemuan pertama, namun ternyata tidak untuk mereka. Beberapa diantara mereka sudah saling mengenal, sebab berasal dari pabrik yang sama ataupun bekerja di tempat yang sama.

Delapan belas bulan yang lalu kami mulai berinteraksi. Malu-malu, malu-maluin, canggung, tanggung, akrab, sok-akrab adalah hal-hal yang kami rasakan bersama. Sebagaimana pertemanan pada umumnya, kedekatan berkembang seiring waktu. Mengerjakan tugas bersama, saling bantu, saling mengeluh. Mengidolakan dan menggosipkan sebuah panci yang saat itu nampak sangat keren dan cool. Sebal pada kaleng kosong yang sepertinya sengaja betul selalu berisik menakut-nakuti. Bersama, kami memproduksi nada-nada dan irama yang tidak layak disebut merdu. Semua itu hanyalah sebagian dari sekian banyak hal yang kami jalani.

Tidak, pertemanan kami tidaklah sesempurna itu. Kami hanyalah 12 gelas kaca yang rawan pecah. Sesekali kami berbenturan, menyisakan sedikit goresan bahkan retakan disana-sini. Kami 12 gelas kaca yang jauh dari sempurna. Ada saatnya kami kotor berdebu. Sebaik apapun niat kalian membersihkan kami, kalian tetap saja salah. Terlalu keras kalian menggosok, kami pecah berhamburan. Terlalu lemah lembut, kami justru semakin berdebu. Kami hanyalah 12 gelas kaca yang tidak sempurna, yang saat tergores, retak dan pecah, tak akan bisa diperbaiki lagi kecuali dengan dilebur pada temperatur luar biasa tinggi. Proses yang menyakitkan, memang. Sebagian memilih menjalani proses itu, dan menjadi gelas kaca yang baru. Sebagian lagi memilih bertahan dalam kondisi yang ada, penuh goresan, retakan dan pecah berhamburan. Biarlah itu menjadi pilihan kami, para gelas kaca.

Pada akhirnya ini hanyalah kisah tentang 12 gelas kaca. Bukan dongeng 12 putri kerajaan antah berantah di seberang lautan yang selalu berakhir dengan: “Dan merekapun hidup bahagia bersama selamanya.”

(yen, 10:45am– 28/01/2015)