Tags

,

Penulis : Yenni

Tema : Air

***

“Jika Kerajaan Inggris bisa mencapai kejayaannya hari ini karena menjajah setengah bagian dari dunia, berapa buah dunia yang dibutuhkan India untuk menyamai kejayaan Inggris?”
~Mahatma Gandhi~

Hal pertama yang terpikir olehku saat membaca perkataan Mahatma Gandhi di atas adalah, “Jadi berapa dunia yang harus Indonesia jajah agar dapat menyamai kejayaan Belanda?” Kurasa, setidaknya ada 2 pilihan jawaban yang bisa diambil. Pertama, Indonesia tidak perlu menjajah dunia manapun. Berbekal kemauan dan kemampuan sendiri, kita bisa menyamai bahkan menyaingi Belanda. Terdengar terlalu optimis? Ya, memang. Tapi bekal apa lagi yang bisa kita andalkan selain optimisme–mengingat banyaknya kekecewaan yang bermunculan akibat kondisi bangsa akhir-akhir ini?

Kenapa jadi melantur begini? Maaf, maaf. Kembali pada pertanyaan-jawaban kita. Jawaban kedua adalah: Indonesia tidak perlu menjajah dunia manapun. Jawaban yang sama namun dengan alasan yang berbeda 180 derajat. Jangankan menjajah beberapa dunia, mempertahankan kedaulatan sendiri saja Indonesia masih kesusahan. Terdengar sangat pesimis? Ya, memang. Lihat saja kondisi bangsa kita akhir-akhir ini.

Sudahlah, mari kita lupakan soal jajah-menjajah ini. Kenapa kita tidak berpikir sederhana saja? Mari belajar dari Belanda. Tentu saja bukan belajar bagaimana cara menjajah dunia dengan baik, benar, efektif dan efisien. Bukan belajar tentang jajah-menjajah, kita sudah move on. Kita perlu belajar bagaimana cara mencapai kejayaan seperti Belanda saat ini.

Kejayaan yang mana? Kalau itu yang jadi pertanyaan, maka banyak sekali yang harus kita pelajari. Mulai dari kejayaan Belanda dalam menangani banjir–baik yang berasal dari aliran sungai maupun dari pasang air laut, belajar membangun sistem transportasi umum yang baik, belajar teknologi remediasi tanah yang tercemar, belajar inovasi-inovasi dalam bidang energi, dan belajar hal-hal lainnya. Intinya, belajar segala hal yang bisa dipelajari.

Bicara tentang energi, Indonesia masih mengandalkan minyak bumi dan batubara sebagai sumber energi primer. Berdasarkan data Dewan Energi Nasional (2014), bauran energi primer Indonesia pada tahun 2013 adalah berupa 44% minyak bumi, 30% batubara, 18% gas bumi dan 8% EBT (Energi Baru dan Terbarukan). Di Indonesia, EBT berasal dari bahan bakar nabati, biomassa, mikro-hidro, surya, angin dan lain-lain.

Salah satu pengembangan EBT di Indonesia adalah mega proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Bantul yang direncanakan akan selesai pada tahun 2015 ini. PLTB Bantul ini diperkirakan dapat menghasilkan energi sebanyak 50 megawatt dan meningkatkan kuota EBT nasional hingga mencapai 15%. PLTB pertama di Indonesia ini terdiri dari 20 kincir angin raksasa yang akan berdiri di kawasan pesisir selatan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jika dibandingkan dengan Belanda, pembangunan PLTB pertama di Indonesia ini sudah tertinggal jauh. Bagaimana tidak, Belanda telah memanfaatkan kincir angin modern (turbin angin) sebagai alat pembangkit listrik sejak sekitar tahun 1973. Jauh sebelumnya, Belanda telah menggunakan kincir angin untuk mengatasi masalah banjir—sebagai pengatur aliran air–sejak abad ke-13.

Menurut Listrik Indonesia (2015), awal pengembangan turbin angin yang dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik berada di Desa Kamperduin. Seorang pakar energi angin, Chris Westra, bersama-sama dengan penduduk desa mengembangkan sistem energi tenaga angin yang dapat memenuhi kebutuhan listrik bagi sekitar 27.000 rumah tangga di wilayah sekitar Kamperduin. Sejalan dengan perkembangan teknologi, turbin angin pembangkit listrik tak hanya dibangun di daerah daratan, namun juga di daerah lepas pantai. Desa Kinderdijk menjadi lokasi pembangunan 4 kincir angin lepas pantai (offshore wind power) pertama yang berkapasitas satu megawatt (MW).

Kamperduin Hargermolen

Gambar 1. Kincir Angin Hargermolen di Kamperduin

(Sumber: whmgipman.wordpress.com)

Namun belakangan ini perkembangan kincir angin sebagai penghasil energi listrik di Belanda justru tersendat. Ivana Sekularac, jurnalis Reuters, menyoroti fenomena ini melalui artikelnya yang berjudul “Dutch fall out of love with windmills”. Kincir angin di daratan mendapat tantangan dari warga lokal. Mereka mengkhawatirkan aspek keselamatan dan timbulnya gangguan kebisingan. Warga Urk, misalnya, beranggapan bahwa adanya kincir angin setinggi 30 meter akan mengganggu kesan klasik pemandangan kota mereka. Sementara itu, kincir angin lepas pantai memerlukan biaya pembangunan yang tinggi (biaya bahan konstruksi yang lebih tinggi, metode pengeboran yang lebih mahal ) dan perawatan yang lebih kompleks. Sejumlah perusahaan energi yang menjadi produsen listrik tenaga angin merasa bahwa harga listrik yang dihasilkan dari kincir angin tersebut relatif mahal.

urk's windmill

Gambar 2. Turbin angin di Urk

(Sumber: panoramio.com)

Tantangan ini dijawab oleh Johan Smit and Dhiradj Djairam–peneliti dari Delft Technical University dengan mengembangkan teknologi EWICON (Electrostatic WInd energy CONvertor). Teknologi EWICON memungkinkan energi angin langsung diubah menjadi energi listrik dengan cara memanfaatkan titik-titik air yang terbawa angin sebagai pemicu perubahan energi kinetik menjadi mekanik. Desain yang ada saat ini terdiri dari rangka baja yang memegang serangkaian tabung terisolasi yang disusun horizontal. Setiap tabung berisi beberapa elektroda dan nozel yang terus-menerus melepaskan partikel air bermuatan positif ke udara. Saat partikel tertiup angin, tegangan perangkat berubah dan menciptakan medan listrik yang dapat ditransfer ke jaringan listrik untuk digunakan sehari-hari (Fincher, 2013). Benar-benar teknologi yang menjawab semua masalah yang ada, ‘kincir’ angin tanpa baling-baling dan tanpa kebisingan.

RTEmagicC_EWICON_01.png

Gambar 3. Prototipe EWICON di Delft University of Technology

(Sumber: ewi.tudelft.nl)

Sejak 27 Maret 2013, prototipe EWICON telah diletakkan di luar gedung The Faculty of Electrical Engineering, Mathematics and Computer Science, Delft University of Technology (TU Delft). Selain itu dua buah prototipe skala-kecil EWICON juga diletakkan di atas gedung Stadstimmerhuis 010 di Rotterdam. Prototipe EWICON didesain oleh para arsitek Mecanoo sedangkan teknologinya dikembangkan oleh TU Delft dengan berkonsorsium bersama Wageningen UR dan bisnis-bisnis komersial (Nuon, Medspray, Stanmax, dan Volker Wessels) sebagai bagian dari Program Ekonomi, Ekologi, dan Teknologi pemerintah negara Belanda.

Saat ini pemanfaatan teknologi EWICON dalam skala besar tengah dikembangkan oleh The Dutch Windwheel Corporation yang berupa konsorsium dari beberapa perusahaan yang berbasis di Rotterdam, yaitu: BLOC, DoepelStrijkers, dan Meysters. Konsorsium ini berencana membangun The Dutch Windwheel, sebuah konverter energi angin berupa lingkaran besar yang terintegrasi dengan 72 apartemen, 160 kamar hotel, dan sekaligus tempat untuk menikmati lanskap kota Rotterdam dari titik tertinggi bangunan. Bukan hanya energi angin, The Dutch Windwheel juga direncanakan akan memanfaatkan tenaga surya dengan mengintegrasikan panel PVT (photovoltaic thermal hybrid solar), tenaga biogas yang berasal dari pengolahan sampah organik hotel dan apartemen serta melakukan pemanenan air hujan untuk memenuhi kebutuhan airnya. Berbekal desain arsitekturnya yang menarik, The Dutch Windwheel yang diharapkan rampung dibangun pada tahun 2025 mendatang ini juga digadang-gadang akan menjadi landmark yang unik bagi kota Rotterdam.

Ingin menyamai kejayaan Belanda? Mari belajar dari Belanda!

Dutch Windwheel 1

Gambar 4. The Dutch Windwheel: Ikon Baru Rotterdam

(Sumber: bouwdigitaal.be)

 ***

Referensi:

–. EWICON wind energy converter unveiled: wind-‘mill’ without moving parts. Melalui <http://www.ewi.tudelft.nl/en/current/ewicon-wind-energy-converter-unveiled-wind-mill-without-moving-parts/&gt; [20/04/15]

Dewan Energi Nasional. 2014. Outlook Energi Indonesia 2014. Melalui <http://energynusantara.com/wp-content/uploads/2011/10/paparan-Outlook-Energi-Nasional-2014-.pdf&gt; [20/04/15]

Djairam, D. etc. The development of an Electrostatic Wind Energy Converter (EWICON). Melalui <http://www.engr.sjsu.edu/ebasham/E11/windturbine/research/The%20development%20of%20an%20Electrostatic%20Wind%20Energy%20Converter.pdf> [20/04/15]

Fincher, J. 2013. EWICON bladeless wind turbine generates electricity using charged water droplets.Melalui <http://www.gizmag.com/ewicon-bladeless-wind-turbine/26907/> [20/04/15]

Listrik Indonesia. 2015. Pemanfaatan Energi Angin di Belanda Belum Optimal. Melalui <http://www.listrikindonesia.com/pemanfaatan_energi_angin_di_belanda_belum_optimal_123.htm> [20/04/15]

Secularac, I. 2011. Dutch fall out of love with windmills. Melalui <http://www.reuters.com/article/2011/11/16/us-dutch-wind-idUSTRE7AF1JM20111116> [20/04/15]